
Subuh menjelang, Zahira menggeliat lalu meraih ponselnya untuk mengintip jam.
"Ahh baru jam empat," gumamnya kemudian kembali memejamkan mata.
Rasa ngantuknya tidak mau menghilang, karena baru beberapa jam yang lalu dia terbangun karena teriakan aneh semalam yang dilanjutkan buat sholat. Kemudian kembali tidur.
Kini Matanya kembali terlelap setelah melihat jam. Perlahan tapi pasti hantu pucat datang mendekat, merayap di sampingnya lalu berbaring menghadapinya.
"Hai Zahira bantu aku sekali lagi ya, hanya kamu yang bisa membantuku, aku mohon!" Ucap si Hantu dengan penuh harap.
Zahira membuka mata, Melihat seseorang di depannya, keningnya berkerut.
"Hai kamu siapa?" Zahira heran.
"Aku temanmu," ucap hantu sambil tersenyum.
"Teman?"
"Iyya kamu lupa?"
"Ah maaf tapi yang mana ya?"
"Yang kemarin di gantungan itu?" Sambil menunjuk kipas angin.
"Oohh yang itu." Zahira mangut-manggut. "Eh gimana kabar kamu, kamu udah baikan? Terus siapa yang menggantung kamu? Eh kamu masuk lewat mana?" Zahira memberondong pertanyaan karena penasaran sambil bangun lalu bersimpuh di depan si Hantu.
"Hahahah, satu-satu dong tanyanya," Hantu tertawa sambil ikutan duduk bersimpuh. Mereka berhadapan.
"Hahaha iya saking penasarannya nih," jawab Zahira.
"Mm mulai dari mana jawabnya nih?" Hantu garuk kepala.
"Dari awal aja, gimana kabarmu?"
"Aku baik, berkat kamu, mmm... aku baik...mmm yang menggantungku orang jahat...mmm dan aku masuk lewat pintulah, hahahah." Hantu tertawa mengakhiri jawabannya.
"Maksudmu orang jahat?" Zahira makin penasaran.
"Iya jahat, kalau tidak jahat mana mungkin dia menggantungku," Hantu tersenyum.
"Zahira mau bantu aku?" Tanya Hantu penuh harap. Dia menatap Zahira dalam.
"Ya tentu, apa yang bisa aku bantu?" tanya Zahira juga senyum.
"Pisang kiriman Mama kamu bisa ga kamu bawain Ibu kost di atas?" Hantu masih menatap Zahira lekat.
"Pisang kiriman Umi?" Tanya Zahira.
Hantu mengangguk
"Oh iyya, aku lupa bawain Bu kost oleh-oleh. Boleh deh, Insya Allah besok aku bawain ya." Zahira berjanji.
"Makasih ya Zahira, kamu memang baiiiik baget," Hantu senyum senang.
"Sama-sama." Balas Zahira.
"Aku pergi ya Zahira."
"Ya."
Zahira melambaikan tangannya. Dan lagi-lagi Zahira kaget saat mendapati tangannya menggapai dan melambai di udara. Dengan segera dia bangun dan melihat ke sekeliling.
"Astagfirullah, aku mimpi lagi ya, ah orang yang sama." Gumam Zahira bengong.
Sementara di depannya Hantu berdiri dengan tersenyum.
Suara adzah subuh terdengar berkumandang, Hantu langsung menghilang. Zahira bangkit dari duduknya hendak berwudhu.
Selesai sholat, seperti biasa, Zahira menuju dapur menjalankan tugasnya membuat sarapan. Begitu melihat pisang kiriman Uminya dia menggerutu.
"Aahh, lupa lagi beli terigu, gimana caranya mau digoreng," gerutunya.
"Mmm bikin apa ya, nasi goreng aja deh," gumamnya lagi.
Zahira lupa dengan janjinya. Hantu menjadi gelisah. Dengan galau dia menghalau-halau wajah Zahira, tapi Zahira tidak melihatnya. Dia berteriak tapi Zahira tidak mendengarnya. Suaranya seakan tercekat dan tidak ada suara yang keluar. Mondar-mandir di dekat Zahira tapi Zahira malah melewati dan menembus tubuhnya tanpa merasakan kehadirannya.
Hantu terus berbicara, tapi tetap saja tidak terdengar. Dia mengacak-ngacak rambutnya.
Tangannya menggapai-gapai di depan Zahira tapi tetap saja tidak dirasakan Zahira. Kemudian dengan putus asa Hantu menendang pisang yang terletak di sudut dapur. Berhasil, pisangnya terguling.
Hantu tersentak, dia khawatir Zahira ketakutan karena ulahnya. Lalu menyingkir diam-diam. Dia menggigit telunjuknya.
__ADS_1
Zahira segera menoleh melihat pisang terguling dari tempatnya. Keningnya berkerut, lalu berjongkok memegangi pisang itu. Hantu mengendap di belakang Zahira karena penasaran.
Zahira berkerut, dia teringat akan janjinya di dalam mimpi. Hantu kini berjongkok di depan Zahira sambil memandanginya sambil tersenyum Kepalanya manggut-manggut melihat Zahira mengingat janjinya.
"Eh tadi aku mimpi mau ngasih pisang ke Bu kos, mm tapi...kan cuma mimpi?" Zahira memegang dagunya sambil mengerutkan kening.
Hantu menggeleng sambil elambaikan tangannya. Memberi tahu Zahira kalau itu bukan mimpi. Dia berteriak tapi tak terdengar. Dia terus menggeleng dan menggerakkan kedua tangannya. Zahira masih bengong berpikir.
"Tapi kan terigu ga ada juga, mmm ga ada salahnya sih kalau aku kasih barang sesisir sama Bu kos, itung-itung kan ucapan selamat datang." ucap Zahira lalu berdiri.
Hantu berbinar sambil mengagguk-angguk senang sekali. Dia terus memberi cium jauh lewat tangannya pada Zahira. Dia benar-benar senang. Lalu menghilang.
Zahira asik mengaduk nasi goreng saat Meta datang.
"Eeemmmm harumnya!!!" Seru meta sambil mengendus wajan.
"Duuh jadi lapar banget,"ucap Meta lagi.
Zahira cuma tersenyum. Lalu mematikan kompor kemudian mengangkat nasi gorengnya ke atas meja makan.
Daniah dan Della juga sudah datang. Meta segera menyiapkan teh. Mereka pun lalu makan bersama.
Ada rasa ingin menceritakan perihal mimpinya kemereka tapi diurungkannya karena takut temannya akan histeris.
Akhirnya dia menyantap makanannya tanpa bicara apa-apa.
"Zahira kita mau tanya kalau boleh?" Tanya Daniah memecah kesunyian pagi.
"Boleh, apa?" Zahira balik tanya.
"Orang tua kamu tajir ya?" Tanya Daniah lagi.
"Alhamdulillah, bukan tajir sih cuma mm lumayanlah...." Zahira senyum.
"Apa kerjaan ortu kamu?" Della menimpali.
"Petani doang." Zahira.
"Perani doang tapi kebunnya luas, bukan doang tapi wuuuaaahhh." Sergah Meta.
"Iyya pasti kebunnya luas kan?" kata Della lagi.
"Mm luas sih tidak, cuma 2 hektar aja, ada sawah juga." Terang Zahira.
"Iya luas banget, sawah Bapakku ga cukup sehektar," timpal Daniah.
"Ada sawah juga, waahh." Della kagum.
"Terus apa lagi yang kamu punya?" Meta penasaran.
"Mm ada itik 2 ribu ekor, peternakan sapi juga e...."
"Ayam, kambing, kebau, apa semua hewan piaraan ada di rumahmu?" Meta memotong ucapan Zahira.
"Hahaha ga lah, mana mungkin!" Zahira merasa lucu.
"Terus apa dong?" Daniah makin penasaran.
"Mmm peternakan ayam ras." jelas Zahira.
"Kamu pasti banyak duit ya kan?" Meta bertanya lagi.
"Semua uang Umi sama Abi." Zahira mengakui.
"Ya lah apa bedanya?" Della mendelik.
"Iya sih ada sedikit." Zahira merendah.
"Sedi...ki...t!!!" Ujar mereka serempak.
"Waah merendah banget ya, harta banyak gitu dibilang sedikit." Daniah mendelik.
"Maaf sebenarnya aku ga tahu mereka banyak uang atau tidak, kan aku ga pernah lihat." Zahira mencoba jujur.
"Hahahha polos baget sih jadi orang," Daniah tertawa.
"Eh tapi bener juga sih, kita juga ga pernah kan lihat duit ortu, kan, kan?" Meta membela.
"Iya juga ya," Della mengangguk.
"Bwahahahhaah." Mereka semua tertawa.
__ADS_1
Mereka bersantai ria di ruang makan karena hari ini adalah hari minggu. Jadi mereka bebas. Daniah sedikit puas hatinya mendengar kehidupan Zahira.
"Eh Zahira, kalau ortu kamu tajir kenapa tidak menyewa apartemen atau perumahan?" Tanya Della.
"Aku tidak boleh tinggal sendirian, Umi melarang." Terang Zahira.
"Terus di sini?" Meta penasaran.
"Kan ada kalian," ucap Zahira.
"Kamu anak disayang ya, sampai semua keperluan disiapin?" Daniah menimpali.
"Yaah semua ortu juga sama kali, perhatian dan sayang sama anaknya," jawab Zahira.
"Iyasih cuma mungkin ortu kita aja kali yang kurang mampu, jadi ngasih ala kadarnya," Della bicara.
"Kalian jangan kawatir, mulai sekarang semua bahan dapur Umi yang kirimin, kan Umi ga beli, semua gratis." Ucap Zahira lagi.
"Gratis?" Mereka serempak.
"Ya, beras ga beli, telor ga beli, sayuran, kalau mau ikan juga ada," ungkap Zahira.
"Waaahh, kamu ada tambak?" Meta terbelalak, begitu pula yang lain.
"Bukan, cuma empang doang," bantah Zahira.
"Asik dong boleh bakar-bakar ikan, hahaha," Della bercanda.
"Beneran mau datang ke rumah bakar-bakar ikan?" Tanya Zahira antusias.
"Emang boleh?" Tanya Daniah.
"Boleh lah."
"Ookee," Meta bersemangat.
"Liburan nanti kita ke sana bagaimana?" Della tak mau kalah.
"Boleh," Zahira mengangguk.
"Yyeeeeyy!!!" Seru Meta dan Della. Daniah cuma nyengir kuda.
Sementara si Hantu mengawasi mereka dari bawah tangga. Sesekali tersenyum saat melihat mereka tertawa. Sampai acara sarapan itu selesai Si Hantu masih nangkring di tempatnya.
Hari sudah siang, Zahira baru saja selesai mencuci semua pakaiannya. Dengan susah payah dia mengangkat pakaiannya ke teras lantai 2.
Sesampai di atas sana, Zahira bengong, semua jemuran penuh. Yah maklumlah, hari minggu semua penghuni rumah pada mencuci. Zahira berdiri celingak-celinguk mencari celah, yang mungkin untuknya menjemur. Namun sia-sia, tak ada tali yang kosong.
Zahira kembali ke bawah menemui Daniah yang sibuk memasak bersama Della.
"Della kamu punya tali ga, buat jemuran?" Tanya Zahira.
"Sorry Ra, aku ga punya." Jawab Della sambil mendongak.
"Daniah, kamu ada gak?" Tanya Zahirah sama Daniah.
"Tidak, aku juga tidak punya, mending tanya sama Bu kost deh, kan dia yang punya rumah!" Saran Daniah.
"Ah iya, Bu kost, eh Astagfirullah aku lupa!" Seru Zahira tiba-tiba.
"Kenapa lo?" Della terlonjak kaget.
"Ah bukan apa-apa, hehe," ujar Zahira lalu turun ke dapur mengambil sesisir pisang.
"Buat siapa Ra?" Tanya Daniah heran melihat Zahira mengambil pisang.
"Buat Bu kost sebagai alasan sekalian minta tali, hehehe," Zahira bohong. Dia tidak ingin temannya takut jika tahu akan mimpinya.
Melihat Zahira mengambil pisang, Hantu yang nangkring di bawah tangga segera melesat masuk ke dalam pisang. Dia pun terbawa bersama pisang di tangan Zahira.
Zahira terus melangkah naik menuju tangga lantai 3. Tapi pada saat Zahira menaiki tangga, Si Hantu langsung terlempar keluar dari pisang yang dibawa Zahira. Dia mengerang kesakitan. Tapi percuma karena tak seorang pun yang mendengarnya, termasuk Zahira.
Zahira mengetuk pintu rumah Bu kost. Tak lama Bu kost membuka pintu.
"***...." Belum sempat Zahira bicara.
"Ada apa kemari?" Bentak Bu kost menatap Zahira.
"Aaaah ini Bu, aku bawain pisang, kiriman dari kampung," ucap Zahira sembari menyodorkan pisang.
"Ooh terima kasih." Bu kost masih dingin.
__ADS_1
"Bu, boleh ga aku minta tali?" Tanya Zahira hati-hati.
"Ga ada, tali udah habis," jawab Bu kost ketus lalu menutup pintu. Zahira terdiam mematung melihat sikap Bu kost yang dingin.