
Zahira menggeliat lalu mengerjapkan matanya. Dengan malas dia mengangkat kepalanya memandang keluar jendela.
"Aah astagfirullah sudah malam!" Zahira beringsut bangun dan bermaksud mandi. Begitu keluar dari kamarnya, Zahira merasakan ada firasat aneh meliputi hatinya. Entah kenapa tiba-tiba tengkuknya menjadi dingin.
Perasaan aneh itu dia tepis lalu masuk kamar mandi. Dengan santai Zahira terus mengguyur tubuhnya hingga tak terasa dia menghabiskan waktu yang agak lama di sana.
Sementara ketiga temannya sedang asik mengobrol ria sambil memasak di dapur. "Zahira tidur lama banget ya?"
Tanya Meta sambil memandang Daniah. Yang ditatap cuma angkat bahu.
Tiba-tiba dari dalam kamar Zahira terdengar suara barang berantakan. Sontak Ketiga teman Zahira saling tatap dengan mata melebar lalu berlarian masuk kamar Zahira.
Begitu melihat beberapa buku Zahira berjatuhan tanpa sebab, Meta langsung berhenti dan perlahan berjalan mundur. Apalagi saat kipas angin besar ikutan bergoyang tanpa sebab, Meta langsung kabur. Melihat hal itu Daniah dan Della ikutan kabur. Tak lupa dengan teriakannya. "Aaaaaaaaa!"
Mendengar teriakan temannya, Zahira buru-buru menyelesaikan mandinya. Setelah dia memakai baju mandinya, dengab cepat dia menyembulkan kepalanya keluar. Akan tetapi kosong, tidak ada seorang pun di luar sana.
Zahira pun melangkah keluar sambil celingak-celinguk mencari temannya. Zahira membuka setiap pintu yang ada tapi nihil. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dapur. Benar saja ketiga temannya sedang berkumpul di sana sambil memeluk lutut sembari mengawasi masakan mereka.
"Kalian kenapa berteriak?"
Daniah langsung angkat kepala. "Zahira, di kamar kamu ada yang aneh deh." Zahira mengernyit, "Apa?"
Meta langsung menceritakan apa yang dilihatnya di sana tak lupa dia pasang wajah tegangnya. Tentu saja wajah itu bukan dibuat-buat tapi memang dia ketakutan. Zahira cuma tersenyum menanggapinya. Matanya justru lekat tertuju pada panci di atas kompor.
"Eh tuh udah mendidih deh kayaknya!"
Della cuma mendengus mendengar pertanyaan Zahira. "hehhh benar-benar ga ada takutnya ya nih orang." Sambil beranjak dari duduknya memeriksa masakannya.
Sementara di kamar Zahira kembali suara aneh terdengar. Semua mata langsung menoleh ke kamar itu dengan terbelalak, tapi tak bersuara.
Di dalam kamar Zahira, Amanda sudah mati-matian dihajar oleh Jin suruhan Mbah dukun. Dia mengerang dan meratap saat tubuhnya dibanting dan dilempar kesana-kemari. Dan saat tubuhnya sudah benar-benar lemas tak berdaya, Zahira masuk ke dalam kamar.
Melihat kamarnya yang berantakan tanpa sebab, Zahira mengerutkan keningnya. Sementara bulu kuduknya langsung meremang. Hawa dingin menyapu wajahnya. Zahira langsung teringat kata-kata Pak Khalid tempo hari saat dia merasakan hal seperti itu, ada hantu yang datang dan dekat dengannya.
Zahira pun mulai komat-kamit baca semua doa yang dihapalnya. Perlahan Zahira membuka mata, tapi perasaan anehnya belum juga sirna. Tubuhnya malah serasa ringan saat ini. Zahira langsung memandangi kakinya yang seakan-akan tidak menjejak lantai.
Zahira kembali berkonsentrasi mencoba lebih khusuk berdoa agar perasaan itu segera hilang. Akan tetapi semakin lama semakin terasa dingin di sekitar tubuhnya. Zahira mengepalkan kedua tangannya, tubuhnya mulai gemetar menahan rasa takut yang tiba-tiba melandanya. Dengan gigi mengerat, Zahira terus berdoa dengan mata semakin dirapatkan. Dia berdiri mematung.
Amanda yang sudah terkulai lemas di bawah kaki Zahira hanya dapat memandangi Zahira dengan perasaan sedih. Air matanya menetes menyaksikan penyelamatnya berjuang melawan ratusan Jin di sekelilingnya.
__ADS_1
Perlawanan yang sengit dimata Amanda. Betapa tidak, dari tubuh Zahira keluar cahaya kuning keemasan serta dari setiap kata yang terlontar dari mulut Zahira menjadi senjata tajam bagai anak panah yang melesat mengenai setiap Mahluk buruk yang mendekatinya.
Sudah banyak yang menghilang tapi segera muncul lagi mahluk lainnya seakan-akan tiada habisnya. Mahluk itu dengan amat ganasnya menyerang Zahira dengan senjata mereka. Akan tetapi Tubuh Zahira seakan memiliki tameng yang tak mampu ditembus oleh senjatanya.
Makin lama makin berkurang Mahluk yang datang, hingga akhirnya tak adalagi Mahluk yang muncul. Setelah dirasa aman, Amanda menyeret tubuhnya masuk ke dalam kolong ranjang.
Zahira membuka matanya perlahan saat dia merasakan tubuhnya sudah normal kembali. Kepalan tangannya pun dilepasnya. Zahira mencoba menatap kesekeliling kamarnya. Tapi tak ada hal yang mistis menurutnya. Namun apa yang dirasakan barusan membuatnya sadar akan adanya hal aneh di kamarnya.
Dengan napas berat Zahira duduk di tepi pembaringannya. Amanda pun sudah mulai pulih kembali dan kini telah duduk manis di samping Zahira. Seakan-akan dia ingin memeluk gadis yang sudah dianggap temannya itu. Dan mulai saat itu Amanda sudah memantapkan hatinya untuk terus mengikuti kemanapun Zahira pergi. Bagaimana pun tanpa Zahira dia bukan apa-apa dan bisa saja dia aka menghilang selamanya tanpa mendapatkan keadilan dari nasib yang menimpanya.
Setelah rasa takut yang sempat menguasai dirinya mereda, Zahira beranjak keluar dari kamarnya hendak menemui temannya di dapur.
Daniah segera menatap wajah Zahira yang tampak agak kelelahan. "Ra muka kamu kenapa kayak habis mendaki gunung gitu?" Dahinya mengernyit.
Zahira duduk di kursi sambil menghela napas. "Haaah tadi aku habis melawan hantu." Jawaban Zahira membuat Amanda yang ikut di belakangnya jadi terbelalak lalu menggeleng. Tapi siapa yang melihatnya? sama sekali tidak ada.
"Zahiraaa!" Meta yang berteriak langsung menutup mulutnya karena teringat kalau Zahira fobia sama teriakan. Zahira menoleh ke Meta yang setengah berteriak. "Heemmn?"
Meta cuma menggeleng.
Della dan Daniah cuma bengong tak tahu mau bilang apa. Zahira tersenyum melihat keanehan temannya. Baru saja Zahira ingin berucap, dari atas terdengar suara seorang perempuan yang berbicara dan hendak turun ke dapur. Sementara Amanda sudah ketakutan dan bersembunyi dibelakang Zahira.
"Siapa diantara kalian yang sakti di sini?"
Pertanyaan Mbah dukun membuat mereka saling pandang tak mengerti.
"Kenapa tidak ada yang bicara!" Mbah dukun mulai kesal.
"Ayo katakan siapa yang memiliki kesaktian di sini?"
Daniah memberanikan diri menjawabnya. "Maaf Bu tapi kami tidak mengerti apa maksudnya sakti, kami ini mahasiswa Bu bukan pendekar."
Bu Kos menjadi kesal. "Bukan pendekar yang kami maksud tapi orang biasa yang mempunyai mantra seperti Mbah dukun!"
"Haaaahh" Serentak mereka bersuara.
"Maaf tapi memang kami tidak ada yang punya mantra kok Bu." Della ikutan membela. Sementara Zahira terdiam tak mau berbicara karena dalam hatinya dia menebak kalau dirinyalah yang dimaksud oleh Mbah dukun. "Bagaimana mereka bisa tahu aku baru saja melawan hantu?" Zahira membatin.
Bu Kos mendengus kesal karena tidak ada seorang pun dari mereka yang mau mengaku. "Apa ada diantara kalian yang memakai jimat penangkal?"
__ADS_1
"Haaah" Lagi-lagi mereka kompakan menganga lebar. Della dan Meta merasa sangat geli di dalam hatinya dan ingin sekali dia terawa keras mendengar pertanyaan konyol menurutnya itu. Akan tetapi ditahannya karena takut mendapat amukan dari Bu Kos.
"Jangan hanya menganga, cepetan ngaku kalian!" Mbah dukun makin kalap.
"Maaf Bu tapi kami memang tidak tahu menahu soal jimat apalagi mantra gitu, maaf banget deh." Daniah mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon maaf.
Bu Kos dan Mbah Dukun saling tatap dengan nanar tak percaya. "tidak mungkin tidak ada, aku yakin semua berasal dari sini." Lirih Mbah dukun sambil memutar tubuhnya dan berjalan menuju tangga kemudian naik diikuti Bu kos di belakangnya. Daniah and the gank hanya menatapnya dengan lekat.
Perasaan heran dan penasaran berkecamuk dipikiran Mbah dukun. Betapa tidak, tadi saat tengah menikmati teh hangatnya di dalam rumah Marni, Mbah dukun langsung merasakan tubuhnya seakan tertancap sebilah pedang tajam di dadanya. Napasnya langsung sesak dan tak mampu bersuara.
Dengan susah payah dia mencoba memperkuat mantranya akan tetapi selalu gagal dan dadanya kembali terasa sakit. Setiap dicoba selalu gagal hingga pada akhirnya Mbah dukun memuntahkan darah segar dari mulutnya. Mbah dukun pingsan sejenak.
Bu kos yang melihatnya langsung panik tak tahu harus berbuat apa-apa. Tapi kemudian Mbah dukun sadar dari pingsannya kemudian bangkit perlahan. Saat itulah Mbah dukun menyadari bahwa ada lawan yang tangguh yang mencoba melawannya. Sehingga tadi dia memutuskan untuk mencari siapa penyebabnya di lantai bawah.
Sesampai di teras atas, Bu Kos mencoba bertanya. "Ma' jadi bagaimana hasilnya, apakah Ma' tidak berhasil?"
Ma'Nipah langsung menoleh menatap Marni dengan muka marah. "Tidak ada kata kalah dalam kamus Ma' Nipah hheh, lihat saja nanti akan aku balas orang itu!"
Marni hanya mengangguk pelan dengan senyum kecut.
Sementara di bawah, Della dan Meta sudah tidak mampu lagi menahan geli hatinya. "Bwaaaahahahahahh, hahaahahaha!" Daniah ikutan senyum geli. "Lucu ya tuh Ibu-ibu, mana ada pendekar jaman sekarang, aneh deh, hahaha."
Zahira diam tak menanggapi tawa temannya itu. Dia masih terpikir tentang apa yang baru saja dia alami. Keanehannya tertangkap oleh temannya. " Eh Ra kamu kenapa dari tadi dieeem aja?" Della bertanya.
Zahira tersentak mendengar pertanyaan Della. "Eh anu ah ga papa, lagian kalau aku cerita kalian pasti histeris lagi deh kayak kemarin-kemarin."
Teman-temannya langsung bergidik. Mereka sudah memastikan kalau pasti ada kaitannya dengan hantu, sehingga mereka memilih diam. "Eh gimana kalau kita makan aja, lapar nih!" Seru Meta mengalihkan topik pembicaraan.
.
.
.
.
Besok disambung lagi ya😆😆😆.
Ingatlah untuk like, votedan komen ya😘😘😘😘😘😘.
__ADS_1