
Kini Adrian tidak lagi tinggal serumah dengan Daniah, melainkan tinggal bersama dengan Pak Khalid. Meski ada rasa berat di hati Adrian, tapi dia tidak lagi punya alasan untuk tetap berada di sisi pacarnya.
Sementara Zahira dan yang lainnya merasa senang, selain karena Pak Khalid sudah kembali, juga karena Adrian tidak lagi menjadi beban perasaan lagi. Hanya saja Daniah yang tampak murung.
Saat pagi menjelang, seperti yang sudah-sudah, dialah yang bertugas membuat sarapan. Pisang nugget menjadi menunya kali ini. Akan tetapi karena penghuni berkurang seorang, maka porsi sarapan dia kurangi.
Setelah semua terhidang di meja, dan semua sudah bersiap untuk bersantap pagi bersama, tiba-tiba pintu diketuk orang. Semua saling pandang karenanya.
"Siapa sih pagi-pagi gini bertamu?"Daniah urung menggigit pisangnya. "Entahlah" Meta angkat bahu sambil terus makan.
Dengan malas Daniah keluar membuka pintu. Alangkah terkejutnya Daniah saat melihat siapa yang datang. "Pak Khalid?"
Pak Khalid hanya tersenyum, "boleh masuk?"
"Oh iya Pak, silahkan!"
Pak Khalid masuk ke dalam tanpa banyak bicara. Baru saja Daniah ingin menutup pintu, tiba-tiba tangannya ditahan seseorang. Langsung saja wajah sangarnya keluar. Tapi begitu matanya melotot, ternyata yang menahan tangannya adalah Adrian. Dengan segera Daniah melemahkan matanya. "Haah Adrian, kamu!"
"Boleh masuk juga?"
Daniah tersenyum, "ya bolehlah, ayo!"
Adrian melangkah masuk, begitu Daniah menitup pintu dan berbalik, Adrian sudah siap dengan sebuah ciuman. CUP
"Eh!" Daniah tersentak saat keningnya dicium Arian. "Kau!" Seraya mengelus bekas ciuman Adrian.
Adrian tidak menjawab melainkan terus masuk tanpa peduli dengannya. Daniah pun tersenyum simpul.
Sementara di ruang makan, Zahira tengah panik, soalnya dia tidak mengira jika Pak Khalid akan datang untuk sarapan bersama mereka.
"Maaf ya Pak, aku buatkan teh dulu, soalnya aku lupa menyiapkannya!" Seraya bangkit untuk membuat teh lagi.
"Jangan terburu-buru juga Ra, santai aja!" Pak Khalid meraih kursi dan duduk. Della dan Meta hanya bisa saling tatap.
"Mm Pak, kita mau tanya boleh ga?" Della melirik Meta.
Pak Khalid menopang dagu, "Ya silahkan!"
'Em itu, kenapa selama ini Bapak ga ikut sarapan lagi, sampai Zahira jadi sedih?"
"Ooh itu, mmm waktu itu, aku dapat tugas malam, jadi pagi jam 8 baru bebas tugas, makanya tidak sempat mampir!" Pak Khalid berkilah.
"Ooh!" Meta dan Della serempak.
Daniah dan Adrian pun telah sampai dan bergabung. Zahira yang baru saja selesai membuat segelas teh, jadi kaget. "Eeh ada Adrian juga, aduuh padahal cuma bikin satu, bentar ya, aku buatin lagi!" Seraya meletakkan teh di depan Pak Khalid.
Daniah langsung berdiri, "biar aku yang bikin, kamu duduk aja deh!"
Zahira menurut lalu duduk. Begitu menyadari kursinya di samping Pak Khalid, Zahira keki setengah mati. Seakan-akan lehernya jadi kaku.
"Enak bener ya jadi jomblo, ga harus repot bikinin orang, ya ga Del!"
"Yoi banget, haha!"
Pak Khalid tidak menanggapi, dia begitu asik menikmati sarapannya hari ini, apalagi sudah beberapa hari ini, dia tidak selera makan.
"Oh ya, ada yang mau jalan-jalan ga, mumpung hari ini, aku bebas!" Seraya melirik Zahira.
"Eh iya, kan hari minggu, Ra, mau dong, mau ya!" Della memelas.
"Kalian aja yang pergi, soalnya hari ini aku janji mau lihat-lihat rumah!"
Mereka tercengang serempak. "Haah melihat rumah!"
"Rumah siapa Ra?"
"Kamu mau pindah rumah Ra?"
"Kamu mau ninggalin kita?"
Bertubi-tubi pertanyaan temannya, membuat Zahira bingung menjawab yang mana. "Emm gimana ya ngomongnya, ee...itu mmm kemarin aku lihat ada rumah yang mau dijual, jadi aku tertarik, terus aku sama pemilimnya janjian hari ini, mau lihat itu rumah!"
Daniah mulai menyalakan mode sewotnya. "Sebenci itukah kamu Ra sama aku, sampai harus pisah dari kita, hanya karena ada Adrian di sini?" Seraya meletakkan teh di depan Adrian.
Zahira gelagapan, "ee..bukan begitu...aku..."
"Iya Ra, lagian kan Adrian juga sudah pindah kan?"
"Ra kamu beneran ga suka tinggal sama kita ya?"
"Bukan gitu teman-teman, aku cuma berpikir, ga mungkin kan kita terus numpang, jadi kebetulan ada rumah yang mau dijual ya kenapa tidak aku ambil kesempatan, gitu!"
Zahira mengigit bibir, takut temannya tidak menerima alasannya. "Dan kalian juga bakal aku ajak kok, tinggal bareng di sana nanti!" Lanjutnya.
Semua terdiam, tak ada yang berkomentar. Mereka seakan sedang berkabung. Apalagi Adrin, dia merasa telah menjadi penyebab Zahira ingin pindah. Dia hanya menarik napas sedih.
Melihat suasana canggung, Pak Khalid angkat bicara. "Zahira cuma mau beli rumah, tapi belum mau pindah juga!"
"Yang bener!" Seru Della dan Meta.
"Heem, ya kan Zahira!" Pak Khalid melirik Zahira, yang dibalas dengan anggukan.
"Haah, bukan karena gara-gara aku kan?" Adrian akhirnya angkat bicara.
"Ya cepat atau lambat kan, kita juga harus pindah, ga enak numpang terus!" Zahira tertunduk.
Mendengar pengakuan Zahira, Pak Khalid langsung menoleh. "Ra, aku tidak pernah menganggap kamu ini menumpang lho!"
Zahira gelagapan, "Emm...maksudku...ah gimana ngomongnya ya?" Zahira menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah, silahkan beli rumahnya, asal kamu tetap tinggal di sini aja ya!"
"Iya Ra, masa iya kita harus ngangkut semua belanjaan Umi kamu Ra!" Tukas Meta sambil menunjuk lemari dapur dengan mukanya.
Itu karena sewaktu dulu Umi Zahira berbelanja, saat mereka keluar dari rumah sakit, Umi Zahira sudah membeli semua kebutuhan sampe semua lemari dapur dipenuhi bahan-bahan. Bahkan kulkas juga penuh.
"Iya deh, aku cuma pergi lihat kok, jadi atau tidak tergantung dari kondisi rumah, sesuai seleraku atau tidak!"
Mereka semua bernapas lega mendengar ulasan Zahira.
"Jadi gimana dong, jadi ga jalan-jalannya?" Seru Della si Tukang jalan.
"Asal Zahira mau, aku yang traktir belanjaannya!" Tawar Pak Khalid.
Serentak Semua temannya membujuk Zahira.
"Zahira ayo dong, kan kamu ga pernah jalan bareng kita!" Della.
"Iya Ra, dulu kamu pernah lho bilang mau ajakin kita ke Transmart Daya!"
"Iya aku juga masih ingat janji itu lho!"
Zahira langsung menutup telinganya, "aduuuuh berisik banget sih, kalau mau jalan ya jalan aja, ga perlu ajakin aku, aku mau periksa rumah!"
"Janjiannya jam berapa emang Ra?"
Zahira mendongak, "Eeeh!"
"Jam berapa?" Pak Khalid menatapnya lekat.
"Eee jam...4 sore!" Suaranya sangat pelan.
"Naah kan, masih lama juga, ayo dong Ra, kapan lagi bisa ada kesempatan jalan, ya Zahira, ya, ya!" Della memasang wajah memelas.
"Iya deh, terserah!"
"Yeeeyyyyy, jalan-jalaaaaaan!" Della dan Meta bersorak riang.
Aksi mereka hanya mengundang tawa semua orang.
Seperti yang telah mereka sepakati, kini mereka telah siap untuk jalan-jalan. Begitu semua sudah siap, mereka pun keluar menuju mobil.
Daniah berbisik pada Della, "eh kalian ikut aku sama Adrian, biarkan Pak Khalid berduaan sama Zahira, kasihan mereka kan pasti sangat kangen, biar mereka bisa ngobrol bebas!"
Zahira yang melihat semua temannya naik ke Mobil Adrian, jadi heran, "Eh kok mereka semua naik ke sana sih?"
Zahira cuma bisa menengok keluar jendela. "Yaah aku sendirian dong disini!'
Pak Khalid yang baru masuk ke mobil, tersenyum. "Biarkan sajalah Ra, setidaknya mereka tidak aka mengacau kamu kan?" Sambil memasang sabuk pengamannya.
"Mengacau, maksud Anda Pak?"
"Maksud aku meledek gitu, Meta kan asli tukang usil, ya ga?" Seraya menoleh menatap Zahira sambil tersenyum.
Zahira tak mampu berkata apa-apa. Dia begitu berdebar dan malu harus berduaan dengan Pak Khalid.
Akan tetapi dia tidak mau ketahuan juga. Hingga akhirnya suasana jadi canggung.
Mobil bergerak perlahan, karena Pak Khalid dan Zahira tidak memutuskan tujuannya, akhirnya keputusan diberikan kepada Daniah dan Adrian tadi.
Kini mereka hanya mengikuti kemana mobil Adrian melaju.
"Ra!"
Zahira menoleh sebentar, "Ya Pak!"
"Tempo hari, aku melihat Alfian memeluk kamu mesra banget, kalian ada apa?"
Zahira menoleh menatap Pak Khalid sedih, "jadi benar, Pak Khalid melihat kami dulu!" Batinnya.
"Oh itu, aku dan Alfian kemarin itu, emm sebenarnya kami ternyata saudara sesusuan, begitu Alfian tahu, dia sengaja isengin aku, kan dulu aku ga mau dipegang sama dia, nah begitu tahu kita sodara, jadi dia begitu maen peluk aja!" Terang Zahira.
"Ooh gitu ya!" Pak Khalid tersenyum.
"Aah dasar aku brengsek banget sih, coba dari dulu aku tanyakan, aku pasti tidak akan salah paham, haah dasar aku pengecut!" Umpat Pak Khalid dalam hati.
"Ra!"
"Haah iya!"
"Andaikan kamu emm..."Pak Khalid mengusap hidungnya.
"Andaikan apa?"
"Eemm andaikan ada yang mmm...melamar kamu..." Zahira langsung menoleh, jantungnya seakan berhenti berdetak, wajahnya harap-harap cemas. "Apa Abi kamu mau terima?"
Zahira tak mampu berkata-kata. Dia tertunduk malu.
"Zahira!" Suaranya sangat mesra.
"Ya!"
"Gimana? kira-kira, aku akan diterima gak ya?"
Zahira tersenyum malu, dia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. "Zahiraaa!"
"Emm,"Zahira mengulum senyumnya.
"Kok cuma mmm?"
__ADS_1
Zahira makin menahan senyumnya.Pipinya merah jambu jadinya. Aku ga tahu Pak, itukan terserah Abi!" Zahira terus tertunduk.
"Kalau kamu gimana?"
Zahira langsung menoleh "aah!" Matanya melebar.
"Kamu mau ga menerima aku?" Pak Khalid tersenyum tapi tetap menatap lurus ke jalanan.
Tubuh Zahira panas dingin jadinya. Jatungnya benar-benar mau copot dari tempatnya. "Me...mene...rima...apa?"
"Menerima aku jadi pendamping hidupmu!"
Zahira tak mampu berkata lagi untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini lidahnya benar-benar kelu. Bibirnya seakan kaku. Dia hanya tertunduk dengan muka memerah.
"Ah...aku ditolak ya!" Pak Khalid mengangguk-angguk lemas seolah kecewa.
Dengan cepat Zahira menoleh, "Bu...bukan begitu...mm...aku...itu...apa..ee...hhhpphaaah!" Zahira berusaha menetralkan perasaannya. Dia meremas ujung jilbabnya.
"Kalau ga bisa jawab sekarang juga tidak apa-apa kok, aku akan menunggu sampai kamu bisa jawab!"
Zahira bernapas lega, "Haaah!" Ada rasa bersalah dan rasa menyesal di hatinya. Sesungguhnya dia ingin menjawab 'iya' tapi mulutnya seakan terkunci. Akhirnya dia hanya bisa menggigit bibir dengan menutup mata kuat-kuat.
Suasana kembali hening dan canggung. Baik Pak Khalid atau Zahira, mereka sama-sama diam. Sesekali mereka saling melirik. Jika kebetulan mereka bertatapan, mereka cuma bisa tersenyum kikuk.
Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai. Ternyata Adrian membawa mereka ke Mall Panakukang.
Mereka pun berjalan santai memasuki area mall. Della dan Meta begitu antusias melihat beberapa brand ternama memasang barang berkualitas.
Daniah dan Adrian berjalan santai sambil bergandengan tangan. Pak Khalid melirik Zahira yang berlajan di sampingnya. Ada niat untuk menggandeng Zahira pula,hanya saja dia mengurungkan niatnya, mengingat Zahira tidak suka dipegang.
Della dan Meta tak mau kalah, mereka pun berjalan berdua sambil bergandengan tangan pula. "Kita sesama jomblo mari bersatu, jangan mau kalah sama mereka!" Bisik Della. Meta cuma tertawa.
"Ada yang mau belanja?" Seru Pak Khalid begitu sampai di lantai 2. Dimana Toko jam tangan dan kaca mata terpampang menggoda.
"Aku...!" Dengan cepat Daniah menyikut Della. "Ga kok Pak, kita ga butuh kaca mata!" Daniah melototi Della.
"Ga papa kok, ayo kita lihat-lihat ke sana, siapa tahu ada yang cocok!" Ajakan Pak Khalid disambut bahagia oleh Della. Dengan cepat dia menarik Meta menuju toko jam tangan. Daniah cuma geleng-geleng kepala.
"Yang, kalau kamu mau, aku yang akan bayar!" Adrian menatap Daniah teduh sambil tersenyum.
Zahira sama sekali tidak berniat membeli sesuatu, tapi karena ikut masuk dalam toko, dengan terpaksa ikut juga melihat-lihat barang, sesekali memeriksa dan mengaguminya.
Pak Khalid cuma mengikuti mereka dengan diam. Setiap ada yang dipegang Zahira, Pak Khalid selalu menyuruh Zahira untuk mengambilnya, tapi Zahira cuma menggeleng. "Ga usah Pak, makasih!"
Akan tetapi, saat Zahira pergi, maka Pak Khalid akan memanggil pelayan untuk membungkusnya.
Setelah menghabiskan waktu sekian lama, mereka akhirnya selesai juga memilih. Della dan Meta sudah puas dengan 4 kantongan ditangannya.
Daniah sendiri tidak banyak membeli, meski Adrian mendesaknya, tapi tetap saja Daniah menolak. Adrian tidak mau mendesaknya terlalu keras, karena takut mode sangarnya akan aktif.
Daniah tidak ingin membuat Adrian mengeluarkan banyak uang, hanya karena barang-barang yang tidak penting.
Setelah membayar semua barang belanjaan Della dan Meta, Pak Khalid meminta mereka jalan duluan. "Kalian duluan, tunggu aku di cafe aja!"
Zahiramenjadi heran, "Bapak mau kemana?"
"Pak boleh makan di pizza hut ga?" Meta senyum malu-malu.
"Ya boleh, kalau gitu tunggu aku di sana aja!"
"Dasar tukang makan!" Bentak Daniah.
Zahira masih ingin bertanya, tapi Della dan Meta sudah menggandengnya pergi. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. Segera mereka memilih tempat duduk.
"Ra, kamu kok ga beli sesuatu sih?"
"Ya ga tertarik aja sih!"
"Ga tertarik, tapi tadi kamu selalu bilang 'waah ini bagus, ini cantik juga' iya kan?"
"Iya sih, cuma kalaupun aku beli, mau dipakai kemana? kita kan ga kemana-mana!"
"Ya ke kampus lah!"
Pelayan datang membawa buku menu. Mereka pun memilih menu sesui selera. Meta yang sudah lama penasaran sama pizza, kini dia lah yang paling antusias memilih menu.
"Meta kamu sadar ga, satu pizza itu gede lho, kamu ga bisa habiskan!" Tegur Adrian.
"Aku pesan nasi aja, aku ga biasa makan roti!" Keluh Zahira.
Pak Khalid pun akhirnya datang juga.
Mereka menikmati pesanannya dengan nikmat. Sesekali mereka tertawa melihat tingkah konyol Meta yang baru makan pizza.
Kesenangan dan kebahagiaan mereka tidak luput dari sepasang mata yang tengah melotot tanjam. Dia begitu geram melihat bagaimana Pak Khalid memperlakukan Zahira bagai ratu.
Gurat kebencian terpancar di wajahnya. Dengan kuat dia mengepalkan tangannya. Sambil menghentakkan kakinya ke lanti dia mengumpat. "Ciih, harusnya aku yang ada di sana, tunggu saja, aku pasti akan membuatmu kembali padaku, sayang!"
.
.
.
.
.
Tunggu episode selanjutnya ya....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya๐๐
Vote juga ya๐๐๐