
Zahira kemudian membaca pesan singkat tersebut, keningnya pun bertaut, "kira-kira siapa yang gak suka dengan pernikahan aku, ya?" tanyanya sambil melirik temannya satu persatu.
Meta melirik Della, yang dilirik justru angkat bahu.
"Apa mungkin, Gina?" celetuk Daniah membuat semua mata tertuju padanya.
Mata Meta membulat dan segera menunjuk Daniah, "naah, bisa jadi tuh!" serunya lalu menatap Zahira.
"Ra, aku yakin ini pasti ulah cewek kasar itu," ucapnya berapi-api.
"Iih, Meta. Gak boleh sembarangan nuduh orang, kalo gak bener, dosa 'kan jadinya." Zahira menegur Meta yang seenaknya berbicara.
"Terus, mau nuduh siapa lagi coba? Ini tuh udah jelas, siapa lagi yang gak suka sama pernikahan kalian selain dia?" bantah Meta tidak mau kalah.
"Iya tuh, bener loh, Ra." Dania mencoba membenarkannya.
Zahira menarik napas panjang tanpa mampu menanggapi ucapan temannya. Ada rasa ragu dalam hatinya. Tatapan matanya lurus ke depan tak berkedip mencoba mencerna apa yang terjadi, dan siapa gerangan yang mengancamnya.
"Haaahh ... Udah yuk, kita pulang aja, kasihan Mami menunggu kita di rumah!" ajak Zahira kemudian, lalu kembali melajukan mobilnya dengan perlahan.
Tidak seorang pun yang bersuara selama perjalanan. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya mereka telah sampai di rumah.
Maminya Khalid terlihat tengah menunggu mereka di teras sambil bercengkerama dengan seseorang.
"Assalamu alaikum, Mi!" sapa Zahira begitu sampai di teras.
__ADS_1
Maminya Khalid segera menyambutnya dengan senyum ceria, "alaikum salam, Sayang," balasnya lalu mencium pipi kiri dan kanan menantunya.
"Ah, kalo begitu, aku permisi dulu ya, Bu." sela seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menemani maminya khalid tersebut.
"Ooh iya, silakan, Bu. Makasih loh udah mampir menyapa," ucap maminya Khalid basa-basi. Orang tersebut pun meninggalkan rumahnya.
"Ayo masuk, Sayang. Mami udah nyiapin makan siang, ayo Nak, mari!" ajak maminya Khalid pada Zahira dan teman-temannya.
"Maaf Tante, orang itu siapa ya?" sela Meta penasaran sambil terus melirik kepergian wanita tadi.
"Iya Tante, kayaknya kita baru lihat." sela Della pula.
"Ooh, itu tetangga baru kita, katanya baru semalam pindah ke situ," jelas mamanya Khalid sembari menunjuk rumah yang ada tepat di samping rumahnya.
Daniah dan Zahira ikut menengok arah yang ditunjuk sembari mengerutkan kening.
Maminya Khalid hanya mengangguk lalu berjalan masuk. Mau tak mau keempat sekawan itu ikut masuk dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kita ke kamar dulu ya, Tante. Mau nyimpan tas dulu." pamit Della.
"Aku juga mau ke kamar dulu ya, Mi." Zahira pun ikut pamit ke kamar.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, Mami tunggu di ruang makan, ya!" seru maminya Khalid sambil terus berjalan ke ruang makan.
Zahira dan yang lainnya segera ke kamar masing-masing. Sesampainya di kamar, Zahira duduk di tepi pembaringan lalu kembali membaca surat kaleng yang didapatnya tadi.
__ADS_1
"Kira-kira siapa ya, yang mengirim ini?" Zahira menggigit bibirnya sambil berpikir.
"Apa iya, ini ulah Gina lagi?" Haaah ... Mending aku sholat aja dulu, gak usah dipikirkan ah," ucapnya berusaha menenangkan diri sendiri.
Zahira pun bangkit menuju kamar mandi, dan segera berwudhu. Selesai melaksanakan sholat dzuhur, istri dr. Khalid tersebut segera berdoa mengharap perlindungan dari yang maha kuasa.
"Ya Allah, yang Maha Perkasa, ya Allah yang Maha Kuat, ya Allah yang Maha Bijaksana, sesungguhnya hamba hanyalah manusia yang lemah, hamba tidak punya kekuatan apa-apa, hanya engkaulah yang mampu memberi perlindungan, kekuatan dan kebijaksanaa pada diri hamba, dalam menghadapi semua persoalan dan permasalahan hidup. Ya Allah, hamba serahkan semua hanya padamu. Aamiin."
Selesai berdoa, Zahira pun beranjak dan berganti pakaian lalu segera turun menemui mertua dan teman-temannya di bawah.
"Kok lama, Sayang?" tegur maminya Khalid saat Zahira telah bergabung.
Zahira tersenyum sambil menarik kursi untuk duduk. "Aku sholat dulu, Mi, maaf sudah membuat menunggu."
Maminya ikut tersenyum seraya mengangguk, "ya udah, yuk makan!"
Mereka lalu makan dengan lahap dan tenang tanpa ada yang berani bercakap ataupun bercanda, karena mereka sangat segan pada mertua Zahira.
Acara makan siang pun telah usai, mereka lanjut untuk berbincang sekenanya di ruang keluarga, kemudian mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Malam telah datang, dan setelah makan malam, Zahira bersama mertuanya memilih duduk bersantai di ruang keluarga sambil menunggu suaminya pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara benda jatuh di atap rumah.
"Apa itu?" Seru maminya khalid dengan mata terbelalak dan terlonjak dari sofa.
Zahira pun tak kalah kagetnya, sambil memegang dada, dia menatap ke langit-langit," iya Mi, suara apa itu?"
__ADS_1
Daniah, Meta dan Della berhamburan keluar dari kamarnya menemui Zahira. "Suara apa itu, Ra!" seru mereka hampir bersamaan.
***Bersambung***