Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 48. Di Rumah sakit.


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobil, rombongan Zahira segera turun dan menuju gedung UGD Rumah sakit. Pak Khalid memilih untuk tidak ikut mereka dan tetap tinggal di mobilnya.


Setelah mendapatkan izin dari petugas UGD, mereka masuk dan mulai mencari-cari dimana gerangan Bu Kos berada.


Mereka membuka setiap tirai yang menjadi pembatas tempat tidur setiap pasien di situ. Tak berapa lama kemudian, Bu Kos ketahuan juga.


Perempuan yang mengantar Bu Kos kemarin menoleh ke arah mereka. "Eh kalian datang?"


Zahira dan temannya tersenyum dan mengangguk menanggapi pertanyaan Perempuan itu. "Assalamu alaikum, gimana kabar Bu Kos Kak?" Zahira mencoba bertanya.


"Alaikun salam, yah seperti yang kalian lihat, Bu Marni masih lemah, tapi sekarang sedang tidur."


Mereka mencoba mendekat. "Apa kata dokter Kak?" Daniah ikut bertanya.


"Katanya shok terus depresi dan kekurangan cairan katanya, harus banyak istirahat dan ga boleh banyak pikiran."


Mereka menganguk-angguk mengerti.


Suasana jadi hening, tak ada satu pun yang bersuara. Itu karena mereka memang tidak saling mengenal. Sementara yang dijenguk bahkan sedang tertidur pulas.


Zahira merasa sedikit penasaran, akhirnya bertanya juga. "Kak, keluarga Bu Kos emang ga ada ya?"


Perempuan itu menoleh menatap Zahira. Dia tampak berpikir, lalu berujar. "Ada sih anaknya semata wayang, cuma sedang diluar kota, katanya ikut istri disana."


"Trus, apa sudah dihubungi?" Daniah ikutan bertanya. Perempuan itu hanya menggeleng lemah. "Aku tidak tahu yang mana nomornya, aku juga tidak tahu siapa namanya."


Daniah dan temannya saling pandang. Mereka angkat alis seakan berkata 'Kasihannya' melalui tatapan mata mereka.


Setelah agak lama berbincang, Mereka pun pamit untuk pulang. Tak lupa Zahira menyelipkan amplop sebagai bentuk perhatiannya pada Bu Kos. "Kak, kami pulang dulu yah, semoga ini bisa sedikit membantu Kak, kami doakan semoga Bu Kos lekas sembuh ya!"


Perempuan itu menerima amplop itu dan mengangguk dan tersenyum sedih. "Makasih ya atas kunjungan kalian, nanti kalau Bu Marni sudah bangun, aku akan kasih tahu."


"Kami permisi Kak!" Akhirnya Meta bersuara juga setelah terdiam dan menyimak sedari tadi. "Iya Kak kami permisi!" Della ikutan pamit.


Mereka melangkah keluar tanpa basa basi lagi. Sesampai di luar, mereka langsung menarik napas lega. Seakan ada beban yang menghimpit di dada mereka sewaktu di dalam tadi.


"Haaaaah, kasihan ya Bu Kos." Celetuk Meta memecah keheningan. Sontak temannya pada menoleh. "Kenapa kamu Meta, ya sih kasihan, tapi ga melenguh juga kalie. " Daniah memgerutkan kening.


Della cemberut, " melenguh? Emang aku sapi, melenguuh!"

__ADS_1


"Udah yuk jangan berdebat lagi, kasihan Pak Khalid nungguin kita di mobil!" Della mencoba menengahi agar mereka tidak banyak bicara lagi. Sambil berjalan mendahului temannya.


Tanpa sengaja, Meta melihat Alfian melangkah gontai keluar dari bagian gedung perawatan pasien. "Eh bentar deh, bukannya itu Kak Alfian?"


Pertanyaan Meta itu membuat langkah temannya langsung berhenti. Mereka langsung menoleh kearah yang ditunjuk oleh Meta. Benar saja, tampak di sana Alfian berjalan dengan malas hendak menuju parkiran.


Saat pandangan mereka bertemu, Alfian seprti terkejut melihat Zahira ada di sana juga. Perlahan dia berjalan mendekati Zahira dan teman-temannya.


"Zahira, kalian, ngapain ada di sini? siapa yang sakit?" Sambil menoleh menatap gedung UGD di belakang Zahira.


Zahira tersenyum, "Ibu Kosku yang sakit, kami baru saja menjenguknya Kak." Alfian mengangguk pelan.


"Kakak sendiri sedang apa di sini?" "Siapa yang sakit?" "Keluarga Kak Fian yang sakit?" Karena penasaran hingga mereka bertanya bersamaan.


Alfian tertawa mendengar pertanyaan kompak mereka. "Yeni yang sakit."


Mendengar Yeni sakit, Della, Daniah dan Meta terbelalak sontak berteriak. "Kak Yeni sakiiit?" Zahira langsung terlonjak kaget. Daniah dan Della segera menutup mulut dengan tangan. Meta cuma tersenyum geli.


"Iya Yeni sakit, sudah 3 hari."


mendengar penjelasan Fian, keempat Gadis manis itu langsung melongo dan saling tatap. Pikiran mereka melayang pada kejadian kemarin, dimana Yeni datang hendak melabrak Zahira tapi langsung histeris dan kabur tunggang langgang.


Sementara dari arah yang sama waktu Alfian keluar tadi, tampak pula Ayah dan Ibu Alfian sedang asik berbincang dengan Diana sambil berjalan.


Melihat Alfian sedang berbincang bersama gadis cantik, Mereka mendekat. "Fian, siapa mereka?"


Alfian segera menoleh saat suara Ibunya terdengar. "Oh Ibu, mereka temanku emm maksudku adik kelasku Bu." Alfian tersipu saat mengatakan adik kelas.


Bu Dewi, Ibu Alfian tampak tertarik dengan penampilan dan wajah cantik Zahira. Terlihat jelas dari tatapan matanya yang tak mau berpindah dari wajah Zahira. Senyum simpul terus tergambar dibibirnya.


Zahira yang terus ditatap lekat, jadi salah tingkah. Terpaksa dia mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya sebelum diminta. "Saya Zahira Tante."


Bu Dewi tersentak " Eeh, oh iya saya Ibunya Fian." sambil menjabat tangan Zahira. Dengan penuh hormat, Zahira menunduk lalu mencium tangan Bu Dewi.


Wajah Bu Dewi terlihat senang. "Apa dia cewek yang pernah kamu ceritakan ke Ibu Fian?" Bu Fian menoleh ke anaknya. Yang ditanyai cuma tersenyum sambil mengangguk.


Ayah Alfian sedikit gerah melihat pertunjukan di depannya. Terutama Diana yang sudah mengetahui cerita antara Zahira, Fian dan Yeni.


"Bu, apa sudah selesai? kalau sudah ayo kita pulang!" Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Pak Gunawan, Ayah Alfian segera berlalu. Di ikuti oleh Diana.

__ADS_1


Bu Dewi pun segera melepas tangannya, yang sedari tadi terus menggenggam erat tangan Zahira. "Ibu pulang dulu yah, lain waktu kita ketemu lagi." Lagi-lagi senyum mengembang di bibirnya.


Dengan terpaksa Alfian ikutan pergi. "Aku duluan yah!" Sambil melambaikan tangannya, dia segera berlalu pergi.


Zahira dan temannya ikutan melangkah pergi menuju parkiran tempat mobil Pak Khalid menunggu. Sambil berjalan mereka bercakap-cakap.


"Bagaimana kalau sekalian kita jengukin Kak Yeni ya?" Saran Meta. Zahira menoleh. "Boleh juga tuh, tapi kita kan tidak tahu ruangannya."


Daniah menoleh menatap Della. Tapi Della tidak melihatnya. "Kalau menurutku sih mending ga usah deh, ya kan Della?" Sambil menyikut lengan Della.


"Heem?" Della kaget tak mengerti sambil menoleh. Daniah menggeleng sambil memberi kode dengan matanya agar Della ikutan menolak.


"Yaah kalau aku sih mendingan kita ga usah kesana dulu, kan Kak Yeni itu tidak suka lho sama Zahira, yang ada nanti dia malah makin marah."


Daniah terbelalak mendengar ucapan Della. "Della!" Dengan gigi dikatup, Daniah menegur Della sambil melotot.


Zahira cuma menarik napas berat. "Menjenguk orang sakit kan salah satu kewajiban kita juga, senang atau tidak, itu perkara belakangan, yang penting kan niat kita datang buat mendokannya."


Daniah cuma angkat bahu mendengar pernyataan Zahira. Tanpa sadar mereka telah sampai di samping mobil Pak Khalid.


Melihat Zahira and the gank telah datang, Pak Khalid segera keluar dan membuka pintu depan untuk Zahira. Sementara yang lain harus buka pintu sendiri dan masuk.


Zahira masuk ke dalam mobil sambil ditatap lekat sama Pak Khalid. Pemandangan yang agak menyesakkan dada bagi Daniah yang telah duduk di dalam mobil.


Seperti Daniah yang merasa panas hati, Alfian yang melihat Pak Khalid begitu mesra memperlakukan Zahira, harus mengeratkan rahang karenanya. Tangannya terkepal keras, dengan geram, dia pun menutup matanya erat.


Hingga mobil yang ditumpangi Zahira berlalu di depan mobil Ayahnya, Alfian masih saja menutup mata, tak sanggup melihat Zahira yang duduk di samping Pak Khalid sambi tersenyum manis.


.


.


.


Sampai jumpa lagi di esok hari!"


Salam sayang dan salam hangat selalu, buat Readers ku yang baik dan setia, untuk terus menunggu kelanjutan ceritaku. 😘😘😘😘😘😘😘😘.


Ingatlah untuk like, vote dan komen jika kalian senang. Makasih....

__ADS_1


__ADS_2