Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 41. Ratusan Jin.


__ADS_3

Maaf ya readers pada part ini author mulai kasih judul. Sesuai dengan permintaan salah seorang teman reader yang menyarankan agar author memberi judul tiap chapternya. Happy reading😍😍😍😘😘😘😘😘. Dimohon dengan sangat agar memberi koreksi jika terdapat typo atau salah penempatan PUEBI yah....Terima kasih.


*************


Zahira dan Yeni sudah merasa pegal dan hampir saja mereka menyerah bila saja Della dan Meta tidak segera muncul. Dengan senyum matandos (Manis tanpa dosa) Meta melambai kearah mereka.


Daniah sudah mulai pasang muka sarkasnya, sebuah ciri khas seorang Daniah walau sebenarnya dia baik dan perhatian. Tapi tetap saja selalu sarkas dan galak. "Haah kalian lelet banget sih, pegel tau menunggu!"


Meta cuma nyengir. Dia tahu kalau dia bicara dan beralasan bukannya dapat ampunan malah akan memperkeruh suasana. Akan tetapi jika Della yang bicara Daniah suka mengalah. "Maaf ya tadi Pak Dosen agak lama baru kelar mengajar." Daniah hanya menarik napas berat. Zahira cuma senyum menanggapi alasan Della.


"Ayo ah dah lapar banget nih!" Seru Daniah sambil berlalu pergi. Mereka pun melangkah mengikuti Daniah yang sudah tidak sabaran. "Ehem makan dimana nih kiteee?" Meta tersenyum melirik Daniah, Tapi Daniah malah melotot. Della sendiri segera melirik Zahira.


"Iya nih kita makan dimana enaknya ya?" Zahira ikutan bertanya. Yang lain pada diam. "Jagan kawatir aku yang bayar kok." lanjut Zahira.


Sontak Daniah berhenti dan menoleh ke Zahira. "Ra aku tahu kamu banyak duit, tapi kalau kamu terus-terusan traktir kami nanti duitmu habis, kamu mau belanja pake apa nanti?"


Meta mengangguk membenarkan Daniah. "Iya Ra gimana kalau Umi kamu marah sama kita karena dikira morotin kamu?" Della ikutan berkomentar.


Zahira cuma tersenyum, "Ga papa kok, Umi ga pernah usil masalah uangku, yang penting aku pake buat hal yang bener, makan kan bukan hal yang salah, iya kan?" Mendengar itu Meta langsung memeluk Zahira. "Mmm Zahiraaa, kamu baik bangeeeeeet deeehhh!"


Daniah cuma mencibir. "Lebwaayy." Della cuma tertawa.


"Nah terus kita makan dimana jadinya?" Meta segera melepas pelukannya mendengar pertanyaan Zahira. "di cafe depan aja yuk!" Mereka pun mengangguk setuju.


Kepergian Mereka ditatap dengan nanar oleh Alfian. Air matanya berlinang memandang Zahira dikejauhan. Dengan perasaan berat teramat sangat dia bersandar di tembok. Fian memejamkan matanya. Setetes air bening jatuh dari sudut matanya.


Angannya merambat mengingat kembali kejadian di rumahnya hari ini. Saat itu ketika keluarganya sedang asik berbincang di ruang keluarga, Diana datang membawa keluarganya. Tentu saja ada Yeni diantaranya. Meski Nova juga ikutan walau tidak ada hubungan apa-apa sama keluarga Yeni. Tapi bagi Yeni, Nova adalah saudaranya.


Alfian semula sangat ramah pada Yeni, lantaran mereka memang teman sekelas dan sudah kenal lama. Akan tetapi siapa sangka Yeni menggunakan Tantenya untuk mendekatinya. Pendekatan terjalin sehingga Pak Gunawan Ayah Alfian menyetujui perjodohan antara mereka.


Alfian tidak bisa apa-apa setelah dia tahu kalau Ayahnya sama Papa Yeni sahabat dekat. Apalagi setelah Diana membeberkan tentang bagaimana hidupnya terselamatkan oleh Pak Junaedi Papa Yeni.


Untungnya Alfian mendapat pesan dari salah satu dosennya agar segera datang ke kampus. Dengan cepat Alfian pergi tanpa memberi jawaban atas tawaran Ayahnya untuk dijodohkan. Dan tanpa sepengetahuan Fian, Yeni dan Nova ikutan pergi kampus. Tapi bukan buat ketemu Dosen melainkan buat ketemu dan memperingatkan Zahira.


Alfian menarik napas berat lalu menghembuskannya. Perlahan dia membuka matanya. Lalu mengusap sudut matanya yang basah.


Setelah Zahira menghilang di balik pintu gerbang, barulah dia pergi dari tempatnya bersandar. Hati Alfian sangat sakit bak teriris sembilu. Baru pertama dalam hidupnya jatuh cinta tapi telah hancur lantaran rencana perjodohan oleh keluarganya.


Dengan langkah gontai Alfian menuju parkiran dimana dia memarkirkan motornya. Sesampainya di sana,Alfian hanya duduk malas di atas motornya.


Dengan kasar dia mengelus rambutnya lalu menggenggamnya kuat-kuat. Dia menggigit bibirnya demi mengingat keputusan Dosennya barusan.


"Alfian, usulan kamu untuk ber KKLP di daerah Soppeng sudah kami setujui, tinggal menunggu balasan persetujuan dari pemerintah setempat. Dan jika Pemerintah setempat sudah menyetujuinya maka bulan depan, kita mulai KKLP."

__ADS_1


Demikian keputusan Dosen yang baru saja diterimanya. Ada rasa menyesal tidak mengikuti saran Ayahnya untuk membatalkan rencananya KKLP di sana dulu. Jika dia tahu kalau ternyata dia bakal gagal mendekati Zahira. Lalu untuk apalagi pergi dan tinggal di kampung Zahira.


Alfian pun meninggalkan parkiran dengan perasaan gundah gulana.


*********


Hari sudah condong ke barat saat Zahira memasuki rumah kos bersama teman-temannya. Hari ini Zahira tidak buru-buru pulang begitu dia menyadari bahwa hari ini dia dapat cuti sholat, sehingga bisa bersantai-santai di cafe.


Zahira langsung masuk ke kamarnya tanpa peduli dengan temannya yang selalu mengaso di sofa. Dia sangat lelah duduk di cafe yang bising oleh musik dan mendengar gosip dari temannya. Pantatnya terasa sangat keram.


Setelah melepas hijab besarnya, dia langsung rebah di kasurnya sambil telentang langsung menutup mata. Hantu Amanda senyum-senyum melihat Zahira yang kecapaian. Ingin rasanya Amada datang menghampiri Zahira dan berbincang-bincang seperti biasanya, tapi apalah daya ini masih siang. Sementara kemampuannya masuk dalam mimpi hanya pada saat tengah malam.


Hingga hari makin meredup, Zahira masih lelap di pulau kapuknya. (Pulau kapuk, adalah kiasan untuk kasur). Sementara Amanda yang sudah puas memandang Zahira segera melesat naik ke teras atas untuk menjalankan misinya menakut-nakuti Marni, sang Bu Kos yang telah melenyapkan nyawanya setelah kesuciannya terenggut paksa oleh Putranya.


Dengan senyum seringai yang menakutkan serta mata merah menyala, Amanda melotot memandangi rumah di lantai 3 itu.


Tak lama kemudian, Bu Kos benar-benar muncul di sana. Betapa kaget Bu Kos setelah dia menyaksikan hal mengerikan itu. Dengan cepat dia berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Akan tetapi segera menoleh kembali dengan senyum menyeringai.


"Hahahaaha kamu kira aku akan takut ha!" Teriak Bu Kos sambil memegang pagar besi pembatas terasnya. "Sebentar lagi kamu akan aku usir dari tempat ini tunggu saja Ma' Nipah sampai, kamu pasti akan segera lenyap dari pandanganku bahkan dari rumahku, kamu akan segera kukirim ke neraka, Haahaha!!" Lanjutnya dengan suara lantang dan besar.


Benar saja dari arah depan, sebuah mobil kijang berhenti di depan rumah. Seorang perempuan setengah baya turun dari mobil diantar oleh sopirnya. Dari penampilannya, perempuan itu tidak tampak seperti seorang Mbah dukun. Melainkan seperti seorang Nyonya.


Sebuah tas bermerek bergelantungan di lengannya dengan cincin emas yang berjejer di 3 jarinya. Gelang emas berlapis melingkar manja di lengannya. Dan lain sebagainya seolah dia adalah seorang OKB (orang kaya baru).


Betapa ngeri Amanda saat mengingat kedatangan Mbah dukun tadi yang membawa ratusan pengawal tak kasat mata. Seakan-akan ada ratusan Jin yang mengekor di belakangnya.


Jangankan ratusan Jin, satu Jin pun tak mampu Ia lawan apalagi ada ratusan.


Di lantai atas, Mbah dukun alias Ma' Nipah disambut baik oleh Bu Marni. Disuguhkan teh hangat sebagai ucapan selamat datang.


"Bagaimana Marni, kamu sudah siapin bayaranku?" Tanya Mbah dukun tanpa basa-basi.


Bu Marni mengangguk. "Iya Ma', tenang aja, bayarannya udah siap kok." Ucapnya langsung masuk ke kamar. Lalu keluar lagi sambil membawa amplop berisi uang.


'Nih Ma'."


Ma' Nipah menerimanya dengan tersenyum. "Baiklah dimana tempat hantu itu muncul?"


Marni beranjak dari duduknya ke luar diikuti oleh Mbah dukun.


"Itu ma' disana!" Sambil menunjuk Tali tambang yang terbentang di depan rumahnya.


Mbah dukun segera menutup matanya. Tangannya ditengadahkan ke langit seakan berdoa pada tuhan. Mulutnya komat-kamit baca matra. Tidak lama kenudian dia berhenti dan tersentak.

__ADS_1


"Siapa yang tinggal di bawah rumahmu ini Marni?" Tanya Ma'Nipah dengan nada sarkas, matanya melotot.


Marni kelabakan, "bawah mana Ma', yang di sini atau yang paling bawah?"


"Yang paling bawah sana."


"Ooh itu anak mahasiswa baru, kenapa emangnya Ma'?"


"Ada sesuatu di sana yang tidak bisa aku tembus dengan mata batinku, aku rasa hantu itu bersembunyi di sana."


Bu Marni kaget dan gelisah. " Aah Ma' sebenarnya hantu itu asalnya dari sana Ma'."


Ma'Nipah langsung terkejut. "Apa!"


Bu Marni cuma mengangguk pelan.


"Tidak mungkin ada hantu yang lebih kuat dari pada mantraku, pasti ada kekuatan lain."


Marni hanya diam tidak menanggapi pertanyaan dukun itu. Karena memang dia tidak tahu menahu soal hal mistis.


Dukun itu sekali lagi memejamkan matanya. Mulutnya mulai komat-kamit. Kali ini agak lama dia bermantra. Marni cuma bisa memandanginya dengan heran tanpa berani mengganggunya.


Seketika mata Mbah dukun terbelalak. Marni yang memandanginya langsung kaget dan melompat kebelakang. "ala maak!" Sambil memegangi dadanya.


"Marni kamu tenang aja, hantunya sudah mati, dia sudah kubunuh dengan mantraku." Sambil melangkah masuk ke dalam rumah diikuti oleh Marni yang sudah tersenyum girang.


Akan tetapi benarkah Hantu Amanda telah mati? tentu saja yang namanya Hantu pasti sudah mati. Hehehehe....


.


.


.


.


.


.


Nantikan episode selanjutnya yah....


Jangan ragu buat like dan vote jika suka dengan ceritaku😘😘😘😘😘. love u readers....

__ADS_1


__ADS_2