Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 77. Tak ada gading yang tak retak


__ADS_3

Samar-samar Zahira mendengar percakapan Pak Khalid dan Rasti. Perlahan dia pun membuka mata.


"Rasti!"


Rasti menoleh menatap Zahira. "Hai Zahira, gimana kabar kamu?"


Zahira tersenyum lalu berusaha bangkit. "Aku Alhmadulillah sudah baikan!"


"Hah, kok bisa sih, kejadian kayak gini bisa terjadi?" Rasti menatap Zahira sedih.


"Yaah anggap saja cobaan hehe."


"Kamu bahkan masih bisa tertawa?"


Pak Khalid yang semula duduk, langsung berdiri. "Syukurlah sekarang dia bisa tertawa, kemarin dia nangis terus dan gemetaran, tubuhnya lemas makanya diinfus, karena sudah bisa senyum jadi aku bisa lega sekarang."


Zahira tertunduk malu. "Iya makasih ya Pak sudah merawat kami dengan baik, sekalian maaf karena sudah merepotkan.


"Ya sudahlah, kalian ngobrol dulu ya, aku masih ada kerjaan," Pak Khalid pun melangkah pergi.


Rasti dan Zahira pun bisa mengobrol dengan leluasa, demikian juga dengan Adrian dan Daniah. Mereka berbincang dan bercerita tentang semua kejadian yang menimpa Daniah and the gank. Hanya saja, bagian perdukunan dan masalah Amanda tidak mereka ungkapkan.


Meta yang tidak enak berada diantara Adrian dan Daniah, memilih untuk mengupas buah dan memberikannya pada Della. Karena diberi jeruk, Della keberatan dan berbisik, "Meta ngapain ambil jeruk, ambilin anggur gih!"


Meta tersenyum sambil menjulurkan lidahnya, "sorry Del, aggurnya buat aku ya!" juga sambil berbisik. Bagaimanapun mereka berusaha menjaga imagenya.


Della melotot, "Kamu ya, curang banget deh, bagi dua bisa kan?" Masih berbisik.


"Udah sukur aku kupasin jeruk, bwee!"


Della melempar wajah Meta dengan ampas jeruk dari mulutnya.


Meta kaget bukan kepalang. Della tertawa puas. "Hahahaha!"


Meta kesal bukan main. "DELLAAAA!"


semua kaget langsung menoleh, "kalian kenapa sih?"


Dengan cepat Meta menyangkal, "Eehh hehehe ga ada apa-apa kok, haha!"


"Zahira kamu lekas sembuh ya, aku pulang dulu, Della, Meta cepat sembuh ya, aku pamit pulang dulu!"


"Iya makasih udah menjenguk kami!"


Melihat Rasti pamit, Adrian pun berpamitan. "Yang aku pulang dulu ya!"


"Jangan panggil Yang, gimana sih udah dibilangin juga!" Daniah menekuk wajah menahan malu.


Tapi bukannya merasa bersalah, Adrin malah mengelus kepalanya lembut. "Baik-baik ya, disini, kalau kamu butuh bantuan telpon aku aja ya!"

__ADS_1


Daniah diam tak bicara, melainkan menatap Adrian dengan kesal. Akan tetapi mau membantah lagi, juga tidak mungkin, karena Daniah tahu betul sifat Adrian, semakin dibantah maka semakin gila.


"Baiklah sayang, aku pergi dulu ya!"


Tanpa malu-malu Adrian mengecup kepala Daniah yang disambut dengan teriakan dari cewek tukang rese. "UUUUUHHH, mesranyaaaa!!"


Rasti dan Zahira cuma senyum-senyum malu melihat tingkah Adrian. "Dasar Adrian ga tahu adat banget sih." Gumam Rasti.


Baru saja mereka melangkah hendak keluar, Alfian, Yeni dan Nova juga datang membesuk mereka. "Eeh kalian sudah mau pulang?" Sapa Alfian dengan senyum. Rasti ikutan senyum, "iya Kak, kita duluan ya!"


Rasti berlalu di ikuti oleh Adrian yang tidak mau basa basi. Alfian hanya memadangi mereka sampai hilang di balik pintu. Yeni dan Nova sudah masuk duluan dan duduk di kursi antara kasur Della dan Zahira.


"Hai Zahira, Della, kalian gimana kabarnya?" Zahira dan Della cuma tersenyum. Meta yang semula berdiri, ikutan duduk di tepi ranjang Della.


Alfian datang mendekat, Zahira apa kabar?" Zahira tersenyum, "baik Kak, Alhamdulilah!"


"Syukurlah kalau begitu." Alfian duduk di tepi ranjang Zahira. Hal itu membuat Zahira jadi tidak enak hati, karena Yeni terus menatap Alfian.


Cepat-cepat Zahira menarik kakinya hingga menekuk ke samping, agar posisi duduknya Alfian jadi agak jauh dari dirinya.


Mereka pun mulai berbicang-bincang. Dari menanyakan kronologi kejadian sampai hal-hal lainnya yang terkait dengan hal itu. Sementara Nova dan Daniah malah asik menikmati cemilan yang dibawa Alfian.


Meta yang tukang makan, ikut bergabung menikmati cemilan. Della hanya bisa menelan ludah melihat betapa rakusnya Meta. Sekuat tenaga, Della menaghan diri untuk tidak meminta, karena saat ini dia tengah sibuk meladeni Yeni berbincang.


Saat asik berbincang, beberapa orang tua memasuki kamar. "Assalamu alaikum!" Semua menoleh seketika. "Wa alaikum salam!" Jawab mereka serempak.


Sekali lagi, semua mata tercengang. Apalagi melihat tampang Abi Zahira dengan jenggot dan cambang yang lebat, serta pakaian gamis ala Arab. Seketika nyali mereka jadi ciut.


Orang yang dipanggil Abi langsung mendekat ke ranjang Zahira. Matanya menatap Alfian dengan pandangan yang menusuk dan dingin. Dengan cepat Alfian bangkit dari tempatnya duduk.


"Maaf Om! silakan!" Alfian segera berpindah ke sofa.


Abi Zahira kembali menatap putrinya lekat. Sementara Umi Zahira juga ikut mendekat begitu pula dengan dua wanita lainnya. "Zahira, kamu ga papa kan nak?" Umi Zahira langsung memeluknya erat sambil menangis.


"Iya Umi, aku ga papa kok!"


"Ga papa, tapi muka kamu hitam begini?" Suara serak dan berat terdengar begitu menakutkan, ditamba wajah dingin Abi Zahira sanggup membuat semua temannya terdiam seribu bahasa.


"Zahira apa sih yang terjadi? kenapa kamu tidak mengangkat telpon kamu, kenapa tidak menghubungi kami, haah?"


Wanita yang satunya angkat bicara dengan agak kasar.


Zahira belum sempat menjawab, Abinya bertanya pula. "Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal ini pada kami? kamu tahu seberapa bahayanya kejadian ini?" Mata Abi Zahira begitu tajam bagaikan terbakar amarah, meski suaranya agak pelan dan lemah.


Umi Zahira semakin sedih, "Abi, jangan marah dulu ya, tunggu Zahira jawab dulu." Umi Zahira benar-benar lembut.


Abi Zahira terdiam, meski tidak membentak dan marah, tapi nada tekanan suaranya sangat jelas mengintimidasi.


Dalam hati Alfian bergumam, "waah meskipun tidak kasar dan membentak, tapi matanya seperti mau makan orang saja, benar-benar lebih mendingan Ayah kalau marah!" Alfian teringat saat Zahira pernah cerita tentang Abinya.

__ADS_1


Zahira tertunduk lesu. Dia tidak berani menatap Abinya. Sementara Uminya telah memeluknya erat. "Ra ayo jawab nak!"


"Abi aku minta maaf, aku bukannya ga mau kasih kabar, cuma aku kehilangan HP aku Biy, terus kemarin itu aku syok banget jadi ga tahu harus ngapain, maafin Zahira ya Biy...!"


"Lalu siapa yang ngurusin kalian?" Abi Zahira mengedar pandangannya ke seluruh penghuni ruangan. "Eemmm ada, ee kebetulan Dosen aku tinggal di depan kos-kosan jadi dia yang bantuin kami, dia juga yang bawa kami kesini, Biy!"


"Heem tinggal di rumah sakit ini apalagi kamar VIP, biayanya pasti sangat mahal, kasihan Dosen kamu pasti keluar banyak uang!"


"Iya By, sebaiknya kita berterima kasih ya!"


"Bagaimana dengan teman-teman kamu, apa mereka juga sudah menghubungi keluarganya?" Sambil menatap Della yang juga sedang diinfus.


Zahira melirik Della sekan bertanya, lalu dibalas dengan gelengan kepala oleh Della. "Jadi mereka tidak tahu? sebaiknya sekarang hubungi orang tua kamu, bagaimana bisa kalian setega itu pada orang tua!" Abi Zahira tampak marah.


Della tertunduk mendapat tatapan tajam. "Baik Om!" Denga cepat, Della memberi kode ke Meta dengan matanya. Meta pun segera memberikan Ponsel Della.


Wanita yang bersama Umi Zahira segera membuka bungkusan yang dibawanya. "Zahira, kami bawakan makanan buat kamu, dimakan ya!" Sambil menyodorkan kotak makanan kepadanya.


Uminya mengambil kotak makan itu lalu berniat menyuapi Zahira. "Zahira ini bubur ayam, kamu makan ya, AAA!"


Zahira ikut membuka mulutnya. Tapi saat makanan masuk kemulutnya, Zahira mengaduh kesakitan "Eemmmm!!" Wajahnya meringis menahan nyeri di dalam mulutnya.


Uminya tambah cemas, "Kamu kenapa Nak?" Zahira cuma menggeleng lalu menunjuk pipinya yang bengkak.


Abinya langsung melotot geram. "Dimana orang yang sudah berani memukulmu?" Suara geramnya seakan ditahan agar tidak menggelegar.


Dengan susah payah Zahira menelan buburnya. "Sudah ditahan Biy di kantor polisi!" Giginya terkatup rapat menahan nyeri di mulutnya. Hal yang membuatnya diinfus karena Zahira tak mau menyentuh makanan sama sekali.


Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak? Demikian juga Zahira. Sekilas mata melihat, dia gadis yang begitu sempurna. Sabar, pendiam dan mandiri juga sholehah. Tapi siapa sangka jika saat dia sakit, ternyata begitu manja.


Zahira sama sekali tidak mau minum obat yang diberikan oleh Dokter, juga tidak mau makan karena mulutnya sakit. Pak Khalid terpaksa turun tangan merayu Zahira yang manja agar mau makan.


"Zahira tambah lagi ya, makannya!" Pinta Uminya. Zahira menggeleng sambil memegangi mulutnya. Bergantian Umi dan Tantenya merayu dan membujuk Zahira agar mau menambah makannya tapi tetap saja Zahira menolak. Meski begitu mereka tetap sabar. Karena mereka tahu jika Zahira punya pobia.


Alfian yang melihatnya jadi jengah. Dia tiba-tiba membayangkan jika suatu hari Zahira menjadi istrinya, apa mungkin dia bisa tahan untuk terus memanjakannya seperti itu. Alfian langsung bergidik ngeri.


Alfian segera berdiri hendak pamit. "Maaf Om, Tante, emm sebaiknya kami pamit dulu, soalnya kami sudah agak lama juga di sini, semoga Zahira cepat sembuh!"


Abi dan Umi serta Tante Zahira langsung menoleh, "Oh ya terima kasih banyak sudah menjenguk anak kami, hati-hati ya di jalan!" Seru Umi Zahira.


Alfian melirik Yeni dan Nova, "Pulang yuk!" Mereka mengangguk lalu beranjak pergi.


.


.


.


Jumpa lagi di lain kesempatan. Semoga tetap suka dan tetap betah dengan episode yang datar kali ini. Terima kasih buat yang selalu setia menanti kelanjutan kisah Zahira ya😘😘😘😘😘😘. Terima kasih juga buat teman Author yang telah banyak mendukung ceritaku hingga sekarang ini😘😍😍😍.

__ADS_1


__ADS_2