
Zahira sangat gelisah di tempat tidurnya. Matanya tidak bisa terpejam meski telah berguling kiri dan kanan. Waktu telah memgampiri tengah malam, tapi tetap saja matanya tidak mau diajak kompromi.
Bayangan tentang rayuan Pak Khalid membuatnya kadang tersenyum kadang pula cemberut. "Aah aku kenapa sih ini?"
Zahira akhirnya bangkit dan duduk di tepi ranjang, "duuh Ummi bagaimana ini? haaaaaa!" Zahira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Haah apa iya Pak Khalid suka sama aku?" Zahira tersenyum lagi.
"Tapi ga mungkin juga kan dia suka sama aku, emang aku siapa? kan tadi dia cuma mau ngetawain aku aja, dia pasti cuma ngerjai aku, haaaaaahh!" Dia langsung cemberut.
Zahira membuang tubuhnya ke kasur hingga tidur telentang.
"Haaah apa yang terjadi pada diriku, apa aku jatuh cinta? Seperti kata orang-orang? Ah, ga mungkin, ga mungkiiin!" Zahira tengkurap sambil menutupi wajahnya. Kedua kakinya di ayun-ayunkannya.
"Haah aku tidak boleh begini, nanti malah kesambet lagi, mending aku wudhu ah!" Sambil bangkit lalu menuju kamar mandi.
Tiada lama kemudian suaranya sudah terdengar merdu berkumandang. Zahira mencoba membaca sambil memahami makna yang terkandung di dalamnya hingga membuat otaknya terfokus pada setiap kata yang ada di sana.
Tanpa disadarinya, ingatan tentang Pak Khalid pun menghilang dengan sendirinya. Itulah jurus ampuh yang sebenarnya, jika seorang muslim ingin menghilangkan stress dan frustasi serta sakit hati. Sesuatu yang murah meriah, tanpa harus berahir dengan minum minuman keras apalagi narkoba.
Suara merdu Zahira perlahan terdengar oleh Amanda. Dengan senyum bahagianya, Amanda melesat naik ke rumah Bu Kos, yang selama ini tidak mampu di jamahnya. Dengan rasa puas dia memeriksa setiap sudut dan isi ruangan di sana. Sebuah rencana matang telah bersarang di kepalanya.
Saat Amanda keluar dari rumah itu, matanya langsung terbelalak saat sebuah bola api terbang ke arahnya. Dia sudah memastikan benda apakah yang datang. Dengan cepat dia melesat masuk ke dalam rumah.
Suara Zahira masih terdengar merdu. Dia belum juga menghentikan bacaannya. Meski malam telah mencapai puncaknya.
Tiba-tiba Zahiramerasa ada yang aneh dengan perasaannya. Dia merasa tubuhnya panas dingin. Telapak tangan dan kakinya terasa sangat dingin dan berkeringat. Jantungnya ikut berdegup dengan kencang.
Zahira segera menghentikan kegiatannya. Dia pun mulai membaca dzikir untuk menetralkan perasaannya. Akan tetapi perasaannya malah semakin aneh. Zahira akhirnya menambah bacaannya dengan doa-doa pengusir Setan dan Jin.
Terdengar suara ketukan dari pintu rumah Zahira. Della yang terbangun mendengar suara ketukan di pintu, bukannya keluar membuka pintu malah meringkuk erat di balik selimutnya sambil menutup telinganya dengan bantal. Della mengira ada hantu yang datang tengah malam dan mengetuk pintu.
Sementara di luar pintu, Pak Khalid tampak sangat cemas. Dia sangat kawatir akan terjadi apa-apa pada Zahira dengan teman-temannya.
Beberapa saat yang lalu, saat Pak Khalid tidak mampu memejamkan mata, karena teripirkan oleh Zahira yang ngambek, membuatnya keluar di teras untuk mencari angin.
Seketika itu, matanya tertumbuk pada benda sebesar dan berbentuk jantung pisang melayang di atas rumahnya menuju rumah Zahira. Dia terus memperhatikan kemana benda itu akan jatuh.
Begitu melihat bahwa benda menyala itu jatuh tepat di atap rumah Zahira, matanya terbeliak lebar. Apalagi setelah nampak wujud dari benda itu berupa Mahluk yang sangat menyeramkan. Dan yang lebih membuatnya sangat cemas, karena Mahluk itu adalah Mahluk yang sama dengan yang telah membunuh Papinya dahulu.
Pak Khalid segera berlari turun ke bawah. Dengan cepat dia berlari ke seberang. Dimana rumah Zahira berada. Kini dia sudah semakin gelisah karena pintu tidak terbuka sampai sekarang.
Suara pintu yang diketuk orang masih saja terdengar. Hal itu membuat Zahira menghentikan bacaannya. Dengan terpaksa karena perasaan tidak enak terus saja menimpanya, dia beranjak keluar untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Zahira sangat heran dengan kedatangan Pak Khalid. Belum lagi Zahira membuka suara, Pak Khalid sudah nenyerbu Zahira dan memegang ke dua bahunya. "Zahira!!"
Zahira mendongak menatap Pak Khalid.
Zahira langsung meringis menahan rasa sakit di jantungnya yang tiba-tiba saja terasa.
Pak Khalid menatap Zahira dengan wajah tegang dan ketakutan. Suaranya sedikit bergetar. "Zahira, kamu ga Papa, Zahira!! Hh..Hhaahh..." Matanya berkaca-kaca.
Zahira menjadi heran, "ada apa Pak, kenapa Bapak menangis?"
__ADS_1
"Zahira jangan bicara lagi, cepatlah baca sesuatu, ada Mahluk jelek yang menyerang jantumu, ayo Ra cepat, dia mau menyerang lagi. "Pandangan Pak Khalid terus tertuju di belakang Zahira.
Zahira langsung menyadari keadaan. Dia pun mulai memejamkan matanya. Dengan komat-kamit dia membaca doa-doanya. Jika diawal tadi dia mengulang setiap doanya 3 kali, kali ini dia mengulangnya sampai 7 kali.
Pak Khalid makin tegang, kadang dia menutup matanya rapat-rapat ketika Mahluk itu menyerang Zahira. Jantungnya terasa mau meledak. Ingatannya tentang kematian Papinya terbayang di pelupuk mata. Mahluk yang sama yang kini bertarung dengan Zahira ini, dulu mencabik-cabik jantung Papinya dengan sadis.
Dadanya sungguh terasa sesak. Air matanya mengalir tiada dirasanya karena kenangan akan Papinya yang malang. Giginya gemeretak memandangi Mahluk yang seakan tak bisa kalah dengan semua doa Zahira.
Zahira yang sudah merasa capek, meski sakit di jantungnya kini sedikit berkurang, tapi kakinya terasa pegal karena telah berdiri begitu lama. "Pak, apa Mahluknya sudah pergi?"
Pak Khalid menggeleng, matanya terus saja mengawasi Mahluk itu. "Belum Ra, jangan berhenti, terus baca doa!" Bisiknya. Dia sengaja berbisik agar Mahluk itu tidak mendengarnya. Juga karena rasa tegang yang dirasanya membuatnya tak mampu bersuara dengan keras.
Zahira yang merasa pegal, kini duduk di lantai sambil bersila. Pak Khalid ikutan duduk. Tangannya mengepal kuat menahan rasa takut di hatinya. Melihat hal itu, Pak Khalid mencoba menggenggam tangan Zahira agar dia menjadi lebih tenang.
Zahira kini mengulang setiap bacaan doanya menjadi 11 kali. Pak Khalid menyaksikan Mahluk itu semakin tak mampu menembus pertahanan Zahira.
Setiap Mahluk itu menyerang, saat itu pula senjatanya malah balik menyerangnya. Jika tadi senjatanya seakan mengenai sebuah tameng yang tak terlihat, kini senjata itu bagaikan terpental balik menyerangnya.
Dalam pandangan Pak Khalid, Mahluk itu semakin terdesak oleh senjatanya sendiri. Hal itu membuatnya murka. Dengan geramnya dia melemparkan senjatanya yang sudah mengenai dirinya sendiri berkali-kali. Mahluk itu menyeringai kejam. Matanya semakin memerah.
Pak Khalid semakin menyemangati Zahira. "Zahira ayo terus Ra, baca terus, dia sudah hampir kalah, ayo jangan kendor Ra!"
Zahira pun semakin menguatkan hatinya. Dengan penuh keyakinan dan pengharapan serta dengan kekhusyukan dia tak hentinya-hentinya mengulang dan mengulangi semua doa yang dihapalnya. Tiba-tiba tubuhnya terasa ringan dan serasa melayang.
Matanya yang terpejam, kini semakin rapat seoalah tak mampu Ia buka. Seketika pandangan matanya yang semula gelap karena terpejam, kini malah terang-benderang meski tetap dalam keadaan terpejam. Tubuhnya seakan dikelilingi oleh cahaya bulan purnama.
Suara Pak Khalid yang terus membisikkan kata-kata semangat semakin lama semakin samar-samar. Tubuhnya kini terasa sedang mengambang di udara.
Mahluk itu semakin terdesak. Dengan seluruh kekuatannya, dia menyerbu Zahira dengan tangan kosong. Akan tetapi saat tangannya menyentuh tubuh Zahira, tangannya justru terasa panas seakan-akan terbakar.
Mata Pak Khalid tak lepas menatap pemandangan di depannya. Air matanya kembali menetes mengingat Papinya.
"Papi, andaikan aku juga memiliki ilmu seperti Zahira, Papi pasti masih hidup sampai sekarang." Batinnya.
Sambil mengigit bibirnya menahan rasa sedihnya, dia memejamkan matanya agar air matanya tidak mengalir lagi. bahunya terguncang menahan isak tangisnya. Dia pun menarik napas panjang.
Saat matanya terbuka, Mahluk itu sudah menghilang entah kemana. Dengan cepat dia membangunkan Zahira dari kekhusyukannya. "Zahira, Mahluknya sudah pergi, Ra!! Zahira!!".
Perlahan Zahira membuka mata. Sambil mengerjap-ngerjap, Zahira mencoba menahan silaunya lampu. Maklumlah, mata Zahira terpejam begitu kuat.
"Aaah, gimana Pak?"
"Aman, Mahluknya sudah pergi, hiks!" Pak Khalid terisak sambil tersenyum.
Zahira mengerutkan kening karena heran. "Heemmm Bapak nangis lagi?"
Lagi-lagi Pak Khalid tersenyum sambil mengusap bekas air matanya dia bangkit menuju sofa dan duduk. Zahira mengikutinya dengan wajah heran.
Pak Khalid menarik napas dalam begitu Ia duduk. "Aku teringat sama Papi."
"Apa hubungannya Pak?"
__ADS_1
"Mahluk itu adalah Mahluk yang sama yang membunuh Papi dulu." Pak Khalid tertunduk lesu.
"Ooh gitu ya Pak." Zahira ikutan sedih.
"Tapi kenapa Mahluk itu menyerang aku ya, apa aku punya musuh?" Zahira menjadi bingung.
Pak Khalid memandangi Zahira lekat. "Ra, apa kamu dan Yeni bermusuhan?"
Zahira menggeleng, "tidak Pak, tapi emang sih, dia tidak suka padaku, memangnya kenapa Pak?"
Pak Khalid terdiam sesaat, ada rasa ragu menyerangnya. "Emm kalau aku cerita, apa kamu mau percaya?"
Zahira mengangguk ragu.
"Kamu ga bakal marah kalau mendengar ceritaku?" Lagi-lagi Zahira mengangguk.
"Sepertinya itu perbuatan Yeni!"
Zahira terbelalak. "Tapi Pak, mana mungkin Yeni punya ilmu hitam begitu!"
"Bisa jadi dia pake dukun Ra!"
"Tapi bukannya kemarin dia sendiri yang kena?"
"Sepertinya Mahluk yang mengejarmu kemarin, tidak mau pergi tanpa hasil, makanya dia berbalik memakan tuannya."
Zahira menarik napas berat.
Della yang semula terbangun dan bersembunyi di balik selimut, kini sedang menguping. Sudah sejak tadi dia menguping. Tapi betapa terkejutnya dia saat mendengar kalau Yeni mencoba menyantet Zahira. Sambil membekap mulutnya sendiri, dia memutar tubuhnya dan berjinjit naik di ranjang. Lalu berbaring diantara Daniah dan Meta.
Suasana di ruang tengah kini lengang. Zahira sedang sibuk berperang dengan pikirannya sendiri. Antara percaya dan tidak dengan ucapan Pak Khalid tadi.
"Aah sudahlah Pak, aku capek mau tidur, makasih ya Pak, sudah membantuku lagi!"
Pak Khalid tersenyum dan mengangguk, "Baiklah aku pergi sekarang!" Sambil berdiri dan berlalu pergi. Zahira mengikutinya dari belakang.
Sesampai di luar pintu, Pak Khalid menoleh lagi. "Oh ya Ra, emm yang tadi itu, kamu mau maafkan aku kan?"
Zahira mengerutkan kening. "Yang mana Pak?"
Pak Khalid senyum, "yang di teras tadi!"
Seketika wajah Zahira masam, dengan pura-pura kesal dia berpaling "gak, aku ga mau maafin Bapak!" Sambil menutup pintu denga keras.
Pak Khalid melangkah pergi dengan perasaan lesu dan sedih.
.
.
.
__ADS_1
Sampai disini dulu jumpa kita. Tunggu kelanjutan ceritanya ya😙😙😙
Jangan lupa like, vote dan komen yaaa😆😆😆😆