Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 79. Menantu idaman


__ADS_3

Teman-teman Abi Zahira benar-benar datang. Mereka disambut hangat oleh Abi dan Uminya Zahira. Ada beberapa orang yang terdiri dari 3 lelaki dan 2 perempuan yang salah satunya memakai cadar.


Mereka membawa banyak makanan buat makan malam dan juga cemilan. Air liur Meta terbit lagi melihat semua makanan itu. Akan tetapi ditahannya karena malu sama Tamu.


Daniah merasa tidak enak berada diantara mereka. Apalagi keberadaan mereka seolah tidak dianggap karena tidak seorang pun yang menegurnya. Mereka asik berbincang dengan orang tua Zahira saja. Daniah pun menggamit Meta dan mengajaknya keluar dengan kode mata.


Meta mengangguk, lalu beranjak menuju ranjang Della. "Dell kita keluar dulu ya, mau cari angin, disini gerah!" Bisik Daniah.


"Mending kamu tidur aja, dari pada bengong entar kesambet Hantu Amanda!" Meta ikutan berbisik sambil tertawa.


"ASTAGAAAA!!!" Jerit Della sambil memukul lengan Meta. Matanya terbelalak. Meta cuma cengengesan dan segera keluar bersama Daniah.


Orang-orang yang ada di dalam situ langsung menoleh, mereka kaget mendengar jeritan Della. "Astagfirullah, begitu yang benar Dek!" Tegur salah seorang Perempuan yang bercadar. Della cuma senyum keki. "Ooh iya Tante, maaf!"


Di luar kamar, Daniah dan Meta terus berjalan, menyusuri lorong kamar VIP. Tiba-tiba Pak Khalid datang hendak ke kamar mereka. Melihat Daniah dan Meta keluyuran, dia menegurnya.


"Daniah, Meta! Mau kemana?"


"Kami mau cari angin di luar Pak, gerah di kamar!"


Pak Khalid mengernyit. "Lho bukannya di kamar full AC?"


"Haah iya sih Pak, cuma yang gerah tuh perasaan, soalnya Zahira banyak tamunya, terus kita dicuekin!"


"Iya Pak, mending Bapak ga usah masuk deh, di sana orang alim semua Pak!" Meta menambahkan.


Pak Khalid tersenyum mendengar penuturan Meta, "ya bagus dong, entar aku bisa tanya-tanya soal agama, ya kan?"


Daniah dan Meta melengos.


"Hadeeeh,"


"Terserah Bapak deh, kita duluan ya Pak!" Mereka pun melangkah pergi. Sementara Pak Khalid pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Zahira.


Di dalam kamar, Zahira yang sejak dulu telah dirundung rasa penasaran tentang adanya Hantu, mencoba bertanya pada teman Uminya.


"Maaf Tante, aku mau tanya kalau boleh!"


"Ya mau tanya apa Ra?"


"Ini Tante, emang Hantu itu benar ada?"


"Hantu ya, eemm sebenarnya begini, yang dibilang Hantu itu sebenarnya ya setan juga,"


"Hmmm kok Setan, bukannya Syetan itu, hanya ada di dalam diri manuasia untuk menggoda hati manusia?"


"Ya begitulah, Hantu itu sebenarnya jika dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa sebenarnya adalah Qorin, dan Qorin itu adalah Syaitan yang bersemayam dalam diri manusia sejak lahir, biasanya Qorin itu pula yang selalu berbicara sebagai suara hati, dan Qorin itu selalu mengikuti sifat induk semangnya."


"Misalnya, jika manusia itu baik, maka cenderung Qorinnya juga baik, jika jahat maka Qorinnya juga akan jahat."


"Biasanya, Qorin itu selalu menganjurkan baik, tapi jika induk semangnya tetap berniat ga baik, maka Qorinnya pun mengikuti kehendaknya, dan malah menjerumuskannya."


"Nah bila si induk semang itu nanti meninggal, maka Qorinnya itu akan terlepas dari tubuhnya dan ya kemungkinan itulah yang selalu merasuki manusia lain yang kurang beriman, lalu mengaku sebagai si Induk semangnya, begitulah yang Tante tahu!"


"Eemm terus bagaimana dengan orang yang bisa lihat Hantu, atau Mahluk gaib lainnya?"


"Ya itu berarti, Allah memberi keistimewaan buat dia, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak, sayang!"


"Emang Qorin itu bisa kelihatan ya Tante?"


Uminya merasa heran dengan pertanyaan Zahira, "Ra, kamu kok nanyanya begitu, ada apa sih?"


"Eemm anu Miy, sebenarnya temanku punya teman yang bisa melihat Hantu, terus Hantu yang dilihatnya, katanya mati dibunuh, dan Hantunya mau balas dendam soalnya pembunuhnya masih hidup bebas tanpa mendapatkan hukuman!" Zahira berkilah.


"Ya bisa jadilah, kan Qorin itu selalu mengikuti apapun kehendak Manusia yang diikutinya, jika sebelum meninggal mungkin orang itu punya keinginan atau mungkin menyimpan dendam, bisa jadi Qorinnya yang berulah!"


"Ooh berarti, Qorinnya itu mau mewujudkan sumpah pemiliknya ya?"


"Maksudnya?"


"Anu Tante, Ee katanya, Sebelum orang itu mati, dia bersumpah akan mengahantui pembunuhnya seumur hidup!"


"Ya berarti emang begitulah, Qorinnyalah yang gentayangan, bukan orangnya!"


"Ooh jadi intinya, Hantu itu Syaitan juga?"


"Yaah begitulah!"


Pak Khalid tertegun di luar pintu begitu mendengar percakapan dari beberapa orang di dalam sana. Dia pun menarik napas kemudian dengan perlahan dia membuka pintu. "Assalamu alaikum!"


Semua menoleh, "Alaikum salam!"


"Mari Dek, silahkan masuk!" Seru salah seorang tamu Zahira.


Pak Khalid tsrsenyum lalu melangkah masuk.


"Silahkan duduk," Salah seorang lagi yang kelihatan lebih muda sekitar seumuran dengan Pak Khalid, mempersilahkannya duduk di sofa sembari memberi ruang sambil bergeser sedikit.

__ADS_1


"Terima kasih Pak!" Sambil membungkuk sedikit dan tersenyum.


Abi Zahira tersenyum melihat Pak Khalid begitu merendah diperlakukan seolah-olah tamu. "Hehe, Indra, dia itu bukan tamu , dia Dokter yang merawat Zahira!"


Tamunya jadi heran, "ooh kirain teman kuliahnya Zahira, hahaha!"


Semua ikut tertawa.


"Miy, ada Dokter, mungkin Zahira mau diperiksa!" Seru salah seorang tamu lagi pada istrinya yang lagi duduk di tepi ranjang Zahira.


"Ooh tidak, tidak kok, saya kesini bukan untuk memeriksa Zahira, cuma mau menjeguk juga!" Pak Khalid jadi keki.


"Oh ya Nak, bagaimana dengan pasiennya tadi?" Tanya Abi Zahira.


Pak Khalid makin keki, "udah baikan Om!"


Abi Zahira segera mengeluarkan KTP yang semula diserahkan oleh Pak Khalid.


"Oh ya, ini kartu nama sama KTP kamu!"


Pak Khalid menerima KTPnya tanpa bisa berkata-kata, dia hanya tersenyum.


"Sekali lagi, terima kasih sudah merawat putri kami!"


Pak Khalid mengangguk pelan, "iya Om, sama-sama!"


Indra menjadi heran, "lho katanya bukan memeriksa, tapi kok merawat?" Tatapan mata pemuda itu penuh selidik.


"Yaa, sebenarnya...aku...ee...." Pak Khalid tidak tahu harus menjawab apa.


Abi Zahira yang melihat kecanggungannya menengahi. "Sebenarnya dia yang membawa Zahira ke Rumah sakit, dan dia juga yang menjaganya selama kami belum datang!"


"Lalu kami apa?" Della membatin seraya memainkan HPnya.


"Oohh begitu ya!" Serempak mereka bersuara.


"Jadi calon mantu ini ceritanya ya?" Kelakar seorang Tamu.


Pak Khalid merasa pipinya langsung merona mendengar pertanyaan itu.


Sementara Abi Zahira terdiam sesaat memandangi Pak Khalid yang senyum keki. "Maaf Pak, soal calon mantu, aku masih belum bisa tentukan, lagi pula, dia sudah menolong anakku, mana boleh kami menuduh macam-macam!"


Zahira tertunduk sangat dalam mendengar penuturan Abinya. Uminya melihat perubahan muka Zahira mengerutkan kening, seakan mencoba memahami arti dari perubahan anaknya.


Indra langsung memasang wajah tak senang, "ya mana mungkin Pak Rasyad begitu sembarangan menentukan calon mantu Om, bukannya memilih calon mantu harus mengutamakan keimanannya dulu, ya kan Pak?" Seraya memandangi Abi Zahira.


Semua orang manggut-manggut setuju, sedangkan Pak Khalid hanya bisa tertunduk.


Pemuda itu merasa puas dengan jawaban Pak Rasyad. "Nah apa kamu rajin sholat, atau kamu ini bisa ngaji? biasanya orang yang mengejar ilmu dunia pasti ilmu agamanya kurang!" Sambil memandang Pak Khalid dengan remeh.


Mendengar pertanyaan itu, Zahira merasa kesal di hatinya. Seketika dia mendongak menatap Uminya sendu.


Uminya cuma angkat bahu.


Pak Khalid menatap semua orang secara bergantian, "kalau ilmu agama, aku memang bukan anak pesantren, tapi di sekolah, aku tetap belajar agama, lagi pula, orang tuaku juga selalu menekankan dan mengajarkan aku supaya tetap ingat sholat, soal mengaji, aku memang tidak hapal Al-Qur'an tapi kalau soal ngaji Alhamdulillah aku sedikit bisa juga!"


Pak Khalid mencoba merendah. Meski kenyataannya memang demikian.


Pemuda itu terdiam mendengar pengakuan Pak Khalid. Sedangkan Zahira bernapas lega mendengarnya.


Abi Zahira pun tersenyum senang mendengarnya. "Benar-benar pemuda yang sempurna, sudah mapan, sholeh, juga baik, hehe bukan begitu Pak Ram?"


Kelakar Pak Rasyad, Abi Zahira, membuat semua orang tertawa renyah.


"Iya betul itu Pak!" Ujar Pak Ikram.


"Hahaha, waah sepertinya dikasi harapan ini ya Pak, hahaha!" Salah seorang tamu ikutan berkelakar.


Pemuda yang tadi seakan kurang senang. "Waah selamat ya, kamu sepertinya lulus ujian!" Sambil menepuk pundak Pak Khalid keras. Membuat Pak Khalid mengerutkan kening menahan sakit.


"Ahahhaaha, terima kasih kawan, tapi saya merasa tidak sedang menjalani ujian, aku kan cuma menjawab pertanyaan kamu tadi?" Seraya meremas pundak pemuda itu dengan keras pula.


"Ekhem, tapi belum tentu juga, apa dia akan jadi menantu Pak Rasyad atau menantu orang lain, ya kan?" Tukas Pak Ikram.


"Hahahaha iya juga ya!" Timpal yang lain.


Abi Zahira cuma tertawa tanpa menaggapi kelakar itu. Sedangkan Umi Zahira menatap anaknya penuh selidik, dia mencoba membaca air muka putrinya. Dan akhirnya dia menyimpulkan jika ada sesuatu antara putrinya dengan Pak Khalid.


Melihat Pak Rasyad tidak menanggapi, kelakar itu tidak berlanjut. Akhirnya semua orang menjadi hanyut dengan pikiran masing-masing.


Pemuda itu seakan belum puas, mencoba bertanya kembali. "Jadi, apakah Pak Rasyad setuju kalau dia jadi menantu Bapak?"


Pak Rasyad menatap pemuda itu lekat, air mukanya tidak senang, membuat pemuda itu tertunduk tak berkutik.


"Aku tidak mau banyak berharap, dia sudah menolong putriku saja aku sudah sangat berterima kasih, mana bisa aku menjadi serakah, lagi pula siapalah kami, mana mungkin orang hebat seperti Nak Khalid ini, mau menerima kami!"


Pak Khalid seakan tersentak mendengar pengakuan Pak Rasyad, ada rasa senang dan bahagia, tapi dia juga tidak mau gegabah, "Terima kasih Om atas pujiannya, tapi saya juga tidak sehebat yang Om pikirkan, ini hanya kebetulan, yahh mungkin ini rezeki dari Allah yang perlu saya sukuri Om!" Pak Khalid merendah lagi.

__ADS_1


Pemuda itu menjadi gelisah duduknya, "Ini kan sudah agak larut, besok juga saya harus kerja juga, bagaimana kalau kita pamit Om?"


Seraya menatap Omnya.


"Baiklah," Lalu berdiri "baiklah Pak Rasyad, kami pamit dulu, soalnya yang punya mobil mau kerja besok!"


Pak Rasyad ikut berdiri, "Iya silahkan, terima kasih banyak, Pak Zaini sudah menjenguk kami di sini!"


Mereka pun bersalaman lalu keluar diikuti semua tamu yang lain.


Begitu semua pulang, Pak Khalid pun ikut berdiri. "Sebaiknya saya pamit juga Om, Tante!"


Pak Rasyad menoleh, "Oh iya, silahkan Nak, ee tentang yang tadi jangan diambil hati, sebaiknya lupakan saja ya!"


Pak Khalid mengangguk sambil tersenyum. "Iya Om, jangan kawatir, saya sudah biasa mendengar kelakar seperti itu Om, biasalah jomblo karatan, hehe!"


Pak Rasyad bernapas lega sambil tersenyum. "Kamu bisa saja, masih muda, mana bisa dibilang karatan!"


Pak Khalid menoleh menatap Zahira sejenak sambil tersenyum. "Zahira saya pulang dulu!" Tanpa menunggu jawaban, Pak Khalid pun berlalu. Tapi sebelum keluar dia masih sempat melirik Della.


Ternyata Della sudah menyimak dan memperhatikan setiap orang dalam diamnya. Meski kelihatan sibuk dengan HPnya, tapi hanya pura-pura.


Begitu melihat Pak Khalid meliriknya, Della tersenyum mengejek, seakan menahan tawanya. "Cieeeeh Pak Khalid, calon mantu idaman!" Serunya dalam hati. Meski rasanya Della sangat ingin berteriak kencang.


Dengan cepat jempolnya menari di layar ponselnya. Pesan demi pesan terkirim ke Daniah.


*"Dan, kayaknya Pak Khalid bakal direstui sama orang tua Zahira deh!"*


Lama Della memunggu tapi tak ada balasan dari Daniah. Dia pun melanjutkan.


*"Mereka bilang kalau Pak Khalid itu calon menatu idaman lho!"*


Tetap saja tak ada balasan. Della menjadi sedikit geram. Lama menunggu pesan akhirnya malah orangnya yang datang.


Daniah dan Meta masuk sambil menguap lebar. Meta benar-benar tak sabar menatap makanan yang tak tersentuh sama sekali. "Yeeyy bisa mak...."


Dengan cepat Daniah menutup mulut Meta yang rakus. Sambil melotot dia menatap Meta yang hendak protes.


"Biy, sebaiknya kita pulang ke rumah Ratna aja, kasihan temannya Zahira, mereka sudah memgantuk!"


"Iya, sebaiknya kita pulang!"


"Zahira, Umi sama Abi pulang dulu, kamu ga papa kan tanpa kami?"


"Iya Miy aku baik kok, sudah biasa juga!"


"Baguslah kalau begitu, kalian juga ga papa ya temani Zahira di sini?"


"Iya Tante!"


Mereka pun meninggalkan kamar itu.


Sepeninggal orang tua Zahira, Meta bersorak riang. "Yeeeeeyy makanan aku datang, mmmwaaachhh!"


Temannya tertawa lepas melihat tingkahnya.


******


"HAHAHAHA HAHAHAHAH HAHAHAHAHA"


Tono yang tengah lelap dalam tidurnya, langsung tersentak mendengar suara tawa seperti Kuntilanak. Dia pun bangkit lalu menatap ke sekeliling.


Tampak Amanda tengah berdiri menatapnya dengan seringai menyeramkan. Kembali dia tertawa nyaring. "Hahaha ha...Haa...hahahaha!"


Tono gemetar ketakutan. "Pergi kamu! PERGI!!" Tono pun menyerang dengan kuat, namun sayang tangannya mengenai angin.


Amanda kembali muncul di belakangnya. Dengan kuat Amanda menendang pantatnya hingga terdorong lalu tersungkur ke lantai. "Haahahahahhaa!"


Tono segera berbalik, lalu beringsut mundur sambil menyeret pantatnya.


"Amanda kamu mau apa! KATAKAN!!" Teriaknya prustasi.


"Hahahahahahaha, kamu sudah membunuhku dengan keji, sekarang giliranku, hahahahahahaha!"


Tono berlari menuju pintu jeruji besi. "PENJAGA...TOLOOOONG AKU...PENJAGA!"


Amanda menarik kerah belakang bajunya. Dengan sekali hentakan, tubuh besarnya langsung terlempar kebelakang. "AAAAAAAAKKHH!!"


Suara teriakannya membuat teman sekamarnya menjadi terbangun. Saat mereka membuka mata, tampak Tono sedang berteriak-berteriak tidak jelas, sambil mengucurkan keringat. Napasnya turun naik dengan sesak.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ketemu lagi di episode mendatang😘😘😘😘😘


__ADS_2