
Mobil kembali melaju meninggalkan kawasan wisata itu. Tak berapa lama melaju, kini mereka memasuki kawasan hutan. Tampak banyak mobil Eskavator yang sedang beroperasi di sisi kanan jalan.
Meta tak henti-hentinya menatap tempat itu dengan wajah bingung. "Ra! itu gunung kok dikikis begitu buat apa?"
Zahira menoleh menatap Meta, lalu menatap ke arah yang ditunjuk Meta. "Oh itu, menurut kabar yang aku dengar sih, pemerintah bakal membangun jembatan layang, biar jalan yang berkelok-kelok ini, bisa sedikit berkurang belokannya."
*(Jembatan layang tersebut, saat ini telah selesai)*
Belum sempat Meta menyela, belokan yang sedang dibicarakan oleh Zahira telah menunggu di depan mata. Jalanan berkelok berbentuk huruf S terbentang.
Selain jalanan yang berkelok, jalanan juga agak sempit, karena diapit oleh bukit bebatuan disisi kanan kiri jalan.
Tiba-tiba Meta merasa kepalanya pusing, perutnya pun ikutan mual. "Aah rasanya mabuk deh!" Meta meringis sambil memijit kepalanya.
Zahira dan Pak Khalid menoleh, "kamu kenapa Meta?"
"Aah pusing, emmmppp!" Meta segera membungkam mulutnya, karena seluruh isi perutnya seakan berlomba ingin keluar.
Meta segera menepuk bahu Pak Khalid dari belakang. "Mm..mmm...!"
Pak Khalid pun segera menepikan mobilnya.
Dengan cepat Meta membuka pintu dan segera berjongkok di samping mobil.
"Hoeeek...ooeek...ooeek...ah...haaah!"
Zahira segera menyambar air mineral yang tergelatak di atas dashbord mobil lalu turun. "Meta nih minum dulu!"
Pak Khalid pun turun sambil membawa minyak kayu putih yang selalu disiapkan di laci dashbord mobilnya.
Meta segera meneguk air mineralnya sembari berkumur beberapa kali.
Pak Khalid menyodorkan minyak kayu putih pada Meta. "Nih coba usapkan di kening dan perut kamu!"
"Makasih Pak!" Meta menerimanya.
"Gimana perasaan kamu sekarang?" Tanya Zahira iba.
"Udah sedikit mendingan!"
"Oke yuk berangkat!" Ajak Pak Khalid. Meta mengangguk lalu naik. Demikian juga Zahira dan Pak Khalid.
Mobil kembali melaju menyusuri jalanan berkelok-kelok. Meta semakin pusing dan mual. "Emmm!" Meta meringis.
Zahira segera menoleh, "Meta kamu ga papa kan?" Meta cuma menggeleng sambil memejamkan matanya.
Pak Khalid menoleh ke belakang. Sambil memberi kode pada Amanda supaya minggir sedikit. "Meta kamu baring aja dulu, biar lebih baikan!" Meta mengangguk lalu merebahkan tubuhnya.
Tak jauh di depan, mobil Adrian tampak berhenti. Begitu mendekat, Pak Khalid pun mensejajarkan mobilnya dan berhenti.
Zahira melongok keluar jendela demikin juga Adrian. " Adrian! kenapa berhenti?" Seru Zahira.
"Nunggu kalian!"
"Iya Ra, kok telat nyusulnya?" Seru Daniah dari dalam mobil.
"Meta mabok!"
Suara klakson mobil truk dari belakang mengagetkan mereka. Dengan segera Pak Khalid memajukan mobilnya dan menepi di depan mobil Adrian.
Begitu truknya lewat, Pak Khalid menyembulkan kepalanya ke luar jendela dan menoleh ke belakang. "Adrian, jalan yuk!"
Adrian mengangguk kemudian kembali melaju.
Suguhan hawa dingin menyeruak. Akibat gelapnya jalanan karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan yang memenuhi kanan kiri jalan. Apalagi posisi jalan raya berada diantara bukit batu. Jalanan seakan terjepit di tengahnya
Zahira membuka pintu jendela lalu menghirup udara yang sangat sejuk dan terasa segar. Melihat itu, Pak Khalid mematikan AC mobil. "Sepertinya AC alami lebih segar ya!"
Zahira menoleh dan tersenyum, "Iya Pak, segar banget!"
Pak Khalid ikutan membuka jendela mobil sedikit. Dan angin dingin pun menyerbu wajahnya. Dia menoleh kebelakang, meta tampak tenang sambil memejamkan mata. Amanda tampak tengkurap di sandaran kursi.
Semakin ke dalam, semakin dingin suasana. Zahira tampak tersenyum jahil. "Emm... Pak!" Pak Khalid menoleh, "Ya, kenapa Ra?"
"Apa Bapak ga lihat penampakan gitu? kata orang di daerah ini, angker lho?" Zahira tersenyum.
"Emm, sepertinya tidak ada deh!" Wajahnya tetap serius menatap jalanan. Tiba-tiba di depan tampak macet. "Ini ada apa ya? kok macet?" Pak Khalid bingung. Zahira cuma angkat bahu.
Mobil bergerak perlahan-lahan. Tak berapa lama, sebuah truk tronton dari arah depan sedang melaju pelan sekali. Barulah mereka sadar, jika macetnya jalanan karena dua mobil truk sedang berpapasan di jalanan yang cukup sempit itu.
Setelah truk berhasil lolos, mobil pun kembali melaju dengan lancar. Suasana gelap dan dingin serasa begitu angker. Zahira menoleh menatap Pak Khalid sambil tersenyum jahil. "Eh Pak, kata orang wilayah ini angker lho, apa Bapak melihat ada penampakan?"
Pak Khalid tidak menoleh, tetap saja serius menatap jalanan. "Mm belum ada penampakan kok!"
Zahira mengakat alis sambil memanyunkan bibirnya. Usahanya untuk menakuti Pak Khalid ternyata gagal.
Suasana dingin dan gelap kini berganti dengan suasana yang agak terang. Tebing batu yang menjulang tinggi, tidak tertutup pohon, sehingga cahaya matahari dapat menyinari jalanan secara langsung.
Tampak 2 mobil berhenti, Adrian pun ikut berhenti. Pak Khalid terpaksa ikutan menepi.
Akan tetapi belum sempat dia membuka sabuk pengamannya, wajahnya menegang, "Zahira! lihat! sepertinya aku melihat penampakan, itu! ada Mahluk menyerupai monyet besar!"
Sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.
Zahira kaget langsung menatap ke atas dinding batu yang ditunjuk Pak Khalid.
"Mana?"
Meta langsung terbangun, "apa? Apa?"
"Itu disana!" Tunjuk Pak Khalid lagi. Bibirnya bergerak-gerak menahan tawanya.
Zahira melengos begitu melihat Mahluk yang ditunjuk Pak Khalid. "Yaaah Bapak, emang monyet kan!" Zahira menatap Pak Khalid kesal.
Pak Khalid sudah tak mampu menahan tawanya. "Bwahahhahaha!"
"Eh iya ada monyet ya!" Meta terlihat antusias. "Eeh itu, itu lagi, wah ada lagi, eeh wah banyak baget monyetnya, eh eh eh, monyetnya mendekat di mobil!" Seru meta seperti anak kecil sambil menunjuk-nunjuknya.
Zahira dan Pak Khalid tersenyum melihat tingkahnya. "Hehehe Meta, kamu senang banget ya, kangen sama sodara ya ?"
Zahira langsung tertawa, "hahaha, sodara Meta, haha!"
Meta melotot kesal membuat Pak Khalid tambah tertawa.
Meta berusaha membalasnya.
"Iya deh Pak, sodaraku, tapi tau ga Pak, tuh monyet paling besar itu, kembaran Bapak kan?"
Zahira memegangi perutnya karena sudah tak kuat lagi ketawa, tapi rasa geli dan lucu terus mengocok perutnya.
Air matanya sampai menetes.
"Waah baru kali ini aku lihat ada monyet ganteng gitu ya!" Seru Pak Khalid membuat mereka tercengang, lebih-lebih Meta. "Iiih Bapak, ganteng apanya, muka datar ples hitam legam gitu!" Meta mendelik.
"Lho kan kembaran aku, dan aku kan ganteng, ya kan Ra?" Sambil mengedip ke Zahira.
Zahira tertunduk malu sambil tersipu. "Apaan sih Pak!"
"Ekhem, ekheeeem..."
"Meta, kamu kenapa? Keselek? Atau masih mabok?" Pak Khalid meledeknya.
__ADS_1
"Ekhem, mabok lihat orang kasmaran, haha!"
Zahira menoleh dengan muka sedikit cemberut. "Ih Meta, siapa yang kasmaran!"
Pak Khalid merasa tak enak, langsung mengalihkan perhatian. "Eh lihat deh, Daniah mau ngapain?" Serunya seraya menatap serius ke depan.
Benar saja, perhatian Zahira teralihkan ke Daniah dan yang lainnya yang turun dari mobil. Beberapa orang dari mobil lain yang berhenti, turun dan melemparkan makanan ringan ke seberang jalan.
Sekelompok monyet segera berlarian menuju makanan yang dilempar tadi. Daniah tak mau membuang moment penting itu. Dengan cepat dia dan Della berpose sambil selfi membelakangi monyet.
Della mendekati mobil Zahira, dan Zahira segera melongok keluar. "Della kalian ngapain sih?"
"Kalian mau ambil foto sama monyet ga, jarang-jarang bisa selfi sama monyet!"
"Kalau Meta, dia ga perlu selfi sama monyet, dia ka sodaranya monyet, hahah!"
Della langsung tertawa, "hahahaha, Bapak bisa aja, tapi eh memang mirip lho, hahaha!"
Meta melotot kesal, "yah terserah deh, aku sodara monyet tapi kembaran gorila juga ada!"
"Gimana, mau turun ga?" Desak Della.
Sementara Daniah dan Adrian lagi asik berselfi ria bersama monyet. "Ah ga perlu, Meta mabok kalau lihat orang lagi kasmaran, haha!" Goda Pak Khalid, sambil menunjuk Daniah dangan mukanya.
"Hahaha, ya sudah, aku pergi dulu ya!" Della melambai yang dibalas dengan lambaian pula oleh Zahira.
Setelah beberapa saat menunggu, Pak Khalid pun berseru pada Adrian. "Udah belum, kita masih ada keperluan nih!" Sembari mengeluarkan kepalanya di jendela.
"Oke Pak, kita selesai kok!" Seru Adrian.
Mobil mereka pun kembali melaju dengan mulus. Agak lama melaju, kini mereka disuguhi pemandangan yang sanggup membuat hati jadi menciut. Betapa tidak, disisi kiri jalan raya yang begitu sempit, terpampang jurang yang amat dalam. Sedangkan di sisi kanan jalan, tegak berdiri dinding batu yang amat sangat tinggi.
Kedalaman jurang itu tergambar dari puncak pepohonan besar, yang tampak begitu jelas dari dalam mobil. Ditambah bibir jurang hanya berjarak sekita 1 meter saja dari bahu jalan. Sementara rumah-rumah penduduk nun jauh di bawah sana, hanya sebesar kotak permen.
Jika ban mobil meleset sedikit saja, maka dasar juranglah yang menjadi parkiran terakhirnya. Masih syukur jika mobilnya bisa tersangkut di puncak atau dahan pohon besar. Jika tidak, maka bisa dibayangkan, mobil akan remuk seperti peyek.
Zahira bergidik ngeri membayangkannya. "Jangan menoleh Ra, itu sangat mengerikan!" Tegur Pak Khalid saat melihatnya bergidik.
Meta jadi heran, "Ada apa sih?"
Meta pun melongok keluar jendela, dan..."Aaaa, ngeri bangeet!" Sambil menutup jendela dengan cepat.
Bertepatan dengan itu, sebuah Bus besar melaju dengan cepat dari arah depan. Dengan cepat Pak Khalid menginjak rem. Dia begitu takut untuk melaju, mengingat jurang dalam sedang menantinya. Zahira dan Meta langsung menjerit sambil menutup mata. "Aaaaaakkh!"
Jangankan manusia, hantu saja sampai tutup mata. Amanda ikutan bergidik melihat suasana yang begitu menegangkan.
Setelah Busnya berlalu, Pak Khalid kembali melajukan mobilnya. Tulang-tulangnya seperti lemas seketika.
Begitu berhasil melewati jalanan itu, tak sengaja mereka menghela napas bersamaan. "Haaaahhh!" "Alhamdulillaaaaaah!" Sontak mereka saling pandang lalu tertawa.
Suasana menjadi hening. Semua sedang asik menikmati pemandangan saja. Semakin lama, daerah hutan semakin memudar. Kini perumahan penduduk telah nampak berjejer di tepi jalan.
Sekitar satu jam mereka berkendara, akhirnya sampai juga di daerah perbatasan antara Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone.
Adrian menepikan mobilnya di depan kedai kopi yang ada di tempat itu. Pak Khalid ikut berhenti. Dia pun segera turun. "Apa sudah sampai?" Seru Pak Khalid begitu mendekat ke Adrian.
"Entahlah Pak, Daniah baru mau tanya ke pemilik kedai tuh!" Seraya menunjuk Daniah dengan mukanya.
Amanda begitu senang saat melihat daerah itu. Dia pun segera menghadang Pak Khalid sembari menunjuk-nunjuk. Seakan rumahnya tidak jauh lagi.
Pak Khalid segera berbalik menjauh ke tempat sepi. "Apa maksud kamu?"
Amanda menunjuk ke arah depan. "Rumah kamu sudah dekat?"
Amanda mengangguk. "Kamu bisa tunjukin ke kita ga?"
Lagi-lagi Amanda mengangguk. "Oke ayo kita berangkat!" Dia pun berbalik menuju mobilnya.
"Eh, mau beli minuman dingin Pak!"
"Biar aku yang beli in, kamu di sini aja!"
Zahira mengangguk. "Meta, kamu juga mau minuman dingin ga?" Seraya melongok ke dalam mobil. "Iya pak, hehe!" Meta tersipu malu-malu.
Pak Khalid cuma mengangguk lalu pergi ke kedai. Di dalam kedai, sudah ada Della dan Daniah yang juga memilih minuman dingin. "Biar aku yang bayar!" Tegur Pak Khalid saat Della hendak membayar. "Ooh, eh makasih ya Pak!"
Pak Khalid cuma mengangguk kecil sambil tersenyum.
Begitu Pak Khalid kembali membawa minuman dingin, Adrian memberanikan diri bertanya padanya. "Maaf Pak, kalau boleh tau, alamat siapa sih yang mau kita cari?"
Meta segera menyela "alamat Hantu!"
Adrian terbelalak, "Haaa! ngapain juga coba nyariin alamat orang ma...pp!" Daniah membungkam mulut Adrian cepat.
Daniah melotot tajam, "siapa suruh ikut tanpa tanya dulu?"
Adrian menunduk pasrah.
"Ayo cepat, Amanda akan menunjukkan jalannya!" Ajak Pak Khalid seraya naik ke mobil.
Adrian jadi heran, "Amanda siapa?"
Daniah mendekat lalu berbisik, "Hantu yang lagi dicariin alamatnya!"
"Whaatt?" Adrian terbelalak "Bagaimana caranya?" Adrian begitu penasaran. "Ah naik dulu deh, entar aku ceritain!" Sambil membuka pintu dan naik ke mobil. Adrian melangkah dengan ragu lalu naik pula ke mobil.
Mobil Pak Khalid kini memimpin perjalanan. Dengan antusias, Amanda telah duduk manis di antara Zahira dan Pak Khalid. Zahira menoleh menatap Pak Khalid.
"Pak, ngomong-ngomong nih, kalau kita ketemu keluarga Amanda, apa yang akan kita katakan?"
"Eh bener tuh Pak, mau bilang apa coba? Masa kita bilang 'Anak anda jadi hantu' ga mungkin kan Pak?"
"Iya juga sih!"
Meraka pun terdiam dan tampak berpikir. "Ah, aku ada ide!"
"Waah apa tuh Pak?" Seru Zahira dan Meta bersamaan.
"Bagaimana kalau aku bilang, aku teman kerja Amanda, dan aku dapat mimpi ketemu Amanda, gimana?"
"Waah Bapak benar-benar cemerlang ya!" Meta memujinya.
"Iya aku juga setuju Pak!" Imbuh Zahira.
Mobil terus melaju dijalanan yang begitu mulus. Tak berapa lama, Amanda meminta Pak Khalid berhenti.
Meta dan Zahira jadi heran. "Sudah sampai Pak?"
"heemm!" Sambil mematikan mesin mobilnya.
Ardrian pun ikutan berhenti.
Pak Khalid, Zahira dan Meta segera turun dari mobil. Tapi adrian menolak untuk turun. Dengan terpaksa Daniah dan Della juga tidak turun. Melihat Della tidak ikut, Meta pun memilih tidak ikut dan segera menemui mereka.
Sambil mengikuti Amanda, Pak Khalid berjalan pelan menuju rumah panggung yang terbuat dari kayu. Akan tetapi keadaan rumah tampak sepi dan lapuk. Seakan tidak ada orang yang menghuninya.
Pak Khalid menaiki tangga dan mengetuk pintu. "Assalamu alaikum! Apa ada orang di dalam?" Tak ada yang menyahut. Amanda segera melesat masuk. Tak lama kemudian muncul lagi dengan wajah kecewa. Dia pun menggeleng pelan.
Pak Khalid pun segera turun. "Pak Bagaimana?" Tanya Zahira begitu Pak Khalid sampai di bawah. "Sepertinya tidak ada orang!"
Amanda melambai ke Pak Khalid seraya menunjuk rumah yang tak jauh dari rumahnya. Pak Khalid pun mengangguk.
__ADS_1
Segera Pak Khalid melangkah menuju rumah itu. Anjing milik tuan rumah itu melolong panjang tak karuan.
Zahira menjerit ketakutan saat anjing itu berkoar-koar sambil mengitari mereka. Tanpa sadar dia bergelayut di lengan Pak Khalid. Sesekali anjing itu menatap ke tempat kosong di samping Pak Khalid dengan lolongan yang aneh.
Mendengar anjingnya menyalak-nyalak, sang empunya rumah segera muncul dari balik tumpukan kayu bakar, di bawah rumah. "Shie, huss shie! teako mammekko! shiee!" (Berbahasa bugis: Hus hus diam ga, hus!).
Setelah anjingnya terdiam dan lari kebelakang, Pak Khalid memberi salam, "Assalamu alaikum Pak, boleh bertanya?"
Pemilik rumah pun tersenyum. "Alaikum salam, iya silahkan!"
"Maaf mengganggu Pak, mm kita mau tanya, pemilik rumah yang di sana itu kemana ya?" Sambil menunjuk rumah Amanda.
"Ooh itu, pemiliknya sudah pindah, ikut anaknya ke Kendari!"
"Ooh, gitu ya, apa Bapak punya nomor teleponnya mungkin?"
"Oh ada, ada, mari silahkan naik dulu, mari!" Ajak pemilik rumah sambil menaiki tangga rumahnya.
Pak Khalid menoleh ke Zahira yang masih bergelayut di lengannya. "Zahira, naik yuk!" Zahira segera tersadar saat melihat Pak Khalid menatap lengannya.
Dengan cepat dia melepasnya. "Eh maaf Pak, aku...aku...emm...ga sengaja!" Sambil tertunduk malu.
"Iya ga papa, ayo!" Sambil melangkah menaiki setiap anak tangga kayu rumah itu. Zahira mengikutinya dari belakang.
"Mari masuk Dek, silahkan duduk!"
Mereka pun duduk di kursi plastik di ruang tamu. "Ini Dek, nomornya!" Sembari menyodorkan HP jadul miliknya.
Zahira memberanikan diri bertanya. "Pak, maaf mau tanya, apa Bapak kenal perempuan yang bernama Amanda?"
Bapak itu terdiam dan tampak sedih. "hehhhhaaahh!" Dia menarik napas berat. "Amanda...dia ponakan aku!"
Zahira merasa sangat bersalah melihat kesedihan di wajah Bapak itu. "Maaf Pak, kelihatannya Bapak sedih!"
"Manda sudah meninggal Dek!" Matanya tampak berkaca-kaca. "Padahal dia sangat baik, setiap bulan, saat menerima gaji dan mengirimi ibunya, dia pasti mengirimi aku juga!" Air matanya sudah menetes.
"Amanda baik banget ya Pak!"
"Em em!" Dia sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya mengangguk saja.
"Kalian ini siapa, kok kenal Amanda?"
Zahira gelagapan lalu menoleh ke Pak Khalid. Pak Khalid yang sudah selesai mencatat nomornya, segera mengembalikan Ponsel si Bapak.
"Saya ini, teman kerjanya Amanda dulu Pak!"
"Ooh!"
"Emm begini Pak, beberapa waktu lalu, aku mimpi ketemu Amanda, dan dia meminta tolong sama saya, agar menemui keluarganya!"
"Ooh begitu? Tapi kenapa katanya?"
"Emm dia mau bertanya, katanya kenapa kematian dia tidak diusut Polisi?"
Tampak Bapak itu sedang mengingat-ingat. "Eem waktu itu, sempat ditangani Polisi, tapi katanya bunuh diri!"
"Tapi Pak, apa mungkin jika Amanda yang kata Bapak sangat baik dan pengertian itu, tega bunuh diri Pak?"
"Haah kata Polisi, mungkin Amanda malu karena hamil tanpa tahu siapa Bapaknya!"
"Tapi Pak, sepertinya Amanda tidak terima dengan pengakuan seperti itu, dia jelas-jelas bilang dalam mimpiku, kalau katanya dia dibunuh Pak!"
Bapak itu tertegun sejenak, kemudian tertunduk dan terisak-isak. "Astagfirullah, malangnya nasibmu Manda, tapi apalah daya kami Nak, cuma orang miskin!"
"Pak, kematian Amanda masih bisa diusut Pak, asal ada pihak keluarga yang mau menuntut ulang!"
Bapak itu mendongak menatap Pak Khalid. Kemudian dengan perlahan dia menggeleng. "Percuma Dek, siapalah kami, kami sangat takut berurusan dengan Polisi Dek, lagi pula kami sudah ikhlas dengan kepergian Amanda!" Kembali air matanya menetes membasahi pipinya. "Heeepp haaahh!" Dia menghela napas.
"Tapi orang tua Amanda sendiri bagaimana?"
Bapak itu menggeleng, "kurang tahu juga, aku jarang menelponnya, tapi aku yakin, mereka juga sudah ikhlas!"
"Biar aku hubungi dulu ya Pak!"
Bapak itu mengangguk, Pak Khalid pun menghubungi orang tua Amanda.
Seorang wanita paruh baya masuk. Dia tampak kaget melihat orang asing di rumahnya. "Siapa Pak?"
"Temannya Amanda katanya!"
"Ooh, maaf ya Dek, aku permisi masuk ke dalam dulu!" Zahira cuma mengangguk dan tersenyum.
Pak Khalid mematikan ponselnya, "tidak aktif Pak!"
"Ooh mungkin lagi di cas!"
"Em kalau begitu kami permisi dulu Pak, kalau Bapak memang tidak mau mengusut ulang kasus Amanda, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, lagi pula, aku kesini cuma mau menyampaikan amanah saja Pak!"
"Iya Dek, makasih banyak, kami semua sudah ikhlas dengannya, semuanya kami serahkan pada yang di Atas, kami hanya bisa berdoa saja, nanti aku bilang ke adikku supaya dia mengirimkan sesajen buat Manda!"
Mendengar penuturan itu, Zahira terbelalak, lalu berusaha menetralkan perasaan kagetnya.
"Eemm maaf Pak, maaaaf banget, bukannya menggurui, tapi orang yang sudah mati itu, makanannya bukan makanan orang hidup lagi, mereka cuma makan, dari hasil doa yang dikirim oleh keluarganya Pak, jadi kalau Bapak mau Amanda tenang, tinggal berdoa saja Pak, gratis kok, ga keluar uang sepeser pun!" Zahira tersenyum kecut karena takut orang itu tersinggung.
Bapak itu tampak berpikir, "kira-kira, doa saja bakalan sampai?"
Zahira mengangguk, "Iya Pak, lagi pula Pak Imam kan kalau bacain sesajen buat orang mati, baca doa juga, terus makanannya, siapa yang makan Pak?"
Bapak itu tampak ragu, "yaaa, yaa kita juga!"
"Nah tuh Bapak tahu, jadi yang sampai ke Amanda itu, cuma doa, makannya ya buat Bapak doang kan? jadi mending doa aja langsung, ga harus menunggu ada makanan dulu Pak!"
"Begitu ya?"
Zahira mengangguk cepat sambil tersenyum lega, karena penjelasannya bisa diterima dengan baik oleh si Bapak.
"Ya sudah kami pamit dulu Pak, Assalamu alaikum!" Pamit Pak Khalid seraya berdiri diikuti oleh Zahira.
Perempuan tadi segera berlari keluar. "Eeh tungg dulu, aku baru panasin air lho!"
"Ah makasih Bu, tapi kami agak buru-buru, soalnya ini sudah sore, teman kami sedang menunggu!" Dalih Pak Khalid.
"Oh ya sudah, makasih ya, sudah mau mampir!"
Pak Khalid dan Zahira pun keluar dari rumah itu. Saat mereka telah sampai di bawah, Amanda datang menghadang Pak Khalid. Dengan wajah sedih, dia tersenyum pilu seraya menatap Pak Khalid. Bibirnya bergerak pelan seakan berkata, "Terima kasih Pak!" Air matanya perlahan menetes.
Pak Khalid pun merasakan sesak di dadanya. Sambil mengangguk pelan, matanya ikut berkaca-kaca. Bayangan Amanda pun sedikit demi sedikit menjadi kabur dan menghilang bagai asap tertiup angin.
Dengan perasaan sedih, Pak Khalid berjalan menunu mobilnya. Mereka pun memutar mobil dan kembali menuju ke kota Makassar.
Dalam hati, Pak Khalid berharap semoga Amanda bisa pergi dengan tenang.
.
.
.
.
Jumpa lagi di next episode ya...😘😘😘😘
__ADS_1
Masih ada kisah lainnya yang menanti....Salam sayang author selalu buat Para reader tercinta.