
Hari ini, Amanda tidak mengikuti Zahira. Dia lebih memilih untuk menunggu Tono keluar dari rumah. Dengan sabarnya, Amanda berdiam dibalik pintu dekat tangga.
Sudah sejak pagi, dia berdiri menunggu di sana. Air matanya terus menetes membayangkan betapa bejatnya lelaki brengsek itu.
Waktu itu, sekitar 5 tahun yang lalu, Amanda datang dari kampung nun jauh dari kota Makassar. Dia ke kota lantaran mendapat kerjaan di sebuah super market terkemuka di Makassar.
Setelah tabungannya cukup banyak, dia mencoba mencari rumah kontrakan, agar tidak terus-terusan menumpang di rumah sepupu tetangganya di kampung.
Setelah 3 bulan tinggal sendiri, dia akhirnya bertemu dengan Tono, anak Bu Kos yang baru pulang dari bekerja di luar kota.
Begitu melihat Amanda, setiap hari dia selalu turun di lantai bawah. Ada saja alasannya, jika ditanya mengapa dia datang di bawah, padahal di sana khusus wanita.
Hingga suatu hari, saat semua penghuni kosan sedang keluar semua, dia turun di bawah. Dia sudah hapal betul hari libur Amanda.
Dan begitu Amanda keluar dari kamar mandi, dengan cepat dia menariknya masuk kamar dan memaksa melayaninya dengan kasar.
Tak ada seorang pun yang mendengar teriakan Amanda karena mulutnya disumpal dengan sapu tangan. Begitu selesai dengan aksi bejatnya, dia mengancam Amanda jika berani mengadu pada polisi atau pada orang lain, maka dia akan membunuhnya.
Dengan menahan tangis dan sakit yang amat sangat, Amanda hanya bisa menurut. Setelah hari itu, Tono selalu datang meminta jatah secara gratis.
Sebulan berlalu dan hampir setiap malam, Tono mendapat jatah, Amanda terlambat datang bulan. Merasa penasaran, diam-diam Amanda membeli testpack. Amanda sengaja tidak menggunakan pengaman, karena dia berpikir, hanya dengan kehamilanlah dia bisa minta pertanggung jawaban. Lagi pula sudah terlanjur basah.
Akan tetapi, apa yang terjadi, saat Amanda memperlihatkan tes kehamilan bergaris dua dihadapan Tono, dia marah bukan kepalang. Dia memaksa Amanda untuk menggugurkannya.
Amanda menolak, dia tidak mau menanggung dosa sebagai pembunuh, apalagi itu darah dagingnya sendiri.
Amanda mengancam akan memberitahukan ke Ibu Kos tentang kelakuannya jika Tono tak mau tanggung jawab.
Setelah malam itu, Tono tak pernah lagi datang ke kamar Amanda. Merasa diabaikan, Amanda mencoba menguatkan dirinya untuk memberi tahukan pada Bu Kos. Tapi apa yang didengarnya, Bu Kos juga menyuruhnya melakukan aborsi.
Amanda marah dan mengancam akan melapor polisi jika mereka tidak mau tangung jawab. Lalu kembali ke kamarnya menangis penuh parasaan luka.
Saat malam beringsut pelan. Dikala semua orang tengah terlelap dalam pulau kapuknya, Tono dan Bu Kos mengendap-endap masuk ke dalam kamar Amanda, dengan kunci cadangan yang selama ini dipakai Tono.
Begitu melihat Amanda tengah lelap, Bu Kos segera menutup wajahnya dengan bantal. Amanda meronta-ronta hendak melepaskan diri, tapi dia tak mampu melawan kekuatan 2 orang.
__ADS_1
Setelah agak lama meronta, Amanda pun terkulai lemas tak berdaya. Perlahan-lahan Bu Kos membuka bantal di wajahnya. Tampak Amanda tengah tersengal sesekali, menandakan dia masih hidup.
Dengan cepat, Tono memasangkan tali gantungan yang berukuran besar di lehernya. Dengan lemah amanda mencoba menggeleng, namun karena lemas, dia tidak sanggup lagi melawan.
Dengan kasar Tono menarik tali yang telah menjerat lehernya. Amanda tercekik, dia mencoba berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Dia terus saja ditarik hingga lehernya benar-benar tercekik. Lidahnya menjulur keluar dan matanya melotot. Napas terakhir Amanda keluar setelah ucapan terahirnya berhasil keluar. "Aku akan menghantuimu, keekkkhhhh!!"
Air mata bening mengalir mengikuti sumpah terahir Amanda. Matanya yang melotot memandang Bu Kos, membuat Bu Kos langsung meremang.
Dengan cepat, mereka menggatung tubuh Amanda di tiang besi kipas angin besar di kamar itu. Sebagaimana yang disaksikan di film-film, mereka segera membereskan kamar itu, menaruh sebuah kursi plastik dengan posisi terjungkal, seakan-akan sengaja ditendang oleh Amanda.
Karena sebelumnya, mereka telah menggunakan kaos tangan tebal, agar tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Kunci kamar Zahira sengaja ditaruh di lantai agar tampak sengaja membuang kunci pintu.
Dengan kunci cadangan yang dimilikinya, mereka mengunci pintu itu dari luar.
Setelah 2 hari tidak ada kabar, teman kosnya merasa curiga. Dengan meminta bantuan orang sekitar, pintu kamar Zahira berhasil dibuka. Betapa terkejutnya orang-orang saat menyaksikan tubuh Amanda telah tergantung dengan wajah menyeramkan.
Beberapa orang ingin melapor polisi, tapi sebagian orang tak mau ambil resiko. Pro dan kontra terjadi, mereka takut melapor karena bisa jadi mereka sendiri yang jadi tersangka.
Begitu berita itu tersebar, dan sampai ketelinga Pak RT, dengan cepat dia datang ke lokasi. Setelah mendengar semua cerita orang-orang, dia segera melapor ke polisi.
Setelah diamankan polisi, semua surat-surat Amanda diperiksa oleh polisi. Begitu mengetahui alamat keluarga Amanda, mereka segera dihubungi.
Semua orang di rumah itu diperiksa, tapi semua mengaku tidak tahu apa-apa soal kepribadian Amanda. Apalagi soal hubungan asmaranya.
Keluarga Amanda sendiri menolak dilakukan visum. Mereka bersedia menerima kenyataan jika Amanda memang bunuh diri. Yah begitulah kebiasaan sebagian masyarakat pedalaman yang selalu takut berurusan dengan polisi, mereka akan cepat menyerah dan menerima nasib.
Meskipun menurut laporan akhir, Amanda hamil sekitar 4 minggu, tapi karena tidak ada saksi mata dan tak ada bekas kekerasan ditubuh Amanda, ditambah keluarganya yang sudah mengihlaskannya, penyelidikan benar-benar berhenti.
Kematian Amanda resmi dinyatakan sebagai kasus bunuh diri. Dugaan kuat aksi bunuh diri itu, karena korban sedang hamil diluar nikah dan kemungkinan sang pacar tidak mau bertanggung jawab, sehingga korban nekat bunuh diri.
Amanda terus menangis mengenang nasib buruknya. Entah sejak kapan Amanda terperangkap dalam kamarnya itu, dia sendiri tidak mengingatnya.
__ADS_1
Yang dia ingat hanyalah, dia terus saja tergantung, meronta tapi tidak bisa terlepas dari belenggu itu. Meski suaranya bisa keluar dengan rintihan dan tangisan yang menyayat hati, tetap saja tidak ada yang mau menolongnya.
Sejak malam dimana dia digantung, sejak itu pula dia menderita setiap malam, berteriak minta tolong tapi tak ada yang perduli.
Kini, dia telah terbebas dari jeratan tali gantungan itu. Dengan mata menyalanya, walau masih dengan air mata darah yang terus mengalir, dia menatap kedatangan Tono yang kini berjalan menuruni tangga.
Dengan cepat dia melesat mengikuti arah kepergiannya. Amanda ingin tahu kemana pria ini pergi. Dia tidak lagi ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya untuk membalas dendam.
Saat motor Toni melaju, Amanda terus mengikuti jejaknya. Hingga motor itu sampai disebuah rumah yang tak dapat dimasuki Amanda. Barulah dia tahu jika Tono mencoba meminta bantuan dukun. Dengan wajah kecewa Amanda melesat kembali ke rumahnya.
Saat Amanda pergi, Tono telah masuk ke dalam rumah Ma'Nipah. Tapi alangkah kagetnya dia begitu melihat keadan disana. "Maaf ada apa ini?"
Semua mata menoleh ke arahnya. "Anda siapa?"
"Ah saya, anak Bu Marni."
Seseorang langsung berdiri." Oh jadi Ibumu yang membuat Tanteku meninggal!"
Tono sangat terkejut. "Aa...apa? Meninggal, bagaimana bisa?"
"Setelah beberapa hari lalu, dia pergi membantu Bu Marni, Tante pulang dengan kondisi muntah darah, dan beberapa saat kemudian dia meninggal."
Tono jatuh terduduk mendengar penuturan Lelaki di depannya. "Ah tidak mungkin, Ma'Nipah dukun sakti, tidak mungkin kalah dengan hantu.
"Maaf ya aku benar-benar tidak tahu kalau Ma'Nipah meninggal, sekarang Ibuku juga lagi sakit di rumah sakit, dia seperti orang gila berteriak-teriak tak mau diam."
Semua yang datang tahlilan di sana menjadi diam mendengar pengakuan Tono. Karena merasa tak ada lagi urusan, Tono pun bangkit dan segera pergi. Kali ini dia ingin melihat Ibunya di Rumah sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
Besok disambung lagi ya, semoga tetap setia menanti setiap kelanjutan kisahku. Love U Allπππππ
Jangan lupa tingalkan jejak yaπππ