
Zahira tersenyum mendengar pertanyaan Meta. "Kangen sih tidak cuma heran aja, belanja kok lama banget?" Sambil duduk di sofa diikuti oleh Meta sembari meletakkan belanjaanya di meja.
Daniah dan Della ikutan duduk sambil meletakkan belanjaannya pula.
"Zahira kamu tahu ga, tadi kita habis dibawa jalan ke MARI." Della berbinar.
Daniah tak mau kalah. Dengan senyum bahagia dia berujar, "dan kami semua dibeliin baju." Sambil meraih kantong plastik dengan merek sebuah toko pakaian terkenal.
Daniah segera mengeluarkan isinya lalu memamerkannya di depan Zahira. "Lihat deh bagus ga pilihan aku?" Sambil memandangi Zahira.
Zahira tersenyum sambil mengangguk.
"Iya bagus banget."
Della tak mau kalah, dia pun mengeluarkan pula miliknya. "Ra kalau punyaku bagaimana?"
Zahira tersenyum juga, "bagus juga kok."
"Ra kalau punyaku?" Meta pun memamerkan bajunya.
Zahira tersenyum mengangguk sambil memandangi baju mereka secara bergantian. "Ya semua bagus kok, dari nama tokonya aja udah ketahuan baju mahal dan berkelas."
Penuturan Zahira membuat mereka saling pandang. Ahirnya Daniah angkat bicara. "Kamu tau dari mana ini tokonya punya baju berkelas?"
Meta dan Della hanya terkesiap.
"Ya aku sering pergi sama Umi di MARI kok, setiap mau hari raya." Pengakuan Zahira membuat mereka tersadar kalau Zahira bukanlah orang kampung yang miskin seperti mereka.
"Iya juga sih, orang tua kamu kan kaya." Datar wajah Daniah dan segera memasukkan kembali bajunya ke dalam kantongan.
"Eh tapi tadi Yeni beli baju kok lengan panjang semua ya?" Della heran menatap Daniah yang dibalas dengan bahu terangkat.
"Udah mau berubah kali ngikutin gaya Mama tirinya." Meta menimpali pertanyaan Della.
"Kalian semua sudah makan?"
Della menoleh mendengar pertanyaan Zahira. "Udah dong, Mama tiri Yeni bener-bener baik banget udah gitu murah hati lagi."
Zahira cuma tersenyum senang mendengarnya.
__ADS_1
"Oh ya, gimana kalau hari minggu nanti kita jalan Trasmart Daya?" Tanya Meta.
Daniah langsung tertawa mendengar keinginannya. "Hahaha uang tinggal seibrit mau kesana?"
Meta mendelik kesal diledekin Daniah. Kemudian berdiri. "Haahh aku mau masuk kamar." Sambil mengambil kantongnya dia berlalu masuk ke kamarnya.
Della melihat Meta jadi kasihan. Lalu menoleh ke Daniah, "Dan, Meta sedih tuh." Daniah cuma angkat bahu lalu tersenyum seraya berdiri pula. "Memang kita ga punya uang ya mau diapain." Daniah terus berlalu juga masuk kamar.
Della terdiam memandangi punggung Daniah, demikian juga Zahira. Setelah Daniah menghilang dibalik pintu, Zahira dan Della mengalihkan pandangan tanpa sengaja mata mereka berpapasan. Zahira tersenyum. Della cuma angkat alis. Kemudian mereka memilih untuk masuk di kamar masing-masing.
Suasana menjadi hening seketika. Semua orang di rumah itu telah masuk dan mendekam di kamar mereka masing-masing. Suasana hening itu menjadi waktu terbaik bagi Amanda yang sejak tadi hanya meringkuk lemas di bawah tangga. Namanya Hantu, tentu cepat pulih kembali.
Dengan pandangannya yang menyala, dia melesat naik ke teras lantai dua lalu kembali bertengger di tali jemuran Zahira. Pada saat yang bersamaan, Bu kos sedang keluar dari kamarnya hendak turun ke lantai bawah. Betapa terkejutnya dia saat melihat Amanda tengah tersenyum sambil melambaikan tangannya dengan posisi tergantung di tali.
Tak ayal lagi, tubuh Bu kos sempoyongan kehilangan keseimbangan. Dengan keras dia berteriak keras. "Aaaaaaakkkhhhhh!" Suaranya menggelegar di tengah malam yang sunyi meski seisi rumah belum pada tidur. Dan... tubuh tuanya bergulingan di atas tangga besi hingga jatuh terjerembab di lantai teras.
Suara teriakannya yang besar membuat seisi kamar lantai dua segera berhamburan keluar. Mata melotot dan terkejut saat melihat Bu kosnya sudah tergeletak tak bergerak. Dengan cepat mereka mendekat dengan panik.
Suara ribu-ribut di lantai dua terdengar pula di bawah. Zahira perlahan membuka pintu karena penasaran. Saat pintu terbuka, ketiga temannya pun sudah keluar pula dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka saling pandang, lalu masing-masing mengangkat bahu. "Lihat yuk!" Ajak Daniah kepada temannya.
Tanpa aba-aba lagi mereka segera menghambur naik ke atas.
Sesampai di atas, mereka jadi bingung dengan apa yang terjadi. Della nencoba mendekati salah seorang di sana.
Si Emba menoleh, "oh itu De, Bu kos terjatuh dari tangga."
Della terkesiap mendengarnya. Daniah langsung mendekat pula demikian juga yang lain. "Terus mana Bu Kosnya?" Daniah yang penasaran ahirnya bertanya.
"Sudah dibawa ke atas." Si Emba segera berlalu masuk ke dalam setelah menjawab Daniah.
Zahira dan yang lainnya saling pandang. Daniah hendak naik tapi Zahira menahan lengannya. "Bu kos tidak suka kita masuk ke kamarnya."
Mendengar itu, Daniah mengurungkan niatnya. "Ya sudah turun yuk!" Ajak Daniah karena mau menjenguk percuma juga. Lagi pula sudah ada yang mengurusnya. Mereka pun kembali ke bawah.
Sementara Hantu Amanda tersenyum puas melihat Bu kos jatuh dan tak sadarkan diri.
*******
Yeni tengah berdiri mematut dirinya di depan cermin. Dirinya masih tak percaya melihat dirinya yang tampak cantik dan manis dengan balutan hijab yang senada dengan gaun yang Ia kenakan.
__ADS_1
"Ehem, ehem...," Nova mendehem melihat temannya itu yang sedang sibuk memutar-mutar badannya memeriksa setiap detil pakaiannya. Tak lupa menoleh kiri-kanan memperhatikan wajahnya di cermin.
"Menurut kamu, cantik ga, aku pake hijab?" Sambil terus memperhatikan dirinya.
Nova tersenyum sambil mengangguk. "Cuwaaannntik bwanget." Sambil mengacungkan kedua jempolnya ke Yeni lalu membuka lemari hendak mengambil baju karena dia baru saja mandi.
"Apa Alfian akan suka padaku kalau aku sudah berhijab?" Sambil menoleh ke samping memandang Nova.
Nova mengeluarkan sepasang baju tidur lalu duduk di tepian ranjang. "Ya elah my Baby, sweety Yeni, kalau mau berhijab jangan karena sesuatu tapi karena keinginan hati, agar tampak lebih alami dan lebih tulus. Kalau kamu melakukannya hanya karena seseorang, maka ketulusannya akan kabur, yang ada bukannya suka malah eneg." Lalu memakai bajunya.
Yeni menghempaskan pantatnya di samping Nova. "Haahhh, menurutmu Diana benar akan membatuku mendapatkan Fian?" Sambil menoleh ke Nova.
Nova tidak memandang Yeni, dia masih sibuk memakai bajunya. "Percaya deh, secara Nyonya kan tantenya Fian." Nova sudah memakai bajunya. "Udah ya, kamu ikuti aja sarannya dan berdamailah dengan Nyonya, ya hitung-hitung dia kan calon mertua kamu juga, kwek..kwek...kwe...k...."
BUUKKKK
Bantal guling mendarat di muka Nova. Yeni sangat jengkel mendengar suara tawa Nova yang disamakan dengan suara bebek itu. Nova semakin tertawa terpingkal-pingkal. Lalu melompat naik ke kasur sambil melindungi dirinya dengan bantal karena saat itu Yeni sudah siap menyerangnya dengan hantaman guling bertubi-tubi.
Masih asik perang bantal, pintu kamar terbuka. Diana masuk tanpa permisi.
"Kalian ngapain?"
Yeni dan Nova segera menghentikan perangnya seketika saat Diana masuk dan bertanya. "Lagi main lah." Jawab mereka serempak.
Diana tersenyum lalu mendekat memadangi Yeni yang sudah memakai hijab. "Kamu cantik dengan hijab, oh ya aku cuma mau ngasih tau kalau besok pagi kita ke rumah Kakakku sekalian makan siang di sana karena kata Fian kalian ga ada kuliah besok." Sambil tersenyum Diana mengedipkan sebelah matanya ke Yeni lalu keluar kamar.
Yeni dan Nova saling pandang, perlahan mereka tersenyum lalu mata mereka melebar dan...
"Wwhuuuaaaaaaaaa, hahahahaa."
Yeni dan Nova berteriak dengan gembira sambil saling mengulurkan kedua tangannya dan menyatukannya dengan mengerak-gerakkan jemarinya bergantian begitu lebay....
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
See you readers...jangan lupa tekan like, kasih vote, dan komen ya😘😘😘😘😘😘