
Begitu Zahira dan yang lainnya selesai makan, Pak Khalid pun mencoba membuka suara. "Zahira, kamu mau temani aku ke atas ga?"
Zahira mengerutkan kening, "buat apa ya Pak?" Yang lain ikut heran.
"Amanda meminta aku naik ke atas."
Yang lain saling pandang dengan wajah kaget. "Pak, Amanda dimana sekarang?" Della mulai tegang.
"Sudah pergi ke atas!"
Mereka pun bernapas lega.
"Ayo Ra!" Sambil beranjak dari kursinya menuju tangga. Zahira mau tak mau ikut juga meskipun tampak enggan.
Daniah and the gank menatap kepergian Zahira dan Pak Khalid yang sudah menghilang di balik tangga. Meta yang sedari tadi berusaha menjaga imagenya saat makan, begitu Pak Khalid menghilang, dengan cepat menyambar sate ayam yang masih tersisa banyak.
Daniah menjadi kesal melihatnya. "Meta! Jadi orang tuh jangan rakus!!"
"Ya dari pada mubazir juga kan, mending digasak, kapan lagi bisa makan sate."Ucap Meta sambil mengunyah.
Della tak mau ketinggalan ikutan makan dengan lahap. "Della kamu ya, bukannya ikutan menegur Meta, eeeh malah ikutan melahap, kalian ini malu-maluin banget!" Daniah makin sewot.
"Malu kenapa juga, orangnya kan lagi ga ada tuh, ya kan Meta?"
"Ho oh, hahaha!" Mereka makan dengan lahap.
"Dan, dari pada marah-marah, mending lo ikutan makan deh, entar kehabisan tau rasa lho!"
"Ga ah, takut gemuk entar!"
Meta dan Della saling pandang lalu tertawa. "Ooohh jaga body...kan sebentar lagi jadian sama Adrian, hahaha!"
"Siapa bilang? Kalian ini, harusnya kalian senang aku tidak ikutan makan, biar kalian puas makan itu!"
Della dan Meta angkat bahu sambil terus makan.
"Beresin semua dapur dan meja makan, kalau kalian sudah selesai makan!" Perintah Daniah sambil beranjak dari kursi menuju kamarnya. Della dan Meta tersenyum puas. "Bagus juga kalau jomblo, ga harus jaga body, hahaha!"
Di teras atas rumah, begitu sampai, Pak Khalid mengedar pandang. "Waah di sini luas juga ternyata!" Maklumlah, teras rumah itu tampak sempit jika dilihat dari teras rumah kontrakan Pak Khalid. Amanda muncul dengan senyum di wajah pucatnya. "Amanda!"
Zahira pun sudah sampai pula di teras. Dengan perlahan dia mendekati Pak Khalid. "Pak, ada apa sih kok pake kemari?" Zahira memandangi sekitar. Saat matanya tertumbuk pada tali gantungan yang pernah dilemparkan kembali padanya, dia pun menjadi heran.
"Eh kok tali itu ada di sana lagi, bukannya sudah dibuang sama anaknya Bu Kos?"
"Itu mungkin Amanda yang membawa tali itu lagi."
Zahira manggut-manggut. "Iya kan Manda?" lanjut Pak Khalid. Amanda mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mendengar Pak Khalid bertanya pada Amanda, Zahira kaget. "Eh Amanda ada dimana?"
"Tuh di depan kita!" Sambil menunjuk ke depannya.
"Terus kenapa Amanda manggil kita ke sini?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu!"
"Kalau begitu kenapa Bapak tidak bertanya?"
Pak Khalid memandangi Amanda penuh tanda tanya. Amanda melesat pergi ke depan tangga. Sambil menoleh ke Pak Khalid, dia mendekati tangga. Saat Amanda menyentuh tangga, tiba-tiba saja tubuhnya tersentak ke belakang.
Amanda kembali menatap Pak Khalid penuh harap. Pak Khalid mencoba mencerna maksud Amanda. "Manda, apa kamu mau bilang, kalau di tangga itu ada penghalang buat kamu?" Amanda mengangguk lagi.
Zahira memandang Pak Khalid, dia tidak mengerti dengan ucapannya. Mereka jadinya saling pandang karena pada waktu yang sama Pak Khalid juga menoleh padanya.
Mereka pun mendekat ke tangga. "Aku ingat, dulu Amanda meminta aku bawain Bu Kos sesisir pisang ke atas." Sambil menoleh ke Pak Khalid.
"Sebaiknya kita lihat saja dulu ya!" Ajak Pak Khalid.
Tiba-tiba dari dalam rumah, seorang perempuan keluar sambil menyeret kopernya dan menenteng beberapa barang. Tanpa sengaja pandangan mereka beradu. "Kalian ngapain di situ?" Tanya perempuan itu.
"Ee...aa...anu ini, kami cuma mau melihat-lihat pemandangan doang kok!" Zahira beralasan dengan gugup.
"Eh Mbak mau pulang kampung ya?" Lanjutnya.
"Tapi kenapa harus pindah Mba?" Zahira makin heran.
Perempuan itu menarik napas panjang. "Siapa juga yang mau tinggal di rumah yang berhantu begini, kami tidak kuat!" Perempuan itu pun berlalu pergi tanpa menghiraukan pandangan Zahira yang penuh iba.
Sepeninggal perempuan itu, Zahira melangkah mendekati pintu masuk rumah itu. Perlahan dia melongok di balik pintu. Suasa sepi terpampang di dalam rumah. "Kemana semua orang, apa semua sudah pindah?" Zahira bergumam.
"Ada apa Zahira?"
Zahira menoleh begitu mendengar teguran Pak Khalid. "Itu Pak, sepertinya semua orang sudah pada pindah!"
"Hhhhhaah mungkin mereka juga pernah melihat penampakan Amanda."
"Iya juga ya, kasihan Bu Kos, dia pasti mengalami kebangkrutan."
Pak Khalid tersenyum. "Kamu kasihan?" Sambil menatap Zahira lekat. "Setelah apa yang dia perbuat, itu bukan apa-apa, Ra!"
Zahira memgangguk pelan. "Iya juga sih Pak." Mereka pun melangkah menjauh dari tempat itu. Amanda terus menatap mereka lekat. Tanpa sadar mata Pak Khalid tertumbuk pada sesuatu yang bersinar di bawah tangga. "Eh apa itu?"
Mereka saling pandang, lalu pelan-pelan mendekat. Zahira yang kebingungan ikut saja dengan Pak Khalid. Sambil berjongkok, Pak Khalid mencoba meraih sesuatu di bawah kaki tangga.
Begitu benda itu terjangkau oleh tangannya, dengan cepat dia menariknya dan melihat benda tersebut. Ketika benda itu sudah di tangannya, sinarnya langsung hilang. "Zahira lihat ini!" Sambil menyodorkan benda itu di depan Zahira.
__ADS_1
Zahira mengamatinya. "Pak ini seperti jimat kan?" Pak Khalid menatap benda itu lekat.
Benda itu berupa kain hitam yang membungkus sesuatu di dalamnya. Bentuknya segi empat pipih. Saat Pak Khalid mencoba memeriksa detil isi di dalamnya, terasa seperti kertas tebal.
"Pak, Gimana kalau kita buka saja bungkusnya?" Pak Khalid melirik Zahira sebentar, kebetulan Zahira juga melihatnya. Mereka saling pandang.
Pak Khalid pun mengangguk pasti.
Perlahan-lahan Pak Khalid membuka bekas jahitan kain itu. Begitu terbuka, ternyata isinya adalah kertas putih yanh sudah buram dengan tulisan Arab juga. Pak Khalid yang bacaan Al-Qur'annya belum begitu bagus, dia bingung bagaimana cara membacanya. Karena tulisannya sangat tidak rapi.
"Zahira coba lihat ini, kayaknya tulisan Arab, mungkin kamu bisa baca!"
Zahira meraih kertas itu dan melihatnya dengan seksama.
Begitu Zahira melihat dan membaca tulisan itu, ternyata isinya hanyalah kumpulan tulisan berbahasa Arab yang artinya tidak karuan jika disatukan.
"Tak salah lagi Pak, ini jimat, mungkin ini ditulis sebagai mantra atau mungkin sebagai pelindung bagi dukun, aku pernah dengar itu dijelaskan oleh Pak Ustadz waktu masih di sekolah dulu!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan ini?"
"Kita bakar saja Pak, biar apa yang terkandung di dalamnya bisa hancur semuanya!"
"Kita bakar dimana?" Mereka saling pandang lagi. "Di sini saja!" Zahira menegaskan. "Baiklah, kamu tunggu sebentar, aku pergi membeli korek api ya!" Zahira mengangguk cepat.
Dengan langkah cepat, Pak Khalid melangkah menuruni tangga di sudut teras, dan langsung menuju warung.
Tinggallah Zahira menatap jimat itu di tangannya.
Saat Zahira tengah duduk menunggu, perempuan yang menjaga Bu Kos tempo hari, datang dengan wajah kesal. Zahira melihatnya dengan heran. "Kak, assalamu alaikum!"
Perempuan itu menoleh, "Eh kamu ngapain duduk di sini malam-malam, ga takut sama hantu kamu?"
"Aku lagi menikmati cuaca cerah malam ini Kak." Sambil tersenyum. "Kenapa dengan Kakak, kok kayak marah gitu?"
"Haah aku mau pindah dari sini, aku sudah dapat kontrakan baru!" Sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Zahira memandanginya makin heran. Meskipun perempuan itu sudah menghilang di balik pintu, Zahira masih saja menatap ke arah sana. Hingga dia tidak nampak lagi.
.
.
.
Sampai jumpa lagi kawan-kawanπππ.
Jangan lupa like, vote dan komennya yahππππ.
__ADS_1