Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 84. Wisata Alam Bantimurung


__ADS_3

Sepanjang Jalan, Pak Khalid tak henti-hentinya memperhatikan setiap daerah yang dilaluinya, demikian juga Meta.


Saat memasuki daerah Maros, sebuah pesawat yang baru lepas landas, terbang rendah diatas mobil mereka. Dengan antusias Meta, membuka jendela dan menatapnya. "Waah baru kali ini aku lihat pesawat serendah itu lho, waaah!" Kepalanya berputar mengikuti arah pesawat hingga mobil semakin menjauh.


Pak Khalid dan Zahira cuma tersenyum menyaksikan kelakuan Meta. "Memangnya kamu belum pernah lewat Bandara ya?"


"Hehe iya Pak, soalnya kan aku dari Bulukumba, jadi tidak lewat sini!" Meta malu-malu.


"Memangnya Bapak, sering lewat sini!" Meta balik bertanya.


"Lewat daerah ini, aku baru, tapi masuk Bandara sering, setiap mau menjenguk ponakan aku di Palu!"


"Oohh!" Seru Meta dan Zahira.


Zahira menoleh menatap Pak Khalid. "Kalau Bapak, orang apa?"


Pak Khalid menoleh sebentar, lalu kembali menatap jalanan. "Aku, Makassar, meski kata Mami, Papi itu orang bugis juga sih, cuma sejak Papi meninggal, kami tidak lagi pernah berhubungan dengan keluarga Papi!"


Meta menganga heran. "Terus, saudara-saudaranya, sama Nenek Bapak, ga pernah ditemui gitu?"


"Emm, Nenek...sudah meninggal, terus Papi ga punya sodara, yang ada cuma keluarga jauh aja, dan kami tidak begitu banyak komunikasi!"


Kembali mereka melongo. "Ooow!"


Mobil terus berjalan tanpa ada basa-basi lagi dari penumpangnya. Sementara Amanda begitu tenang duduk di samping Della di kursi belakang. Sesekali Pak Khalid meliriknya. Kalau-kalau Meta terganggu sama Amanda.


Mobil terus berjalan, hingga kawasan wisata Bantimurung sudah dekat. Zahira menoleh menatap Pak Khalid, "Emm Pak, kawasan Bantimurung katanya sedikit angker lho, apa Bapak ga papa, kalau nanti melihat penampakan?"


Pak Khalid menoleh, "apa aku boleh minta sedikit ilmu sama kamu Ra, biar aku juga bisa menghalau Mahluk astral yang mendekatiku?"


Mendengar permintaan Pak Khalid, Meta langsung atusias. "Iya Ra, aku juga mau dong!" Seraya memegang sandaran kursi Zahira dari belakang. Kepalanya melongok di samping Zahira.


Zahira tersenyum, "boleh kok, emm...bagaimana kalau doa yang paling pendek dulu?"


Mendengar itu, Amanda jadi tegang. Dia sudah tahu diri. Karena takut kepanasan, dia memilih melesat masuk ke mobil Adrian yang melaju di depan.


Pak Khalid tersenyum melihatnya.


"Iya ga papa kok Ra, doa apa aja boleh, asal bisa melindungi diri aja!" Meta semakin antusias. "Iya aku pun setuju aja!" Timpal Pak Khalid.


"Baiklah, doanya pendek kok, asal dibacanya dengan penuh penghayatan dan kepercayaan akan kuasa Allah, insya Allah berkah!"


"Doanya, Bismillahil ladzi laa ilaha illa hua, dibacanya 3x, menurut Guru aku, katanya, kalau kita mendatangi tempat keramat yang kemungkinan ada Mahluk penunggunya, cukup baca doa itu, insyaAllah, semua Mahluk akan menyingkir dengan sendirinya dan tak berani mengganggu kita!"


"Apa, apa, coba ulangi dong, mau aku catat dulu!" Meta tampak sibuk menyalakan ponselnya hendak mencatat.


Pak Khalid tersenyum. "Masa pendek gitu harus dicatat segala, sekali dengar aja, aku sudah langsung hapal lho!"


Meta memasang wajah kesal. "Issh itukan Bapak!" Bibirnya jadi manyun.


Zahira pun mengulangi doanya sampai tiga kali, hingga Meta selesai mencatatnya.


Tampak dari jauh, patung monyet raksasa telah berdiri kokoh menyambut siapa saja yang lewat di tempat itu. Sementara di dekatnya gambar kupu-kupu raksasa juga terpajang tak kalah menawannya.


Semua itu adalah ikon Khas Bantimurung yang terkenal sebagai tempat penangkaran kupu-kupu dengan berbagai jenis, serta kawasan hutan lindung yang berisi berbagai spesies monyet.


Akan tetapi, bagi masyarakat awam, patung monyet rasksasa itu mereka lambangkan sebagai gambaran penunggu kawasan wisata air terjun Bantimurung. Banyak desas-desus mengenai keangkeran tempat itu.


Apalagi di tempat itu, sering kali terjadi kecelakaan yang menewaskan banyak orang. Mulai dari yang mati tenggelam, jatuh dari bebatuan saat menaiki puncak air terjun, sampai yang hanyut terbawa arus.


Meskipun sebenarnya menurut akal sehat, hal itu karena murni kecelakaan. Akan tetapi kepercayaan akan hal-hal mistik tetap saja mengakar di hati semua orang awam.

__ADS_1


Mobil mereka kini telah sampai di depan gerbang yang lebih tepatnya di bawah pantat monyet raksasa itu, mobil Adrian berhenti. Dengan terpaksa Pak Khalid ikutan berhenti. Mereka pun turun dari mobil.


Zahira keheranan. "Lho kok berhenti?"


"Iya kenapa ga langsung masuk saja," Imbuh Meta.


Daniah menoleh. "Kita mau selfi-selfi dulu, sebagai kenang-kenangan.


"Zahira cuma menaikkan alisnya.


"Eh aku ikutan!" Dengan cepat Meta ikutan bergabung saat mereka sudah berpose.


"Pak, Zahira, kalian ga mau gabung?"


Zahira menggeleng. "Ah...ga deh, kalian aja, biar aku yang memotret!"


"Oke, nih fotoin kita yah!" Daniah menyerahkan ponsel ke Zahira.


Setelah puas mengambil gambar, mereka pun kembali melaju masuk ke dalam. Dikarenakan jarak dari patung monyet ke kawasan wisata masih agak jauh ke dalam.


Setelah memarkir mobil dan membayar karcis, mereka pun melangkah masuk kawasan dengan berjalan kaki. Udara dingin menyapu tubuh dan wajah setiap pengunjung meski hari telah hampir siang.


Pak Khalid langsung tertegun saat di depannya melintas sosok Mahluk besar menyerupai gorilla, tapi jalannya tegak seperti manusia. Wajahnya semakin


tegang saat Daniah dan adrian berjalan di samping Mahluk itu. Tanpa sadar, Pak Khalid memegang lengan Zahira.


Zahira menoleh dan mendongak menatap Pak Khalid. "Eh ada apa Pak!" Seraya melepas lengannya pelan.


Pak Khalid tersadar. "Eh..ah ga papa Ra, cuma..." Pandangannya mengikuti kepergian Mahluk itu yang menghilang di balik gunung batu di sisi jalan.


Melihat itu, Zahira langsung berbisik, "Bapak lihat penampakan kan?"


Pertanyaan Zahira cuma dibalas gumaman, "Hemm!" sambil menganguk.


Bentuk dan rupa mereka macam-macam. Ada yang tampak sangar dan menyeramkan, ada pula yang tampak datar dan biasa-biasa aja. Akan tetapi anehnya, tak seorang pun dari mereka yang merasa terganggu dengan kehadiran para pengunjung di tempat itu.


Suara gemuruh air terjun terdengar jelas di telinga. Aliran sungai yang mengalir di sepanjang jalan yang mereka lalui tampak agak deras dan bening. Kabut tipis yang tercipta dari percikan air, menyebabkan hawa semakin sejuk terasa.


Beberapa spot telah terisi pengunjung. Daniah and the gank tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mereka langsung berselfi ria dengan berbagai pose.


"Hai Zahira!! Sini cepetan!" Teriak Della. Zahira pun segera menghampiri.


"Kita ke sana yuk!" Seraya menunjuk ke dekat air terjun.


Setelah puas bermain air, dan mengitari setiap spot di tempat itu, mereka jadi tertarik dengan perkataan seorang pengunjung tentang gua hantu. "Eh kita kesana juga yuk!"


"Boleh!" Semua setuju. Akan tetapi saat mendekati gua itu, Pak Khalid menahan mereka. "Sebaiknya kita ga usah kesana!"


Semua terperanjat heran. Adrian yang semula menurut saja, kini angkat bicara. "Ada apa Pak?"


Daniah langsung menarik Adrian sambil berbisik. "Pak Khalid bisa lihat Hantu!"


Mendengar kata Hantu, Adrian langsung ciut, "ya udah kita balik aja!" Wajahnya tegang. "Ayo ah!" Semua pun berbalik arah dan pulang. "Laper nih!" Rengek Meta kemudian. "Yuk cari tempat duduk.


Setelah menemukan tempat duduk yang cocok, Pak Khalid membeli beberapa bungkus nasi kuning yang banyak dijajakan oleh pedagang asongan disana. Saat mereka sedang asik makan, Pak Khalid didatangi oleh tamu yang tak nyata.


Wajah Pak Khalid sedikit tegang dan berhenti makan tiba-tiba. Perubahan mukanya diketahui oleh anak-anak. Mereka jadi saling pandang.


"Aduuh bagaimana ini, sepertinya Mahluk-mahluk itu tahu kalau aku bisa melihat mereka." Batin Pak Khalid. Dia tidak bergerak, hanya bola matanya yang bergerak kiri kanan dengan wajah ditekuk.


"Apa aku coba doa yang dikasih Zahira ga ya? Coba aja, Bismillah..., Bismillahi ladzi laa ilaha illa hua!" Masih dengan membatin. Diulanginya hingga tiga kali dalam hatinya.

__ADS_1


Dan benar saja, sontak kelima Mahluk yang menuju ke arahnya langsung berhenti. Mereka menatap ke rombongan Pak Khalid yang sedang makan. Pak Khalid hanya melirik dengan ekor matanya. Perlahan Mahluk-mahluk itu mundur dengan teratur dan menghilang entah kemana.


Sedang asik-asiknya mereka makan, terdengar suara gaduh dan teriakan di dekat sungai. Beberapa petugas kawasan berlari menuju tempat kegaduhan.


Karena penasaran, rombongan kecil Pak Khalid ikut berlarian menuju lokasi. Ternyata seorang wanita jatuh tergelincir dan masuk ke sungai yang agak deras.


Aksi penyelamatan segera dilakukan oleh para petugas kawasan. Akhirnya wanita itu berhasil diselamatkan dan segera dilarikan ke Rumah sakit, sebab kondisinya sudah lemah.


Terdengar pembicaraan yang simpang siur. Kembali hal mistis dikaitkan dengan kecelakaan yang terjadi saat itu. Medengar gosip di sana sini, Daniah and the ganknya langsung menatap Pak Khalid.


Della menyondongkan kepala sambil berbisik.


"Pak apa benar itu karena Hantu?"


"Iya Pak, apa Amanda ikut kemari juga?"


"Iya Pak, soalnya kita tadi lihat Bapak sempat tegang lho?"


Pertanyaan beruntun menyerang Pak Khalid walau berbisik.


"Haah bisa tanya satu-satu gak?"


Sontak mereka semua menegakkan kembali badannya.


"Amanda ga ikut masuk, tadi dia kabur saat memasuki area ini, terus perempuan yang jatuh itu, ga ada hubungannya dengan Mahluk di sini!" Terang Pak Khalid.


"Sepertinya Mahluk yang ada disini tidak terpengaruh dengan kedatangan pengunjung!" Lanjutnya.


"Lho tapi Pak, mereka bilang...?" Meta tidak melanjutkan ucapannya hanya menunjuk saja kearah orang-orang yang lagi bergosip.


"Haaah mereka kan cuma mengira-ngira, tapi tidak melihatnya, aku lihat sendiri kok, ga ada Mahluk di sekitar tempat itu tadi, aku yakin, itu murni kecelakaan!"


"Oohh!"


Tak ada lagi yang berbicara, mereka memilih asik menyimak perbincangan setiap pengunjung yang datang. Ada yang bercerita tentang keangkeran tempat itu, ada pula yang bercerita tentang beberapa peristiwa masa lampau mengenai kejadian-kejadian aneh di situ. Membuat para pendengarnya yang kurang Iman, langsung percaya.


"Dah yuk, mending kita balik, kita masih akan cari alamat Amanda lho!" Ajak Pak Khalid seraya bangkit dari duduknya.


Mereka pun mengikuti tanpa basa-basi. Saat semua sudah berlalu, Adrian sengaja menahan lengan Daniah.


Daniah menoleh, "apaan sih?"


"Tunggu bentar ya!" Adrian mengeluarkan Ponselnya.


"Kita Foto berdua!" Tanpa menunggu persetujuan, Adrian langsung merangkul bahu Daniah dan mengarahkan ponselnya untuk memotret. "Udah!" Daniah sewot sambil melotot.


Adrian hanya senyum sambil mengangguk. Daniah pun meninggalkan Adrian dengan cepat agar wajahnya yang merona tidak kelihatan.


Ponsel Daniah berdenting, tanda chat masuk. Dengan cepat Daniah memeriksanya. Sontak kaki Daniah berhenti melangkah begitu melihat isi pesannya.


Foto dirinya dan Adrian tadi, dikirim Adrian padanya. Tapi dengan sebuah gambar hati besar berada di tengah-tengah foto dengan tulisan 'I LOVE U' membuat hati Daniah berbunga-bunga.


Adrian mendekat seraya berbisik. "Simpan ya, jangan dihapus!"


Daniah tersipu dan langsung berlari menyusul Zahira dan lainnya yang kini telah jauh di depan.


Adrian tersenyum bahagia sambil berjalan santai di belakang.


.


.

__ADS_1


.


See U in the next episode, salam hangat dan salam sejahtera selalu. 😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2