Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 65. Makan siang


__ADS_3

Afian memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Dia sengaja memakai mobil karena dia ingin mengajak Zahira makan siang di rumahnya hari ini.


Sambil tersenyum, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mengingat kata-kata Ibunya yang berharap Zahira menjadi menantunya, membuatnya bahagia. Dia berharap bisa mengungkapkan perasaannya kepada Zahira secepatnya. Dia takut keduluan sama Pak Khalid.


Meskipun dia tidak yakin apakah Pak Khalid menyukai Zahira, tapi gelagatnya jelas menggambarkan jika Pak Khalid ada rasa pada Zahira.


Dengan senyum dikulum, Alfianturun dari mobil. Dia melangkah menuju pinggir jalan yang akan dilalui Zahira. Sambil menunggu Zahira, dia bermaksud menelpon dan menanyakan posisinya saat ini.


Baru saja dia mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba mobil Pak Khalid masuk pekarangan. Mata Alfian tak berkedip memandangi mobil Pak Khalid.


Mobil Pak Khalid pun berhenti. Semua penumpangnya bergerak hendak turun. "Pak makasih ya, sudah mengantar kami!" sambil tersenyum Zahira membuka pintu mobil.


Pak Khalid tersenyum, "Sama-sama Zahira."


"Pak makasih ya!"


"Makasih ya Pak!"


"Kami duluan ya Pak!"


Daniah and the gank kembali bicara berjamaah membuat Pak Khalid hanya terkekeh mendengarnya. Dia pun memutar balik mobilnya dan pergi.


Alfian melihat kedatangan Zahira diantar Pak Khalid merasa gerah. Entah mengapa hatinya seperti dicabik-cabik. Emosinya seakan naik ke wajahnya. Namun segera ditahannya marah itu.


"Assalamu alaikum Ra!" Sapanya.


"Eh wa alaikum salam Kak!"


Zahira tersenyum melihat Alfian. Dan seperti biasanya, Daniah akan langsung cabut jika sudah berurusan dengan Alfian. "Zahira kita duluan ya!"


Baik Daniah, Meta dan Della pun segera berlalu meninggalkna Zahira dengan Alfian.


"Ada apa Kak, seperti sengaja menungguku?"


Alfian tersenyum keki. "Iya, emm aku sebenarnya mau bilang sesuatu sama kamu."


"Oh apa ya?"


"Em tentang ajakan Ibu makan siang, apa hari ini kamu ada waktu?"


Zahira berpikir sejenak. "Aku sih tidak pernah sibuk kok, cuma...."


"Cuma kenapa?"


"Emm itu, temanku bagaimana?"


"Aku rasa mereka tidak akan keberatan kan?"


"Eh iya aku lupa, tentang proposal pelaksanaan KKP di kampung kamu itu diterima, akhir bulan ini kami akan berangkat KKLP di sana!" Lanjut Alfian.


Zahira tampak senang, "benarkah? waah nanti aku bilang ke Umi kalau yang KKLP di kampung itu teman sekampusku." Senyum manisnya membuat Alfian diam terpana.


"Kak!"


"Eh iya?"

__ADS_1


"Kok diam?"


"Ehem ga papa kok, aku hanya terpana dengan senyum kamu yang manis!"


Zahira langsung tertawa mendengar rayuan Alfian "Hahhhahaa bisa aja nih Kak Fian."


"Eh aku masuk dulu ya Kak!"


"Eh bentar siang gimana, jadi gak?"


"Eemmm iya deh Insya Allah!"


Alfian tersenyum sambil mengangguk, sedangkan Zahira melangkah dengan cepat masuk ke kelasnya.


Sepeninggal Zahira, Alfian segera menelpon Ibunya, hendak memberi tahukan jika Zahira setuju makan siang di rumah hari ini.


*****


Pelajaran telah usai, Zahira dan Daniah berjalan beriringan keluar dari kelas. Adrian yang mati-matian mengejar Daniah hanya demi mengajaknya makan siang lagi, ikutan mengekor di belakangnya.


Zahira tanpa sengaja melihat Alfian tengah berdiri bersama beberapa temannya di koridor kampus. Disana hadir pula Nova. Mereka seperti tengah membahas sesuatu.


Zahira tak ingin mengganggu mereka, sehingga memilih untuk tidak menegurnya. Mereka berjalan melewati kelompok kecil itu tanpa menoleh.


Alfian yang melihat Zahira lewat, segera pamit dan membubarkan diri. Begitu pula temannya langsung angkat kaki. Kecuali Nova yang masih setia berdiri menatap kepergian Alfian yang sangat jelas mengejar Zahira.


"Yeni, sungguh sia-sia perjuangan kamu mengejar Fian, dia sama sekali tidak memperdulikan kamu, Yeni maafkan aku ya, aku tidak bisa memberi tahukan hal ini padamua meski kamu telah memintaku memata-matai mereka, maaf ya!" Nova membatin.


Alfian menyusul Zahira sambil berseru. "Zahira tunggu!"


"Tidak kok, kita cuma membahas masalah kelompok tapi sudah selesai dari tadi."


"Ooh gitu ya."


"Gimana, jadi?"


Zahira menatap Daniah, "Emm Daniah maaf ya hari ini aku diajak makan siang di rumah Kak Fian."


Daniah terdiam mendengarnya "Zahira enak banget sih, disukai banyak cowok, coba aku juga begitu?" Batin Daniah.


"Ya silahkan, kenapa harus bilang ke aku sih?" Ucapnya kemudian.


"Iya Zahira, kamu pergi sama Kak Fian, dan aku juga makan siang dengan Daniah, ya kan Yang?"


Daniah menoleh ke Adrian sambil melotot. "Ayang dari mana? namaku DA...NI...AH, bukan Ayang!" Lalu berjalan mendahului Zahira dan Alfian.


Adrian segera mengejarnya.


Alfian menatap Zahira sambil tersenyum. Demikian juga dengan Zahira. "Ayo Ra kita pergi!"


Alfian menjulurkan tangannya hendak menggenggam tangan Zahira, tapi Zahira malah menjauhkan tangannya. "Maaf Kak, aku tidak boleh...!"


Dengan cepat Alfian menarik kembali tangannya. Dia tersenyum kecut dan melangkah sambil mengelus tengkuknya yang tidak pegal.


Karena jarak dari kampus ke rumah Alfian sangat dekat, maka tanpa memakan waktu lama, mereka pun sampai juga.

__ADS_1


Dengan senyum bahagia, Ibu Dewi menyambutnya dengan hangat. "Kalian sudah sampai ya, ayo masuk nak!"


"Iya tante makasih, Assalamu alaikum!"


"Eh iya, wa alaikum salam, ayo mari nak!"


Zahira dan Alfian pun masuk ke dalam.


Sambil duduk di sofa, Ibu Dewi tak henti-hentinya menatap Zahira dengan perasaan senang. Zahira jadi keki karenanya.


"Bu, Ayah belum sampai?"


"Iya, tapi bentar lagi juga sampai."


"Ooh kalau gitu kita tunggu bentar ya Zahira, sampai Ayah datang!"


Zahira cuma mengangguk sembari tersenyum menanggapinya.


"Tunggu bentar ya, Ibu ambilin minum dulu." Lalu masuk ke dapur hendak mengambil minum buat tamunya.


Tak berapa lama, Bu Dewi muncul dengan nampan berisi minuman dingin. "Ayo nak, silahkan diminum, kalian pasti haus ya kan?"


"Makasih banyak ya Tante, aku jadi merepotkan!"


"Ga papa kok sayang, itu cuma minuman kok!"


Pak Gunawan yang sudah datang, langsung kaget dengan kedatangan Zahira. Tanpa basa-basi dia masuk ke dalam. Dia bahkan tidak menyapa tamunya terlebih dahulu.


Bu Dewi yang melihat raut tidak senang di wajah suaminya ikutan masuk ke dalam. "Yah, itu ada Zahira kok diacuhkan?"


"Yang suka sama dia kan kamu, kenapa juga aku harus menyapanya!"


"Yah jangan begitulah, dia kan temannya Fian juga!"


"Haah harusnya, Ibu itu tidak menolak Yeni, Ibu sendiri tahu bagimana Papanya Yeni menolong adik kamu itu, harusnya kamu yang lebih mendukungnya karena Diana itu adik kamu"


"Ayah tahu kan, kalau aku tidak suka sama Yeni yang keras kepala dan susah diatur, dia egois dan mau menang sendiri, Ibu tidak mau punya menantu seperti dia!"


"Apa kamu lupa, Diana siapa yang menolongnya? Sekarang Adikmu hanya mau kamu balas budi dengan menjodohkan Fian sama Yeni, kenapa kamu malah menolak!"


"Balas budi ya balas budi, tapi bukan berarti harus mengorbankan kebahagiaan anak juga kan Yah!"


Perdebatan itu terdengar sampai di ruang tamu. Zahira yang mendengarnya jadi tidak enak hati. Dia hanya bisa menoleh menatap Alfian yang sekarang tertunduk malu.


Harapan Alfian untuk makan siang dengan nikmat bersama pujaan hati kini raib tertimpa rasa malu tiada tara.


.


.


.


Besok disambung lagi ya....


Jangan lupa Vote, like dan komennya ya....😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2