
Pak Khalid tersenyum penuh kebahagiaan. Tiada henti-hentinya dia bersyukur mendengar Zahira tidak punya pacar. Walaupun dia sudah melakukan sujud syukur, tapi tetap saja tidak bisa berhenti memuji Allah.
"Alhamdulillah...Alhamdulillah, ya Allah Alhamdulillah, ternyata Zahira belum ada yang punya, Alhamdulillah!"
Sambil terus-terusan menengadahkan tangannya ke langit dengan senyum penuh kemenangan.
Dengan cepat dia naik ke kamar sambil menyeret kopernya. Dia baru saja datang mengambil semua pakaiannya di rumahnya untuk dibawa ke rumah kontrakannya kini.
Begitu sampai di kamar, bukannya menaruh pakaiaanya di lemari, dia malah keluar di teras sambil menatap rumah Zahira. Senyum di bibirnya terus saja berkembang. Entah apa yang direncanakannya.
Merasa bersyukur bertemu dengan Amanda, dia pun menyerukan rasa terima kasihnya.
"Amanda, terima kasih ya, karena kamu aku punya alasan untuk lebih dekat dengan Zahira, maaf bukannya bermaksud memanfaatkan kamu, cuma sambil menyelam minum air!" Senyum jahil terpampang bebas di bibirnya.
Meskipun suaranya lirih dan tidak mungkin terdengar oleh orang lain bahkan di bawah teras, akan tetapi tidak demikian bagi seorang Hantu.
Bisikan lirih Pak Khalid terbawa angin semilir senja, hingga sampai di telinga Amanda. Mata Amanda langsung menyala mendengar bisikan itu. Tak mau membuang waktu, Amanda melesat ke asal suara.
Pak Khalid masuk ke kamarnya. Dia hendak membenahi pakaiannya dan memasukkannya ke lemari. Saat lemari terbuka, mata Pak Khalid langsung terbelalak. "AAAAAA...ASTAGFIRULLLAAAHH!!"
Amanda menyembul dari dalam lemari dengan mata melotot hingga biji-bijinya mencuat hendak keluar. Lidahnya menjulur panjang dengan mulut menyeringai. Dengan jahilnya, Amanda sengaja memutar kepalanya.
Pak Khalid melompat mundur dengan napas tertahan. "Amanda, hentikan itu, kamu menakuti aku!"
Amanda seperti tidak perduli dengan teriakan dan peringatan Pak Khalid. Dengan lantangnya dia malah tertawa memperdengarkan suara khas Hantunya. "HAHAHAHAHAHAA...HAHAHAHAHA."
Pak Khalid semakin ketakutan, napasnya tersengal-sengal, "A...Amanda... hen...tikan...aku...minta...maaf...kalo aku...ada salah...sama kamu...haaahh haahh!" Matanya terpejam kuat saat Amanda semakin keras ketawa dan semakin mendekatinya.
Pak Khalid sudah terkulai lemas, tenaganya hilang seketika. Melihat Pak Khalid benar-benar ketakutan, Amanda pun merubah kembali wajahnya menjadi seperti biasanya. Wajah pucat pasi yang menyedihkan bukan lagi wajah mengerikannya.
Pak Khalid mencoba membuka mata saat suara tawa Amanda tak lagi terdengar.
"Haaaaaahhh!" Suara napas leganya berhembus begitu menyadari Amanda telah pergi.
Begitu payahnya Pak Khalid mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Setelah dirasa cukup kuat, dia pun bangkit hendak meneruskan pekerjaannya. Dengan cepat dia menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah semua beres, Pak Khalid menutup lemarinya lalu berbalik dan...." AAA...AMANDA LAGIII!" Matanya kembali terbelalak.
Amanda tak mampu menahan tawanya. Namun karena dia tidak mau suara seramnya keluar, dia terpaksa menahan tawanya hingga bahunya terguncang-guncang. Pak Khalid kesal bukan main.
"Haah puas tertawa, ya tertawa sajalah, selamat sudah membuat jantungku hampir copot!"
Amanda mengatupkan tangannya di depan dada sebagi permintaan maaf. Karena suaranya tidak akan terdengar oleh Pak Khalid sehingga dia hanya menggunakan bahasa isyarat tangan.
Pak Khalid tidak memperdulikan Amanda. Dia dengan kesal menghempaskan tubuhnya di kasur. "Jangan ganggu, aku mau istirahat!" Dia pun memejamkan matanya.
Amanda masih tidak puas mengerjai Pak Khalid. Dengan senyum jahilnya dia melesat naik di samping Pak Khalid. Dengan entengnya, dia berbaring di samping Pak Khalid.
Meskipun Pak Khalid merasa ada yang aneh dengan perasaannya, tapi dia mencoba mengabaikannya.
Amanda yang merasa diabaikan langsung meniup telinga Pak Khalid.
Pak Khalid langsung meremang. Dengan cepat dia meraba telinganya yang terasa sangat dingin. Amanda tersenyum girang melihatnya. Sekali lagi Amanda meniupnya. Dengan kesal Pak Khalid membuka mata.
Pak Khalid langsung berguling ke samping begitu melihat Amanda tangah berbaring di sampingnya. "Amanda kamu ngapain di situ!!"
Sambil memegangi pinggulnya yang sakit, dia mencoba bangkit dengan kesal. "Amanda!!! kalau kamu terus menggangguku, aku tidak mau lagi membantumu!! Aadduuhhh, aaakkhhh!" Sambil mengurut-urut ringan pinggulnya.
Amanda terguncang menahan tawanya. dia tampak memegangi perutnya karena menahan tawa. Pak Khalid mendelik kesal. "Idiih emang hantu bisa sakit perut gitu menahan tawa, dasar Hantu!"
Dari depan rumah, terdengar suara pintu mobil tertutup keras. Sambil jalan terseok, Pak Khalid ke teras hendak melihat siapa yang datang. Di bawah sana terlihat Daniah and the gank turun dari sebuah mobil Toyota yariss.
Pak Khalid tersenyum riang. Kesempatannya bertemu Zahira terbuka lagi. Akan tetapi senyumnya langsung hilang begitu pinggulnya masih merasakan ngilu. "Sebaiknya entar malam aja, aku ke sana!" Dia pun masuk sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
Amanda masih berdiri di sudut kamar sambil memandangi Pak Khalid. "Amanda kamu pulang sana, jangan ganngu aku, aku mau istirahat, bentar malam aku akan ke rumahmu bahas soal orang tua kamu, jadi jangan ganggu aku!"
Amanda mendekati ranjang Pak Khalid. Dengan merangkak dia naik ke ranjang. Pak Khalid menarik kakinya yang telentang. "Amanda!!!kamu jangan macam-macam ya!!" Tapi Amanda tidak peduli. Dia tetap saja merangkak mendekati.
Pak Khalid makin terpojok ke sandaran ranjang. "Amanda!!!Amanda kamu jangan macam-macam ya, aku bersumpah akan membacakan kamu Ayat Kursy kalau kamu tidak mau berhenti mendekat!"
Amanda langsung berhenti. Mendengar nama itu, Amanda langsung pias. Setiap kali Zahira membaca ayat itu sehabis sholat Magrib, seluruh tubuhnya pasti kepanasan seakan mau terbakar jika tidak segera kabur. Akhirnya dia memilih pergi.
__ADS_1
Mata Pak Khalid yang tertutup rapat, dibuka sebelah untuk mengintip. Begitu melihat Amanda telah menghilang, dia pun memperbaiki posisinya. Dengan keras dia menghembuskan napasnya. "Heeehhhhhaaaahhhh!"
"Sepertinya aku harus menghapal Ayat kursy mulai sekarang." Lanjutnya.
Rasa lemas dan takut habis dikerjai Amanda membuatnya kelelahan. Dengan lunglai dia merebahkan dirinya di kasur. Saking lelapnya, suara Adzan di mesjid yang lumayan besar bahkan tidak bisa membangunkannya.
**********
Daniah yang baru masuk ke dalam rumah menggerutu. "Eh Zahira itu makan siang di rumah Kak Fian bahkan belum pulang sampe sekarang?"
"Ya namanya juga kencan!" Sanggah Meta.
Della mendelik nakal. "Ehem...jangan ngomongin kencan dong Met, kan kita juga habis kecengin orang kencan?"
Meta menutup bibirnya langsung "Uups, hehehe!" Ujung matanya melirik Daniah.
Yang dilirik semakin kesal. "Siapa juga yang kencan?" Sambil berlalu dengan cepat menuju kamarnya.
Sebenarnya tadi siang, Daniah yang terus-terusan disosor sama Adrian akhirnya luluh juga. Dengan malas dia mengiyakan ajakan Adrian untuk makan siang, dengan syarat temannya harus ikut.
Begitu mereka selesai makan siang, Adrian lagi-lagi mengajak Daniah jalan-jalan. Dan sebagai hasil jalan-jalan, Adrian membelikan mereka beberapa barang. Della dan Meta senang bukan main, tapi Daniah justru dongkol bukan main. Akan tetapi tetap saja menerima barang yang dipilihkan oleh Adrian.
Zahira yang terbangun mendengar suara adzan, tersenyum lega melihat temannya sudah pulang. "Hai kalian sudah pulang?"
Daniah yang baru mau masuk kamar lagsung menoleh. Begitu pula dengan Meta dan Della. "Zahira!!" Lagi-lagi berjamaah.
"Kalian dari mana saja, lama sekali, aku terpaksa lewat atas masuknya!"
Mereka saling pandang. Zahira yang tidak membutuhkan penjelasan, langsung masuk ke kamar mandi buat berwudhu. Daniah sendiri pun masuk ke kamarnya sambil menenteng kantong belanjaannya.
Della dan Meta saling melempar senyum senang sambil mengacungkan kantong belanjaannya ke hadapan masing-masing. "Hehehe asik juga mengikuti orang kencan, bisa kebagian jatah juga!"
"Iya hahahahah, aku masuk dulu ah!"
Della pun berlalu masuk kamarnya demikian juga Meta.
__ADS_1