Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 91. Desakan Pak Jin


__ADS_3

Pagi menjelang, Zahira telah siap dengan sarapan buatannya. Tugas rutin bagi Zahira. Meta, Della dan Daniah telah pula siap untuk sarapan.


Adrian menguap lebar sembari mendekati meja makan. Begitu mendekati Daniah, kedua tangannya telah mengembang siap memeluk sang pacar terkasih.


Akan tetapi, dengan sigap Daniah menampar lengannya. "Adrian, kamu ingatkan perjanjian kita!" Mata Daniah melotot tajam.


Seketika Adrian mengalihkan tangannya menarik kursi di dekatnya. "Sorry deh Yang, aku lupa!"


"Nah tuh apa lagi tuh, lupa juga?" Daniah makin sewot.


Adrian menarik napas penuh rasa bersalah. Ia menggigit bibir mengingat janjinya kemarin sebelum Daniah mengutarakan maksudnya kepada teman-temannya.


Saat itu, Daniah memberinya beberapa syarat jika ingin tinggal serumah dengan mereka. Adrian harus jaga jarak, tidak boleh mesra-mesraan, dan tidak boleh memanggilnya Sayang atau Ayang. Adrian menyetujui semuanya, asal bisa bersama Daniah dan diperhatikan, itu sudah cukup baginya.


Mengingat semua itu, Adrian hanya bisa menarik napas lagi dan lagi.


"Kamu tahu ga, demi membatu kamu, aku terpaksa bersitegang sama Zahira!" Sungut Daniah sembari menyodorkan piring ke Adrian.


"Demi kamu aku harus mempertaruhkan harga diri bakal dikatai perempuan murahan sama orang-orang nanti!" Daniah pun menuangkan teh buat Adrian lagi.


"Kalau sampai ada yang tahu kita pacaran, mereka pasti aka mengira kalau kita ini pasangan kumpul kebo, jadi aku ingatkan supaya kamu bisa menahan diri dan tahan mulut, ngerti!" Sembari meletakkan teh di depan Adrian.


Della dan Meta tersenyum geli melihat tingkah Daniah. Tak lebih seperti Ibu-ibu yang mengomeli anaknya saja. Akan tetapi Zahira malah pusing mendengar omelan Daniah, sehingga dengan malas dia mengambil sarapannya dan segera naik ke kamarnya. "Aku makan di atas, silahkan lanjutin omelannya!"


Daniah langsung terdiam dan menatap Zahira heran.


Lain halnya dengan Adrian, dia justru menikmati omelan Daniah. Dia yang tidak pernah mendapakan perhatian dan kasih sayang orang tua sejak kecilnya, omelan Daniah malah membuatnya terharu.


Sekuat hatinya Adrian menahan perasaanya untuk tidak memeluk Daniah. Dia begitu rindu dengan omelan orang tua.


Adrian begitu bahagia berada di samping Daniah. "Oma, Iyan sudah menemukan penggantimu, aku janji tidak akan mencari perempuan lain lagi!" Batin Adrian sembari terus menatap Daniah.


Ditatap tak berkedip, Daniah tambah kesal. "Wooi!!" apa lihat-lihat, makan!"


Adrian tersentak dan langsung menyeruput tehnya. Dan...."Fhfffffttt! Aaah panaaas!" Adrian menjulurkan lidahnya.


"Bwaaaahahahaha, Daniah gara-gara kamu tuh Adrian kepanasan, hahaha!"


Della dan Meta sudah tak mampu lagi menahan tawanya.


"Adrian, ah maaf, maaf, dengan penuh perhatian, Daniah mengambil tisu dan menuangkan air putih agar lidah Adrian tidak terbakar. "Nih minum dulu, biar lidahmu tidak melepuh!"


Adrian mengambil gelasnya sambil menatap Daniah. Dia tidak lagi banyak bicara.


Zahira yang telah sampai di kamarnya, terkejut melihat beberapa panggilan di ponselnya. "Umi, ada apa ya?"


Zahira meletakkan piring dan gelas tehnya, lalu meraih ponselnya berniat menelpon kembali Uminya. Tapi belum sempat ia menelpon, ponselnya sudah berdering duluan.


*"Halo, assalamu alaikum Miy!"*


*"Alaikum salam, Ra, Alfian mau pulang hari ini, jadi Umi sudah titip pesanan kamu kemarin itu, kamu tunggu dia ya, soalnya Alfian kan ga tahu rumah kamu!"*


*"Ooh iya deh Miy!"*


*"Oh ya apa kamu masih ada yang mau dipesan?"*


*" Emmm anu, emm tapi apa iya aku boleh?"*


*"Boleh apa?"*


*"Umiy, aku mau minta, emm mobilku boleh dikirim kemari ga?"*


*"Lho memang kamu sudah berani bawa mobil di kota?"*


*"Iya Miy, sudah beberapa hari ini aku belajar bawa mobil di kota, pake mobilnya Pak Khalid, cuma kan ga enak, pake mobil dia terus!"*


*"Ooh ya sudah, nanti Umi minta sama Abi dulu ya!"*


*"Makasih ya Miy!"*


*"Ya sudah, Umi tutup dulu ya, assalamu alaikum!"*


*"Alaikum salam!"*


Zahira tersenyum sambil meletakkan kembali ponselnya. "Haaahh sekarang sudah tidak akan merasa bersalah lagi sama yang punya mobil!"


Zahira pun menikmati sarapannya dengan perasaan tak menentu. Ada rasa senang karena dia bisa memakai mobil kesayangannya. Akan tetapi ada juga rasa sedih yang menyelinap di hatinya.


"Ah harusnya aku bilang sama Umi kalau aku juga mau pindah rumah, tapi biarlah, nanti kalau udah dapat rumah, baru aku minta izin Umi!"


Saat memikirkan hal itu, entah kenapa ada rasa enggan untuk meninggalkan rumah itu. "Ah aku tidak boleh sedih, aku tetap harus pindah, karena ada cowok di rumah ini, harus!"


Zahira menutup wajah dengan kedua tangannya. "Haahhhh, kenapa berat begini rasanya!!" Zahira menggosok wajanya kasar.


********


Di tempat lain di rumah sakit, Pak Khalid terus terusan merasa tak nyaman dengan kehadiran Para Jin di dekatnya. Berkali-kali dia menarik napas berat karenanya.


Betapa kagetnya dia saat seorang pasien yang masuk di ruang UGD, sedang megalami sakit kejang-kejang seperti terkena epilepsi. Pasien itu tak mampu berkata-kata. Keluarga yang mengantarnya sudah sangat cemas, bahkan ada yang menangis sesenggukan.


Pak Khalid menjadi sedikit tegang memeriksanya. Betapa tidak, di matanya, pasien itu sedang terikat kuat oleh sesosok Mahluk mengerikan.


"Kamu jangan takut, serahkan pada kami!"


Sontak Pak Khalid mendongak mendengar suara itu. "Ah Iya!"


"Maaf apa dokter bicara sama saya?" Tanya perawat yang sedang menemaninya.

__ADS_1


"Aah tidak, tidak, aku cuma asal ngomong aja!" Pak Khalid tersenyum kecut. Dia pun melanjutkan memeriksa pasien secara intensif.


sementara itu, ketujuh Jin yang bersama Pak Khalid segera mengepung Mahluk yang mengikat pasien tadi. Hanya sekali hentak, Mahluk itu pun langsung terlempar dan menghilang.


Pasien yang diperiksa Pak Khalid pun langsung lemas dan tak bergerak -gerak lagi. Napanya kini sudah keluar teratur.


Segera Pak Khalid menyelesaikan pemeriksaannya. Dengan cekatan para perawat memasang infus di tubuh pasien. "Tolong diperhatikan, jika cairan ini sudah habis, segera bawa ke ruang perawatan!" Perintah Pak Khalid pada para perawat.


Tangis haru terdengar pecah. Namun Pak Khalid tak mau ikutan larut dengan masalah pasien. Dia segera pergi dan menuju ke ruangannya. "Mahluk apa itu tadi?" Tanyanya pada Pak Jin yang mengikutinya.


"Bukan apa-apa bagi kami!"


"Haah itu juga aku tahu, maksudku, itu santet atau apa?"


"Itu kesambet, kemungkinan orang itu pernah melanggar aturan wilayah angker!"


"Haah benar-benar menakutkan!" Seraya menghempaskan tubuhnya di kursi.


"Kapan kamu menemui Zahira!"


"Haaah kenapa harus buru-buru?"


"Kami semakin terdesak, ada dukun sakti yang berusaha mengikat semua Jin sakti dan berkuasa untuk menjadi kaki tangannya, kalau terlambat, kami juga akan terjerat!"


"Oke, tapi siang ini, aku tidak bisa, nanti saja setelah pekerjaanku selesai!"


Di saat yang bersamaan, Pak Harun masuk dan kaget melihat Pak Khalid terbengong-bengong. "Hai Lid, kamu sadar kan?"


"Aa...e..ehh iya, aku baik-baik aja!" Pak Khalid gelagapan.


"Kamu kenapa sih sering sekali bengong begitu? gara-gara cewek bukan ya?" Kelakar dr. Harun.


"Ahh ya...hemm mungkin juga sih, hehe!"


"Jangan didiemin dong, kejar sampe dapat, kata orang dulu, selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan nikung, haha!" Seraya menepuk pundak Pak Khalid.


Pak Khalid cuma tersenyum kecut menanggapi candaan temannya.


Perhatiannya fokus pada para Jin yang mengikutinya. Mereka terus-terusan menatapnya.


"Cepat bawa kami!"


"Jangan banyak basa-basi!"


"Atau kami akan marah lagi!"


Desakan Pak Jin bertubi-tubi membuat Pak Khalid semakin tegang.


Secara tak sadar Pak Khalid berteriak, "iya, iya oke!"


Pak Khalid menganga kaget. "Aa...ah maaf bukan maksudku begitu, tadi aku sempat menghayal!"


Dokter Harun cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.


"Oh ya, Run maaf ya, aku ada urusan sebentar, aku permisi dulu!" Seraya bangkit dan menepuk pundak temannya. Dokter Harun hanya bisa menatap kepergiannya dengan wajah heran dan prihatin.


********


Zahira dan temannya dengan gelisah menunggu kedatangan Alfian. Sudah selama setengah jam, Alfian bilang jika dia akan sampai. Tapi sampai sekarang dia belum juga muncul.


Tidak lama kemudian, dari kejauhan Zahira melihat mobil merah kesayanganya melaju ke arahnya. Dia pun terlonjak senang. "Waahhh akhirnya Alya datang juga!"


Teman-temannya pada heran, "Aliya?" Mereka saling tatap.


"Ooh itu mobil aku, tuuh!" Seraya menunjuk ke arah datangnya mobil kesayangannya.


"Itu mobil kamu Ra!" Meta terbelalak.


"He em!"


"Waah Zahira kamu benar-benar tajir ya!" Seru Della.


Zahira tersenyum, "Ah biasa aja kok!"


"Uuh begitu tuh, kalau orang kaya yang ngomong!" Della langsung menggamit Meta, "Eh Met, coba aku tanya ke kamu, jawab ya!"


Meta mengernyit. "Apa?"


"perbandingan antara orang kaya beneran sama orang kaya baru alias OKB!" Jelas Della


"Waah Meta kamu tajir ya!" Sambil mengedipkan matanya.


"Ahh ga kok, biasa aja!" Meta menjawab seakan mengejek Zahira.


"Hahaha, tanya balik ke aku!" Della antusias.


"Waah Del kamu tajir ya?" Meta menaha tawa.


'Ooh iya dong, siapa dulu, Della!"


"Hahahaha, itu jawaban orang OKB!" Seru Meta kegirangan.


Daniah jadi kesal melihat tingkah temannya. "Kalian berisik tahu gak!"


Seketika Della dan Meta jadi bungkam. Adrian yang menatapnya dari teras cuma tersenyum melihat tingkah mereka.


Mobil Zahira pun telah sampai di depan mereka. Alfian segera turun disambut oleh pasukan Daniah. "Hai Kak Fian, apa kabar!" Seru Della sumbringah.

__ADS_1


"Aku baik, kalian?"


Sambil menatap Zahira dan yang lainnya bergantian.


"Kita juga baik!" Seru Meta.


Zahira dan Daniah cuma tersenyum.


Sedang asik berbincang, Yeni dan Nova ikutan muncul dari mobil. Zahira dan yang lainnya jadi terdiam melihatnya. Terutama Daniah, Meta dan Della. Mereka ingat betul bagaimana Yeni langsung cemburu, saat Alfian memeluk Zahira tempo hari.


"Kak Yeni." Gumam Zahira seraya menatap Yeni lekat.


Nova dan Yeni berjalan mendekati mereka. "Hai Zahira, pa kabar?"Sapa Yeni seraya merentangkan kedua tangannya lalu memeluknya erat.


Daniah and the gank, semakin heran dengan tingkah Yeni.


"Aku baik Kak!" Zahira berusaha melepas pelukan Yeni.


"Oh ya, kami pake mobil kamu ga papa kan?" Yeni tersenyum ceria.


Zahira cuma mengangguk pelan. "Iya ga papa Kak!"


Alfian tak menggubris perbincangan mereka, dia segera membuka bagasi mobil dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Hai bantuin dong!" Teriak Alfian sambil menjinjing beberapa sisir pisang dan 2 rak telur. Dengan cepat Della dan Meta membantu membawa beberapa.


"Masuk yuk Kak!" Ajak Daniah pada Yeni dan Nova.


"Ra, kita boleh masuk?" Yeni seakan tidak menghiraukan Daniah. Dia lebih mendekati Zahira. Daniah dongkol dibuatnya.


"Ya boleh Kak, mari masuk!" Seraya melangkah mendahului mereka.


Begitu sampai di rumah, Alfian terkejut melihat keberadaan Adrian. "Kamu ngapain ada di sini?"


"Oh itu Kak, Adrian tinggal bareng kita di sini!" Terang Daniah.


"Kok bisa? Zahira! Kenapa mengizinkan cowok tinggal seatap sama kalian?" Alfian sedikit kesal.


"Aa...bu...bukan aku...Kak, Daniah yang mengizinkannya!" Zahira sudah ketakutan.


"Apa-apaan ini, apa kata orang kalau ada pria asing tinggal serumah dengan cewek, apalagi kalau tahu kalian pacaran!" Suara Alfian mulai meninggi.


Mereka semua ketakutan, terutama Daniah. Karena dialah yang memaksakan agar Adrian bisa tinggal.


"Tapi Kak, kita ga ngapa-ngapain kok, kita sudah sepakat untuk tidak berbuat yang aneh-aneh, juga tidak melanggar privasi masing-masing!" Terang Daniah sambil menunduk.


"Maaf Kak, kalau masalahku selesai, aku janji akan segera pergi!" Adrian ikut menegaskan.


Alfian mengusap wajah. Dia mencoba menetralkan emosinya, mengingat Zahira takut bentakan. "Haah, dengar ya, mau sebentar atau lama, aku tidak mengizinkan adik aku tinggal seatap dengan cowok!"


Mendengar pengakuan Alfian tentang hubungannya denga Zahira, Della kini mengerti kenapa Yeni bersikap manis sama Zahira, "Heemm pasti Kak Yeni sudah tahu hubungan merek!" Batin Della.


"Baik Kak, nanti aku akan segera cari rumah, kalau sudah dapat, aku akan segera pindah, aku janji!" Ujar Adrian kemudian.


"Udah dong, jangan keras begitu, kasihan juga kan dia ga ada tempat tinggal!" Yeni sok menengahi.


"Bagaimana kalau kita masuk aja yuk!" Tawar Della. Sementara Meta sudah menghilang masuk ke dalam.


"Ah ga usah, kami mau segera pulang, aku mau istirahat juga, oh ya Zahira, kami kan datang pake mobil kamu, jadi antar kami pulang, sekalian kamu ambil mobil kamu ya!"


"Iya Kak, baiklah!" Zahira mengangguk pelan.


"Yuk kita pulang!" Seru Alfian seraya menatap Yeni dan Nova. Mereka pun hanya mengangguk mengikuti ajakan Alfian.


Yeni seakan tidak mau pisah dengan Zahira. Dengan cepat dia menggaet lengan Zahira dan menggandengnya.


Daniah dan Della saling pandang melihat kelakuan Yeni, yang berubah 160 derajat itu.


Saat Zahira naik ke mobil yang pintunya dibukakan oleh Alfian, Pak Khalid juga sampai di sana. Pemandangan yang tak mengenakkan pun terjadi lagi.


Pak Khalid mencengkeram stir motornya kuat-kuat. Dengan kecepatan tinggi, Pak Khalid melaju melewati mobil Alfian. Dia sangat kesal dan sakit hati.


Pak Khalid terus melaju dengan perasaan yang tercabik-cabik. Sepanjang jalan dia terus merutuki Pak Jin yang telah mendesaknya untuk mengantar mereka bertemu Zahira.


"Ini semua karena aku menuruti desakan Pak Jin, seharusnya aku tidak mengikuti kata-kata mereka, sekarang rasanya makin sakit!"


Motor Pak Khalid yang melaju kencang membelah jalan raya, membuatnya susah untuk mengerem. Tanpa disadarinya, seorang bocah sedang bersepeda menyeberang jalan.


Tanpa mampu berbuat apa-apa lagi, Pak Khalid pun pasrah dan hanya menutup mata. Dengan keras dia menekan rem depan dan belakang secara bersamaan. Hingga suara cericit ban motornya terdengar memekakkan telinga.


Suara teriakan orang yang melihatnya melengking tinggi. Tak ada lagi yang bisa menebak apa yang akan terjadi pada si bocah.


Aneh sungguh sangat aneh. Sepeda dan bocah itu terbang melayang dan jatuh dengan sangat nyaman. Bagaikan ada yang menangkap dan meletakkannya dengan hati-hati.


Sementara motor Pak Khalid yang terjungkang ke depan, langsung kembali berdiri tegak tanpa ada masalah. Semua yang melihatnya langsung ternganga tak percaya.


.


.


.


Ingatlah buat like dan komen ya😘😙😘😘😘.


Votenya juga😆😆😆makasih ya.


NB. Kejadian serupa yang menimpa Pak Khalid juga pernah menimpa Author lho😆😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2