Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 31.


__ADS_3

Zahira kembali ke bawah menemui temannya di dapur.


"Udah dapat tali?" Tanya Della yang sibuk menyiapkan meja makan.


"Tidak ada juga." Zahira jawab singkat.


Lalu duduk di kursi.


"Nanti aja kalau cucian aku kering, kan dari sejak pagi aku jemurnya." Timpal Daniah sembari meletakkan sayur di meja.


"Lagi bahas apaan nih?" Tanya Meta yang ikutan duduk di samping Zahira.


"Zahira ga kebagian tali buat jemuran." Ucap Della menyendok nasi ke piringnya.


"Ooh," singkat ucapan Meta sambil meraih piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauknya.


Zahira hanya diam menunggu giliran ambil makanan.


Sementara Hantu masih setia mendengar setiap keluhan dan percakapan 4 sekawan itu di bawah tangga.


******


Hari berganti dengan cepat, malam pun menyambut dengan perlahan. Seperti biasa, Zahira selalu asik bersenandung di kamarnya dibanding ikutan gosip di kamar Daniah.


Pada saat seperti itu, Hantu sudah tentu merasa gerah tinggal di dalam kamar Zahira. Ketika Hantu memilih untuk keluar dari kamar dan naik menuju lantai 3, saat itu pula Hantu melihat cahaya merah seperti api berkobar menuju ke arahnya.


Dengan ketakutan, Hantu segera kabur dan bersembunyi. Rasa penasarannya tak dapat ditahan, Hantu pun mencoba mengintip ke luar dimana cahaya merah membara itu jatuh.


Mata hantu langsung terbelalak saat melihat apa yang ada di sana. Sesosok mahluk buruk rupa yang besarnya sebesar rumah itu sedang berdiri dan celingak-celinguk. Hantu jadi gemetaran.


Mahluk besar itu pun turun ke lantai bawah. Dengan tubuh gemetar, Hantu mengikuti dari belakang sambil mengendap-endap.


Saat melihat kemana Mahluk itu menuju, Hantu menganga lebar, sambil geleng-geleng kepala. Secepat kilat dia menghilang masuk kamar Zahira. Tapi keluar lagi karena gerah ada di sana. Soalnya Zahira masih asik bersenandung.


Hantu hanya bisa meremas tangannya sendiri dengan wajah cemas, bibirnya digigit. Dia mondar-mandir dengan wajah meringis. Hantu sangat takut akan terjadi sesuatu sama Zahira, karena dia tahu benar bahwa Mahluk itu adalah jelmaan dari pelet dukun sakti.


Lain halnya dengan Zahira, dia masih asik bersenandung merdu di kamarnya.


Saat Mahluk jelek itu menghampiri dan hendak menghunjamkan senjatanya, tiba-tiba muncul cahaya kuning ke emasan menyilaukan mata Mahluk itu. Tak ayal, Mahluk itu mundur kesakitan.


Setelah dirasa agak mendingan, Mahluk itu maju lagi hendak menerjang, lagi-lagi matanya jadi silau. Akhirnya dengan geram, dia pergi meninggalkan kamar Zahira.


Saat keluar dari kamar, Mahluk itu tak sengaja melihat Hantu. Mata merah melotot memandangi Hantu. Dengan cepat Hantu masuk ke dalam kamar Zahira. Mahluk itu pun menggeram lalu menghilang entah kemana.


Malam makin larut. Seperti biasa Zahira terbangun, tapi kali ini dia tidak mendengar lagi suara aneh. Dengan rasa malas, Zahira melangkah untuk berwudhu. Seperti biasanya Zahira melaksanakan sholat tahajjud berahir dengan doa keselamatan dan kesehteraan buat dirinya dan keluarganya. Tak lupa mendoakan si Hantu yang tengah menatapnya di sudut kamar.


Zahira kembali terlelap. Itulah saat yang ditunggu-tunggu Hantu agar bisa mendatangi Zahira. Dengan perlahan, dia merangkak naik di dekat Zahira. Dengan lembut dia memanggilnya.


Zahira..., Ra....Zahira...!"


"Mmm ada apa sih," Zahira perlahan membuka mata.


"Eh kamu datang lagi?"


Hantu hanya tersenyum. Dengan cepat Zahira bangun karena kaget.

__ADS_1


"Eh bagaimana kamu masuk, kamarnya aku kunci loh dari tadi?" Zahira keheranan.


"Hehe lewat pintulah, ga kekunci kok, tuh," Hantu menunjuk dengan mukanya.


Zahira menoleh, dan benar pintu terbuka lebar.


"Oh hahaha, iya yah aku pasti lupa waktu habis wudhu tadi." Zahira menertawai dirinya yang ceroboh.


"Zahira, aku dengar kamu butuh tali ya?" Tanya Hantu lagi.


"Iya aku butuh banget, apa kamu punya tali?" Zahira berbinar. Dia memegang tangan Hantu. Dan dengan cepat dia lepaskan karena tangan itu terasa sangat dingin.


"Eh tanganmu kok dingin banget?" Zahira heran lagi.


"Hehe iya kan habis keluyuran malam-malam, makanya dingin." Terang Hantu bohong.


"Ooh gitu ya, tapi benar kamu punya tali?"


Hantu cuma mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya kalau mau dipinjemin." Zahira ikutan senyum bahagia.


"Iya aku kasih kok, tapi ada syaratnya,"


"Apa?"


"Kamu pasang tali itu tepat di depan teras lantai 3, Biar si empunya rumah bisa langsung melihat tali jemuran kamu nanti ya, terus kalau dia nanya dari mana dapat talinya, kamu bilang dari teman aku namanya Amanda,"


Zahira cuma manggut-manggut mencoba menelaah isi syarat itu.


Hantu mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi kamu tinggal dimana, terus apa Bu kost mengenalmu?"


"Di sekitar sini, iya Bu kost saaangat kenal aku," ujar hantu senyum.


"Emm, terus talinya kapan kamu bawakan aku?"


"Talinya sudah ada kok, tuh di bawah kolong ranjang!"


Zahira segera melongok di kolong ranjang sebagaimana di tunjukkan Amanda. Tapi baru saja kepalanya menunduk, tubuhnya langsung bergedebuk d lantai kamar.


"Aaa ddduuuhhh." Zahira mengaduh sambil membuka mata.


"Eeh kok aku jatuh sih, eh Amanda mana?" Zahira segera berdiri saat menyadari tak ada siapapun di situ.


"Ah apa aku mimpi lagi?"


Zahira mengerutkan kening, memegangi pantatnya yang keram karena terjatuh dari ranjang.


Perlahan Zahira kembali meringkuk di kasur. Ditariknya selimut lalu melanjutkan tidurnya.


Karena mimpi yang membuatnya terbangun lalu tidur lagi, akhirnya dia kesiangan.


"Zahira...Zahira!!! Bangun weeiii, bangun!!" Teriak Daniah tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


Zahira menggeliat, betapa kagetnya dia saat melihat cahaya matahari sudah sangat terang di balik jendela.


"Hah Astagfirullahal Adzim, aku kesiangan deh." Segera Zahira bangkit dan berlari menuju kamar mandi buat Wudhu. Tak peduli Daniah memandanginya dengan kesal, dia segera berlalu dan masuk kamar kembali hendak sholat subuh.


"Kenapa tuh anak, aneh benar?" Tanya Della yang melihat Zahira terbirit-birit.


"Yaa namanya juga kesiangan, mau sholat dia tuh, buru-buru kan dah telat." Meta menjelaskan.


Mereka pun melangkah dengan gontai ke dapur yang tak berisi sarapan apa-apa. Karena Zahira kesingan.


"Hahh mau makan apa kita?" Daniah kesal.


"Ya elah langsung seduh teh aja susah amat." Timpal Meta.


"Ahh aku nanti deh sarapannya di kantin aja kalau begini," Della dengan malas menopang dagunya di meja dengan tangannya.


"Maaf ya teman-teman aku bangunnya kesiangan jadinya ga bikin sarapan." Zahira datang menimpali.


Semua menoleh ke sumber suara. Demi melihat Zahira yang belum siap, Daniah makin sewot.


"O em ji...Kamu belum siap juga, jam berapa sekarang nih!!"


"Eh iya aku siap-siap dulu yah," Zahira segera berlari kembali ke kamarnya untuk berganti baju.


"Maaf ya, kalian ga sarapan jadinya." Ujar Zahira begitu keluar dari kamar.


"Bacot ah, berangkat yuk!" Ajak Daniah masih kesal.


Meta segera mengerling Zahira dengan senyum gelinya. Lalu menggamit lengan Zahira mengajaknya jalan bareng.


Setelah Daniah dan Della agak jah di depan Meta berbisik.


"Jangan diambil hati ya ucapan Daniah, dia emang gitu orangnya, tinggi darah, tapi dia baik kok,"


"Makasih ya Meta, kamu baik dan peduli sama aku," balas Zahira.


"Entar biar aku yang traktir deh, sebagai ganti sarapan yang tidak jadi tadi." Zahira tersenyum.


"Beneran nih? Waah aseeekk." Meta berbinar.


"Wooii!! Zahira mau traktir kita!!" Meta meneriaki kedua temanya.


Serempak mereka menoleh.


"Beneran?"


Zahira hanya mengangguk dan tersenyum.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen ya😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2