Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
~PART 26~


__ADS_3

Dokter Khalid menutup telponnya. Kemudian turun dari mobilnya, lalu berjalan menuju jalan yang akan dilalui Zahira.


Keningnya berkerut mencoba menahan silaunya mentari yang sedang terik.


Tak berapa lama Zahira pun sampai disana bersama Daniah.


"Amm hhai, ah maaf, boleh bicara sebentar?" sapa dr. Khalid.


Zahira dan Daniah menoleh.


"Oh hai, ga papa kok."


"Iyya boleh."


Jawab Daniah dan Zahira hampir bersamaan.


"Wau gantengnya!" batin Daniah.


"Eeeh bukannya anda tadi yang..." Zahira tidak melanjutkan kata-katanya, tapi telunjuknya mengarah ke belakang dengan ekspresi wajahnya mewakili kelanjutan pertanyaanya.


"Iyya, saya yang tadi," Dokter Khalid cuma tersenyum mengangguk memahami arti pertanyaan Zahira.


"Oh ya kenalkan saya Daniah, sambil mengulurkan tangannya.


"Khalid," sambil menjabat tangan Daniah.


Dokter Khalid lalu melepaskan tangannya dan mengulurkannya ke Zahira.


Namun Zahira malah mengatupkan tangannya di depan dada.


" Assalamu alaikum saya Zahira".


Dokter Khalid menarik tangannya lalu mengepal dan mengayunkannya di depan dada kemudian membuangnya lagi kesamping sambil tersenyum kecut.


"Alaikum salam, hahh maaf," senyumnya malu-malu.


"Ada apa ya? apa yang bisa kami bantu?" Daniah sok akrab.


"Ah iyya, mm itu soal yang tadi, boleh aku minta bantuan lagi?" pinta dr.Khalid.


"Mmm" Zahira dan Daniah saling pandang.


"Tadi kamu sudah menolongku saat aku dikejar mahluk jahat, dan sekarang aku mau kamu membantuku sekali lagi, aku mohon!" pinta dr.Khalid.


"Apakah ada hantu lagi?" tanya Zahira heran.


"Apa hantu, aaaaa takuuuut!" teriak Daniah menghambur ke samping dr.Khalid lalu memeluk lengannya erat.


Dokter Khalid mencoba melepas pelukan Daniah.


"Ah tapi hantunya bukan di sini kok," Dokter Khalid tersenyum kecut.


"Ooh maaf, kiraiiin disini, " Daniah menahan malu, wajahnya memerah. Lalu segera menjauh.


"Bagaimana?" dokter Khalid memandang Zahira lekat.


"Kalau bukan di sini terus dimana?" Zahira penasaran.


"di Rumah sakit!" Khalid.


"Tapi kami sedang menunggu teman yang lain buat pulang bareng," Zahira beralasan.


"Oh ga papa kok Ra, sekalian kita pergi bareng aja, aku juga penasaran nih, gimana sih caranya basmi hantu?" Daniah beralasan biar bisa dekat dengan pria tampan di depannya, senyumnya sumbringah.


"Apa kamu yakin ga takut, soalnya ini bukan hantu biasa loh, ini hantu super jahat yang siap meneror siapa aja yang penakut" Khalid melebih-lebihkan. Karena dia tahu kalau Daniah mencari kesempatan.


Hati Daniah menciut, betapa tidak, hantu biasa aja udah menyeramkan.


"Ya udah deh, aku ga usah ikut, lagian mereka udah datang tuh di sana," Daniah menunjuk dengan mukanya. senyumnya masam karena kecewa.


Mereka menoleh ke arah yang ditunjukkan Daniah.

__ADS_1


Tak berapa lama, Meta dan Della sudah sampai.


"Hai pada nungguin kita ya!" seru Meta bersemangat.


"Iyya nih, habisnya, Zahira bakal jalan sama dia!" tukas Daniah dingin.Rasa kecewa jelas tergambar di wajahnya.


"Maaf ya aku ga bisa bareng kalian pulang," Zahira


"Ooh ga papa kok," Meta.


Sementara Della hanya diam memperhatikan pria tampan di depannya.


"Ya udah deh, kami duluan!" Daniah pamit.


Sambil menarik Della yang tak bergeming dari tempatnya. Meta hanya tersenyum sambil melambai, lalu mengikuti Daniah.


"Giilaa, ganteng bangeeet," Della geregetan.


Sementara Zahira sudah pergi mengikuti dr. Khalid yang melangkah menuju mobilnya di parkiran.


****


Di dalam mobil, mereka terdiam. Sesekali dr.Khalid menoleh ke Zahira, lalu menatap lurus ke depan, lalu melirik lagi membuat Zahira jadi kegerahan dan curiga.


"Maaf pak, kok belum jalan ya?" Zahira memberanikan diri.


"Oh ya jalan, ya, tapi eee itu!" dokter Khalid gelagapan sambil menunjuk samping Zahira dengan ujung mukanya.


"Apa?, yang mana?" tanya Zahira kaget.


"Hehe, bukan apa-apa, cuma sabuk pengamannya belum dipasang, tadinya mau aku pasangin, tapi nanti kamu malah salah paham," dr.Khalid tersenyum malu.


"Ooohh hahh kirain ada apa," Zahira tersenyum lega sambil meraih sabuk pengaman disampingnya.


"Udah kan?" Zahira tersenyum sambil memandangi dr.Khalid masih dengan kepala miring. Membuat jantung dr.Khalid berdebar kencang.


Dia segera menarik napas berat lalu menghembuskannya. Kemudian mulai menyalakan mesin.


****


"Ehem, apa kamu benar tidak takut sama mahluk menyeramkan itu?" dokter Khalid memecah suasana.


"Ya tidak, sebenarnya aku lebih takut kalau sampai Umi tahu aku keluyuran, dia pasti marah besar" Zahira


"Kalau begitu, sebaiknya kamu telpon Mama kamu ehh Umi ya," dr.khalid meralat ucapannya.


Zahira cuma tersenyum.


"Hubungi saja mmm Umi kamu , biar nanti aku yang jelaskan!" dr.Khalid


"Ga usahlah pak, takutnya Umi malah nyuruh pulang kampung, asal Bapak janji habis ini kita langsung pulang!" pinta Zahira.


"Iyya aku janji, aku pasti antar kamu pulang, dan memang harus gitu kan masa udah dibantu tapi dibiarin," dokter Khalid.


"Eh tapi benar kamu tidak takut?" dr.Khalid bermaksud menggoda.


"Iyya!" jawab Zahira singkat.


"Meski aku bilang kalau di belakang kamu ada hantu," dr.Khalid tersenyum.


"Benarkah, dimana? disini? atau disini?" Zahira bertanya sambil mencari-cari dengan penasaran. Lalu menoleh ke dr.Khalid sambil mengangkat alisnya.


"Ehem, ga ada kok cuma bercanda, tapi ga seru soalnya kamu tidak takut," dr.Khalid sedikit kecewa.


"Haahaha, bapak yang lucu, kalau aku takut ngapain aku ikut, pasti udah kabur dari tadi, hahaa!" tawa Zahira pecah.


"He he he" dr.Khalid tertawa dipaksa.


"Sebenarnya ada apa sih pak kok di Rumah sakit?"Zahira masih tidak mengerti.


"Sebenarnya aku ini dulunya dokter, dan sebagai seorang dokter aku harus mendiagnosa pasien itu sesuai aturan dan hukum medis.Tapi terkadang ada pasien yang sama sekali tidak ada masalah dengan tubuhnya, tapi kelihatannya sakit parah. Tapi sebagai orang yang bisa melihat mahluk halus, aku terpaksa menyarankan keluarga pasien untuk meminta bantuan ustaz atau semacamnya" dokter Khalid menjelaskan.

__ADS_1


"Oo jadi aku ini dipanggil buat ngobatin pasien ya?" tanya Zahira.


"Hahaha bukan kok, bukan" Khalid tertawa menegaskan.


"Terus apa dong pak?"


"Ini tentang pasien yang koma selama 2 bulan. Jiwanya dikekang oleh mahluk mengerikan," dr.Khalid.


"Nah kan, buat ngobatin pasien?" Zahira merajuk.


"Eeh bukan kok, tapi aku!" dr. Khalid tersenyum.


"Maksudnya?" Zahira makin tak mengerti.


"Jin yang menunggunya tahu kalau aku bisa melihatnya dan aku juga yang menyarankan agar pasien dipanggilkan ustaz, tapi meskipun udah didoain sama ustaz jinnya tetap tak bergeming, kabur sih sebentar, tapi balik lagi pas ustaznya pergi. Dan sejak itu mahluk itu terus mengejarku. Makanya aku berhenti karena takut, lalu melamar jadi dosen". Dokter Khalid mengoceh panjang lebar.


"Oooh" Zahira manggut-manggut.


Tak berapa lama mobil mereka berbelok memasuki kawasan Rumah sakit.


"Turun yuk, sudah sampai!" ajak dr.Khalid sambil melepas sabuk pengamannya dan turun, demikian juga Zahira.


Pak satpam menyambut dr.Khalid dengan senyum dan mempersilahkannya masuk diikuti Zahira.


Mereka terus berjalan meninggalkan gedung yang satunya menuju gedung yang lainnya. Secara tiba-tiba Zahira berdiri tertegun merasakan hawa dingin menyapu wajahnya. Dokter Khalid pun demikian namun dia malah ternganga kaget memandangi Zahira.


"Kamu melihatnya?" tanya dr.Khalid.


"Lihat apa?" Zahira.


"Hantu didepan kamu!" dr.Khalid.


"Tidak"


"Lalu kenapa berhenti?"


"Oh tadi tiba-tiba mukaku diingiiiin baget kayak kena udara AC," Zahira menjelaskan. Wajahnya tampak lucu saat mengekspresikan rasa dinginnya.


"Tapi tadi itu ada hantu yang berjalan kearahmu, lalu menghilang saat melihat kamu," dr.Khalid menerangkan.


"Benarkah? kenapa baru bilang sekarang? coba aku tahu dari tadi, kan bisa disapa dulu, haha," Zahira tertawa sambil berlalu. Dr.Khalid pun terpaksa ikut berlalu, dengan perasaan takjub.


Teringat kembali saat dia mengatakan pada Gina kalau ada hantu yang lewat didekatnya, sontak Gina membentaknya.


"Apa kamu gila, kamu mau bikin jatungku copot gitu?" bentak Gina.


Dan sebuah tamparan mendarat di punggunngnya.


"Ingat ya meskipun aku ga takut hantu, tapi kalau kamu ngomongin soal hantu lagi, aku akan menghajarmu lebih keras lagi!" ancam Gina. Dr.Khalid lalu menarik nafas mencoba melupakan kenangannya pada Gina.


Sekali lagi mereka berbelok lalu naik tangga di samping gedung kemudian memasuki sebuah lorong yang diatasnya tertera VVIP Mawar 2.


"Masya Allah jadi begini ruang VVIP?" gumam Zahira namun terdengar jelas oleh dr.Khalid, diapun tersenyum.


Dokter Khalid mengurangi kecepatan langkahnya, bahkan seolah-olah mengendap-endap. Zahira heran lalu mengikutinya.


Sesampai di depan sebuah kamar, dr.Khalid mencoba mengintip kedalam kamar melalui jendela kaca dibagian tengah pintu.


Belum sempat melihat seluruh ruang kamar tiba-tiba saja........


.


.


.


.


.


Sampai jumpa pada episode berikutnya.

__ADS_1


jika suka mohon tekan like dan kasih komentarnya biar ada masukan sehingga cerita ini semakin baik. terima kasih. Sekalian jangan lupa votenya.


__ADS_2