Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 83. Rencana Refreshing


__ADS_3

Meta yang mendengar nama Amanda, menjadi tegang. Dengan cepat dia mendekati mereka. "Maksud Bapak, Amanda tinggal disini tuh, apa ya?"


Pak Khalid menoleh. "Eh Meta, sudah bangun?"


Meta tidak menjawab melainkan langsung duduk di kursi sebelah Pak Khalid. "Pak, Amanda ngikutin kita gitu?" Seraya menatap Pak Khalid lurus tak berkedip.


Zahira cuma tersenyum melihat wajah tegang Meta. Demikian juga Pak Khalid.


"Ga perlu tegang begitu, Amanda bukan mengikuti kalian, cuma dia memang sudah di sini sebelumnya!"


Jelas Pak Khalid kemudian menyeruput tehnya.


Zahira mengerutkan keningnya. Lebih-lebih Meta yang memang sudah penasaran. "Lho bukannya Amanda tinggal di rumah Bu kos?" ujar Meta.


"Iya, tapi waktu kalian dijahatin sama Tono, aku lihat Amanda sedang diluar rumah dan tidak bisa masuk, mungkin rumah Bu kos sudah dikasi mantra pelindung!"


Meta dan Zahira langsung terbelalak, "Ooh!" Lalu terdiam dengan pikiran masing-masing.


Meta langsung menoleh lagi seakan tersadar sesuatu, "eh Pak, bukannya amanda ada ditahanan, gangguin Tono?"


Pak Khalid menoleh sebentar lalu kembali menyantap rotinya dengan santai, "Hem, tapi waktu kita pulang, dia juga ikut!"


Zahira meletakkan cangkir tehnya lalu menatap Meta, "dari pada banyak tanya, mending kamu makan deh, entar rotinya keburu melempem!"


"Aah baiklah!", Meta menurut dan mulai menuangkan teh untuk dirinya. Dia pun ikutan makan.


Pak Khalid menatap Zahira tak berkedip sambil tersenyum tipis, seakan ada yang dipikirnya. Zahira secara tidak sengaja melihatnya. "Hmm ada apa Pak, kok liatin aku begitu?" Sambil tersipu malu.


"Oo...eh ga papa kok, emm...cuma aku mau tanya, apa kamu ada kegiatan hari ini?" Pak Khalid memasang wajah serius.


Meta yang mendengar itu, langsung menyela. "Wah, mau diajak kencan nih kayaknya, hahhaayy!" Senyumnya kelihatan jahil.


Zahira langsung menunduk mendapat ledekan dari Meta. Wajah putihnya jelas tampak merona, membuatnya tak sanggup berkata-kata untuk menjawab pertanyaan Pak Khalid.


Pak Khalid merasa sedikit kesal dengan ledekan Meta, dia pun menoleh menatapnya. "Bukan gitu Meta!" Meski suaranya lembut, namun tekanannya terasa dalam.


Meta pun langsung menggigit bibir. "Maaf Pak!"


"Maaf ya Zahira, aku bukan berniat apa-apa kok, aku cuma mau mengajak kamu mencari alamat Amanda di kampungnya!" Pak Khalid menatap Zahira.


Mendengar nama Amanda disebut, Zahira langsung mendongak, "alamat Amanda, memangnya Bapak tahu dimana kampung Amanda?"


Pak Khalid menganguk kecil, "Iya, katanya sih di...Kabupaten Bone, tepatnya di Jalan poros Maros-Bone tapi nomor rumah dia tidak menyebutnya!"


Alamat Amanda yang pernah diberikan dulu saat Zahira kesambet Amanda.


Zahira tertegun, "Mm...tapi jauh lho Pak, dari Makassar!"

__ADS_1


Pak Khalid menatapnya penuh selidik, "apa kamu tahu daerah itu?"


Zahira mengangguk, "tidak begitu tahu juga sih Pak, cuma terkadang dengar dari orang yang suka bepergian aja, kalau mobil dari Soppeng ke Makassar, biasanya ada yang lewat Maros, ada juga yang lewat Bulu' dua!"


Pak Khalid mengernyitkan kening, "Maksud kamu...jadi...?"


Meta langsung menyela "Maksudnya itu Pak, kalau dari makassar mau ke kampung Zahira bisa lewat Maros-Bone!" Sambil tersenyum membanggakan diri.


Pak Khalid menoleh menatap Meta sembari tersenyum, "Meta pintar sekali ya!"


Meta tersenyum sambil menepuk dada, tidak lupa menaik turunkan alisnya.


Pak Khalid tersenyum seraya kembali menatap Zahira, "tapi maksud pertanyaanku, apa Zahira belum pernah lewat di daerah itu? karna kan cuma pernah dengar?"


Meta hampir tesedak teh mendengarnya. "Ekhem." Sambil tersenyum malu.


"Emm pernah sih sekali, tapi sudah lama, masih sejak aku SMP, jalanan jelek banget lho waktu itu, udah gitu jalanan berkelok-kelok, terus harus melewati hutan belantara yang terkenal angker, entar, malah Bapak bisa lihat penampakan, gimana?" Jelas Zahira.


"Ga papa, kan ada kamu!" Seraya mengedipkan matanya sambil tersenyum. Zahira cuma bisa mengulum senyum. Meta sendiri memilih diam, karena takut kena teguran lagi.


Daniah dan Della datang bergabung


"lagi ngobrolin apa ya?" Tanya Daniah sambil menarik kursi dan duduk.


Meta langsung menjawab. "Mau cari kampung Amanda di Bone!"


" lewat Maros berarti, waah bisa mampir di Bantimurung dong, sambil refreshing!" Daniah menaikkan alisnya.


Semua menatap Daniah penuh tanda tanya. Ditatap demikian, Daniah jadi salah tingkah. "Ke...napa lihat aku begitu sih?"


"Daniah, apa kamu tahu soal daerah Bone?" Tanya Pak Khalid.


Daniah mengangguk, "Iya lah Pak, aku kan dari Bone!" Daniah tersenyum. "Cuma belum pernah masuk di Bantimurung, hehe!" Lanjutnya.


"Ya sudah, bagaimana kalau hari ini kita kesana, sekalian mampir di Bantimurung, kebetulan aku juga belum pernah melihat Wisata alam Bantimurung!" Della antusias.


"Iya, mumpung hari minggu, sekalian liburan, yeeeyyyy!" Meta kegirangan.


"Hhh oke...jadi sebaiknya kalian cepatlah siap-siap, soalnya perjalanan pasti akan sedikit lama!" Perintah Pak Khalid sambil menyeruput habis tehnya.


"Siap Pak, hahaha!" Seru Mereka bertiga. Zahira cuma teersenyum.


"Baiklah, aku akan tunggu di luar ya!" Seraya Bangkit dan berjalan keluar menuju ruang tengah.


Daniah and the gank, segera melahap sarapan. Mereka tampak sangat antusias mendapat undangan jalan-jalan.


Begitu selesai bersiap-siap, mereka pun berkumpul di ruang tengah. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk orang. Semua orang saling pandang.

__ADS_1


"Meta! coba lihat siapa yang datang!" Perintah Daniah. Meta segera keluar.


Begitu melihat siapa yang datang, Meta langsung tersenyum. "Eh Adrian, kamu juga diundang buat refreshing ya?"


Adrian mengerutkan kening, "undangan? aku...tidak tuh!"


"Ooh...kalau gitu sekalian aja kamu ikut, sekalian kencan, hehe!"


"Masuk yuk!" Lanjut Meta.


Adrian mengikuti Meta masuk ke dalam.


Sesampai di dalam, Meta langsung berseru, "Adrian juga mau ikut katanya Pak!"


Sontak semua menatap Meta. Daniah tampak tak nyaman, dia pun langsung menarik lengan Meta kasar, sambil berbisik dengan gigi terkatup rapat. "Ngapain juga kamu ajakin dia!"


Pak Khalid menatap Adrian lekat, "yakin mau ikut?"


Adrian tersenyum, "yah kalau dibolehin sih, mau Pak!" Adrian malu-malu.


Pak Khalid menarik napas seraya menatap anak-anak, "Hhhhaah, oke...kalau semua sudah siap, mari kita berangkat!" Sambil melirik Amanda yang sudah kegirangan di sudut ruangan.


"Hayooo!" Teriak Della dan Meta kegirangan.


Mereka pun beranjak keluar dari rumah. Begitu sampai di luar rumah, perdebatan terjadi. Pasalnya muatan kelebihan seorang. Tapi Adrian juga tidak mau berkendara sendirian.


Pak Khalid menengahi. "Begini, bagimana kalau Daniah ikut di mobil Adrian sekalian sama satu orang, apakah Meta atau Della!" !


"Iya, bagusnya emang begitu, kita kan empat cewe, jadi masing-masing 2 satu mobil, biar tidak terkesan berduaan, takutnya nanti ada setan di tengah-tengahnya!" Usul Zahira.


Semua mengangguk setuju.


Amanda langsung menganga mendengar penuturan Zahira. Sembari menatap Pak Khalid penuh tanya, dia menunjuk dirinya. Karena Amanda merasa terpojokkan. Biar bagaimanapun, Amanada itu Hantu, dan akan ikut di mobil Pak Khalid. Sudah pasti ada setan diantara mereka.


Melihat ekspresi Amanda, Pak Khalid menahan tawanya. Bibirnya bergerak-gerak karenanya. Tapi sebisa mungkin dia menahan tawa agar yang lain tidak curiga. Dengan menarik napas, dia mencoba menetralkan tawanya. "Hhhhhaaah, jadi gimana nih, siapa yang bareng siapa?"


"Eemm Della ikut aku Pak!" Seru Daniah sambil menarik lengan Della.


"Baiklah, oh ya, Daniah kamu duluan ya, sebagai penunjuk jalan!" Saran Pak Khalid. Daniah mengangguk lalu masuk ke mobil Adrian disusul oleh Meta. Demikian juga Zahira dan Meta masuk ke Mobil Pak Khalid.


Mobil pun melaju membelah pagi dikeramaian kota Makassar.


.


.


.

__ADS_1


Langsung lanjut...


__ADS_2