
Zahira yang turun dari mobil menjadi heran seheran herannya melihat semua temannya masih nongkrong di depan pintu. Segera dia menutup pintu mobil sambil tersenyum pada Pak Khalid.
"Maksih ya Pak, aku masuk dulu!" Tanpa menunggu jawaban, Zahira meniggalkan mobil itu langsung masuk pekarangan.
Pak Khalid hanya mengangguk lesu tanpa basa-basi karena Zahira sudah pergi. Akan tetapi segera menarik napas lalu menyalakan mesin mobilnya kembali dan meluncur pergi. Senyum senang mengambang dibibirnya mengingat acara makan siangnya sukses meski sempat ketakutan setengah mati. Antara bersyukur atau tidak sama mahluk buruk itu.
Begitu Zahira sampai, semua temannya langsung menyambutnya. "Wah gimana makan siangnya?" Meta sudah senyum-senyum jahil.
Daniah dan Della hanya menyimak.
"Biasa aja, kalian kenapa ga masuk?"
"Takut Hantu." Della bergidik
Daniah mengangguk membenarkan.
Zahira mengerutkan kening, "mana ada hantu siang-siang?"
"Beneran lho Ra, tadi pas kita lagi masak, tiba-tiba panci jatoh sendiri, iiih." Meta bergidik ngeri.
"Ya sudah yuk masuk, sudah pegal berdiri dari tadi di sini!" Daniah ahirnya angkat bicara dan langsung masuk ke dalam.
Tanpa pikir panjang lagi mereka pun masuk ke dalam.
Zahira tidak singgah di sofa sebagaimana temannya. Tapi langsung masuk ke dalam kamar. Maklumlah waktu dhuhur hampir berlalu lagi. Selesai sholat, barulah dia keluar menemui temannya.
"Kalian sudah makan belum?"
Daniah menoleh mendengar pertanyaan Zahira.
"Gimana mau makan, masak aja belum!" Seperti biasa Daniah selalu sewot.
Meta mengangguk sambil manyun, "iya nih kita kelaparan."
Della hanya angkat alis mengiyakan ucapan Meta.
"Kalau begitu biar aku yang masakin ya." Sambil berlalu masuk ke dalam dapur. "Aku bantuin ya!" Meta langsung berlari masuk tanpa menunggu jawaban Zahira.
Daniah dan Della hanya saling pandang. Kemudian asik dengan ponsel masing-masing sambil rebahan di sofa. Tanpa sadar keduanya telah lelap dalam tidurnya.
Meta datang sambil memukul sandaran sofa. Sontak Della dan Dania langsung terlonjak bangun. Meta tertawa terpingkal-pingkal. Dengan kesal Della langsung menampar wajahnya dengan batalan sofa.
"Aaauuuh, haahahaha." Meta tertawa kemudian berlari masuk dapur sambil teriak.
__ADS_1
"Makanan sudah siap!!!"
"Metaaaaa!!!!" Daniah dan Della langsung menyerbu ke dapur hendak menerkam Meta yang mengganggunya.
Sesampai di dapur, mereka segera mencekik leher Meta bersamaan. Sambil berteriak Meta meronta-ronta. Zahira cuma bergidik melihat candaan temannya tapi ikut tersenyum . Meski hal itu cuma candaan bagi mereka, tapi tidak bagi Hantu yang selalu senang mengawasi di bawah tangga.
Karena trauma yang pernah dialaminya hingga menghilangkan nyawanya itu, Hantu segera melesat hendak melerai cadaan yang dia anggap serius. Akan tetapi sesaat ragu saat melihat Zahira. Ahirnya dia memilih untuk menjatuhkan piring yang terletak di atas meja makan.
Seketika semua terdiam dan berdiri kaku saat melihat piring plastik tiba-tiba jatuh dan berputar-putar diatas lantai.
Daniah, Meta, dan Della langsung berpelukan sambil teriak. "Hantuuuu!!"
Zahira tertawa lepas melihat tingkah temannya. "Hahahaa makanya bercanda jangan kelewatan kasihan Metanya."
Mendengar itu, Daniah langsung menoleh, "Eh itu kamu yang buat?"
Zahira menggeleng, "bukan kok, mejanya tersenggol pas kalian bercanda, so piringnya jatuh."
"Mau makan atau mau bercanda?"
Mendengar pertanyaan Zahira itu, Meta segera ambil posisi dan menyambar makanan diatas Meja. Daniah dan Della tak lagi protes, hatinya sudah sangat kecut karena dua kejadian aneh yang menimpanya siang itu. Mereka pun ikutan menyambar makanan.
Zahira keluar dari dapur saat temannya sudah asik makan, lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di kasur karena hari itu terasa cukup melelahkan baginya. Belum sempat matanya tertutup rapat, tiba-tiba terdengar suara kresek di kolong ranjang.
Dengan kening berkerut, Zahira turun dari ranjang dan melongok ke dalam sana. Begitu kagetnya Zahira saat di dalam sana tampak seutas tali gantungan terbuat dari tali tambang yang besar.
Tali itu terlihat aneh. Sama seperti tali gantungan yang dibuat anak pramuka saat praktek tali-temali di sekolanya dulu. Tapi tali yang terbuat dari tali tambang yang cukup besar lebih mirip dengan tali gantungan untuk mengeksekusi penjahat di tiang gantungan.
Zahira membawa tali gantungan itu keluar dari kamarnya hendak memperlihatkannya pada temannya.
Saat itu acara makan siang temannya pun sudah selesai.
"Daniah, kamu tahu gak ini tali apaan?"
Daniah dan yang lain segera menoleh.
Begitu melihat tali gantungan itu, Meta langsung teriak. "Zahiraaaa buang tali itu Ra!!" Meta memeluk Della dengan tubuh gemetar.
Zahira mengerut tak mengerti. "Tapi kenapa?"
Daniah merasakan aura dingin tiba-tiba menyerbu tubuhnya. Della pun demikian.
"Ra kamu nemu itu tali dimana sih?" Suara Della gemetar. Sementara Daniah tercekat tak mampu bersuara.
__ADS_1
"Tuh di bawah ranjangku." Zahira menunjuk dengan wajahnya.
Baik Meta, Della dan Daniah berpelukan dengan tubuh gemetar. "Zahira mending buang jauh-jauh tali gantungan itu, cepetan!" Meta semakin ketakutan.
"Iya Ra, kita takut banget nih." Della semakin memgeratkan pelukannya.
Zahira makin bingung dengan tingkah temannya.
"Iya tapi ada apa?"
"Nanti aku cerita tapi kamu buang dulu talinya yah!"
Zahira mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Tali itu dia letakkan di lantai kamarnya kemudian keluar lagi.
Kini temannya sudah pada meringkuk di sofa dengan memeluk lututnya.
"Sebenarnya ada apa sih tolong jelaskan biar aku mengerti." Zahira ikutan duduk setelah meminta temannya bercerita.
Temannya saling pandang. Kemudian Della mengangguk ke Meta tanda meminta agar Meta bercerita. Dengan muka tegang, Meta membetulkan duduknya.
"Aku mau cerita, tapi Zahira lindungi aku yah!" Muka Meta merajuk tegang.
Zahira cuma mengangguk, ingin rasanya dia menegur dan menceramahi Meta kalau meminta perlindungan itu bukan pada dirinya tapi pada Allah, namun diurungkannya mengingat Daniah tidak suka diceramahi. Lagi pula dia sudah cukup penasaran denga cerita Meta.
"Tali gantungan itu, adalah tali gantungan yang selalu muncul bersamaan dengan tubuh wanita yang mengerikan setiap saat sebelum kamu tinggal di sini." Meta kembali memeluk lutut sambil membenamkan kepalanya diantara lututnya.
Zahira mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Daniah pun mengubah posisi duduknya berniat menjelaskan pada Zahira yang tak paham.
"Hah itu tali gantungan yang dipakai hantu setiap dia menampakkan diri ke kita dulu!" Daniah nendengus kesal karena Zahira gagal paham.
Mendengar perkataan temannya, Zahira langsung teringat dengan mimpinya tempo hari waktu membantu perempuan yang hendak gantung diri. Lalu teringat pula mimpinya semalam yang bertemu perempuan bernama Amanda di kamarnya.
"Oh iya sekarang aku ingat, semalam aku mimpi Amanda datang ngasih aku tali, cuma belum sempat aku lihat talinya aku keburu bangun."
Mendengar pernyataan Zahira, Temannya langsung berteriak hiateris.
"AaaaĆ aaaa!!" Sambil berpelukan keras.
Zahira hanya mengerutkan kening.
"Ayoolaaah jangan takut gitu, ga ada apa-apa kok, aku yakin hantunya baik kok, buktinya dia bawakan aku tali karena tahu aku lagi butuh tali."
__ADS_1
Sontak temannya meneriakinya. "Zahiraaa!!"
Zahira cuma bengong sambil menganga. Dia tidak mengerti kenapa dia diteriaki.