Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 74. Berhadapan langsung


__ADS_3

Setelah acara makan siang yang romatis itu, Zahira semakin merasa malu. Dia terus saja menekuk wajahnya dan tak berani menatap teman-temannya.


"Makasih ya, Kak Yeni udah ngajakin kita makan bareng!"


Yeni menatap Daniah dengan senyum. "Sama-sama, anggap saja sebagai ucapan terima kasih atas bantuan kalian waktu di rumah sakit!"


Mendengar itu, Pak Khalid tersenyum pula. "Berarti aku memang harus ikut makan ya, kan waktu itu aku juga ikut membantu!"


Yeni mengerutkan keningnya sambil menoleh ke Nova. Yang ditatap cuma mengangguk.


"Ooh maaf Dokter, saya tidak tahu, kalau begitu makasih juga ya Dok, aku doakan semoga Anda dan Zahira bisa langgeng sampe ke pelaminan!" Sambil menyalami Pak Khalid yang dipanggil dokter karena dulu waktu pertama kenalan, Yeni tahunya kalau Pak Khalid seorang Dokter.


Zahira terkejut, "Eh Kak Yeni, kami ga gitu kok!"


"Beluuum, bukan tidak ya tapi beluuum, hahaha." Della dan Meta tertawa puas mengerjai Zahira. Apalagi Zahira sangat tidak tahu marah, paling cuma merajuk. Membuat mereka mengerjainya habis-habisan.


Zahira kesal langsung membuang muka. Dia sendiri merasa aneh dengan dirinya. Seharusnya dia benci sama Pak Khalid yang telah membuatnya jadi bulan-bulanan temannya, tapi entah mengapa hatinya malah semakin terasa senang.


Meski mulutnya bilang tidak suka dan tidak mau, tapi di hatinya bilang 'Iya'. Tanpa sadar matanya terasa hangat dan berair. Perlahan merembes membasahi pipinya. Zahira terisak tertahan dan semakin menekuk wajahnya. Dengan cepat dia mengusap pipinya.


"Baiklah Pak Kami pulanh dulu ya!" Yeni berpamitan. "Eh kalian ikut kami atau...." Yeni menggantung ucapannya sambil menujuk Pak Khalid.


"Mereka ikut saya, kan rumah kami satu arah!" Timpal Pak Khalid.


"Ooh ya sudah kami duluan ya!" Seraya pergi menuju mobil Alfian yang sedari tadi sudah menunggu di dalamnya.


Sepeninggal Yeni, tinggallah Zahira and the gank yang berdiri menunggu Pak Khalid mengambil mobilnya, yang diparkir agak jauh dari rumah makan.


Della sudah mulai menatap Zahira jahil. "Yeeee, ada yang jatuh cinta nihhh!"


"Uuuhh makan sepiring berdua lho, hahaha!"


Zahira main tertunduk malu. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini makin deras, hingga suara isaknya terdengar jelas.


Daniah langsung menggampar Della dan Meta. "Aauu!" Aahhh!" "DANIAH!"


mereka seakan kompak berteriak.


Daniah malah melotot. "Apa kalian ga lihat Zahira memangis?"


Della dan Meta langsung merasa bersalah. "Zahira, maafkan kita ya, kami ga bermaksud mengolok-olok kamu kok!" Tapi Zahira tak kunjung mendongak. Dia terus saja menunduk sambil terisak-isak.


Mobil Pak Khalid pun tiba, melihat suasana canggung di sampingnya, Pak Khalid segera turun. "Ada apa ya, kelihatanya sedang ada masalah?"


"Zahira nangis Pak, gara-gara Della dan Meta tuh yang ledekin mulu dari tadi!"


"Zahira, kamu ga papa kan?" Pak Khalid mencoba memegang tangannya. Tapi dengan cepat ditepisnya. "Maaf Pak jangan pegang-pegang, aku ga suka!" Dengan cepat, Zahira membuka pintu belakang lalu duduk dan menutup pintu.


Mereka semua saling tatap dengan wajah resah. Pak Khalid sendiri segera masuk ke mobil. Begitu duduk, dia langsung menoleh ke belakang. "Ra, duduk di depan yuk!"


Zahira tidak menyahut, malah makin tertunduk sambil terisak-isak. Pak Khalid semakin merasa bersalah. Karena Zahira diam tak bergeming, akhirnya Daniah yang duduk di depan.


Sebenarnya Zahira menangis bukan karena marah pada temannya, melainkan pada dirinya sendiri, yang tidak dimengertinya sama sekali.


Sepanjang perjalanan, Meta dan Della merengek dan memohon-mohon agar dimaafkan tapi Zahira tetap diam.


Sebenarnya, tangis Zahira telah berhenti sejak Meta dan Della tidak hentinya merengek, cuma karena Zahira juga ingin sedikit balas dendam, dia pura-pura diam dan semakin tertunduk. Sekuat tenaga Zahira menahan geli di hatinya, agar tidak ketawa.


Pak Khalid sungguh merasa bersalah. Dia menyesali tingkahnya yang kekanakan tadi. Hanya karena ingin pamer kemesraan, dia sampai berbuat bodoh. Kini dia sangat takut jika Zahira akan semakin membencinya. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri yang tidak dapat menahan perasaannya sedikit saja.

__ADS_1


Mobil telah sampai dan berhenti tepat di depan rumah Zahira. Saat turun dari mobil, mereka jadi heran dengan mobil yang parkir di samping rumah. Padahal selama ini, tidak pernah ada mobil, yang ada cuma beberapa motor milik penyewa di lantai atas.


"Eh mobil siapa itu ya?" Meta.


"Entahlah!" Daniah.


"Apa jangan-jangan, itu mobil anak Bu kos?" Della terbelalak.


"Tapi ada dua mobil!" Zahira akhirnya bersuara.


Pak Khalid ikutan turun. 'Ada apa?"


Daniah menoleh, "Eh itu Pak, di garasi ada dua mobil, biasanya tidak ada lho Pak!"


"Mungkin Bu kos sudah pulang, dan itu mobil keluarganya,"


"Kenapa perasaanku kok ga enak ya?"


Zahira memegang dadanya.


Pak Khalid menatapnya lekat, "maf ya, aku tidak bisa bersama kalian, hari ini aku ada jadwal operasi, jadi mungkin pulangnya malam, tapi kalau ada apa-apa, kamu telpon aku ya!" Sambil menatap Zahira.


Semua mengangguk menanggapinya. Meski yang ditatap cuma Zahira.


Sepeninggal Pak Khalid, mereka pun masuk ke dalam rumah. Alangkah kagetnya saat melihat seisi rumah hancur berantakan. "Astagfirulahal adzim!" Zahira menutup mulutnya tak percaya.


"Ada apa ini, apa yang terjadi?" Pekik Daniah. Mereka pun saling tatap, dan seperti dapat komando, mereka segera berlarian ke kamar masing-masing.


"AAAAAAAAA!" Teriakan mereka hampir bersamaan. Lalu mereka segera kembali keluar. "Daniah kamarku, hancur!"


"Aku juga!"


Zahira tak menyahut, wajahnya nampak shok. "Zahira bagaimana kamar kamu?"


"Hancur berantakan!"


"Ini tidak bisa dibiarin, kita harus lapor sama Pak Khalid!" Teriak Meta.


"Iih Meta, memangnya Pak Khalid polisi pake melapor sama dia?"


"Iya, lagian Pak Khalid ada jadwal operasi, kita jangan ganggu dong!"


"Ya sudah, mending cepat beresih barang-barang kita, habis itu kita lihat barang apa yang hilang!" Daniah menengahi.


Belum lagi mereka sempat beraksi, tiba-tiba Tono datang bersama seorang pria tua yang berjanggot putih panjang, dengan sorban di kepala layaknya seorang kyai, ditambah pakaiannya yang serba putih, seakan-akan dia adalah syekh terkemuka.


"Hahaha akhirya kalian sudah pulang juga." Suara Tono bagai petir di telinga empat gadis di depannya.


"Sekarang aku mau tanya, siapa diantara kalian yang merasa sakti hahh!" Lanjut Tono dengan sarkas.


Sementara Pak tua itu diam menyelidik.


Tatapan mata Pak tua itu membuat bulu kuduk Zahira and the gank meremang. Meta sudah gemetaran demikian juga dengan Della. Daniah memberanikan diri bersuara. "Maaf Pak, kami tidak mengerti maksud Bapak!"


"Alaah jangan pura-pura, katakan siapa yang selalu melindungi hantu yang bergentayangan di sini?"


Amanda yang sejak tadi telah terusir dari kamar Bu kos, hanya bisa menyaksikan semuanya di luar jendela. Karena seluruh rumah telah dipagari oleh Dukun sakti itu.


"Sekali lagi maaf ya Pak, jangankan melindungi hantu, dengar kata hantu aja, kami sudah gemetaran!"

__ADS_1


"Itu kamu, tapi tidak bagi dia!" Pak tua itu menunjuk langsung pada Zahira.


Zahira menganga lebar karena kaget ditunjuk-tunjuk. Demikian juga dengan temannya.


Pak tua itu masih menatapnya lekat. "Katakan sihir apa yang kamu pakai haa!"


Zahira menggeleng cepat. "Ti...tidak ada Pak!"


Pak tua itu senyum menyeringai "Heh, kita lihat saja, apa kamu bisa melawanku jika kita berhadapan langsung!" Pak tua itu sudah mengangkat kedua tangannya di depan dada. Mulutnya komat-kamit baca mantra.


Zahira dan juga teman-temannya panik juga kaget. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi dan apa maksud Pak tua itu.


Belum lagi kepanikan Zahira pulih, tiba-tiba, ketiga temannya memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. "Aadduhhh sakiittt, Raaa tolooooonggg sakiiitt!" Mereka pun bergulingan di lantai. Temannya terus menjerit dan meringis merasakan sakit yang amat sangat.


"Habisi saja Pak, biar mereka mati kesakitan semua!" Seru Tono membuat Zahira makin panik.


"Ya Allah, bagaimana ini? Pak apa yang kamu lakukan pada teman-temanku, hentikan Pak!" Zahira berterik kencang.


Tapi ucapannya tak digubris, Zahira benar-benar blank, semua doa dan ayat yang dihapalnya seakan hilang entah kemana. Zahira menangis menyaksikan semua temannya yang kini sudah tak mampu lagi bersuara akibat sakit yang menderanya. Wajah mereka mulai menghitam.


"Ya Allah, ASTAGFIRULLAHAL ADZIM! HAA HAAA, TOLONG HAMBA YA ALLAH!!"


Zahira terus meraung dalam tangisnya.


"HAHAH HAHAHA, RASAKAN KAMU!"


Tono tertawa puas melihat teman Zahira yang kesakitan. Tapi saat dia menyadari jika Zahira tidak kenapa-napa, dia menjadi geram. "Pak kenapa dia tidak kesakitan!" Tapi Pak tua tetap komat-kamit tanpa menjawab.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Ya Allah, LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH, apa yang harus aku perbuat Ya Allah!" Sambil menengadahkan tangan kelangit mengharapkan petunjuk jika memungkinkan.


Lalu Zahira tersadar dengan ucapannya barusan. Dia pun menguatkan dirinya. Dengan tangan mengepal, dia bangkit dan menatap mata Pak tua yang tengah komat- kamit dengan mata melotot.


Kini Zahira mulai melafalkan bacaan La haula walaa quwwata illa billahil aliyil adzim sebanyak 100x. Tapi karena Zahira tidak sempat menghitung, maka dia pun berniat membacanya sebanyak yang dia mampu.


Dia teringat akan wejangan dari gurunya, "jika mengalami kepanikan dan ketakutan yang membuatmu lupa akan doa yang panjang maka bacalah doa itu sebanyak 100x, niscaya kamu akan selamat."


Dengan sepenuh jiwa dan segenap keyakinan yang dimilikinya, Zahira terus melafalkan doa tersebut sambil terus bersitatap dengan Pak tua.


Lama-kelamaan pandangan Zahira menjadi buram, kini Pak tua tampak menjadi banyak bahkan sampai puluhan yang berjejer di samping dan di belakangnya.


Zahita tidak mau menyerah, dia tetap saja bertahan dan terus membaca doanya. Semakin lama tubuh Zahira terasa ringan seakan tidak menjejak lantai. Pandangannya sudah benar-benar kabur hingga akhirnya wajah pak tua semakin mengecil dan menghilang entah kemana.


Tiba-tiba Zahira merasa dirinya berada diantara orang yang banyak yang lagi baca Dzikir pula. Meski merasa heran, dia tetap melanjutkan bacannya dengan semakin nyaring. Dia tersenyum melihat kerumunan orang yang berpakaian serba putih yang juga ikut berdoa.


Semakin lama semakin besar suara Zahira karena mengimbangi suara semua orang yang bersamanya. Dia semakin tersenyum senang.


Saat sedang asik-asiknya dia berdoa, sambil menatap semua orang itu, tiba-tiba Della muncul diantara mereka, "Zahira, sudah, Pak tuanya sudah pingsan!"


Zahira tersentak kaget mendengar ucapan Della. Tiba-tiba saja tubuhnya lemas tak berdaya.


.


.


.


.


Jumpa lagi di lain kesempatan yaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

__ADS_1


Ingat ya, like, vote dan komennya😘😘😘


__ADS_2