Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 82. Di Kantor Polisi


__ADS_3

Mendengar suara orang bertanya, semua menoleh.


"Pak Khalid?"


"Daniah, Della baru saja sembuh, kamu bisa membuatnya sakit lagi nanti!"


Daniah tersadar dari kelakuannya. "Ah!" Langsung melorot turun dari punggung Della.


"Aaaahhhhh!" Della bernapas lega begitu Daniah turun. "Makasih Pak, sudah membelaku!" Seraya bangun dari tidurnya demikian juga dengan Meta.


"Bapak bukannya sudah pergi?" Tanya Meta yang memperbaiki posisi duduknya. "Iya Pak, tadikan udah pulang!" Daniah menimpali.


"Iya, tapi sekarang balik lagi, sambil bawain barang-barang kalian!"


"Ooohhh!" Seru mereka serempak.


"Ayo Daniah, Meta, bantu aku turunkan barang!" Sambil keluar dari kamar


Meta dan Daniah saling pandang lalu beralih menatap Della dan Zahira.


"Kok cuma kita? terus kalian ngapain?"


Della dan Zahira tersenyum. "Emm mungkin karena..." Della memotong ucapan Zahira. "Kita kan baru sembuuh!" Sambil mengedip ke Daniah. Zahira dan Della langsung tersenyum.


Daniah manyun begitu juga dengan Meta. "Haaahh hari ini keberuntungan kalian ya!" Meta melengos pergi.


"Tapi lain kali jangan harap bisa beruntung lagi!" Daniah melotot ke Zahira dan Della kemudian berlalu pula.


Zahira langsung berbaring begitu mereka pergi. Della tersenyum jahil dan langsung menusuk pipi Zahira yang masih agak membiru meski sudah samar-samar. "Aduuh!" Zahira langsung memegang pipinya.


"Hehe sakit beneran ya?" Della senyum seakan tidak percaya.


"Iyalah sakit, emang kamu sendiri tidak sakit?"


"Emm tidak, sama sekali tidak sakit tuh, hehe!" Sambil melempar tubuhnya di samping Zahira, membuat tubuh keduanya terguncang-guncang.


"Aaahh akhirnya aku bisa merasakan tidur di kasur empuk begini, hahaha!"


Zahira menoleh, "memangnya kasur kamu ga empuk?"


"Haah aku bukan orang kaya kali Zahira, yang bisa membeli semua barang mewah kayak gini!" Seraya menoleh menatap Zahira.


Zahira hanya bisa tersenyum iba. "Tapi sekarang bisa punya kasur empuk tanpa harus membeli ฤทan?"


"Iya sih, semua berkat kamu Ra, makasih ya!"


"Bukan karena aku kok, tapi memang rejeki kamu lah, mestinya kamu bersyukur sama Allah, jika Allah berkehendak, maka tak ada yang tak mungkin!"


"Berterima kasih sama Allah, apa aku harus bikin selamatan gitu?"


"Hahaha, ga perlu Dell, cukup menjalankan perintahNya dan menjauhi larangaNnya, salah satunya sholat lima waktu jangan ditinggalkan!"


"Haah mentang-mentang aku ga pernah sholat!" Della mendelik.


"Bersyukur pada Allah, harganya murah meski balasan yang kita terima sangat mahal dan mewah, cukup meluangkan waktu 10 menit setiap datang waktu sholat kok!" Zahira tersenyum lagi.


"Tapi aku belum dapat hidayah!"


"Mau hidayah? Kalau mau dihampiri sama hidayah Allah, maka cobalah memikirkan kebesaran dan kekuasaan Allah dalam waktu seminggu saja dengan serius, baca qur'an terjemahan dengan niat mencari kebenaran iman, maka kamu akan segera mendapatkan setidaknya sedikit kebenaran yang akan menggugah hatimu, saat itulah hidayah datang!"


"Haah biar nanti aku coba ya!"


"Aku akan selalu senang membantu!"


Mereka tersenyum bersama.


Daniah dan Meta masuk kamar sambil menyeret koper mereka. "Waah enak ya jadi orang sakit, udah nyante aja sambil tiduran!" Sambil melempar tas punggung milik Della hingga mendarat di perutnya.


Sontak mereka terbangun. Zahira heran melihat barang-barangnya tidak ada. "Eeh koperku dimana?"


Meta menghempaskan pantatnya di kasur. "Haah dibawa sama Pak Khalid ke lantai atas!"


Zahira makin heran "Haah cuma punyaku?"


Daniah ikutan duduk. "Iyalah, calon Nyonya Khalid harus diperlakukan istimewa, soalnya kalau tidak bisa-bisa Pak Khalid batal dijadikan calon mantu sama ortu kamu, hahaha!"


"Hahahaha, benar tuh benar, hahaha!"


Della ikutan tertawa, Meta pun demikian. Sementara Zahira cuma tersipu malu.


"Kalian sembarangan mana ada seperti itu!" Zahira tertunduk.


"Terus kalian apa tidurnya satu kamar semua?" Zahira menyelidik.


Daniah angkat bahu. "Entahlah!"


Pak Khalid masuk ke kamar membuat konsentrasi mereka teralihkan.


"Apa kalian sudah siap sekarang?"


Mendengar pertanyaan Pak Khalid, mereka saling pandang sambil mengerutkan kening. Kemudian kembali menatap Pak Khalid.


"Siap buat apa Pak?" Della.


"Iya, kita emang mau kemana?" Meta.


"Hari ini kita harus melapor ke kantor polisi!" Pak Khalid.


"Lho bukannya kita sudah menjawab semua pertanyaan dari Polisi waktu itu?" Daniah.


"Iya tapi kita diharuskan melapor lagi begitu kalian keluar dari rumah sakit!"


"Ya sudahlah kita sebaiknya siap-siap aja yuk!" Ajak Zahira.


"Tapi kan Pak, ini sudah sore!" Della.


"Kantor polisi bahkan tetap buka dimalam hari!" Seraya berlalu keluar. "Aku tunggu di ruang tengah ya!" Seru Pak Khalid sambil melambaikan tangan.


*******

__ADS_1


Begitu sampai di Kantor Polis, mereka di sambut oleh Pak Polisi yang menangani kasus mereka kemarin. Mereka bergantian mendapat giliran ditanyai dan diinterogasi di dalam ruangan.


Pertanyaan yang diajukan Pak Polisi itu berbelit-belit dan berliku. Seakan-akan hendak memutar balikkan fakta. Salah-salah bisa masuk perangkap dan berbalik menjadikan dirinya tersangka.


Saat giliran Meta, sering kali dia mendapat bentakan karena beberapa kali dia tidak paham akan maksud pertanyaan yang berliku-liku. Akhirnya dia memilih diam.


"Kenapa malah diam, apa kamu tidak bisa menjawab, atau jangan-jangan kamu ini mau bersaksi palsu?" Pak Polisi melotot padanya.


Meta menahan geramnya, dengan gigi gemeretak dia menjawabnya. "Pak, sejak tadi pertanyaan Anda berputar-putar seperti gasing yang membuat pusing, aku malah curiga, jangan-jangan Anda sengaja memojokkan saya biar berubah jadi tersangka, tidak heran kalau banyak orang diluar sana yang memilih diam dari pada menjadi saksi!" Meta melotot tak kalah tajam.


Pak Polisi yang semula melotot tajam, terdiam sejenak. Dan tiba-tiba "Hahahahaha...baiklah kamu boleh keluar!"


Meta mengernyit tidak mengerti. Dengan perlahan dia berdiri dengan penuh keheranan lalu keluar.


"PAAAAK...KELUARKAN AKU PAAAK! AKU TIDAK TAHAAAAN! PAAAAK DISINI ADA HANTUUU!!"


Suara teriakan dari ruang tahanan membuat semua orang menoleh. Demikian pula dengan rombongan Pak Khalid.


Polisi yang bertugas menginterogasi Zahira dan temannya keluar dari ruangan menuju asal suara.


Pak Khalid dan yang lainnya saling pandang. Kemudian perlahan mereka mengikuti arah Pak polisi tadi pergi.


Sesampai disana, betapa herannya mereka melihat kondisi Tono yang sudah tidak berbentuk lagi.


Wajahnya lebam penuh bekas pukulan, bibir dan keningnya berdarah. Sebagian sudah kering dan sebagian lagi masih segar.


"Astagfirullah...!" Zahira menutup wajahnya, dia tak sanggup melihat pemandangan di depannya.


Mendengar suara Zahira, Pak Polisi menoleh pada mereka. "Apa yang kalian lakulan disini, keluar sana!"


"Pak apa yang terjdi padanya?" Pak Khalid penasaran.


"Haah setiap saat dan setiap menit dia selalu berteriak-teriak minta dikeluarkan, katanya ada Hantu!"


Pal Khalid memandang ke sekeliling, mencari-cari keberadaan Amanda. Sementara Zahira terus memegang ujung baju Pak Khalid seraya bersembunyi di balik punggungnya.


Merasa kasihan, Pak Khalid mengajak Zahira dan semuanya untuk keluar dari situ. "Ayo mending kita pergi, disini tidak nyaman!"


Sementara Tono sudah memegang lengan Polisi itu erat. "Haah Pak tolong Pak, kirim aku kemana saja, asal jangan disini Pak, aku tidak tahan Pak, haah Pak tolong Pak!"


Pak Polisi menghempaskan tangan Tono. "Diam, sebentar lagi kasusmu akan ditangani dan segera akan dikirim ke RUTAN, jadi sebaiknya kamu diam agar tubuhmu bisa bertahan sampai kesana!"


Pak Polisi pun segera pergi.


*******


Selama perjalanan pulang, tak ada seorang pun yang bersuara. Mereka tengah asik dengan pikiran masing-masing. Terutama Zahira yang sangat prihatin dengan kondisi Tono saat ini.


Meski dia telah disakiti tapi hati kecilnya tetap saja tidak tega melihatnya seperti itu.


"Tadi aku melihat Amanda disana!" Tatapan Pak Khalid lurus ke jalanan.


Mendengar penuturan Pak Khalid, sontak semua menatapnya heran. "Haaah Amanda!!" Mereka terbelalak.


"Iya, aku rasasekarang Amanda sedang meneror Tono setiap saat!"


Mendengar hal itu Della menjadi puas demikian juga Daniah.


"Iya, lagi pula hukuman buat pembunuh ya dibunuh juga, iya kan Zahira!" Seru Daniah.


Zahira gelagapan. "Oo eeh i...iya sih, tapi bukan dengan cara disiksa seperti itu!"


"Alaah dia ga pantas mati tenang, coba bayangin aja kelakuannya, bejatnya Nauzubillah!" Geram Della. Sakit di pungungnya langsung terasa begitu mengingat saat tubuhnya dilempar ke dinding.


Saat tengah berbincang-bincang soal Tono, tiba-tiba Amanda muncul dan duduk manis di belakang punggung Della.


Sekilas Pak Khalid melihat bayangannya di kaca spion di atasnya. Merasa penasaran, Pak Khalid menengok kebelakang dan langsung terkejut. Tapi segera ditahannya agar anak-anak di belakangnya tidak curiga. Segera dia berpaling dan kembali menatap jalanan tanpa basa-basi lagi.


Tiba-tiba ponsel Daniah berdering. "Adrian?" Semua menoleh menatapnya.


*"Halo!*


*"Halo sayang, aku ke Rumah sakit, tapi katanya kalian sudah pulang, saat aku ke kosan kamu, juga tidak ada, kalian tinggal dimana sekarang?"*


*"Pertanyaan bertele-tele cuma mau tanya dimana?"*


*"Iya sayang kamu dimana sekarang?"*


*"Haah yang pasti bukan di jalanan!"*


Della dan Meta menoleh demikian juga Zahira. "Lho bukannya kita lagi di jalan?"...."Hahahaha!" Semua tertawa.


Dengan cepat Daniah menutup telponnya.


"Yah kasihan Adrian dong dianggurin?" Meta.


"Selain dianggurin, dia juga dikacangin, hahaha!" Della.


"Kok ada anggur sama kacang?" Zahira mengerutkan kening.


"Hahaha Daniah mau bikin rujak!" Della.


"Hahaha!" Meta tertawa pula.


"Haah cowok ga mau dibilangin emang enaknya dikasi rujak pedas!" Daniah kesal.


Pak Khalid mengintip Amanda yang ikutan tertawa melihat anak-anak di depannya. Dia pun menarik napas melihat Amanda tampak senang.


Ponsel Zahira ikutan berdering. "Haah nomor siapa ya?" Zahira heran melihat nomor baru di HPnya.


Pak Khalid menoleh, "ada apa Ra?"


Zahira menoleh pula "ga tahu Pak nomor baru!"


"Ya angkat aja, siapa tahu penting, nanti kalau ternyata nomor nyasar, ya matiin aja!"


Zahira mengangguk lalu menjawab telponnya.


"Halo Assalamu alaikum!"*

__ADS_1


*"Ooh ada apa?"*


*"Kami tinggal di rumah Pak Khaid sementara!"*


*"Baiklah, Assalamu alaikum!"*


Jemari Zahira pun mengetik pesan entah kepada siapa.


Semua langsung penasaran, Daniah sendiri tengah curiga, "jangan bilang itu Adrian Ra!"


"Iya dia Adrian, katanya mau jengukin kita!"


"Zร hiraaaa! Kenapa ga permisi dulu sebelum ngasih alamat!"


"Oo maaf!"


"Pasti kangen, hahahaha!"


"Ayam bebek mau digoreng, hahaha!" Ledek Della dan Meta. Daniah cuma melotot menatap mereka.


Sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya berdebat dan saling meledek. Daniah yang emosian sering sekali mengumpat dan membentak namun Della dan Meta malah semakin bersemangat.


Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah. Saat semua telah turun dari mobil, alangkah kagetnya saat mobil Adrian telah terparkir di depan rumah.


"Ayang, kamu dari mana aja?"


Sambut Adrian begitu melihat mereka.


Meta sudah siap meledek. "Ekhem...Ayam...ayam...!" Sambil berlalu masuk dengan senyum ditahan.


"Bebek...bebek..." Della tak kalah usilnya sambil menahan tawa.


Daniah tak menjawab sambutan Adrian. Dia mengabaikan Adrian dan berlalu tanpa mengajaknya masuk. Adrian hanya menatapnya sayu.


Pak Khalid mendekat dan mengajaknya masuk. "Mari masuk!" Sambil menepuk pundaknya lalu melangkah masuk.


Zahira cuma mengekor di belakangnya.


"Duduk yuk!" Pak Khalid mempersilahkan Adrian duduk begitu sampai di ruang tengah. "Makasih Pak!" Adrian ikut duduk. Sementara semua gadis itu telah masuk ke kamar mereka.


'Apa Bapak tinggal bersama mereka disini?" Adrian melirik Pak Khalid.


Pak Khalid menoleh menatap Adrian. "Tidak, aku hanya mengantar mereka pulang, habis itu aku akan pulang ke rumah kontrakan aku!"


"Lho terus ini?" Adrian menunjuk atap rumah.


"Ini rumahku, tapi sebelumnya aku menyewa rumah di depan kos-kosan mereka, makanya aku bisa menolongnya waktu itu!"


Mendengar penuturan Pak Khalid, Adriam diam seraya mencerna setiap penuturan Pak Khalid. Berbagai pikiran negatif bermunculan di kepalanya.


Pak Khalid merasa canggung, akhirnya menelpon Zahira.


*"Halo, Ra, minta Daniah temani tamunya sekalian bikinin minum!"*


*"Baik Pak!"*


Dengan perasaan dongkol Daniah keluar dari kamar. Tapi bukan Daniah jika tidak menjadi atasan. Dengan kekuasaannya dia menyeret semua ganknya untuk ikut keluar membuat minum dan menemani Adrian.


Setelah lama berbincang dan waktu magrib telah tiba, Adrian pun pamit dan pulang. Demikian juga dengan Pak Khalid. Daniah and the gank langsung bernapas lega.


"Eh bentar, apa kita tidur sekamar semua?" Meta mengedar pandang.


Zahira di kamar atas tuh!" Daniah menatap Zahira.


"Apa kalian mau tidur bertiga?" Selidik Zahira.


"Eem aku sama Zahira aja deh!" Seraya merangkul lengan Zahira.


"Ya udah aku sama Della!" Daniah.


Mereka pun berpencar menuju kamar masing-masing.


**********


Pagi datang menyambut dunia dengan suka cita. Zahira yang telah bangun sejak tadi telah sibuk di dapur membuat sarapan.


Setelah semua selesai, Zahira pun berniat membangunkan teman-temannya. Akan tetapi saat melihat mereka masih terlelap, dia pun mengurungkan niatnya.


Seketika pintu di ketuk seseorang. Dengan cepat Zahira memaki jilbabnya kemudian membuka pintu.


"Eeh Pak Khalid, pagi benar Pak?"


Pak Khalid tersenyum, "apa aku tidak boleh kemari?"


"Oh boleh kok Pak, cuma heran aja soalnya masih pagi benar!"


"Aku mau numpang sarapan boleh?"


"Iya Pak, boleh kok, kebetulan mereka belum pada bangun, jadi sarapannya buat Bapak aja, mari masuk Pak!"


Pak Khalid mengangguk sambil mengikuti Zahira masuk ke dalam. Benar saja, di atas meja makan telah terhidang roti bakar dengan teh hangat. Pak Khalid pun duduk menghadapi hidangan tersebut.


"Apa semalam ga ada yang aneh?" Sambil mengigit roti


Zahira tercengang, "Aaa, mmm ga ada tuh, memangnya ada apa Pak?"


Pak Khalid berhenti mengunyah. "Karena Amanda tinggal di rumah ini!"


"Ooh, semalam ga ada apa-apa, lagian Amanda kan udah janji sama aku untuk tidak menganggu kami!"


Mendengar nama Amanda, Meta langsung jadi tegang....


.


.


.


.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi. Meski agak membosankan tapi yaah begitulah alurnya. Maafkan daku ya readers๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Mohon untuk Like, Votenya juga๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Jangan lupa tinggalkan jejak ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2