
Adrian baru saja mau memesan makanan saat Daniah and the gank masuk ke ruangan. Telinga Adrian menangkap suara Daniah yang lagi mencari tempat duduk. Sontak dia mendongak mencari asal suara itu. Mata Adrian langsung berbinar
"Daniah, Zahira!!" Adrian menyapa mereka.
Zahira dan yang lainnya menoleh mendengar namanya dipanggil seseorang. Saat melihat Adrian tengah tersenyum, Daniah langsung membelalak. "Kamu, ngapain disini?"
"Menari!"
Daniah tenggleng karena jengah, "kheeehhhhh."
Adrian cuma tersenyum melihatnya.
"Duduk di sini yuk!" Sambil menepuk kursi di sampingnya.
Daniah, Zahira, Meta dan Della saling menukar pandang. Karena tak ada kepastian, Meta berinisiatif, "ayo ah, dari pada bengong, mending duduk." Meta langsung duduk.
Mau tak mau mereka juga ikutan duduk.
Daniah sengaja duduk di seberang meja Adrian, di dekat Meta, karena dia tahu kalau Adrian pasti modus. Della duduk di samping Daniah. Karena kursi di dekatnya ga berisi, Zahira langsung duduk aja, meski itu di samping Adrian.
Ayang Daniah, makasih ya, kamu tahu betul apa yang kurasakan." Sambil mengedipkan matanya.
"Ooooohhhh Ayaaaang, Hahaahahaha!" Serentak Della dan Meta Tertawa dan...
"Aaakkhh" Della mengerang, karena Daniah menampar bahunya.
"Apasih Daniah, makin hari makin galak aja deh." Della bersungut.
"Makanya jangan asal!"
"Yang asal siapa coba, emang Adrian panggilnya Ayang, kan Del?" Meta ikutan menyanggah.
"Heh Adrian, jangan suka asal panggil ya, bikin aku diledekin orang aja!" Daniah membuang muka.
Adrian bukannya kapok, malah tersenyum makin jahil. "Tapi Ayang, kamu memang sengaja duduk disitu kan, supaya aku bisa menatapmu selalu, benar- benar seperti yang kuharapkan." Adrian menaikkan satu alisnya.
Daniah memutar bola mata mendengarnya. Della langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa. Sementara Meta tak mampu menahan tawa. "Pffuuuuuffffp, pfuuuffffp."
"Meta! kamu buang angin ya?" Daniah mendelik kesal ke Meta. Sontak semua tertawa. Tak terkecuali Zahira. Daniah makin panas, dia pun mendengus kesal.
"Pesan yuk," Sambil menyodorkan menu.
Daniah tak bergeming, menu di tangan Adrian diacuhkannya. Meta segera merampasnya. "Sini biar aku yang pilih, hehe."
"Aku yang ini deh, kepiting, terus mmmm..." Meta mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir.
Della merasa kesal, "Meta kelamaan deh, cepetan kita juga mau!"
Pelayan yang sedari tadi cuma berdiri, langsung menyerahkan menu ke masing-masing mereka. "Waah makasih ya Mba!" Della dengan semangat langsung memilih makanan. Demikian juga Daniah, Zahira dan Adrian.
__ADS_1
Saat mereka sedang memesan, Pak Khalid datang hendak menghampiri. Melihat Zahira duduk di samping cowok, Pak Khalid jadi tertegun .
"Pokoknya hari ini aku yang traktir, anggap saja syukuran." Adrian menyombong.
"Eh kamu syukuran kenapa?" Meta jadi kepo. "Karena harapanku untuk makan siang bersama Ayang Daniah, dikabulkan oleh yang maha kuasa." Sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.
"Eh Adrian tuh mulut bisa berenti bacot ga sih, iiiih," Daniah nenyeringai kesal.
"Hahaha akur dong akur bentar juga bucin tahu rasa."
Daniah langsung mengangkat tangannya hendak menampar Meta yang tak mau diam. Sontak Meta langsung melompat. Hampir saja dia terjatuh, hingga membuat suara gaduh.
"Daniah jangan kasar gitu dong, ga enak diliatin orang-orang, Meta kan cuma bercanda!" Zahira angkat bicara ahirnya.
Pak Khalid menarik napas begitu mengetagui jika Adrian mengincar Daniah. Dengan segera dia mendekat dan menegurnya. "Hai udah pada pesan ya?" Semua langsung menoleh.
"Eh Bapak sudah datang?" Zahira langsung tersenyum. Adrian mengernyit mencoba mengingat-ingat. "Maaf bukannya Anda...."
Pak Khalid tersenyum, "Iya, aku kenapa?"
"Eh maksudku, Anda Dosen di kampus?"
"Iya, memang aku!"
Adrian makin heran sambil memandangi temannya satu-satu. Sementara Pak Khalid segera menarik sebuah kursi dan meletakannya di antara kursi Zahira dan Adrian.
Karena tempat agak sempit, Zahira terpaksa menarik sedikit kursinya, hingga kursi Pak Khalid muat di sana.
"Sudah memesan?"
Zahira menoleh menatap Pak Khalid, "Eh sudah Pak, cuma aku ga tahu Bapak sukanya apa, jadi...."
"Okelah ga papa kok, biar aku pesan sendiri." Dia pun melambai ke pelayan.
"Oh ya Ra, nih obatnya, habis makan nanti kamu minum!" Sambil menyodorkan obat pereda nyerinya.
"Zahira, kamu sakit?" Adrian heran.
"Emm ini hidungku lebam!"
"Eh itu sakit? kirain eyeshadow."
"Eye shadow di hidung, mana ada, hahaha!" Della tertawa.
"Kirain, karena hidung Zahira makin imut deh dengan warna biru di hidungnya, haha!"
Pak Khalid langsung menoleh menatap Adrian intens, membuat Adrian diam tak berkutik. Daniah tersenyum menang.
Pelayan yang dipanggil Pak Khalid mendekat, lalu mencatat pesanannya.
__ADS_1
Tak ada lagi yang basa-basi, semua makan dengan lahap begitu pesanan mereka datang.
Pak Khalid menarik napas berat saat mengingat akan rencananya yang kini gagal lagi. "Hahh batal lagi ngebahas Amanda, sudah lah, biar nanti aja, sekalian mampir sebentar di rumah Zahira," Batinnya. Dia pun kembali melanjutkan makannya.
Adrian segera menyelesaikan makannya. Dia merasa sangat tidak enak berada didekat Dosen. "Pak saya duluan, emm makanan ini aku yang bayar, makasih ya teman-teman, kalian mau menemani aku makan."
Semua mengangguk menanggapi ucapan Adrian. "Makasih ya Adrian!!" Seru Meta yang dibalas lambaian tangan oleh Adrian. Mereka pun kembali melahap makanan.
Sehabis makan, tidak ada lagi basa-basi, karena Zahira sudah nampak gelisah melirik jam di ponselnya berkali-kali.
Pak Khalid tahu betul kalau Zahira takut kehilangan waktu sholat.
Mereka pun keluar dari restoran. Dengan segera Pak Khalid membuka pintu depan buat Zahira. "Ra kamu depan ya, takutnya nanti Della membentur hidung kamu lagi!"
Della tersenyum mengejek sambil menyamping, takut ketahuan sama Pak Khalid, "Eelleh bilang aja mau deketan, kekkekkekkek."
Mendengar ucapan Della yang setengah berbisik, Daniah langsung menyikutnya. "Diam berisik!" Lalu naik tanpa menunggu perintah.
Mobil melaju dijalan beraspal licin, tanpa ada basa-basi karena mereka mengejar waktu. Akhirnya sampai juga mereka di rumah kosan.
Zahira segera turun tanpa menunggu lagi, dan segera masuk ke dalam rumah. Pak Khalid turun pula. "Daniah boleh aku mampir sebentar?"
"Emm oh iya Pak, boleh, mari Pak!" Daniah tak mampu menahan senyumnya.
Della dan Meta saling pandang, lalu ikut berjalan di belakang Daniah yang sudah beriringan dengan Pak Khalid.
Sesampai di dalam, Daniah mempersilahkan Pak Khalid duduk di Sofa. Zahira yang sudah masuk duluan, tidak tahu kalau Pak Khalid ikutan masuk. Kini Zahira keluar kamar tanpa memakai jilbabnya.
Pak Khalid terpana melihat Zahira tanpa hijab. Lain halnya dengan Zahira yang justru terkejut bukan main. "Astagfirullah, aku ga pake jilbab!"
Dengan cepat Zahira kembali ke dalam kamar. Lalu keluar kembali setelah memakai hijabnya. Dengan cepat dia masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.
Begitu Zahira keluar, Pak Khalid memanggilnya. "Zahira tunggu!"
"Eh iya Pak, ada apa?"
"Bolehkan aku menjadi imam kamu?"
Mendengar permintaan Pak Khalid, Della dan Daniah saling pandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi Zahira tetap santai saja menanggapi pertanyaan Pak Khalid itu
"Boleh kok Pak, kenapa tidak."
"Pak Khalid tersenyum " makasih ya Ra!"
"Silahkan berwudhu ya Pak, kita sholatnya di kamarku aja!"
"Eeeehhhh...."
__ADS_1
Bersambung.
Likenya ya😘😘😘😘😘.