Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 106. Nasehat untuk pengantin baru


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, dan semua sudah kembali pada rutinitas mereka. Daniah and the gank pun telah kembali tinggal di rumah Pak Khalid.


Hari ini adalah hari kembalinya sang pengantin baru setelah seminggu menikmati bulan madunya dengan berkeliling. Dan Daniah and the ganknya telah menunggu kedatangan mereka.


Maminya Pak Khalid telah sibuk sejak pagi menyiapkan kamar dan makanan untuk menyambut kedatangan anak kesayangannya.


Dia pun segera memeriksa kesiapan meja makan.


"Daniah, gimana dengan meja makan, sudah rapi? "


Daniah yang lagi sibuk di meja makan langsung mendongak, "iya tante, sudah siap!"


"Ruang tamu juga udah beres tante! " Meta tak mau kalah, ikut melapor.


Maminya Pak Khalid pun tersenyum puas dan bernapas lega. "Haah ... terima kasih ya semua, kalian sudah repot-repot membantu tante! "


Daniah and the gank tersenyum keki,


"Ah ga papa Tante, kita senang kok bisa ikut bantu.


Daniah tersipu, "Justru kita yang makasih lho Tante, udah dikasi tempat tinggal bagus! "


"Iya Tante, makasih banget!"


Maminya Pak Khalid hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Iya sama-sama, oh ya, kalian sebaiknya mandi dulu deh, sambil nunggu mereka datang!"


"Baik Tante! " jawab mereka kompak.


Belum lagi beranjak di tempat, pengantin barunya sudah datang. Daniah and the gank langsung menyambut.


Pak Khalid turun dan membuka pintu mobil untuk Zahira. Para jomblowati langsung baper.


"Cieeee romantisnya, suit suiiiit!"


Pak Khalid cuma tersenyum menanggapi demikian juga Zahira. Begitu Zahira turun, Pak Khalid pun melangkah ke belakang hendak menurunkan koper.


Zahira melangkah ke rumah yang langsung disambut sang mertua. "Assalamualaikum!" Zahira langsung meraih tangan mertuanya dan mencium tangannya.


Sang mertua tersenyum bahagia. "Alaikumsalam Nak, selamat datang dan selamat menempuh hidup baru ya! " Kemudian memeluk dan mencium pipi menantunya.


Tak lama, Pak Khalid pun mendekat dan meraih tangan Maminya. "Assalamualaikum Mi!"


"Alaikum salam Nak, selamat datang kembali, selamat menempuh hidup baru ya! " Maminya tersenyum dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk hangat putra bungsunya.


Meta tak mau bercanda lagi, dia langsung meraih koper Pak Khalid dan menariknya masuk. Sementara Della dan Daniah bergantian memeluk Zahira. "Welcome back ya! "


"Makasih ya semua! "


Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Meta langsung mengantar koper ke kamar Pak Khalid, sementara yang lain duduk di ruang tengah.

__ADS_1


"Kalian pasti masih capek kan? mau istirahat dulu atau kita makan dulu nih?" Tawar Maminya.


Pak Khalid langsung menatap Zahira, karena dia yakin Zahira kecapaian setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari dari pantai Tanjung Bira. "Umiy mau istirahat dulu? "


Zahira mengangguk malu, "iya kalau boleh, soalnya pegel habis duduk setengah hari!"


"Ya udah kalian istirahat dulu deh, sambil menunggu mereka mandi dulu! " Seraya tersenyum melirik Daniah dan Della yang udah cekikikan.


"Hehe iya nih bau asem soalnya beres-beres dari tadi! " Della dan Daniah pun segera berlalu masuk ke kamarnya.


"Ya udah Mi kami naik dulu ya! " Pamit Pak Khalid pada Maminya sambil berdiri dari sofa.


"Mami, Zahira naik dulu ya! " Zahira pun ikut pamit.


Maminya hanya bisa mengangguk dan tersenyum. "Istirahat yang baik ya, nanti Mami panggil kalau mereka udah mandi semua! "


"Baik Mi! " Pak Khalid pun memeluk bahu Zahira dan membimbingnya naik ke kamar. Meta yang baru keluar dari mengantar koper, berpapasan dengan mereka, hanya bisa tersenyum geli melihat kemesraannya.


Dengan setengah berlari, dia menuruni tangga dan segera menyusul Daniah ke kamarnya.


Acara makan siang pun telah selesai, kini mereka tengah duduk di ruang tengah. Sementara Daniah and the gank lebih memilih tinggal di kamar, karena sebenarnya mereka agak grogi sama Maminya Pak Khalid.


Di ruang tengah, tampak Mami sangat serius. Zahira dan Pak Khalid juga diam tak berbicara. Hanya mendengarkan.


"Lid, Mami di sini kan ga lama, besok lusa Mami mau kembali lagi ke Palu, jadi Mami ga bisa terus menemani kalian!"


"Iya Mi, aku mengerti, Kakak kan lebih butuh Mami!"


"Iya Mi! " Ucap Zahira dan Pak Khalid bersamaan.


"Begini Nak, menjalin rumah tangga itu, tidak selamanya manis sayang, tapi ada asem dan pahitnya juga, nah supaya kalian tidak merasakan pahitnya, kalian harus bisa saling percaya ya!"


"Iya Mi! "


"Selain itu, Zahira sebagai seorang istri, harus selalu mendengar dan menuruti suami ya! "


"InsyaAllah Mi! "


"Kalian kan tidak selalu bersama, saat Khalid ke rumah sakit, dan kamu ke kampus, jadi kalau misalkan ada apa-apa atau kemana-mana, harus izin dulu sama suami ya Nak ya! "


"InsyaAllah Mi! "


"Yaah dalam menjalani rumah tangga itu harus saling mengalah, terutama sebagai seorang suami, harus sabar menghadapi istri, apalagi istri kamu ini, masih muda, kamu juga, jangan sampai menuruti ego ya, jangan mau menang sendiri, kalau ada masalah, hadapi dengan tenang, bijak dan dengan kepala dingin, ya! "


Pak Khalid dan Zahira hanya bisa mengangguk pelan dengan serius. Mereka sangat antusias mendengarkan setiap nasehat yang diberikan pada mereka, sebagai pasangan pengantin baru yang memang masih sangat minim pengetahuan tentang itu.


Setelah merasa cukup memberi nasihat, Mami pun segera naik ke kamar yang dulu pernah ditempati oleh Meta dan Zahira.


Demikian juga dengan Pak Khalid dan Zahira segera pula naik ke kamar mereka.


Begitu sampai di kamar, Pak Khalid mengajak Zahira duduk di ranjang. Umiy sayang, sini deh, ada yang mau aku bicarakan! " Sembari menarik tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Apa Biy? " Sambil menatap suaminya intens.


Pak Khalid tidak langsung berucap. Dia tampak menarik napas seolah berat untuk mengatakannya. Hal itu membuat Zahira makin penasaran


"Apa sih Biy yang mau diomongin? "


Pak Khalid tersenyum kelu. Sambil menggenggam tangan Zahira, dia mulai membuka suara.


"Umiy, emm ... tapi kamu jangan marah ya!"


Zahira makin penasaran, dia mengangguk sambil mengerutkan kening.


"Sayang, begini, kamu tahu kan kalau dulu aku pernah punya pacar?"


"Iya aku tahu, kenapa dengan dia? " Zahira makin penasaran, ada rasa berat di hatinya tapi dia tidak mengerti apa itu.


Pak Khalid kembali tersenyum, "bukan apa-apa kok, cuma aku mau bilang, siapa tahu nanti, entah besok atau lusa, kalau kemungkinan dia datang sama seperti dulu, saat dia fitnah aku, aku harap kamu jangan langsung percaya ya, aku takut itu akan membuat kita jadi ribut nanti! "


Zahira langsung tersenyum lega. Beban di hatinya terasa terbang seketika. "Ooh cuma mau bilang itu kok kayak apa gitu, Ii-iih bikin deg-degan orang aja! " Zahira lantas memukul lembut bahu suaminya.


"Hahaha emang apa yang Umiy pikir heem? "


Zahira cuma mencebikkan bibirnya kesal tapi malu. "Ga ... ga pikir apa-apa! "


"Maaa-saaa? " Sambil menggamit dagu Zahira.


Zahira semakin keki, "Iiiyaa lah, iihihi! "


Pak Khalid yang gemas dengan tingkah istrinya langsung memeluknya erat. Dan kembali bermuka serius. "Tapi sayang, kamu mau janji kan? "


Zahira melepas pelukannya. "Iya Biy, aku janji! "


"Dan satu hal lagi Miy! "


"Apa? "


"Heemmppp!" Pak Khalid menarik napas berat. "Sayang, kamu tahu kan, kalau aku ini selalu berinteraksi dengan banyak orang, apalagi perempuan, jadi kalau misalnya ada orang yang ngasih tau ke kamu tentang gosip, apapun itu, kamu mau kan cuma percaya sama aku? "


Zahira mengangguk dengan senyum pasti. "Iya aku janji! "


Pak Khalid menarik napas lega. "Ya udah, terima kasih ya sayang, dan aku juga janji hanya akan mendengarkan kamu, menyayangi dan mencintai kamu seorang! "


Mereka pun berpelukan lalu akhirnya merebahkan diri di kasur. Masih dalam keadaan memeluk tubuh Zahira. Pak Khalid memejamkan matanya.


meskipun matanya tampak tertutup, tapi pikirannya masih menerawang. Dia sangat takut jika nanti Gina akan berbuat nekat atau mungkin akan kembali memfitnahnya seperti sebelumnya.


Hatinya tetap tidak tenang walau Zahira telah berjanji. Semua itu karena di hari sebelum berangkat ke akad nikahnya, Gina sempat datang menemuinya, dia bilang 'sangat berharap suatu hari nanti Pak Khalid akan menjadi miliknya.'


Perlahan air matanya menetes. Dia selalu menyesali telah salah memaknai ucapan peramal tentang wanita yang akan membebaskannya dari rasa takut akan kemampuannya.


Kini wanita itu justru menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup rumah tangga barunya. Dengan penuh kasih, Pak Khalid pun mengecup puncak kepala Zahira. Seakan takut untuk kehilangan dia.

__ADS_1


__ADS_2