Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 75. Tiada Dukun, tangan yang bicara


__ADS_3

Semua teman Zahira langsung panik melihat keadaannya. Akan tetapi karena sakit di perut masih agak terasa, akhirnya mereka hanya membiarkan Zahira berbaring di pangkuan Daniah.


Perlahan Zahira mulai membuka matanya. Karena silau, dia hanya bisa memicingkan mata.


Melihat Zahira membuka mata, temannya langsung menyerbu dengan pertanyaan beruntun.


"Zahira kamu sudah sadar?"


"Zahira bagaimana perasaan kamu?"


"Kamu ga papa kan Ra?"


Zahira tak menjawab, melainkan memandagi wajah temannya satu persatu. Perlahan dia bangkit dan mengedar pandang. "Kemana semua orang?"


"Haa!! semua...orang?" Della menatap Daniah tak mengerti. Daniah cuma agkat bahu. "Orang yang mana Ra?" Meta mengerutkan kening.


"Aah itu, tadi ada banyak orang yang bantuin aku berdzikir, kemana mereka?" Zahira kembali menatap temannya satu persatu.


Mereka semua melongo tidak mengerti. "Oh ya dimana mereka? Eh maksudku, Pak Dukunnya." Zahira menatap Della.


"Ooh tuh Dukun lagsung lemas pas kamu teriak kayak kesurupan Ra!"


Zahira terkejut mendengar penuturan Della. "Haa! Kesurupan?"


"Iya Ra, kamu tahu ga, wajah kamu tuh ya benar-benar menakutkan!" Meta berapi-api.


"Iih kok bisa?" Zahira masih tidak percaya.


"Iyalah, kamu berdiri tegak, habis itu mata kamu melotot sampe juling," Meta memperagakan gaya Zahira, "sambil baca doa, awalnya samar-samar lalu makin lama makin besar dan akhirnya teriak-teriak sambil tersenyum menyeringai lebar."


Wajah Meta yang memperagakan gaya Zahira tadi nampak lucu sekaligus menyeramkan. "Meta cukup, aku ngeri lihat muka kamu!" Daniah langsung menampar lengan Meta.


"AAAAA issh!!" Meta meringis mengelus lengannya. Meta cemberut kesal jadinya.


"Hahahaha, Meta muka kamu lucu banget deh!" Della menertawainya.


"Aah jadi begitu ya, padahal aku tadi tidak bermaksud begitu!" Zahira tertunduk lesu.


"Eh Zahira, kamu tahu tidak, saat kamu mulai teriak gitu, tuh Dukun makin lama makin lemas dan akhirnya dia jatuh terduduk dan ga bisa berdiri lagi." Lanjut Meta. Meski masih mengelus lengannya yang terasa ngilu.


"Tapi Ra, sebenarnya apa yang terjadi, kok kamu bilang ada banyak orang?"


Della bertanya penuh selidik.


"Emm tadi itu, waktu aku menatap Pak Dukunnya, matanya melotot gitu, jadi aku ga mau kalah, ya aku tatap juga sambil melotot, eeh lama-lama mataku buram, wajah Pak Dukun jadi banyaaak banget...."


"Hahhahahaa, panteslah wajah Pak Dukun kelihatan banyak, soalnya mata kamu juling, hahaha!" Tawa Della memotong penjelasan Zahira.


Daniah melotot ke Della yang terbahak-bahak. "Della!! bisa diam ga, kita mau dengar cerita Zahira, bukan tawa kamu!" Della pun terdiam seketika.


Zahira pun melanjutkan. "Jadi kan makin lama makin kabur, wajah Pak Dukun yang banyak jadi hilang semuanya..." Zahira pun menjelaskan tentang semua yang dialaminya, bersama semua orang yang tidak dikenalnya tadi, tanpa ada yang tertinggal.


Della dan Meta mengangguk mengerti. "Ooh makanya kamu pake senyum-senyum dan tereak gitu ya?"


Zahira cuma mengangguk pelan.


"Eh ngomong-ngomong, dari pada ada masalah lagi, bagimana kalau kita kabur aja dari sini, aku takut kalau sampai tuh orang datang lagi, iih ngeri deh jadinya!" Della bergidik ngeri.


"Iya kita memang harus kabur dari sini!" Daniah menyetujui. "Ayo mending kita cepat beres-beres.


"Tapi kita mau kemana?" Meta cemas.

__ADS_1


Mereka tampak berpikir. "Ah pokoknya kita beresin barang dulu, mau kemana itu urusan nanti, ayo cepat!" Perintah Daniah. Dengan menahan rasa ngilu, mereka segera beranjak hendak membereskan barang.


Selesai membereskan barang, mereka berkumpul di ruang tengah berikut barang-barangnya. "Ra, kamu telpon Pak Khalid, siapa tahu kita bisa dikasi tempat tinggal gitu." Usul Meta.


"Tapi kan Pak Khalid lagi sibuk, Meta!" Alasan Zahira. "Bagaimana kalau kita ke rumah Tanteku aja?" Lanjutnya.


Mereka saling pandang. "Tapi bagaimana caranya kita bawa semua barang yang banyak begini?" Della.


Daniah tampak berpikir sejenak, "Ra, aku juga setuju minta tolong Pak Khalid buat bantuin kita!"


Zahira terdiam karena merasa bimbang. Dia benar-benar tidak mau lagi berurusan dengan Pak Khalid. Akan tetapi dalam situasi begini, Zahira tak mampu berbuat apa-apa.


Karena Zahira masih tak bergeming, Daniah melanjutkan usulnya. "Ra, kita ga mungkin kan keluar menyeret barang kita, entar ketahuan sama anaknya Bu kos, gimana?"


Meta dan Della semakin panik "Iya Ra, kita ga boleh mengulur waktu, gimana kalau tiba-tiba dia datang lagi?" Meta meringis sambil menghentak-hentakan kakinya seperti orang yang gemetar.


"Iya Ra, kalau pakai santet sih, kita ngandelin kamu, tapi kalau pake otot, kita mau ngandelin siapa?" Della melebarkan kedua tangannya.


Zahira masih bimbang. "Ayo Ra, Zahiraa!" Desak temannya.


Akhirnya Zahira mengalah, "Baiklah." Dia pun meraih ponselnya lalu menelpon Pak Khalid. "Haahh ga diangkat!" Zahira menutup telponya. Mereka makin merasa cemas dan panik hingga sakit di perut mereka tidak dirasa lagi.


"Aduuhh terus gimana dong??" Meta meringis demikian juga dengan Della. Sementara Daniah tak mampu berbicara. "Ra coba lagi dong!" Zahira mengagguk lalu kembali menghubungi Pak Khalid.


Telah berkali-kali ditelpon tapi tetap saja tidak terjawab. "Gimana dong, gimana caranya kita kabur?" Della benar-benar cemas. Meta meremas ujung bajunya karena ketakutan.


Lain halnya dengan Tono, saat ini dia tengah sibuk melayani Pak tua yang lagi lemas. Setelah membaringkan tubuh Dukun tua itu di sofa, Tono segera mengambilkan air untuknya.


Begitu Pak tua agak baikan, Tono membawanya turun ke mobilnya, yang mana sopir Pak tua telah menanti sejak tadi. "Pak, bawa majikanmu pulang, dia sama sekali tidak berguna!" Lalu membanting pintu mobil.


Dengan rasa geramnya dia langsung naik ke tangga seakan hanya dengan 2x lompatan. Begitu sampai di teras, dia menoleh kiri dan kanan. Setelah yakin tidak ada yang melihatnya, dia pun meluncur turun ke lantai bawah.


Disaat yang sama, ponsel Zahira berdering. Dengan cepat Zahira menjawab telponnya.


*"Alaikum salam Ra, ada apa, tadi kamu menelpon? kamu kaya buru-buru?"*


*"Eee ini Pak ee kita mau minta tolong kalau boleh?"*


*"Ya boleh dong, bilang aja!"*


Zahira terdiam tak menjawab, karena Tono kini telah berdiri menatap mereka dengan mata melotot tajam.


"Aduuh gimana ini?" Meta meringis ketakutan. Mereka saling peluk dengan wajah tegang. Zahira pun sama takutnya. Sementara ponselnya tetap saja dipegangnya.


"Hahahaha kalian mau kemana HAA!! apa kalian mau kabur? Kalian pikir aku akan membirkan kalian kabur begitu saja HAAA!!"


Bentakan dan ancaman Tono terdengar jelas di telinga Pak Khalid. Dengan cepat Pak Khalid mematikan ponselnya lalu berlari keluar. Dia bahkan tidak perduli dengan baju seragam operasiny yang belum diganti.


Saat berpapasan dengan dr. Harun, dia ditegur. "Lho Lid, kamu mau kemana kok buru-buru?"


Sambil berlari dia menjawabnya. "Pacar aku diganggu orang!" lalu melambaikan tangan.


Sementara itu, Zahira yang dibentak kini sudah gemetaran. Ponselnya terjatuh dari tangannya. Dia pun ikut mengenggam erat tangan Daniah.


Tono semakin buas. Dengan langkah lebar dia mendekati Zahira. Hhaah kalau dukun tak mampu bertindak, maka tanganku yang akan bicara. Dengan sekuat tenaga, dia melayangkan telapak tangannya ke wajah Zahira.


"AAAAAAKKKKHHH" Jerit semua gadis itu bersamaan meski yang ditampar cuma Zahira. Zahira menangis sesenggukan sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. "Abiiii, Umiiii heekks heekks...Ya Allah tolong kami!!" Air matanya bercucuran.


Dengan cepat Daniah berlari ke pintu. Akan tetapi kali Tono yang besar dan panjang, dengan cepat menyusul Daniah. Tono menarik dan menghempaskan tubuh Daniah. "Jangan beraharap kalian bisa kabur dariku!"


Tono berdiri berkacak pinggang.

__ADS_1


Daniah beringsut mendekati Meta dan Della yang segera menyambutnya. "Dan gimana ini??" Meta meringis ketakutan.


Zahira ikutan mendekat ke temannya.


Tono tanpa ampun makin beringas. Dengan kuat dia menarik tangan Zahira lalu kembali menampar pipinya yang satu lagi. Sekali lagi Zahira menjerit keras "AAAAAAAAAKKKHHH!!"


""TOLOOOOONG.....TOLOONG KAMIIII!!!" Della, Meta dan Daniah berteriak histeris. Mata Tono kini malah menatap mereka dengan kalap. "DIAAAMMM!! atau akan membunuh kalian semua. Tono melepaskan Zahira lalu beralih mencekik Della.


Meta dan Daniah berusaha mencegat tangannya tapi hanya dengan sekali kibas, tangan Daniah dan Meta lagsung terlepas. Della semakin sesak napas.


"Kalau kamu sampe teriak lagi, aku akan membunuh kalian semua!" Sambil mendorong tubuh Della. Tanpa ampum Della terhempas ke belakang. Dia terisak ketakutan di sana.


Dengan cepat Zahira, Daniah dan Meta segera menghampiri Della yang jatuh terduduk di lantai. Mereka pun berpelukan.


Tono tambah beringas, dengan kasar dia mencengkeram rambut Zahira yang terbungkus hijab, lalu menariknya agar berdiri. "AAAAAKKHH ya Allaaah tolong aku ya Allaah!!"


"Hahaha kamu pikir tuhan akan turun menolongmu? HAHAHA panggil saja terus!" Dengan keras dia mendorong kepala Zahira hingga terdorong ke depan dan tersungkur ke lantai.


Zahira makin terisak-isak. Dengan kasarnya Tono menarik paksa jilbab Zahira. Dengan sekuat tenaga Zahira menahan dan mempertahankan jilbabnya. "Tidaaak jangaaaannn, heeks hekkss, jangaaannn!!" Zahira meraung sambil menahan jilbabnya.


"Apa kamu pikir aku akan peduli?" Lagi-lagi Tono melayangkan tamparan di wajah Zahira. "AAAAAAKKKHH heeks heekksss, haaaaa...haaaaa...Ya Robby tolong hamba!!"


Daniah and the gank cuma bisa menangis menyaksikan Zahira yang disiksa di depan matanya. Perlahan lahan Della beranjak berniat kabur untuk minta tolong. Sial sedang menghadang, Tono melihatnya dengan ujung mata.


Secepat kilat Tono berlari menarik tangan Della dan melemparnya ke tembok. Tubuh kurus Della sangat enteng bagi tenaga Tono yang besar.


"Aakhh," Della memekik tertahan lalu jatuh dan tak bergerak.


"DELLAAAAA!!" Pekik temannya serentak. Dengan cepat mereka menyerbu ke Della.


Lagi-lagi Tono mendekat dan menarik paksa Zahira. Karena kali ini Tono hanya menarik jilbabnya, tak ayal lagi, jilbab Zahira terlepas dari kepalanya. Muncullah kepala dan tubuh Zahira tanpa hijab.


Meskipun Zahira memakai jilbab dalaman, tapi tetap saja leher jenjangnya yang putih mulus tampak menggiurkan. Napsu Tono berkobar-kobar melihatnya.


Dengan senyum menyeringai dia mendekati Zahira. Melihat senyum Tono yang aneh, Zahira mundur perlahan mencoba menjauh.


Amanda berteriak histeris menyaksikannya di luar jendela. Dia tidak berani mendekat apalagi sampai menerobos masuk mengingat rumah itu sudah dipagari dengan mantra oleh Pak Dukun.


Amanda melesat kesana-kemari tidak karuan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Sementara di dalam sana, Zahira tengah memperjuangkan kehormatannya.


Zahira duduk memeluk lutut sambil menyembunyikan kepala di antara kedua lututnya, agar Tono tidak bisa menjamahnya. Berkali kali Tono menariknya tapi Zahira tetap berjuang agar tangannya tidak terlepas dari pelukan di lututnya.


Sementara Daniah dan Meta hanya bisa menutup mata dan saling mencengkeram tangan karena tak mampu menyaksikan kelakuan Tono. Air mata mereka mengalir deras menganak sungai.


Amanda benar-benar geram. Begitu melihat mobil Pak Khalid berhenti di depan rumahnya, Amanda segera menghampirinya dan menunjuk-nunjuk rumah Zahira.


Pak Khalid bagaikan kesetanan berlari menuju ke rumah Zahira. Hanya dengan sekali tendang pintu langsung terbuka.


"PAK KHALIIIIDD!!" Pekik Daniah dan Meta berbinar. Mereka langsung berdiri.


Begitu melihat Tono sedang memaksa hendak mencium dan menjamah tubuh Zahira, yang kini duduk menelungkup berusaha menyembunyikan wajahnya, bagaikan melayang, Pak Khalid langsung menerjang Tono dari belakang. Perkelahian pun tak dapat dihindari.


Beberapa warga yang kebetulan lewat dan mendengar suara ribut-ribut, menjadi penasaran, mereka lalu mengintip.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jumpa lagi ya😘😘😘😘😘😘.


__ADS_2