
Sepeninggal Pak Khalid, mereka segera sibuk membuat makan malam. Sesuai janjinya, Adrian hanya tinggal di kamar tamu dan tidak berkeliaran.
Saat asik memasak bersama, tiba-tiba Zahira merasa perasaannya tidak enak.
"Aahh rasanya pusing banget deh," Zahira memegang kepalanya.
Della dan Meta menjadi cemas, "Ra, kamu kenapa?"
Daniah ikut mendekat. "Ra mending kamu istirahat aja deh, kamu tadi kebanyakan nangis, makanya kamu pusing!"
"Iya Ra, kamu sitirahat aja!" Saran Della yang diangguki oleh Meta.
"Ya sudah aku naik dulu ya!" Zahira segera pergi, tapi baru 2 langkah, tubuhnya terhuyung hampir jatuh. "Zahira!" Sontak semua teriak.
"Aku tidak apa-apa!" Zahira pun melanjutkan langkanya, walaupun agak lesu.
Sesampai di kamar, perasaan Zahira semakin tidak enak. Perutnya terasa mual, dan kepalanya begitu pusing. Dengan cepat Zahira merebahkan diri.
Meskipun telah berbaring, tapi perasaan Zahira masih tidak enak. Tiba-tiba tubuhnya mengigil kedinginan. Dengan cepat Zahira menarik selimut di bawah kakinya. Dia pun menggigil di bawah selimut.
Sudah agak lama di dalam balutan selimut, tapi rasa dingin di tubuhnya seakan tidak mau pergi. Zahira mengeratkan balutan selimutnya.
Meta yang hendak mengajak Zahira malan malam, menjadi heran saat melihat Zahira mengigil dalam selimut.
"Zahira, kamu kenapa?"
Suara Zahira gemetaran. "A...ku...ga...pa...pa kok!"
"Ra aku bawain makan malam ya?"
"Ga usah, a..ku ma...sih ke...nyang!"
"Ra, aku panggil Pak Khalid ya!"
"Ja...ngan, nanti dia kawatir!"
"Tapi Ra, kamu ga baik-baik saja lho!"
"Aku ga papa, per...caya aj...ja!"
"Ya sudah aku turun dulu ya!"
"Emm!"
Meta berbalik hendak pergi, tapi kemudian menoleh lagi dengan wajah cemas. Kemudian dia pun melangkah pergi.
Sesampai di bawah, semua temannya heran karena Zahira tidak ikut. "Meta, Zahira mana?"
"Zahira tidak enak badan, lagian katanya dia masih kenyang!"
"Ooh ya sudah, kita makan aja yuk!" Perintah Daniah.
"Kita kasih tau Pak Khalid aja!" Usul Adrian.
"Jangan, Zahira tidak mau sampai Pak Khalid kawatir!" Cegah Meta.
"Iya, lagian pasti cuma masuk angin saja kok!" Timpal Daniah.
Tak ada lagi yang bersuara, mereka pun makan dengan tenang.
Sementara di kamar Zahira, keadaannya sungguh bukan demam biasa. Zahira yang tadinya kedinginan, kini berubah lagi menjadi kegerahan.
Segera Zahira membuka selimutnya. Akan tetapi, rasa gerah itu masih terasa. "Aah kenapa panas sekali?" Zahira melepas hijab besarnya.
Panas di tubuhnya begitu terasa bagaikan berada di atas panggangan. Keringatnya bercucuran. Zahira begitu gelisah karenanya. ''Astagfirullah, ada apa dengan tubuhku?" Zahira bangun dan segera menanggalkan gamis gombrang yang selalu menjadi baju favoritenya.
Tinggal baju dalaman saja yang melekat di sana. Kini tubuhnya yang selalu tertutup itu terbuka dengan jelas. Zahira segera merebahkan kembali tubuhnya karena pusing yang menyerang lagi.
Baru saja kepalanya menyentuh bantal, rasa mualnya sudah menyeruak. Dengan cepat dia berlari keluar menuju kamar mandi. Untungnya kamar mandi tersedia di lantai itu, antara kamarnya dan kamar Pak Khalid.
Setelah semua isi perutnya keluar, Zahira pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas dan sempoyongan. Rasa pusing begitu menyiksanya.
Belum lagi sempat masuk ke kamar, Meta sudah datang pula. Melihat penampilan Zahira yang seksi, Meta langsung menganga. "Zahira, pakaian kamu kemana?"
Zahira menoleh dengan wajah meringis, "aku kepanasan!" Zahira pun melanjutkan kembali langkahnya sambil berpegangan di dinding.
Meta mengikutinya dengan wajah bingung. "Lho Ra, bukannya tadi kamu bilang kedinginan, kok malah kepanasan lagi?"
Zahira tidak mampu menjawab. Dia akhirnya cuma menggeleng pelan. Wajahnya terus meringis menahan perasaan yang begitu tidak nyaman. Dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan rasa mual yang semakin menyiksa. Perlahan dia merebahkan tubuhnya.
Meta tak mampu berbuat apa-apa. Saat dia hendak memijit kepala Zahira, ternyata dia menolak. Meski tidak bersuara. Tapi gelengan kecilnya sudah cukup mewakili.
Meta hanya bisa menatap sedih wajah temannya yang sedang melawan sakit sendirian. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu meringankan beban Zahira. Hingga rasa ngantuk menyerang dan tertidur lelap.
Zahira semakin merasa tidak enak. Jika tadi rasa dingin berganti dengan panas, kini rasa keduanya malah berpadu. Setelah dingin langsung panas. Hingga Zahira menjadi gelisah.
Zahira terus saja gelisah, hingga dia memutuskan untuk berwudhu. Begitu membasuh wajahnya, tiba-tiba sekujur tubuhnya menggigil. Dengan mengeratkan giginya, Zahira menahan rasa dingin dan meneruskan berwudhu.
Selesai berwudhu, tubuh Zahira terguncng hebat karena menggigil. Dengan cepat, dia meraih selimut dan meringkuk di dalamnya. Dengan suara gemetar, Zahira membaca Dzikir tiada henti. Hingga akhirnya kantuk menyerang dan dia pun tertidur.
Begitu malam beranjak dan bergeser melampaui tengah malam, Zahira tiba-tiba dikejutkan dengan suara aneh. Dengan cepat dia membuka mata. Tapi tak ada hal yang mencurigakan.
Perlahan dia kembali menutup mata. Suara aneh dan tidak jelas kembali terdengar. Tapi begitu membuka mata, suara itu hilang lagi. Zahira pun memutuskan untuk tidak menutup mata lagi.
Sekuat tenaga, Zahira bangkit perlahan hendak melaksankan sholat tahajjud. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba Zahira kembali merasa mual. Segera Zahira berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Tubuhnya lemas lunglai setelah kembali memuntahkan isi perutnya. Meski terasa lemah, dia tetap saja berwudhu dan melaksanakan sholat tahajjud. Selesai sholat, Zahira berdoa agar penyakit anehnya itu segera dihilangkan.
Selesai sholat, kembali Zahira muntah-muntah. Tapi kali ini, tidak ada lagi makanan yang keluar. Hanya cairan kuning yang kental. Mungkin karena semua isi perutnya telah terkuras habis sejak tadi.
Zahira menangis terisak sendirian di dalam kamar mandi. Dia teringat dengan Uminya. Biasanya bila sedang sakit, selalu ada Uminya yang membelai dan memeluknya.
Zahira membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak pecah dan membangunkan Meta. Setelah tangisnya bisa dikuasai, Zahira pun beranjak keluar. Namun seluruh tenaganya seakan sudah habis. Zahira pun mengaso di sofa.
Zahira merebahkan tubuhnya di sofa. Rasa lemah dan lesu yang menyerang, membuatnya tidak mampu lagi kembali ke dalam kamar. Hingga Zahira pun tertidur di sofa.
Subuh menjelang, meski Zahira kurang tidur, tapi karena sudah kebiasaan, dia tetap bangun saat adzan subuh berkumandang. Dengan perasaan tetap lemas, Zahira tetap melaksanakan sholat.
Belum sempat membaca dzikir sesudah sholat, rasa mualnya kembali menyerang. Dengan cepat Zahira berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perut.
Seperti tengah malam tadi, tidak ada yang keluar kecuali cairan kental berwarna kuning. Zahira menangis merasakan sakit yang teramat sangat karenanya.
Zahira benar-benar lemah. Dia terpaksa menelusuri dinding sambil berpegangan kuat agar bisa keluar dan kembali ke kamar. Zahira pun segera merebahkan dirinya di kasur.
Rasa panas bagai di depan perapian terasa. Segera dia membuka mukenanya. Napas Zahira terengah-engah karenanya.
Meta menggeliat karena terganggu oleh kegelisahan Zahira. Perlahan dia membuka mata. "Ra kamu kenapa?" Meta mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Haah Meta aku kepanasan, seperti dipanggang!" Zahira mengeliat ke kiri dan ke kanan.
"Zahira, apa kamu perlu dikompres?" Seraya memegang dahi Zahira. "Lho Ra, badanmu kok tidak panas?"
"Haaah aku juga tidak mengerti Meta, ada apa dengan tubuhku, sebentar panas, sebentar menggigil, sebentar mual dan pusing, sebentar muntah-muntah, padahal tidak demam juga!" Lirih suara Zahira.
"Ra, aku turun dulu ya, mau buat sarapan!"
Zahira hanyan mengangguk pelan. Dia sudah tak sanggup lagi mengeluarkan suara saking lemasnya.
Meta memandangi Zahira sejenak dengan tatapan sendu. Kemudian berdiri dan berlalu keluar kamar.
Kini tinggallah Zahira sendirian di kamar. Bergulat dan berjuang sendirian. Dia tidak ingin merepotkan temannya. Karenanya, dia berusaha tampak tegar di depan Meta.
Zahira terus saja berdzikir untuk mengusir perasaan aneh yang melandanya. Tak berapa lama, rasa panas itu perlahan melemah dan hilang. Zahira pun kembali tidur lelap.
Meta yang tengah sibuk di dapur, dikagetkan oleh Della yang baru datang.
"Woii!"
"Iih Della, kalau aku jantungan gimana?"
"Eh Zahira mana, masih sakit?" Della menatap Meta menanti jawaban.
"Iya masih sakit, cuma aneh, bentar panas, bentar dingin, bentar pusing dan kadang muntah!" Sambil menyeduh teh.
"Mending kita kasih tahu Pak Khalid deh!" Della menyiapkan gelas.
"Haaah susah juga sih Zahira, coba kalau aku, pasti sudah aku kasih tahu Pak Khalid!"
"Memangnya kenapa Zahira, masi belum sembuh?" Daniah tiba-tiba datang menimpali. Adrian ikut bergabung pula.
"Pak Khalid pasti masih di rumah sakit sekarang, jam tugasnya selesai jam 8 pagi!" Ujar Adrian seraya menerima teh yang telah dituangkan Daniah.
"Tapi kalau nanti kita ke kampus, bagaimana dengan Zahira?" Meta kawatir.
Mereka jadi saling pandang. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Daniah mengeluarkan pendapat.
"Meta, kamu aja yang temani Zahira ya!"
"Tapi Dan, dosen killer masuk hari ini, ya kan Della!"
"Terus gimana dong?"
"Kalau saranku, mending kasih tahu Pak Khalid deh!" Ujar Adrian.
Semua mengangguk setuju dengan usul Adrian. Mereka pun melanjutkan sarapannya tanpa ada basa basi lagi.
Sebelum berangkat ke kampus, Meta hendak pamit pada Zahira, tapi sepertinya Zahira sangat pulas, sehingga Meta mengurungkan niatnya.
Sesampai di bawah, Daniah menyambutnya. "Bagaimana dengan Zahira, apa tidak apa-apa meninggalkan dia sendiri?"
Meta hanya mengangkat bahu, "dia masih tidur!"
"Udah yuk berangkat aja, biar Pak Khalid yang datang menemuinya nanti!"Seru Della.
"Iya, aku sudah kirim pesan ke Pak Khalid!" Adrian menyela.
Mereka pun mengangguk setuju. Kemudian melangkah keluar meninggalkan Zahira yang terbaring lemah di kamarnya.
********
Pak Khalid baru saja selesai dengan tugas akhirnya. Segera ia bersiap untuk pulang. Setelah berganti pakaian, dia pun melangkah keluar ruangan.
Baru beberapa langkah, Gina muncul dengan wajah memelas, "Sayang, aku mau minta maaf, bolehkan?"
Pak Khalid tidak menggubrisnya. Dia terus berlalu melewati Gina yang sedang menatapnya. Gina tidak mau kehilangan kesempatan. Dia segera menangkap lengan Pak Khalid.
"Sayang, aku mohon maafkan aku!"
Pak Khalid menepis tangan Gina, "maafkan aku, tapi aku tidak mau lagi mendengar suaramu!" Pak Khalid pun berlalu pergi.
Gina berseru dengan keras, "Sayang, Mama mengajak kamu sarapan bareng di kantin!"
__ADS_1
Pak Khalid tidak menoleh, tapi terus saja berjalan. "Kamu saja yang temani Mama kamu!"
"Sayang, tidak sopan menolak ajakan orang tua!"
Sayang sekali, teriakan Gina tidak membuat Pak Khalid berubah pikiran. Hal itu membuatnya semakin geram.
Pak Khalid terus berlalu, hingga sampai di tempat parkir. Sebelum menyalakan mesin, dia mengeluarkan ponselnya untuk memesan sarapan secara online.
Pada saat membuka Ponselnya, kebetulan dia melihat pesan dari Adrian. Dengan cepat dia membaca isinya. "Zahira?" Pak Khalid mengerutkan kening dan tanpa pikir panjang, dia pun melajukan mobil ke rumah Zahira.
Begitu sampai di rumah Zahira, dengan cepat dia turun dari mobil dan menuju ke rumah dan ternyata tidak dikunci. Tanpa menunggu lama, Pak Khalid telah berada di depan kamar Zahira.
Perlahan Pak Khalid mengetuk pintu. "Zahira!"
Tak ada suara yang terdengar. Sekali lagi Pak Khalid memanggilnya. "Zahira!"
Tetap tak ada suara.
Merasa kawatir, Pak Khalid langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Mata Pak Khalid langsung terbelalak. Bukan karena Zahira tampak seksi, tetapi karena di dalam kamar Zahira, terdapat puluhan mahluk aneh.
Pak Khalid tak mampu bersuara. Tenggorokannya terasa tercekat. "Ya Allah cobaan apa lagi buat Zahira!" Batinnya.
"Mereka adalah Jin yang telah berhasil diikat oleh dukun sakti yang aku hindari!"
Seketika Pak Khalid menoleh mendengar suara Pak Jin.
Selain Pak Khalid, Jin jahat yang tengah berkumpul di kamar Zahira juga ikut menoleh. Hingga terjadi perang pandang antar para Jin itu.
"Pak Jin, tolong bantu Zahira!" Wajah Pak Khalid sudah menegang.
"Dia tidak meminta bantuan kami!"
Pak Khalid menjadi emosi mendengar penuturan Jin itu. "Ya ampun, bukannya kalian sendiri yang bilang akan membantunya saat dia membutuhkan bantuan?"
"Tapi ini sudah menjadi perjanjian kami, tidak ada yang saling mengganggu!"
"Ini membantu, bukan menganggu, dia sudah membantu kalian, kenapa sekarang kalian tidak membantunya, atau kalian takut melawan mereka?" Pak Khalid sudah naik pitam. Wajahnya sudah kuyu seakan hendak menangis melihat Zahira tersiksa.
Pak Khalid segera menghampiri Zahira. Dia tidak peduli dengan kerumunan Mahluk jelek itu. "Zahira, bangun sayang, Zahira!" Pak Khalid mengguncang tubuh Zahira.
Perlahan Zahira menggeliat, lalu membuka mata. "Eemm, eh Bapak, aku tidak apa-apa!" Suara Zahira sangat lemah.
"Sayang ayo kita ke rumah sakit, kamu sangat lemah harus diinfus dulu!"
Zahira menggeleng lemah, "aku takut disuntik huaaaa...haaaa!" Zahira meraung lemah.
"Ga papa kok, ga bakalan sakit, aku yang akan melakukannya oke, bukan suster, hemmm!" Pak Khalid merengkuh tubuh lemah Zahira dalam pelukannya sambil terus menciumi keningnya.
"Pak Jin, tolong bantu singkirkan mereka dong!" Pak Khalid menatap Pak Jin dengan wajah kesal.
"Bagaimana dengan Zahira!"
"Pak Jiiin, masih harus tawar menawar kah?"
"Baik!"
Hanyan dengan mengangkat kedua tangannya ke udara, tiba-tiba puluhan Jin sudah memenuhi kamar itu. "Kamu bawa tubuh Zahira pergi, mereka biar kami yang akan mengatasinya!"
Pak Khalid mengangguk cepat, Kemudian membawa Zahira dalam gendongannya.
"Pak, aku tidak memakai baju!"
Pak Khalid langsung berhenti begitu mendengar pengakuan Zahira. Barulah dia sadar jika Zahira ternyata sedang berpakaian seksi. "Ah maaf!" Dengan cepat dia meletakkan Zahira di sofa.
Dia segera berbalik membelakangi Zahira. "Zahira, pakaian kamu ada di mana?"
"Ada di kamar!" Suara Zahira begitu kecil karena tidak lagi punya tenaga untuk bersuara.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya!"
Begitu Pak Khalid kembali ke kamar, Zahira mual lagi. Meski tubuhnya sangat lemah, tapi saat dia hendak muntah, mendadak kekuatan otomatis tercipta.
Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi. "Hooeeek! Hooeeek, ahh! haaaahhhh!" Zahira lemas tak berdaya.
Pak Khalid segera berlari keluar begitu mendengar suara Zahira muntah. Tapi saat berada di luar, dia tidak mendapatinya di sofa.
Saat melihat pintu kamar mandi terbuka, Pak Khalid segera ke sana. Benar saja, Zahira tengah duduk lemas sambil bersandar di dinding kamar mandi. "Zahira!"
Pak Khalid mengangkat tubuh Zahira kembali ke sofa. "Pak jangan lihat aku!" Pinta Zahira dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Zahira maafkan aku, tapi aku tetap akan melakukannya!" Air mata Zahira lolos keluar. Dia tidak sanggup membuka matanya. Perasaan malunya tidak dapat dibendung. Karena baru kali ini tubuhnya terbuka di depan lelaki.
Pak Khalid segera memakaikan baju ke tubuh Zahira. Zahira hanya pasrah tubuhnya terekspos bebas di depan Pak Khalid.
Setelah selesai memakaikan baju, dengan cepat Pak Khalid membopong dan membawanya ke mobil. Dia pun segera melaju menuju rumah sakit.
.
.
.
Sampai ketemu lagi ya.
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya😆😉😚
__ADS_1