Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 76. Dirawat di Rumah sakit


__ADS_3

Perkelahian tak dapat dihindarkan. Warga yang mengintip segera ribut dan berteriak minta tolong, membuat suasana makin heboh. Warga lain pun ikut berdatangan.


Daniah dan Meta segera menghampiri Zahira yang tengah ketakutan dan menangis sesenggukan. Cepat-cepat Meta memungut jilbab Zahira dan memakaikannya.


Kerumunan warga makin banyak. Pak RT pun segera datang menengahi. "Stooopp!! cukup Pak, cukuup!!" Pak RT memegangi Pak Khalid yang terus menyerang Tono membabi buta.


Pak Khalid terpaksa menghentikan aksinya. Napasnya tersengal-sengal. Dadanya kembang kempis menahan marah. Pak RT menatap mereka bergantian lalu menatap Pak Khalid. "Apa yang terjadi sebenarnya ini?"


"Haaah...haaah... dia...haahh mau memperkosa pacarku Pak!"


Para penonton pun menganga tak percaya. Sementara Zahira, Daniah dan juga Meta menatap Pak Khalid dengan heran. Mereka merasa tidak yakin dengan apa yang didengarnya barusan. Lalu menatap Zahira yang juga menatap mereka.


Saat itulah Zahira tersadar jika temannya berkurang satu. "Mana Della?" Daniah dan Meta saling tatap lalu menoleh ke tempat Della terkapar. "Dellaa!!" Dengan cepat mereka berlari


dan segera memeluk Della yang masih tak bergerak.


"PAAAAK!!! DELLLAAA!!!" Daniah dan Meta histeris.


Semua orang menoleh, termasuk Pak Khalid. Begitu melihat Della tak bergerak, dia segera menghampiri dan memeriksa keadaan Della. "Dia cuma pingsan, kalian tenang ya!" Mereka mengangguk.


Melihat semua orang tengah menyaksikan Della, Tono mengambil kesempatan untuk kabur. Tapi Pak Khalid melihatnya. "WOIII JANGAN KABUR!!" Pak RT yang berdiri di dekat Tono segera mencegatnya. "Hehehe mau kabur ya, nanti aja kalau sudah diizinkan sama Pak Polisi ya!"


Tono tak berkutik, dengan wajah lesu dan lebam, dia ditahan oleh warga, sementara Pak RT segera melapor ke kantor polisi.


Pak Khalid mengangkat tubuh Della ke dalam kamar. Zahira dan yang lainnya juga mengikuti. Karena penasaran, beberapa warga ikutan masuk.


Bisik-bisik terdengar dari para tetangga. "Waah kasihan benar ya, orang menyewa kok malah diganggu ya!" "Benar-benar gila Tono itu,"


"Waah jangan-jangan kematian Amanda dulu karena dia juga biang keroknya?"


"Atau jangan-jangan Amanda juga diperkosa sampe hamil sama dia, makanya Amanda bunuh diri?"


Tatapan para Bu Ibu tukang gosip itu begitu tajam dan geram melihat kebejatan Tono. Sedangkan Tono masih diam dan tertunduk lesu.


Pak Khalid meletkkan Della dengan hati-hati. Lalu segera berbalik memeriksa keadaan Zahira. "Zahira, kamu tidak apa-apa?" Zahira hanya mengangguk pelan, tapi air matanya masih tetap menetes.


Daniah dan Meta segera naik di atas ranjang sambil memegang tangan Della yang tak kunjung bergerak. "Pak bagaimana ini? aku takut Della kenapa-napa Pak!" Daniah menatap Pak Khalid nanar.

__ADS_1


Pak Khalid menoleh menatap Daniah, "nanti kita bawa ke rumah sakit begitu polisi selesai menangani penjahat itu!"


Mereka mengangguk dalam tangisnya.


Bebarapa Ibu mendekat, ada yang memeluk Zahira, ada juga yang memeluk Daniah begitu pula Meta. Mereka memberi semangat dan menenangkannya.


Melihat para tetangga telah menemani Zahira and the gank, Pak Khalid segera keluar kamar. Dia mendatangiTono yang kini meringkuk di lantai. Baru saja Pak Khalid hendak bicara, Polisi pun telah sampai.


Setelah menginterogasi para saksi dan juga korban, akhirnya Tono dibawa oleh Pak Polisi. Tapi sebelum pergi, Pak Polisi meminta para korban dan juga beberapa saksi agar ikut melapor ke kantor polisi.


Berita tentang kasus rencana pemerkosaan yang terjadi di rumah kos-kosan itu ternyata tersiar kemana-mana dengan cepat. Apalagi Zaman sekarang, berita sangat cepat viral.


*****


Sudah tiga hari Della dan semua temannya kini menjalani perawatan di rumah sakit tempat Pak Khalid bekerja. Sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di Kota Makassar. Mereka bahkan dirawat di ruang VVIP.


Sementara kasus Tono kini sedang diproses di kantor polisi, menurut penuturan Polisi, begitu Zahira and the gank sembuh, maka mereka harus segera memberikan kesaksian di kantor Polisi.


Berita viral sampai juga di telinga teman-teman Daniah. Demikian juga Tante Zahira, tapi sudah berulang kali dia mencoba menghubungi nomor Zahira, namun HPnya tidak aktif. Dengan ragu-ragu, dia pun menghubungi orang tua Zahira.


"Waah tinggal di kamar VVIP asik juga, serasa di hotel, hahaha!" Meta tertawa senang. Daniah meliriknya kesal. "Itu kamu, karena memang tidak sakit, tuh lihat Della dan Zahira yang tangannya terpasang infus, coba tanya enak ga?"


Della cuma tersenyum sambil menatap Zahira yang tertidur lelap. "Yaah aku juga senang, itung-itung bisa makan gratis, hehehe, makanannya enak-enak lagi, hehehe."


"Iya, tuuh lihat Zahira tidurnya nyenyak banget, hihihi!" Meta menahan tawanya.


Pintu kamar terbuka, Pak Khalid masuk dengan memakai pakaian kebesarannya. "Assalamu alaikum, bagaimana kabar kalian, sudah baikan?" seraya tersenyum menatap Della dan temannya bergantian. "Alaikum salam, udah mendingan Pak!"


Pak Khalid tersenyum mendengar jawaban mereka. Saat matanya tertuju pada Zahira, dia tertegun sejenak.


Seulas senyum manis menghiasi bibirnya. Perlahan dia mendekatinya. Dengan kedua tangan bertumpu di kasur, matanya memeriksa pipi Zahira yang masih agak lebam. Lalu memeriksa selang infusnya.


Setelah puas memandangi wajah Zahira dan memriksanya, dia pun berbalik ke ranjang Della.


Sebenarnya, di kamar VVIP itu, hanya tersedia satu ranjang dan juga sofa serta fasilitas lainnya. Akan tetapi, karena Zahira tidak mau tinggal sendiri, maka Pak Khalid pun meminta perawat untuk menyediakan satu ranjang lagi. Karena Meta dan Daniah tidak apa-apa, jadi mereka dapat jatah tidur di sofa saja.


"Apa kamu sudah diperiksa sama perawat?" Della menngangguk pelan.

__ADS_1


"Apa katanya?" Sambil memeriksa selang dan infus.


"Eemm katanya semuanya sudah baik, tinggal menunggu keputusan dokter saja Pak, baru sudah boleh pulang."


Pak Khalid menghentikan kegiatannya. Lalu duduk di kursi dekat ranjang antara kasur Della dan Zahira.


Tiba-tiba pintu terbuka lagi, tampak Rasti dan juga Adrian datang dengan sekeranjang buah. "Hai kalian ga papa?" Tanya Rasti begitu melihat Daniah tengah duduk di sofa.


"Iya kami baik kok!"


"Kamu kenapa sih, kok ga ngasih kabar?"


"Lho kan kemarin sudah aku kabari?"


"Haah iya, karena aku bertanya!"


Daniah hanya tersenyum keki karena merasa bersalah.


Adrian mendekat pula. Dia ikutan duduk di samping Daniah. Rasti langsung bangkit dan memberi ruan pada mereka. Perlahan Rasti mendekati ranjang Zahira. "Eeh Bapak, lho bukannya, Anda mengajar di kampus?"


Pak Khalid tersenyum, "Iya, selain mengajar aku juga dokter."


"Ooh," Rasti manggut-manggut.


"Gimana keadaan Zahira Pak?"


"Yaah seperti yang kamu lihat!"


Samar-samar Zahira mendengar percakapan Pak Khalid dengan Rasti.


.


.


.


Sampai jumpa lagi di episode selanjutnya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.

__ADS_1


__ADS_2