
Pagi menjelang dan Zahira telah selesai dengan tugas paginya yakni membuat sarapan. Sambil menunggu temannya datang, dia menyeduh teh panas sebagai teman nasi gorengnya.
Tak lama kemudian Meta dan Della sudah datang disusul oleh Daniah. Mereka pun sarapan bersama. Daniah berhenti sejenak memandangi temannya. "Mm bagamana kalau kita jengukin Bu kos di rumah sakit, mumpung hari minggu?"
Mereka saling pandang menanggapi pertanyaan Daniah. Meta cuma mengangguk pelan.
"Boleh," Zahira ikutan sejutu.
"Kalau semua setuju ya aku tinggal ngikut aja." Imbuh Della.
"Kapan kita ke sana? jam besuk dibuka jam 9 - jam 12 siang lho!" Sergah Meta.
Daniah manggut-manggut. "Baklah bentar jam 9 kita berangkat.
Mereka pun menyetujuinya lalu melanjutkan makan yang sempat tertunda. Tiba-tiba ponsel Zahira terdengar berdering di dalam kamar.
Zahira mendongak menajamkan pendengaran karena selama ini tidak ada yang pernah menelponnya selain Uminya.
"Eh Hp siapa yang bunyi?" Meta memandangi temannya satu-satu. Daniah dan Della angkat bahu. "Bukan punyaku,"
" aku juga bukan." Sahut mereka.
"Ah itu punyaku tapi siapa ya, apa mungkin Umi?" Sambil beranjak meninggalkan temannya di ruang makan.
Sesampai di kamar, Zahira langsung menyambar HPnya. "Hemm nomor siapa ini ya?" Zahira mengerutkan dahinya melihat nomor baru terpampang di sana.
"Halo Assalamu alaikum, siapa ya?"
"Alaikum salam, ini aku Khalid, kamu ga save nomorku semalam?"
"Oh Pak Khalid, maaf Pak, hehe aku ga sempat save, mm lupa Pak."
"Oh ya sudah tapi habis ini di save ya!"
"Iya deh Pak, nanti kusave, eh ada apa Pak, kok pagi-pagi telpon?"
"Ra bisa kita bicara sebentar, ya kalau kamu ada waktu?"
"Mm maaf Pak, aku sama temanku mau jenguk Bu Kos di rumah sakit sebentar!"
"Ke rumah sakit naik apa? bagaimana kalau sekalian aku antar kalian ke sana?"
"Ya...kalau tidak merepotkan sih, makasih banyak, hehe?"
"Oh tidak kok, sama sekali tidak, jadi jam berapa aku jemput nih?"
"Eh emm, kalau tidak salah sih tadi bilangnya jam 9 tapi biar aku tanyakan lagi yah, bentar aku keluar."
Sambil terus menempelkan HP di telinganya, Zahira keluar menemui temannya di ruang makan. Tapi karena mereka sudah selesai jadi Zahira malah bertemu di tengah ruangan.
__ADS_1
"Daniah, Pak Khalid telpon nih katanya dia mau nganterin kita ke rumah sakit buat jenguk Bu Kos, kamu mau gak?"
Daniah yang merasa mendapat durian runtuh langsung senang. "Ya mau dong Zahira!" Della dan Meta ikutan berbinar.
"Terus jam berapa kita kesana? Nanti Pak Khalid jemput kita?"
"Kan tadi udah setuju jam 9." Timpal Daniah.
Zahira mengangguk sambil menaikkan jempolnya lalu berjalan ke sofa kemudian duduk di sana.
"Halo Pak! masih di sana ga?"
"Iya Zahira, aku masih di sini?"
"M itu temanku bilang katanya jam 9 nanti kami ke sana."
"Baiklah kalau begitu, kalian tunggu aja ya, nanti aku jemput, oke!"
"Oke deh Pak!"
"Ya sudah aku tutup dulu ya, assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam Pak!"
Zahira menutup panggilannya dan berniat masuk ke dapur buat beres-beres tapi temannya malah mencegatnya.
"Eh mau ke dapur buat beresin meja."
"Cieh cieh yang kasmaran, Kak Fian ditinggal nih sekarang?" Meta ikutan menggoda.
"Ya iyalah, secara Kak Fian itu calon tunangannya Kak Yeni, pastilah Zahira cari pengganti." Daniah ikutan memanasi.
Perkataan Daniah itu bukannya membuat Zahira tersipu malah membuatnya tersinggung. Karena selama ini, dia tidak pernah memiliki perasaan yang lain pada Alfian selain teman begitu pula dengan Pak Khalid.
"Daniah kok ngomong gitu sih, aku sama Kak Fian ga ada perasaan apa-apa kok." Bantah Zahira.
"Oo jadi sama Pak Khalid ada ya kan?" Meta mengedipkan sebelah matanya pada Zahira.
Zahira cuma menarik napas berat lalu meninggalkan temannya masuk ke dapur. Sementara Della, Daniah dan Meta tertawa renyah merasa menang sudah menjahili Zahira.
"Ah kalau saja Pak Khalid cowok biasa aja gitu bukan indigo!" Della manyun sambil menopang dagu.
Daniah yang memiliki perasaan pada Pak Khalid sedari awal berjumpa hanya memandangi Della dengan curiga.
Meta yang melihat temannya bertingkah aneh jadi curiga pula.
"Eh bentar bentar deh, emang kenapa kalau Pak Khalid indigo?" Sambil menatap Della dan Daniah bergantian.
Della menegakkan kepalanya. "Meta sayang yang sedikit lemot, kalau saja Pak Khalid ga indigo udah gue deketin tuh dari dulu, secara cowok cakep, ganteng, kece, mapan, udah gitu Dosen, pintar, uuuuuuuh semua deh pokoknya." Della begitu gemas membayangkan wajah ganteng milik Pak Khalid.
__ADS_1
"Ya kalau memang suka apa masalahnya kalau indigo?" Meta benar-benar tidak paham.
Daniah tanpa sadar melempar Meta dengan bantalan sofa saking geramnya dengan Meta yang lemot. "Dasar cewek lalod nih anak! ya jelaslah ga berani deketin karena dia bisa lihat hantu! kan ga lucu Meta kalau pas lagi berdua tiba-tiba dia bilang 'tuh ada hantu' emang kamu berani?"
Meta cuma cengengesan mendengar penuturan Daniah. "Hehe bukannya malah makin seru tuh, bisa langsung bergelayut manja gitu pura-pura takut, jadi makin mesra deh, ya khaan!" Sambil mengerling ke Daniah tentu saja dengam senyum jahil.
Daniah melotot menatap Meta namun senyum mengembang di bibirnya. "Waah nih anak kirain lemot ternyata cemerlang juga ya!" Semangat Daniah bagaikan bangkit dari alam halu.
Meta semakin cengengesan mendengar penuturan Daniah, karena baru kali ini dia dipuji oleh seorang Daniah.
Lain halnya dengan Della justru mengerutkan dahi mendengar ucapan Daniah. "Eh Daniah jangan-jangan kamu juga suka sama Pak Khalid?"
Daniah menoleh memandangi Della dengan muka agak kesal. "Menurut Lo?"
Meta jadi bingung melihat temannya yang saling tatap seakan ada perang batin. "Eh kalian menyukai Pak Khalid semua ya?"
"Kalau iya?" Della dan Daniah berbarengan membuat Meta terbelalak.
Zahira yang baru saja menyelesaikan tugasnya di dapur juga sempat mendengar penuturan mereka langsung mendekat. "Jadi yang suka Pak Khalid itu kalian, tapi kenapa aku yang dituduh?" Sambil berdiri berkacak pinggang memandangi Della dan Daniah.
Melihat hal itu Meta langsung berdiri mengangkat tangannya hendak melerai. "Eh bentar bentar ya guys, ini kok jadi perang dingin gara-gara cowok nih, dari pada perang dingin, mending bersaing secara sehat, gimana?"
Della langsung mengangguk setuju, "boleh deh, tapi yang kalah jangan sirik ya." Sambil menatap Daniah dan Zahira bergantian. Zahira yang ditatap tau diri.
"Eh jangan lihat aku, aku ga masuk kategori ya, aku ga ada niatan lain sama Pak Khalid kok, sungguh, kalian aja deh!"
Mendengar itu, Daniah menatapnya serius. "Yakin lo?"
Zahira mengangguk pasti.
Daniah menatap Della begitu juga dengan Della lalu menatap Zahira.
"Tapi awas aja ya, kalau sampai nanti kamu malah ikutan suka sama Pak Khalid!"
Sekali lagi Zahira mengangguk pasti "Iya aku janji ga bakalan menyukai Pak Khalid deh!"
Daniah dan Della tersenyum senang mendengar janji Zahira. "Jangan marah atau dendam ya kalau diantara kita ada yang tidak terpilih," Della menyetujui pernyataan Daniah.
.
.
.
.
Sampai ketemu esok lagi yaπππππ.
Jangan lupa like dan votenya yahπππππ. Komennya jangan ketinggalan biar makin terasa dekat gitu sama authornyaπππππ.
__ADS_1