
Jam telah menunjukkan pukul 9 pagi. Para penghuni kos Zahira telah bersiap-siap setelah mengerjakan semua ritual pagi mereka sebagai anak kosan. Ritual mereka yakni dari mandi, nyuci baju dan beres-beres.
Mereka kini telah siap menunggu jemputan dan sedang bersantai di ruang tengah. Akan tetapi yang ditunggu tak kunjung datang walau mereka telah bersabar selama hampir setengah jam.
"Eh Ra bener ga sih, Pak Khalid mau jemput kita?" Daniah mulai gerah menunggu.
Zahira angkat bahu "Entahlah katanya sih begitu."
"Sabar dikit napa sih Dan!" Della menyabarkan Daniah.
"Udah ga sabar ya pengen PDKT?" Meta menggoda Daniah sambil mengedipkan sebelah matanya.
Daniah langsung melempar Meta dengan bantalan sofa. Della tertawa melihatnya. Hingga akhirnya yang mereka ributkan datang juga. Dari depan terdengar bunyi klason mobil.
"Nah kan udah datang!" Seru Meta dan segera bangkit mendahului temannya.
"Woi cepet banget sih?" Seru Della tapi Meta tak peduli dan terus saja melangkah keluar tanpa menunggu temannya.
Zahira ikutan bangkit dan melangkah keluar mengikuti Daniah dan Della yang sudah menyusul Meta. Akan tetapi karena Daniah yang memegang kunci rumah, dia terpaksa menunggu Zahira di dekat pintu. Begitu Zahira keluar, Daniah langsung mengunci pintu rumahnya.
Pak Khalid turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk para gadis manis penghuni kosan itu. Begitu Meta datang langsung saja dia masuk tanpa permisi dulu sama yang empunya mobil.
Della cuma menutup mulutnya heran melihat tingkah Meta yang sok kenal sama Pak Khalid. Dengan tidak canggungnya masuk begitu saja. Seakan-akan Pak Khalid itu sopirnya dia.
Sementara Della sendiri harus berdiri tertegun di depan Pak Khalid saat mendekati mobilnya. Senyum keki begitu kentara di wajahnya. Sambil mengangguk sedikit, dia mencoba menyapa Pak Khalid sebagai basa-basi (basah karena sudah basi, nasi kali ya, hehe). "Pagi Pak."
Pak Khalid hanya tersenyum menanggapi sambil mengangguk pula, "Pagi." Singkat balasan Pak Khalid namun bagi Della sudah seperti embun dipagi hari yang begitu menyejukkan.
Daniah dan Zahira pun telah sampai juga. Melihat Della yang mulai basa-basi, Daniah tak mau kalah. "Met pagi Pak, maaf agak lama, soalnya aku harus mengunci pintu dulu." Tak lupa senyum manisnya disertakan pula. Zahira cuma tersenyum mendengarnya.
"Pagi Daniah, ga papa kok, justru malah aku yang agak telat datangnya iya kan?"
Daniah tersenyum tampak sekali wajah putihnya bersemu merah. Hal itu membuat Della jadi sedikit manyun.
Belum lagi mereka masuk mobil, wajah Pak Khalid kini berubah tegang. Daniah dan Della tiba-tiba saling pandang dengan mata membulat.
Zahira pun melihat perubahan air muka Pak Khalid. Sambil tersenyum dia berbisik pelan. "Amanda jangan ganggu dong dia temanku juga!" Sontak Della dan Daniah yang saling berdekatan langsung berpelukan tanpa mereka sadari. Ketika mereka sadar, langsung mereka melepasnya kembali.
__ADS_1
"Ih coba Pak Khalid yang di dekat aku," batin kedua cewek itu. Wajah mereka berubah melukiskan kecewa.
Lain halnya dengan Pak Khalid, kini bernapas lega karena Hantu yang kemarin dilihatnya entah dari mana langsung muncul di depan mukanya, kini telah menghilang lagi. "Ahh alhamdulillah, masuk yuk!"
Zahira mengangguk sambil menoleh ke temannya agar mereka segera masuk mobil. Begitu Della dan Daniah sudah masuk, Pak Khalid langsung menutup pintu. Daniah kaget langsung menoleh ke jendela mobil memandangi Pak Khalid yang ternyata tidak melihatnya.
Pak Khalid malah membuka pintu depan mobilnya. "Zahira kamu depan aja, di belakang muat cuma tiga orang!"
Zahira tertegun sejenak sambil melirik temannya di dalam mobil. Tanpa sengaja matanya terbentur pada pandangan Daniah yang menyiratkan amarah. Dia pun langsung tertunduk.
Melihat Zahira tertegun, Pak Khalid kembali menyuruhnya. "Zahiraa ayo!"
Zahira mengangkat wajahnya, "bagaimana kalau Daniah aja yang di depan Pak?"
Pak Khalid mengerutkan dahi, "emang apa bedanya kamu di depan atau Daniah di depan?"
Zahira gelagapan tidak tahu harus jawab apa. Karena tidak mungkin juga bilang kalau Daniah suka sama Pak Khalid. Tapi mau membantah bilang 'kalau ga ada bedanya ya biar Daniah aja' tapi dia takut dibilang banyak bacot. Akhirnya Zahira hanya mengalah. "Ah ya baiklah Pak." Zahira pun masuk dan duduk di depan.
Della dan Daniah hanya bisa menoleh saling tatap sambil memonyongkan bibirnya. Kemudian mendengus lalu membuang muka menatap jendela. Meta sendiri sudah asik memainkan HPnya sambil bersandar santai. Dia sama sekali tidak memperdulikan wajah penuh perseteruan di sampingnya.
Sontak semua mata tertuju padanya. "Ada apa Pak?" Hampir serempak para gadis bertanya. Tapi Pak Khalid tidak menjawabnya. Dia terus saja berusaha menghindari wajah pucat Amada yang tak mau berpindah di depan mukanya.
Pak Khalid terus menerus berpaling kiri-kanan bahkan terkadang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil menutup rapat bibirnya layaknya cewek remaja yang dipaksa mau dicium. Demikianlah gambaran nyata yang dilihat oleh Zahira and the gank.
Akan tetapi pada kenyataannya, Pak Khalid memang tengah menghindari wajah Amanda yang terus menerus menyelidiki Pak Khalid apakah dia benar-benar bisa melihat hantu atau tidak. Amanda juga kini tengah mengelus-elus dan sesekali menekan pipinya dengan jari telunjuk membuat Pak Khalid gemetar ketakutan. Wajahnya sudah sangat pucat. hampir saja dia kencing dicelana jika saja Zahira tidak menegurnya.
"Pak, Pak Khalid!" Sambil menatap Pak Khalid dia juga menegur Amanda. "Manda jangan ganggu dong, kasihan temanku!" Amanda yang ditegur langsung ibrit sektika membuat Pak Khalid bernapas lega.
Melihat hal itu, Daniah dan Della kembali saling tatap dengan wajah ngeri. Perlahan Daniah mendekatkan bibirnya ke telinga Della sambil berbisik. "Dell apa kamu berani jadian sama dia?" Sambil bergidik Daniah kembali menatap Della.
Della yang dibiski juga menoleh sambil menggeleng, dia juga berbisik "gimana mau melindungi, dirinya aja ketakutan gitu, ngeri ah, aku ga jadi, kamu aja, aku serahkan buat kamu seutuhnya, hhahhaha." Tak sadar Della tertawa besar. Daniah hanya bisa mencubit pinggangnya membuatnya berteriak makin keras. "Aauuu!"
Zahira terkejut langsung menoleh, demikian juga Meta yang lagi asik bermain HP. "Kalian kenapa sih bikin kaget aja!" tegur Zahira. "Iya tuh, eh kalau Zahira kumat lagi gimana coba!" Meta ikutan bicara.
Della dan Daniah melengos. "Iya iya tahu deh, Zahira fobia teriakan!" Mereka pun akhirnya diam dengan muka kesal sambil bersandar dengan kedua tangan dilipat di dada.
Pak Khalid hanya tersenyum sambil menyalakan mobilnya kemudian melaju perlahan. Ramainya kota membuat mobil mereka berjalan lambat bagai rombongan siput sedang parade barisan.
__ADS_1
Pak Khalid yang sedari tadi merasa penasaran dengan kata fobia, sudah tak mampu lagi menahan hatinya untuk bertanya pada yang bersangkutan. Sebagai seorang dokter, dia ingin tahu apa penyebabnya. Karena fobia kadang muncul pada seseorang pasti karena ada penyebab trauma yang sangat besar yang telah menimpanya.
Akan tetapi Pak Khalid agak ragu untuk bertanya. Namun akhirnya pertanyaan itu meluncur juga. "Ra maaf kalau boleh aku tanya, mereka tadi bilang kamu fobia, apa itu benar?"
Mendengar pertanyaan itu Zahira langsung menoleh. Matanya terkesiap kaget. "Ehh itu itu em ga kok cuma fobia biasa aja, ya kan kalau dengar orang teriak ya pasti kaget kan, gitu aja sih sebenarnya, hehe." Zahira langsung diam mencoba menutupi rahasianya.
Mendengar itu Pak Khalid tersenyum langsung menoleh ke belakang memandangi Daniah and the gank "apa memang begitu?"
Daniah dan Della kembali saling pandang. Karena tak ada yang bicara, Meta langsung nyosor. "Ga Pak, kemarin Zahira sampe hampir jantungan gara-gara kita teriak, udah gitu tangannya juga gemetaran tetus keringat dingin Pak, katanya dia fobia suara teriakan sama bentakan."
Zahira mencoba mengedip-ngedipkan matanya pada Meta, tapi Meta malah semakin gencar bicara membuat Zahira membulatkan matanya. Tapi hal itu justru membuat wajahnya yang imut-imut semakin imut saja. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Pak Khalid.
Tiba-tiba saja...."Paaak!!!!" Della dan Daniah serentak berteriak sambil menunjuk ke depan sana. Pak Khalid pun langsung menginjak rem. "Ah hampir saja!" Seru Pak Khalid yang berhasil menghentikan mobilnya seinci sebelum menabrak motor di depannya.
Zahira yang sudah kaget mendengar teriakan yang memekakkan telinga, ditambah shok karena hampir tabrakan, membuatnya terdiam mematung. Kedua tangannya memegangi dadanya. Mukanya pucat seketika dengan keringat dingin muncul di dahinya lalu merembes turun di keningnya kemudian melucur bebas membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar.
Melihat kondisi Zahira, Daniah dan Della langsung membungkam mulut mereka sendiri sambil saling tatap. Meta juga menyadari hal itu. "Pak, Pak menepi deh, Zahira kumat tuh Pak, kasihan Zahira Pak!"
Pak Khalid menoleh dan kaget saat melihat kondisi Zahira. Dengan segera Pak Khalid mencari tempat yang pas buat menepikan mobilnya.
.
.
.
.
Jumpa besok lagi ya😆😆😆
Semoga karyaku bisa menarik hati kalian para readers untuk tetap setia menunggu kelanjutannya ya.
Terima kasih banyak bagi yang sudah mampir, baik yang sudah baca, ataupun cuma like dan komen, semuanya makasiiih banyak ya.
Terkhusus buat RED MAPLE yang telah banyak memberi masukan pada tulisanku ini aku ucapkan banyak-banyak terima kasih. Semoga menjadi author yang lebih sukses kedepannya. AMIIN.
Jangan lupa vote, like dan komen ya😘😘😘😘😘
__ADS_1