Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 49. Air mata darah


__ADS_3

Mobil Pak Khalid melaju, menerobos ramainya lalu lintas. Jalanan sudah semakin ramai, karena telah masuk waktu istirahat para pegawai.


Pak Khalid melirik Zahira yang sibuk memandang keluar jendela.


"Mau makan apa nih?" Pak Khalid kembali menatap jalanan.


Zahira menoleh, demikian juga temannya di belakang, langsung menatap ke depan. Zahira tidak menjawab melainkan menoleh ke belakang, memandangi temannya menanti jawaban.


Daniah seakan memahami pandangan itu, langsung menjawab. "Di Rumah makan padang aja Pak, hehe."


Meta langsung antusias, "Iya tuh Pak, penasaran nih, belum pernah makan nasi padang!" Della langsung menyikutnya, lalu berbisik di telinga Meta "Malu-maluin aja deh." Meta cuma mendelik.


"Tapi kamu juga pengen kan?" Della langsung melotot.


Pak Khalid hanya tersenyum mendengar Meta. "Oke kita ke restoran padang ya!" Meta langsung tersenyum penuh kemenangan, Della sendiri memonyongkan bibirnya ke Meta. Daniah ikutan senyum.


Mobil terus merangkak tersendat-sendat, karena jalanan yang amat macet. Suara perut anak kos-kosan itu seakan tak tahu malu. Dengan sarkasnya berteriak-teriak membuat wajah pemiliknya merah padam menahan malu.


Suara perut yang keroncongan dari belakang membuat Pak Khalid langsung menoleh. "Maaf ya, restoran padang masih jauh."


Della tak mampu berucap karena tak mau ketahuan, jika perut yang berkoar itu miliknya. Meta sendiri sudah berusaha menahan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri. Daniah cuma mengulum bibirnya.


Pak Khalid segera menepikan mobilnya, begitu melihat Rumah makan padang. Dia merasa kasihan dengan mereka yang sudah kelaparan. Meski sebenarnya, dia inginnya pergi ke restoran.


Mereka turun dari mobil tanpa aba-aba. Rasa lapar yang menyeruak tak lagi dapat ditahan. Tapi karena yang mengajak makan belum turun, mereka terpaksa berdiri menunggu di depan warung. Begitu Pak Khalid datang, mereka langsung masuk ke rumah makan itu.


Di dalam warung tampak ramai. Hampir semua meja terisi pelanggan. Mereka berdiri mematung sambil mengedar pandang, kalau-kalau ada meja kosong.


Agak lama mereka berdiri saling pandang, rasa gerah dan lelah sudah menyerang.Untungnya sekelompok pelanggan sudah selesai dan keluar.


Tanpa pikir panjang lagi Della dan Meta langsung duduk di sana. Daniah pun segera mengikutinya.


Empat kursi plastik berhadapan dengan meja dan di sebelah meja itu terdapat kursi kayu yang agak panjang.


Daniah, Della dan Meta sudah menempati kursi plastik itu, sementara salah satu kursi dipakai Daniah meletakkan tasnya. Dengan terpaksa Zahira melangkah ke seberang meja dan duduk di kursi kayu panjang. Pak Khalid pun demikian.


Pelayan datang menanyakan pesanan. Sesuai keinginan mereka, nasi padang pun yang menjadi pesanannya.


Saat mereka sedang asik menunggu pesanan, Daniah sudah tak sabar untuk mengetahui cerita Pak Khalid tentang fobianya. "Ehem, gimana dengan janji Bapak tadi, jadi dong diceritain," Sambil tersenyum dan mengangkat alisnya ke Della.


Meta dan Della ikutan senyum jahil. "Iya tuh, janji itu utang lho Pak!" Mereka tertawa.


Pak Khalid juga ikutan senyum. "Iya janji itu utang, dan utang harus dibayar, jadi anggap aja nasi padang itu bayarannya, lunas deh." Pak Khalid mengedip jahil pula.


Mereka langsung kecewa, "yaaaaah!!!" serempak ketiganya berseru.


Pak khalid tertawa puas. "Hahahaha,"

__ADS_1


sedangkan Zahira cuma tersenyum. PakKhalid yang kebetulan menoleh, jadi tertegun melihat lesung pipit manis bertengger di sana. Wajah Zahira sangat manis dan imut di matanya.


Melihat Pak Khalid yang tertegun menatap Zahira tanpa berkedip, Daniah mendehem keras. "Eekheem!!" Pak Khalid sedikit tersentak langsung berpaling menghadap meja lagi.


"Ehem ada yang hatuh cinta nih?" Meta memecah keheningan, membuat Pak Khalid keki bukan kepalang. Dia langsung tertunduk pura-pura mengibas-ngibas celananya yang tidak berdebu.


Zahira cuma mengerutkan dahi tidak mengerti arah ucapan Meta. Dengan penuh selidik, dia menatap Daniah dan Della bergantian, karena dipikiran Zahira mungkin salah satu dari mereka berhasil menggaet sang Dosen.


Daniah mulai jenuh dengan acara diam-diaman ini. "Ehem, bukannya utang uang dibayar uang, so utang cerita ya dibayar cerita, ya ga temen-temen?" Daniah melirik Della dan Meta.


Mereka mengangguk setuju.


Pak Khalid mengalah, sebenarnya untuk menutupi rasa gugupnya. "Oke deh aku cerita." Pak Khalid pun mulai bercerita panjang lebar mengenai kemampuannya, sebagaimana dulu Ia ceritakan pada Zahira, tidak kurang dan tidak lebih. Pak Khalid menghela napas berat sebelum menutup ceritanya.


" Haaahhhh, sejak melihat Papi mati mengenaskan, aku selalu ketakutan begitu melihat hantu atau semacamnya."


Pesanan mereka akhirnya datang juga. Tak ada lagi yang berkomentar, mereka tengah sibuk menghadapi hidangan di depannya. Mereka pun makan dengan lahap.


Amanda yang sedari tadi mengekor agak jauh, begitu mendengar cerita Pak Khalid, matanya berbinar. Betapa inginnya meminta bantuan pada Pak Khalid. Denga cepat dia melesat mendekati mereka.


Akan tetapi, karena asiknya makan, kehadiran Amanda tidak disadari oleh Pak Khalid. Amanda yang tahu tentang perasaan Pak Khalid pada Zahira, berniat untuk mencoba membantunya.


Dengan senyum penuh makna, Amanda yang kini berdiri di belakang Pak Khalid, dengan isengnya, memunculkan wajah seramnya tepat di samping telinga Pak Khalid lalu meniupnya.


Pak Khalid yang merasakan dingin, langsung menoleh. Dan....


"AAA!!" Pak Khalid memekik tertahan, langsung bergeser ke kiri dengan cepat.


Pak Khalid langsung bergeser menjauh ke tempatnya semula.


Dia diam terkesiap, menutup bibirnya yang tak sengaja menyentuh bibir Zahira.


Amanda tertawa kegirangan. Hatinya berbunga-bunga. Dia merasa seakan dirinya yang jatuh cinta. Begitu bahagianya sampai-sampai dia menggemggam erat kedua tangannya di depan dada dengan wajah geregetan.


Daniah and the gank yang lagi asik makan tidak sempat melihat kejadian, saat mereka mendongak, yang mereka saksikan hanyalah wajah meringis Zahira dan wajah kaget Pak Khalid. "Kalian kenapa?" Daniah angkat bicara.


"Tabrakan sama kepala Pak Khalid tadi." Zahira meringis menahan sakit di hidungnya. Saking sakitnya, dia tidak menyadari kalau tadi, bibir mereka sempat bersentuhan.


Pak Khalid sangat merasa bersalah, dia takut kalau-kalau Zahira marah dan membecinya. Dengan segera dia meminta maaf. "Zahira, aa...aku...aku minta maaf, tadi itu aku..."


Belum sempat Pak Khalid menyelesaikan ucapannya, Amanda kembali menyerbu wajahnya. Sekuat tenaga, Pak Khalid berusaha menahan diri agar tidak lagi bergeser ke samping. Dia menutup rapat matanya. Dengan mengatupkan gigi, Pak Khalid mencoba memohon pada Zahira.


"Ra, bisa tolong kamu usir teman hantumu ini!!!" Zahira yang dari tadi memperhatikan Pak Khalid saat minta maaf, langsung menegur. Amanda, jangan diganggu dong!"


Mendengar kata hantu, serempak Daniah and the gank berteriak. "Hantuuu!!" Zahira terlonjak kaget. Mereka pun bungkam seketika.


Para pelanggang di sana ikutan menoleh ke arah mereka. "Haa hantu," "Di sini ada hantu?" "Waah masa sih, siang-siang ada Hantu?" Kasak-kusuk pun terjadi.

__ADS_1


Pak Khalid yang menyadari keadaan segera minta maaf. "Oh maaf, Bapak Ibu semua, ga ada Hantu kok, kami cuma kebetulan lagi bahas hantu aja, hehe maaf."


Para pelanggan pun kembali menghadap mejanya. "Haah bikin kaget aja." gerutu seorang pelanggan.


Zahira menatap Pak Khalid lekat, ada rasa penasaran di hatinya. Pak Khalid menyadari tatapan itu, mengira Zahira marah padanya. "Ra, maaf yang tadi aku benar-benar tidak sengaja, aku..."


"Aku maafin kok Pak, emm aku cuma mau tanya, emmm..." Zahira menatap temannya sebentar. "Emm tapi aku takut, temanku malah teriak lagi."


Daniah menegakkan badannya mendengar ucapan Zahira, sambil tersenyum meringis "Waah hahaha rada-rada nih, tahu aku nih, pertanyaan mau kemana?"


Della ikuta mengangguk, Meta ikutan menyeringai, "pasti bahas Hantu."


Daniah menggamit Della, "pindah yok, mereka kayaknya emang cocok berdua aja, bahaya kita temenin, ada setan ditengah-tengahnya boo!"


Sambil mengangkut piringnya Daniah pindah ke meja sebelah yang telah kosong. Meta dan Della pun ikutan ambil tindakan.


Setelah semua temannya pindah, Zahira menoleh ke Pak Khalid, "Pak maaf aku mau tanya, Amanda ada dimana sekarang?"


Pak Khalid menatap Zahira sejenak, lalu dengan mukanya, Pak Khalid menunjuk kursi di depannya. "Tuuh!"


Meta yang melihat itu, langsung membungkam mulutnya dengan tangan. "Oh tidak, itu kursiku tadi, iiiiih." Teriak Meta dalam hatinya. Dengan cepat dia memakan nasinya tanpa mau menoleh lagi. Demikian juga dengan Daniah dan Della.


Sementara itu, Zahira terus menatap kursi di depannya lekat-lekat, seakan akan mencari sesuatu yang amat kecil di sana. Pak Khalid yang melihatnya tersenyum geli, Namun juga merasa kagum.


Baru kali ini dia melihat orang yang sama sekali tidak takut pada Hantu. "Aku merasa emang dia yang dimaksud peramal itu, Ya Allah semoga gadis ini jodohku, aamiin!" Pak Khalid memejamkan matanya berharap doanya akan dilabulkan Tuhan.


"Pak, apa Amanda masih di sana?" Pak Khalid mengangguk pelan.


"Apa Bapak bisa mendengar suaranya atau mungkin berbicara dengannya?"


Pak Khalid mengangkat bahu, lalu menggeleng, "kalau itu, aku tidak bisa Ra, aku cuma bisa melihatnya dan merasakan tapi tidak bisa berkomunikasi, aku bahkan tidak memiliki kesaktian seperti diberita atau film-film, dimana orang indigo itu memiliki kesaktian mengobati orang."


Zahira mengangguk pelan sambil tetap menatap Amanda. "Ooh."


Pak Khalid merasa ada yang janggal dengan pertanyaan Zahira. Apalagi saat melihat Amanda tiba-tiba tertunduk lesu, seakan-akan ada rasa kecewa di hatinya.


"Emangnya ada apaRa, oh ya, bukannya kamu bilang kalau kamu bertemu dia dalam mimpi?" Tiba-tiba Pak Khalid mengingat tujuan utamanya bertemu dengan Zahira.


Zahira menoleh, lalu mengangguk. "Iya Pak, awalnya aku masih ragu, tapi kemudian, aku yakin setelah aku bisa meyentuhnya," mereka saling tatap.


"Hanya saja ada yang aneh sih kurasa, emm sejak aku memakai tali yang ditunjukkan Amanda, Bu Kos langsung histeris, dan yaaah mungkin karena itu juga Bu Kos sampe sakit."


Pak Khalid langsung menoleh menatap Amanda yang sudah meneteskan air mata di sana. Pak Khalid jadi penasaran pula dengan cerita Zahira. Dia terus menatap Amanda seakan meminta penjelasannya.


"Pak, apa mungkin, Anda bisa bertanya langsung gitu sama Amanda, ada hubungan apa antara dia, tali gantungan itu sama Bu Kos?"


Amanda mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap Pak Khalid, wajahnya memelas begitu pilu.

__ADS_1


Pak Khalid kembali menggeleng sedih. "Maaf Ra, Amanda maaf banget, jika kamu mendengarku, tapi aku benar-benar tidak bisa mendengar suaramu."


Pak Khalid melihat jelas air mata Amanda menetes meleleh di pipinya. Air mata darah yang amat menyeramkan. Tengkuk dan bulu kuduk Pak Khalid berdiri semua. Dengan keras, dia berusaha menahan rasa takut yang kembali menyerangnya.


__ADS_2