
Meski dengan langkah teseok, tapi Yeni tak urung berhenti, dia tetap bertahan menyusuri trotoar tanpa mengeluh.
sementara Nova sudah gelisah sejak tadi, menendangi sampah yang ada di depannya, sesekali bibirnya dimonyongin, lalu melangkah tersantung-santung, kadang menghentak-hentak menahan rasa jengkelnya, kadang pula mendengus keras.
“Haaahhhh mau sampai kapan kita jalan kakiiiii, aaauuufffhhh."
Yeni hanya berpaling padanya dan terus berjalan. Sampai di depan sebuah restoran Yeni berhenti.
“Kenapa berhenti? Katanya mau jalan terus?” ucap Nova kesal.
“ Kamu ga lapar?” ucapnya mengerling Nova.
“Yaaa lapar, saaaaangat lapar, tapi kau tahu orang rumah sudah nunggu kita dari tadi,” ucap nova ketus.
"Masuk yuk!” ajak Yeni.
Nova hanya mendengus kesal lalu menggosok kasar kepalanya membuat rambutnya agak berantakan.
“Aaarrrrrgghhh” sambil melangkah gontai mengikuti Yeni.
Setelah duduk dikursi restoran, seorang pelayan datang membawa menu.
“Selamat datang direstoran kami, silahkan mau pesan apa?” sambil menyerahkan menu.
Sibuk mencari sana-sini, tapi ga nemu-nemu, Nova memandang Yeni.
“Yeni ni makanan khas luar negri semua ya, bahasa Inggris semua, padahal bentuknya nasi goreng juga," ucap nova berbisik.
“Pesen aja cepat jangan bacot!” ujar Yeni tanpa menoleh, sementara pelayan Cuma senyum-senyum.
“Aku mau yang ini Mba!” pinta yeni sambil menunjuk menu pesanannya.
“Minumnya Mba?” tanya pelayan.
“Aahh mmm jus lemon aja!” ujarnya lagi sementara Nova cuma bengong melihat Yeni
“Mba pilih menu apa?” tanya pelayan pada Nova yang Cuma bengong.
“Ahh aku..mmm .. yang ini, thai chiken rice” ujarnya.
“Baik, minumnya?” tanya pelayan lagi “kola aja!” Pelayanpun pergi meninggalkan mereka.
Sambil menunggu pesanan, Nova mencoba bertanya pada Yeni.
“Yen kamu kenapa sih ga mau pulang cepat, papa kamu pasti udah nunggu, kamu ga kangen gitu sama papa kamu?”
Yeni Cuma menunduk sambil menarik nafas, teringat saat papanya menelpon ketika mereka baru keluar kampus tadi, kalau papanya hari ini datang dari kalimantan dan berharap bisa makan siang bareng di rumah, tapi dia beralasan ada kelas tambahan sampai sore, makanya itulah dia hanya terus berjalan dan berjalan hanya untuk mengulur waktu.
“Yeni, kenapa kamu tidak mencoba berbaikan dengan ibu tiri kamu?” tanya Nova lagi.
“Aahhh, mending diam aja deh, jangan banyak tanya!” ujar Yeni lemas.
Nova menaikkan kedua alisnya, lalu membuang nafasnya pelan. Karena dia faham sekali apa yang terjadi antara sahabatnya itu dengan keluarganya.
Mama yeni meninggal saat masih duduk dibangku smp kelas 2, Setahun kemudian papanya menikah lagi dengan gadis belia umur belasan tahun yakni gadis yang baru lulus SMA.
Karena terpaut usia Cuma sekitar 4 tahunan membuat Yeni jadi jengkel dengan ibu tirinya, bahkan tak jarang mereka berkelahi layaknya anak ABG berebutan pacar.
__ADS_1
Karena tingkah Yeni yang suka keterlaluan sama ibu tirinya, membuat papanya terpaksa mengirim Yeni untuk tinggal di rumah neneknya dikota ini.
Disinilah Nova dan Yeni bertemu. Ibu Nova adalah kepala pembantu di rumah neneknya Yeni. Sejak ayah Nova meninggal, Nova ikut bersama ibunya dan tinggal di rumah neneknya Yeni.
Karena Nova anak yang penurut dan penyabar, sehingga Yeni yang arogan dan tukang suruh serta tak mau mengalah meresa nyaman bersamanya, soalnya Nova tak pernah membantah dan selalu saja menuruti kemauan Yeni.
Sejak itulah mereka seolah menjadi saudara sekaligus sahabat.
Pelayan datang membawa pesanan, lalu meletakkannya di atas meja, mereka pun meraih pesanan masing-masing lalu makan.
Seketika Yeni berhenti menyendok nasinya. “Ah Nova, menurut kamu gimana kabar Zahira sekarang?” tanya Yeni dengan mata melotot sambil menyondongkan wajahnya diatas meja sambil berbisik.
“Ya ga kenapa-napalah, coba kalau ada apa-apa, pasti Fian udah ada dirumah sakit, bukannya pulang kekelas”tukas Meta.
"Iyya juga sih, ah sial, tuh anak emang selalu beruntung ya, awas aja nanti” gerutunya sambil menyuap kasar makanannya.
“Ya ampuun Yen, kamu masih ga kapok ya hari ini udah dapat karma langsung ga pake jeda, masih mau nekat lagi, sadar Yeni!” nasihat Nova lalu meminum teh manisnya.
“Aapaaaa, kamu benar-benar berhenti jadi dokter? Apa kamu sudah gila?” Suara perempuan dari samping meja Yeni terdengar jelas, membuat mereka langsung menoleh.
Sementara perempuan yang setengah berteriak disamping tampak kesal memandangi teman cowoknya yang Cuma diam.
“Kenapa Cuma diam, kenapa, apa ruginya jadi dokter? Kamu tahu seberapa sabar aku menunggu dan memberi kamu semangat agar terus bertahan dan sekarang setelah kamu berhasil menyelesaikan resimenmu, kamu mau berhenti? Kenapa?” teriaknya lagi, lalu mendengus kesal.
“Maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak tahan, aku takut,” jawab lelaki itu.
“Kamu tahu betapa bangganya aku punya calon suami seorang dokter, bukan dokter biasa tapi dokter ahli, jarang banget orang menyelesaikan resimen dengan usia yang masih muda, tapi kamu bisa, aku saaaangat bangga, begitu juga orang tuaku, tapi sekarang? Ahhh Cuma dosen?” ujar cewenya dengan muka tak percaya juga kesal.
“Memang apa kurangnya menjadi dosen, sama-sama pekerjaan dan sama-sama keren,” ujar cowonya.
Diseberang mereka, Nova terus menatap si cowok dengan berkedip-kedip tak percaya, lalu melihat lagi, berusaha mengingat-ingat sesuatu, keningnya berkerut.
“Eh Yeni kayaknya aku kenal tuh orang tapi dimana ya?” sambil mengetuk- ngetuk dagunya berpikir.
“Ah aku ingat, dia kan orang yang nabrak kamu tadi pagi, hah dr. Khalid,” ucap Nova berbisik kegirangan saat mengingat orang itu.
“Benarkah?” tanya yeni merasa tak percaya lalu ikut menoleh menatap pria itu.
Meskipun tampak menyamping namun masih bisa dikenali dengan jelas.
Dengan kesal gadis itu meletakkan sendoknya diatas piring sehingga terdengar nyaring.
“Sama, ya memang sama menurut kamu, tapi bagi aku itu beda, kamu tahu kenapa aku mau menerima kamu, karena kamu seorang dokter, tapi sekarang, dosen, hah?” bentak gadis itu kesal lalu mendengus.
“Sayang, pelankan suaramu. Tidak enak kita diliatin orang.” Pinta dr. Khalid memelas.
“Dengar ya, kalau kamu masih ingin hubungan kita lanjut, kembali ke rumah sakit, tapi kalau kamu tetap memilh jadi dosen, sabaiknya jangan pernah hubungi aku lagi, Titik, aku pergi!” Lalu berdiri meraih tasnya kemudian berlalu keluar restoran.
Dokter khalid Cuma bisa menatap pacarnya sedih sehingga tak sadar air matanya meleleh dipipinya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu mengusap rambutnya juga dengan kedua tangannya. Kemudian meneguk air putih.
Nova terus memandangi dr. Khalid dengan wajah kasihan, sementara yeni tidak peduli dan terus saja menikmati makanannya.
“Kasihan banget ya, waah tuh cewek kelewatan banget ga punya perasaan apa?” batin Nova sambil terus menatap dr. Khalid, sampai tak sadar kalau dr.Khalid memergokinya.
“Hei kamu yang tadi siang kan, yang aku tabrak?” tegur dr.Khalid pada Nova sehingga membuyarkan lamunannya. Yeni pun langsung menoleh mendengar pertanyaannya.
“Eh iyya dokter, Hehe” jawab Nova malu-malu karena ketahuan, Yeni ikutan mengangguk.
__ADS_1
“Bagaimana kabar kalian?” tanyanya lagi.
“Aku baik pak makasih udah bawa aku ke UKS” jawab yeni tersenyum.
“Ah iyya, sebagai rasa bersalahku karena sudah menabrak kamu dan tidak sempat menemani kalian tadi, jadi makanan kalian aku yang bayar” kata dr.Khalid sambil berdiri menuju kasir.
“Eh pak, ga usah, kami...” ujar Yeni namum tidak melanjutkan karena dr. Khalid terus berlalu tanpa menghiraukannya.
“Issh kenapa tuh orang?” celetuk Yeni kesal.
“Yah namanya juga baru diputusin,” tukas Meta dengan santainya sambil meneruskan makanannya yang sempat tertunda.
Didalam mobilnya dr.khalid terus melamun, memikirkan semua perkataan kekasihnya, yang rencananya sebentar lagi akan dinikahinya.
“Ah jadi dia hanya suka padaku karena aku dokter, meskipun sudah berulang kali aku katakan alasannya, mengapa kamu tak mau perduli perasaanku syang, kenapa?" batin dr. Khalid.
Air matanya menetes, terbayang dimatanya bagaimana ia harus ketakutan setiap berhadapan dengan jin jahat menakutkan yang selalu mendatanginya setiap kali dia datang ke rumah sakit.
Karena itulah dia tak tahan dan ingin berhenti dari rumah sakit itu, lalu mendaftar jadi dosen pembantu Fakultas Kedokteran di Universitas tempat Zahira kuliah.
Musik hpnya berbunyi, dr.Khalid tersadar dari lamunannya lalu menjawab ponselnya.
“Assalamu alaikum mi, ada apa?”
"Waalaikum salam, kamu kenapa sih Lid, katanya kamu berhenti dari rumah sakit?”
“Mami, aku sudah tidak tahan, jin menakutkan itu tahu kalau aku bisa melihatnya, karena itu dia selalu mengejarku saat aku datang dan lewat didepan kamar pasien itu, Mi aku sangat takut, mami tolong mengerti aku, aku ketakutan, hik..hik..” dr. Khalid tak mampu menahan tangisnya.
“Kamu nangis? Apa kamu anak kecil?? kamu ini sudah 28 thn masih juga takut sama hantu, kan udah mami bilang pura-pura tak melihanya,”suara maminya kesal namun lembut.
“ Mami tidak tahu gimana rasanya karena mami tak melihatnya”
“Haaaah, bukannya kamu bilang Gina adalah wanita yang bisa membantu kamu mengatasi penyakit kamu itu. Tapi kenapa malah ketemu jin lagi?”
“Ah entahlah Mi, selama ini aku terus saja melihat hantu dan yang lainnya, aku juga berusaha menghindar, tapi kali ini jin itu benar-benar marah padaku, dia melihatku seakan mengancam kalalu aku tidak segera pergi dari sana dia akan mencelakaiku, dan saat aku mencoba mengajak Gina ke sana, sama sekali tidak berpengaruh apa-apa, jinnya tetap saja muncul dan marah, mungkin Gina bukan orang yang dimaksud peramal.”
“Tapi kan kamu bilang ciri-ciri yang digambarkan sama seperti Gina?”
“Ya sama, tapi nyatanya bukan, aku juga sudah bilang kita ga usah percaya peramal tapi Mami maksa buat percaya.”
“Mami ga tau lagi mau gimana, semua usaha udah mami lakukan untuk menghilangkan kemampuanmu melihat mahluk gaib, jadi mami menyerah, kamu yang sabar ya sayang, mami doakan semoga kamu cepat ketemu orang yang bisa bantu kamu menghadapi mahluk jahat itu."
“iyya Mi, semoga!”
“ Dan ingat, begitu kamu ketemu orang itu, pokoknya kamu jangan lepaskan dia, kalau wanita, segera niakahi, kalau laki-laki, angkat saudara, ngerti”.........
~BETSAMBUNG~
__ADS_1