Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 103. Melayat


__ADS_3

Zahira merasa sangat sedih mendengar kabar kematian Bu kos, meskipun dia dulu pernah kasar, tapi tetap saja Zahira merasa kasihan. "Kasihan ya Bu kos, kita jengukin ya ... emm ... Sa-eee ...." Zahira hanya bisa tersenyum malu sambil menggigit bibirnya.


Pak Khalid menjadi gemas melihat wajah Zahira yang mereka menahan malu, hanya untuk mengucap sayang itu. Dia pun ikutan tersenyum, "Kenapa? kok ga diterusin? " Seraya menatap Zahira penuh cinta.


"Anu... ee... malu aja, boleh ya bukan sayang?" Wajah zahira memelas.


Dengan gemas, Pak Khalid langsung meraih tengkuk Istrinya lalu melabuhkan ciuman lembut di bibir mungilnya.


Zahira tak mampu mengelak ataupun menolak rengkuhan dan ******* lembut dari sang suami, karena dirinya pun telah dikuasai oleh rasa hangat dan syahdu oleh cumbuan itu.


Dirinya hanya bisa diam dan memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lembut dari suaminya.


Tangan Pak Khalid yang semula hanya merengkuh tenguk istrinya dengan satu tangannya, kini tangan yang satunya pun tak tinggal diam, merambat dengan perlahan menyusuri semua area yang kini telah resmi jadi miliknya sepenuhnya.


Baru saja tangan itu hendak menyusuri lebih dalam dan lebih ke bawah, Zahira tiba-tiba menahan dan merintih, “ah jangan …” matanya langsung terbuka dan menatap sendu wajah suaminya. “jangan, masih sakit hikkss.” Wajahnya cemberut imut.


Pak Khalid pun segera menghentikan kegiatannya. Dengan senyum dikulum Pak Khalid mengangguk, “oke sayang, tapi jangan pasang muka imut gitu lagi yah, aku tidak tahan emm!”


Zahira hanya bisa mengangguk pelan dengan senyum malu-malu. “emm boleh g ak, kata sayang itu di ubah aja, aku agak geli aja kalau panggil sayang” wajahnya penuh harap.


“Oke sayang, eh … emm kamu mau panggilan apa?” tangannya kembali bermain di wajah imut sang istri.


Perlahan zahira tersenyum lagi sambil menggigit bibirnya, membuat wajah imutnya semakin imut. Lesung pipitnya semakin menambah manis wajahnya. Pak Khalid dibuat semakin tidak tahan menahan gairah.


Beberapa kali Pak Khalid harus menelan ludah karenanya. Namun segera ditahan dan ditekan rasa gairahnya mengingat betapa kesakitannya Zahira semalam. Hatinya sangat tidak tega. “sayang …” Pak Khalid menatap zahira penuh gairah. “ bisa hentikan senyuman kamu itu, aku sungguh tidak tahan,”


Mendengar itu, Zahira semakin merajuk, “iiiihh, tuh kaann, memangnya aku harus marah apa?” mulut Zahira lantas dimonyongkan.


“Bahkan kalau kamu marah pun wajahmu semakin imuut sayang!” Pak Khalid lantas mencubit lembut hidung istrinya. “ Iiiih!” Zahira memukul lengan Pak Khalid pelan sambil terus merajuk.


“Jangan panggil sayang, rasanya geliii, iiihh, aku ga suka dipanggil sayang!”


Pak Khalid menyandarkan bahunya di sandaran sofa sambil menyanggal kepalanya dengan tangannya, senyumnya terus mengembang menatap istrinya yang imut. “oke, terus maunya dipanggil apa,hemm?” sambil mengelus pipi Zahira.


Zahira langsung bergidik mendapat belaian dari suaminya. “eh hehem,” dan langsung memegang tangan suaminya agar berhenti. “Emm bagusnya apa ya” bola matanya diputar-putar sembari berpikir.


Sementara Pak Khalid hanya tersenyum memnadangi tingkah istrinya.


Setelah berpikir agak lama, Zahira pun berhenti memutar matanya. Dengan mata berbinar, dia tersenyum, “emm bagaimana kalau …” Zahira menatap suaminya intens.


“kalau apa sayang?”


Zahira kembali merajuk, “tuh kan, i-iih, jangan sayang!”


Pak Khalid tak kuasa menahan tawa, “oke-oke, terus apa dong sayang, eh maaf, apa kalau begitu”

__ADS_1


Zahira memperbaiki posisi duduknya yang tak salah, dengan senyum malu-malu, “Emm … hihi … emm … ii-iih malu ah, hehe!” pipinya langsung merona.


Pak Khalid tak sanggup menahan tawanya, “hahaha, kenapa harus malu sih, kalau kamu tidak bilang, aku panggil sayang lagi nih!”


Zahira semakin malu-malu, “iya-iya, emm … hihi … tapi jangan diledekin ya!”


Pak Khalid hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


“emm … panggil … emm … U … mi, hehe, eeeemmp!” Lantas dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “jangan diketawaiiiin!”


lanjutnya sambil tetap menutup mukanya.


Pak Khalid tidak bisa menahan geli melihat tingkah istrinya, hingga senyum lebar mengembang di bibirnya, “ohh panggil Umiy, baiklah aku setuju!”


Seketika Zahira membuka kedua tangan yang mentupi wajahnya, dengan senyum berbinar. “boleh?”


Pak Khalid mengangguk pasti dengan senyum lebarnya. “Boleh dong Umiy sayaaang!” dengan gemasnya dia menubit hidung Zahira.


Zahira langsung manyun sambil menepis tangan Pak Khalid, “I-iih kenapa ada sayangnnya?” matanya mendelik kesal.


“Itu karena aku sayaang banget sama kamu, dan aku tidak bisa kalau tudak memanggil sayang, ga papa kan aku panggilnya Umiy sayang, aku janji aku hanya akan bilang begitu saat kita hanya berdua, oke?”


Zahira semakin manyun sambil mendelik. Pak Khalid semakin gemas dibuatnya. Tanpa pikir panjang, langsunng dilaumatnya bibir yang tengah manyun itu. Zahira awalanya menolak, tapi lama-kelamaan terlena juga dalam ******* itu.


“Bentar ya Biy, hihi!” Zahira menutup mulutnya malu-malu saat memanggil kata Aby untuk pertama kalinya. Pak Khalid hanya tersenyum menanggapi panggilan sayang istri sambil mengangguk


Saat Zahira hendak berdiri, rasa nyeri kembali terasa di selangkangannya. “Aakhh, sakitnya!” Zahira kembali terduduk sambil meringis menahan sakit.


“biar aku saja Umiy sayang, kamu di sini aja ya!” sambil bangkit dan masuk ke dalam kamar.


Zahira yang masih kesakitan langsung manyun mendengar kata sayang dari suaminya, akan tetapi tidak lagi protes. Dia hanya bisa menatap suaminya hingga menghilang di balik pintu kamar.


Pak Khalid kembali sambil berbicara dengan seseorang dalam telepon. “ini Miy, Daniah yang nelpon!” seraya menyerahkan ponsel ke Zahira.


Zahira langsung menerima pangiilan itu, “iya, assalamu alaikum, ada apa Daniah?”


“alaikum salam Ra, eh Bu Kos meninggal kemarin, apa kamu mau dating melayat bareng kita?”


“Emm melayat?” sambil mendongak menatap wajah suamiya meminta persetujuan, Pak Khalid yang mendapat tatapan itu langsung paham. Dia pun membalas tatapan itu dengan mengangguk pasti.


“ah iya kami bakal kesana, kita ketemunya dimana ya?”


“Langsung di rumah Bu Kos aja ya, kita tunggu kamu di sana, soalnya kan dikebumikannya nanti habis duhur juga.”


“Ooh iya, oke kalau begitu, kami segera bersiap-siap ya!”

__ADS_1


“Oke, kalau gitu, bye assalamualaiakum!”


“Alaikum salam.”


Zahira lantas menutup ponselnya. Dia kembali menatap s uaminya, “emm Biy Daniah bilang ‘Bu Kos akan dikebumikan habis duhur, emm apa kita berangkat sekarang aja ya?”


Pak Khalid langsung mengangguk setuju, “Baiklah, ayo siap-siap!”


Zahira mengangguk sambil berdiri dengan perlahan-lahan sambil bertumbu di pinggiran sofa, dengan kening berkerut menahan nyeri. Dia pun berjalan dengan hati-hati masuk ke dalam kamar.


Jalanan yang macet membuat pergerakan mobil sangat lambat, hal itu membuat pasangan pengantin baru yang semalaman hampir tidak tidur menjadi amat mengantuk. Beberapa kali Pak Khalid harus menguap. Sementara Zahira telah terlelep dalam mimpinya.


Dalam kondisi setengah tertidur, Pak Khalid melihat para Jin yang selalu mengikutinya datang menyapa. Namun anehnya dia merasa tidak sedang berada dalam mobil, melainkan di sebuah tempat yang tidak dikenalnya.


“Assalamu alaikum Nak,” dengan tersenyum penuh wibawa pemimpin Jin itu menatap Pak Khalid teduh.


“Wa alaikum salam, ada apa ini Pak Jin?” Pak Khalid sedikit bingung, karena tidak biasanya Pak Jin menemuinya tanpa ada masalah.


“Buka apa-apa, kami hanya mau meminta pamit sama kamu dan juga istrimu, tapi sebelumnya kami mau uapkan selamat atas pernikahan kalian, istri kamu masih belum berpikiran dewasa, sebaiknya kamu lebih sabar dalam mendampinginya, itu nasehat kami.”


Pak Khalid mengerutkan kening mendengar penuturan Pak Jin. “Pamit? Mau kemana kalian?”


Kembali Pak Jin tersenyum tenang. “kami akan kembali ke temapat asal kami amsing-masing, karena Dukun yang kami takuti telah kalah dengan kami dan berjanji tidak akan pernah mengikta kami, dan semua itu karena bantuan dari kamu and kesedian zahira menerima kami, jadi tidak ada alas an bagi kami untuk terus mengikuti kalian lagi, lagi pula kami taku menanggung dosa bila kami terus mengganggu kalian, sampaikan salamku pada Zahira!”


Pak Khalid tampak sedih, “terus bagaimana dengan aku, aku sudah merasa cukup akrab dengan kalian, aku juga membutuhkan kalian, bagaiamana jika ada Hantu atau Jin jahat lagi yang muncula atau mendatangi aku, bagaimana caranya aku menghadappi mereka?”


“Anakku, jangan menjadi kufur karena mengandalkan kami, mintalah pertolongan pada Allah, lagi pula, istri kamu cukup sholeh dan kuat imannya, jika kami saja bisa menjadikan dia sebagai tameng, lalu kenapa kamu tidak bisa menghadapi semua mahluk jahat itu bersama-sama?”


“Ah iya aku tahu itu, maksudku, kan kita udah berteman dan aku sudah tidak takut lagi sama kalian, lantas kenapa kalian harus pergi?”


“Akan lebih baik jika kami tidak mengganggu manuasia, karena kami juga takut berdosa, bukan hanya manusia, tpi kami kaum Jin pun bisa sangat berdosa dan bisa pula masuk neraka, karena itu kami memlih untuk pergi, akan tetapi jika dikemudian hari kalian mendapat gangguan dari mahluk yang jahat dan tidak terkalahkan, maka kami janji pasti akan datang untuk membantu. Ingatlah akan kekuasaan dan kebesaran Allah. Dialah yang menguasai segala sesuatu dan berkehendak atas segala sesuatu, cukup sekian nasehat dari kami, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


Setelah berkata begitu, Pak Jin dan rombingannya pun langsung raib entah kemana. Pak Khalid sangat sedih karenanya. Air matanya meleh tanpa di sadarinya.


“TIIIIIN-TIIIN !!!”


Bunyi klakson dari mobil dibelakang Pak Khalid telah berteriak-teriak sejak tadi, namun mobil Pak Khalid tetap saja diam tak bergerak. Hingga seorang pengendara motor mendekat dan mengetuk pintu mobilnya. “Pak jalan Pak, weii jalan weiii!!”


Pak Khalid tersentak dari tidurnya saat mendengar teriakan dari luar mobilnya dan jendela yang digedor-gedor. Barulah ia sadar kalau ternyata jalanan di depannya telah lengang. “Akkhh iya Pak maaf-maaf!” sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


Pak Khalid pun segera melajukan mobilnya yang sudah berhenti beberapap waktu lamanya. “Ahh ternyata aku mimpi!” sambil mengusap kasar wajahnya.


Bersambung....


Jangan lupa like dan votenya yah 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2