Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 64. Kekuatan iman


__ADS_3

Pak Khalid bergegas naik ke kamarnya mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


Sesampai di bawah, matanya tertuju pada sarapannya yang masih tersisa beberapa. Ada keinginan untuk membawakan sarapan itu buat Zahira dan temannya.


"Aku bawakan ga ya?"


"Tapi kalau aku ga bawa, pisang gorengnya bakal mubazir juga."


"Tapi gimana kalau mereka sudah sarapan juga?" Setelah puas berperang dengan dirinya sendiri.


"Aah bawa sajalah." Itulah keputusan akhirnya.


Pak Khalid pun langsung menyambar piring berisi pisang goreng dan dibawanya ke luar.


Sementara di rumah Zahira, Daniah tengah kesal. Pasalnya, Zahira tidak sempat membuat sarapan akibat kesiangan. Dengan kesal dia menggerutu di ruang tengah.


"Haah ga sarapan lagi hari ini, gara-gara Zahira pake telat bangunnya."


Meta mencoba menenangkan, "Ya namanya juga kesiangan mau diapalagi, sabar aja deh, bentar juga Zahira yang yang traktir!" Meta mengerling nakal.


"Huuh dasar mata traktiran!"


Meta cuma tertawa.


Zahira yang keluar dari kamar langsung kecut melihat Daniah bermuka masam. "Maaf ya, aku kesiangan jadi ga sempat bikin sarapan."


"Haah, begi...."


Daniah tak sempat melanjutkan ucapannya, karena terdengar ketukan di pintu.


Semua menoleh ke pintu. Meta dengan cepat membuka pintu, "Eeh Pak Khalid?"


"Assalamu alaikum Meta!"


"Alaikum salam Pak!"


Semua yang ada di dalam melongo, mereka heran dengan kehadiran Pak Khalid pagi-pagi.


"Boleh masuk?"


"Eh iya Pak, silahkan!" Meta mempersilahkan tapi matanya tertuju pada piring yang dibawanya.


Pak Khalid yang melihat arah pandangan Meta langsung menyerahkan piring yang dibawanya. "Oh ini sedikit sarapan, tadi dikasih sama pemilik rumah!"


Mata mengambil piringnya dengan wajah heran. "Kok pemilik rumah?"


"Emang Bapak tinggal dimana?"


"Iya Pak, kok pagi-pagi udah nongol di sini?" Della yang baru keluar kamar ikutan bertanya. Zahira sendiri memilih diam, karena jantungnya sudah tak karuan sejak tadi. Meski hatinya juga penasaran.


Pertanyaan beruntun langsung tertuju pada Pak Khalid hanya karena sepiring pisang goreng. Dia tersenyum geli mendengarnya. "Wah aku mesti jawab siapa dulu ini?"


Daniah dan Meta saling pandang, sedangkan Della cuma tersenyum. "Ya terserah ajalah Pak, hehe."


"Baiklah, semalam aku nginap di rumah yang di depan!"


"Haaahhh!" Mereka kaget berjamaah.


"Kok bisa Pak, apa Anda keluarga dengan mereka Pak?"


"Kenapa harus menginap di sana?"

__ADS_1


Pak Khalid makin merasa lucu. "Hahaha kalian ini kompakan sekali ya!"


Mereka semua langsung terdiam karena malu. Meta yang memegang piring langsung comot dan makan tanpa mengajak temannya. Della langsung merebut piringnya. "Wei bagi juga napa!" Lalu melahap pisangnya.


"Della, Meta, bisa ga tuh piring taro dulu di meja terus duduk makan!"


Della cuma senyum menyringai lalu meletakkan piring di meja.


Daniah dan Zahira kemudian ikutan mengambil dan makan.


"Ngomong-ngomong apa kalian mau ke kampus sekarang?"


"Iya Pak, sengaja berangkat pagi, soalnya kita kan jalan kaki." Jawab Meta.


"Dari pada jalan kaki, mending ikut aku aja, nanti aku antar kalian ke kampus!"


"Yeeey boleh deh Pak, makasih banget, hehehe, aaddduuuhhh!!" Meta meringis karena di tabok oleh Daniah tiba-tiba. "Bisa ga sih, ga main tabok seharii aja?" Meta bersungut-sungut.


"Itu ganjaran buat orang yang ga punya urat malu!" Daniah memasang muka marah.


"Ya elah, emang mau bilang apa, bilang ga usah, iih ga mungkin juga kan, kalau kamu tidak mau ya sudah biar aku saja!"


Daniah langsung melotot tajam "Meta!"


Pak Khalid tersenyum-senyum melihat tingkah anak kosan di depannya. Meskipun mereka berasal dari daerah yang berbeda, tapi di rumah itu, mereka benar-benar seperti saudara yang saling menyayangi.


Daniah yang selalu arogan dan sok mengatur ditambah wajahnya yang agak dewasa, seakan-akan dia adalah kakaknya. Sedangkan Meta yang polos dan lucu serta selalu menjadi bulan-bulanan Daniah, seakan dia adalah yang bungsu. Mereka benar-benar lucu di mata Pak Khalid.


"Eh Pak, kok malah senyum-senyum, bukannya mau jawab pertanyaan kami?"


"Oh iya, itu karena kalian semua lucu, seperti saudara yang tidak akur, hahaha!"


"Heemmmm!" Della dan Daniah memberengut kesal.


Empat sekawan itu pun segera bergegas pula hendak pergi. Karena masih tetinggal sepotong pisang, Meta pun menyambar dan membawanya.


Karena Daniah harus menutup pintu, dia pun menyusul belakangan.


Sesampai di mobil, Zahira tertegun karena Meta menyuruhnya duduk di depan. "Ra ini buat Daniah, kamu di depan ya, seperti biasa!" Sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tapi Meta aku...."


"Sudah duduk di depan sana, takutnya hidungmu terbentur sama Della lagi!" Suruh Daniah sambil masuk ke dalam mobil.


Zahira mengerutkan kening sambil memanyunkan bibirnya, sebab merasa disindir. Dia terus saja mematung, karena rasa canggung dan grogi terus saja merundung hatinya.


Karena Zahira tak kunjung masuk mobil, Pak Khalid melongok keluar. "Ra ayo cepat masuk!" Lalu membuka pintu dari dalam.


"I...iya Pak!" Lalu masuk dengan perlahan. Saat melirik ke samping, wajah Zahira langsung memanas saat mengetahui kalau ternyata Pak Khalid tengah memandangnya sambil tersenyum. Dengan cepat dia berpaling menghadap jendela.


Mereka yang di belakang menyaksikan hal itu, "Ehem...!" Della mendehem keras. Pak Khalid langsung menoleh. "Ada apa Della?" Della langsung salah tingkah.


"Sampai kapan kalian mau berhenti main tatap," Batin Daniah. "Kapan kita berangkat Pak?" Serunya kemudian.


Pak Khalid kaget, "Eh oh sekarang kita berangkat!" Dia pun menyalakan mobilnya dan meluncur.


Della yang masih penasaran dengan pertanyaannya yang belum terjawab, mencoba bertanya lagi. "Pak, Anda belum menjawab kami lo tadi!"


Pak Khalid menoleh sebentar, "Oh ya, tapi aku lupa pertanyaan apa ya?"


Della dan Meta saling pandang, Meta lalu menepuk jidat, "Adduuuhhh, Pak, pertanyaan kami itu, bagaimana ceritanya sampe Bapak bisa nginap di depan rumah kami?"

__ADS_1


Pak Khalid tersenyum lagi, "Ooh itu ya, mmm..."


Pak Khalid menarik napas, lalu melirik Zahira yang tampak kaku dan terus saja menatap ke depan. Pak Khalid benar-benar merasa tidak enak hati. Dengan berat dia menarik napas.


Lalu mulai bercerita.


"Kemarin itu, aku tidak pulang melainkan mencari rumah kontrakan. Dan ternyata pemilik rumah itu menawarkan rumahnya untuk di sewa. Jadi aku langsung setuju."


" Karena aku pikir, dengan tinggal dekat dengan kalian, kalau ada apa-apa, aku bisa langsung datang membantu." Pak Khalid menoleh kebelakang sebentar sambil tersenyum.


Mereka pun mengangguk-angguk mencoba memahaminya. "Tapi Pak, pemilik rumah itu tinggal dimana dong?" Meta penasaran.


"Mereka memilih mengontrak juga."


"Haaahhh!!" kaget lagi berjamaah.


"Iya, itu karena disuruh sama Orang pintar katanya, hahaha!"


"Disuruh sama orang pintar? kenapa Pak?" Akhirnya Zahira bersuara juga.


Pak Khalid langsung menoleh menatap Zahira. Senyum tipis membentuk di bibirnya. "Memangnya kamu paham istilah orang pintar?"


"Ya itukan Dukun Pak." Jawab Zahira.


"Jadi tetangga kita itu suka maen dukun?" Daniah terkejut.


"Bukan, cuma gara-gara anak mereka sakit sejak melihat penampakan Amanda, karena itu mereka mendatangi orang pintar katanya, soalnya anaknya tidak sembuh-sembuh meski sudah dirawat di rumah sakit."


"Penampakan Amanda, lihat dari mana, mereka kan ga pernah masuk rumah?" Meta semakin heran.


"Teras mereka menghadap langsung ke rumah kalian, jadi rumah kalian termasuk teras atas itu, terlihat dengan jelas."


"Oohh, tapi bagaimana mereka bisa melihat Amanda?" Della ikutan penasaran.


"Haah sepertinya Amanda memakai tali gantungan yang ditemukan Zahira itu sebagai tempatnya bersantai di teras, semalam aku juga melihatnya."


"Artinya Bu Kos sakit juga karena melihat Amanda!" Meta antusias.


"Tapi kalau cuma melihat hantu di seberang rumahnya, kenapa juga mereka pindah rumah?" Zahira bersuara lagi.


Lagi-lagi Pak Khalid menoleh dan tersenyum. Disaat yang sama Zahira juga menoleh, mata mereka pun beradu. Dengan cepat Zahira memandang ke depan. Wajahnya bersemu merah.


Pak Khalid yang melihat perubahan air muka Zahira, kini menyadari bahwa kemungkinan Zahira menghindarinya karena malu padanya. Senyum penuh arti tergambar di bibirnya.


"Itu karena mereka mengikuti saran dari Dukun yang mereka datangi, dan sepertinya mereka sangat mempercayainya." Pak Khalid pun menjawab pertanyaan Zahira.


"Kenapa semua orang lebih percaya Dukun dari pada sama Allah sih, padahal tidak satu pun mahluk di muka bumi ini yang akan mampu mengganggu Hamba Allah yang beriman dan bertakwa padaNya."


Baik Meta, Della dan Daniah tertegun mendengar ucapan Zahira. Mereka sekarang menjadi kagum dengan Zahira yang sungguh tidak takut apa pun kecuali pada Allah.


Seperti halnya Daniah and the gank, Pak Khalid pun menjadi sangat kagum. "Jadi sebenarnya kekuatan dan kehebatan Zahira itu dari ketaatan dan keimanannya ya." Batin Pak Khalid.


Dalam hati, Pak Khalid menyadari jika dirinya memang bukanlah orang yang taat agama, sholat pun, kadang-kadang ingat kadang juga lupa. "Mungkin karena aku tidak taat makanya aku ga punya kekuatan apa-apa." Batinnya lagi.


Mobil terus melaju dengan suasa hening di dalamnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, vote, dan komen ya😘😘😘😘😘😘😘.


__ADS_2