Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 89. Duo galau


__ADS_3

Masih tetap saja sama dengan hari sebelumnya. Pak Khalid tetap tak nampak batang hidungnya. Baik di rumah juga di kampus. Zahira menjadi semakin pendiam.


Daniah pun sama, sudah beberapa hari ini, Adrian kelihatan murung dan kuyu. Tidak seiseng yang sudah-sudah. Adrian bahkan mengacuhkannya hari ini.


Selama jam pelajaran, Adrian terus menelungkupkan wajahnya di meja. Meski Daniah terus menanti suara gombalnya, tapi dia tetap saja merasa gengsi untuk menegur bahkan menyapa terlebih dahulu.


Ingin rasanya Daniah memeluk dan membelai wajah kuyu dan tampak gundah itu, tapi apalah daya, egonya terlalu tinggi. Hingga akhirnya Daniah hanya mampu menatap punggung kekasih terpendamnya itu.


Begitu jam pelajaran berakhir, Adrian tetap saja telungkup di meja. Daniah tak sanggup untuk menegurnya. tapi untuk meninggalkannya, dia pun tampak ragu.


Zahira telah berdiri dari kursinya hendak keluar. Ia menoleh ke kursi Daniah di belakang. "Dan! kamu belum mau pulang?"


Daniah mengangkat wajahnya. "Eee iya ayo pulang!" Sembari bangkit dari duduknya. Tapi saat dia hendak melangkah, dia malah mengurungkan nianya. Dengan cepat dia mengeluarkan kertas dan pulpen lalu menulis sesuatu di sana.


*Ada apa sih, kenapa kamu diam beberapa hari ini? kalau ada masalah, cerita saja, aku bisa mendengar masalahmu"*


Demikian isi pesan yang ditulis Daniah. Begitu selesai, dia pun melipatnya lalu diselipkan di bawah lengan Adrian, yang menjadi bantalnya.


Daniah segera menyusul Zahira yang telah keluar lebih dulu.


Begitu sampai diluar, Della dan Meta sudah tampak asik dengan cemilan kerupuk kentang. Saat Zahira mendekat, Meta langsung menawarinya. "Ra, keripik mau?"


Zahira cuma menggeleng pelan. Wajahnya datar bagai papan seluncuran. Daniah yang datang belakangan lebih-lebih datarnya. Della dan Meta saling menyikut. "Waah sepertinya ada masalah diantara mereka ya?" Della cuma angkat bahu mendengar kekepoan Meta.


"Kalian kenapa sih, datar begitu, mau dipake meluncur, manusia, tapi dibilang manusia, tuh muka datar banget, ada apa sih?"


Meta mengangguk membenarkan pertanyaan Della. "Iya tuh, kalian kayak ga punya gairah hidup gitu?"


Tanpa sadar, Zahira dan Daniah mendesah bersamaan, "hhhhpp haaah!"


Della dan Meta saling tatap. "Kalian berdua lagi galau?" Sambil menatap keduanya dengan keheranan.


Zahira tidak menyahut, demikian pula dengan Daniah. Mereka melangkah pergi tanpa mengajak Della dan Meta. Hal itu nembuat mereka jadi semakin merasa heran.


"Waaah, kita ditinggal bo!" Della menatap Meta dengan mata melebar.


"He eh, mentang-mentang kita jomblo!"


"Hahahaha!" Mereka tertawa bersama.


Lalu berlari kecil menyusul Daniah dan Zahira. "Enak juga ya jadi jomblo, ga perlu galau!"


"Dan ga perlu patah hati, hahaha!"


Kelakar Della dan Meta sambil terus berlari kecil.


Sesampai di tempat parkir, Zahira bengong. Daniah yang melihat Zahira berdiri mematung malah ikutan bengong. Della dan Meta semakin merasa heran.


Perlahan Meta berbisik ke Della. "Del, apa mereka kesambet ya?"


"Entahlah, kita kagetin yuk!"


"Ga ah, nanti malah kena gampar Daniah, dia sangar banget!"


"Biar aku saja!"


"Terserah deh!"


Dengan mengendap-endap, Della mengangkat kedua tangannya ke udara dan siap mengagetkan duo galau di depannya. Tapi sayang, Daniah malah menoleh dan melihat aksinya. "Kamu ngapain Dell?"


Seketika Della menjatuhkan tangannya. Della pun menjadi gelagapan. "Eeh... itu... ada sesuatu yang beterbangan tadi di sini!" Sambil menunjuk tidak jelas ke udara. Sementara Meta sudah berusaha membekap mulut menahan tawa di belakangnya.


"Kalian ngapain sih, pake bengong begitu, kesambet ya?" Della mengalihkan pembicaraan.


Daniah menatap Zahira. "Ra kamu kenapa ga naik?" Tergurnya.


Zahira menoleh, "Aahh aku jadi ga enak nih, masa aku pake terus mobil Pak Khalid tapi kita malah ga pernah lihat orangnya lagi, mau bilang makasih kan ga bisa!" Zahira tertunduk lesu.


"Terus apa kita tinggalin mobilnya di sini, begitu?" Daniah menatapnya lekat.


"Zahira, dari pada galau, mending kita samperin aja ke Rumah sakit!" Seru Meta.

__ADS_1


"Iya Ra, dari pada kepikiran mulu!" Della menimpali.


Zahira tak bergeming, cuma desahan yang terdengar dari bibir mungilnya. Daniah tak mau berdebat, akhirnya memilih naik duluan. Seketika Della dan Meta ikutan naik.


Melihat semua temannya naik, dengan terpaksa Zahira pun naik pula. Setelah mendesah beberapa kali, barulah Zahira melajukan mobinya perlahan-lahan.


*****


Adrian yang masih telungkup, terbangun karena Rasti yang membangunkannya. Saat dia menarik lengannya, sebuah lipatan kertas terjatuh di lantai. Dengan sedikit heran, Adrian memungutnya.


Adrian terdiam setelah membaca pesan Daniah di kertas itu. Dia menarik napas panjang lalu kembali melipat kertas itu dan menyimpannya dalam saku celana.


Seperti dikejar setan, Adrian keluar dari kelas, bahkan tidak perduli dengan Rasti yang hampir ditabraknya. "Iih kenapa tuh anak, ckckck!" Rasti geleng-geleng kepala.


Adrian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi entah mau kemana. Yang ada di benaknya, hanyalah ingin menemui Daniah.


******


Tak ada yang istimewa di rumah Zahira. Della dan Meta bagai mahluk tak dianggap. Kedua temannya bagaikan mayat hidup yang tak punya jiwa sama sekali.


Jangankan berbicara, makan saja mereka seakan tidak selera lagi. Della dan Meta bergantian memonyongkan bibirnya tanda tak senang dengan keadaan temannya.


Selesai makan siang, Daniah dan Zahira langsung masuk ke kamar masing-masing tanpa ada suara. Tinggallah Della dan Meta yang hanya saling pandang dengan heran.


Seketika Meta menyeletuk. "Hehehe duo galau, hahah!"


"Pfffft, bener banget, hahaha!"


'Hussst jangan berisik entar kedengar mati deh kita!" Meta melotot ke Della.


"Untung kita masih jomblo, jadi masih ada yang sadar di sini, hihi!" Delle menutup mulutnya menahan tawa.


"Dari pada pusing mikirin si Duo galau, mending kita nonton yuk!" Sambil beranjak menuju ruang tengah.


"Meta tungguin dong!" Seru Della seraya menyusul Meta.


Lagi asik-asik menonton, terdengar suara pintu di ketuk orang. Tapi karena mereka terlena dengan sinetron yang lagi seru, sehingga mereka tidak perduli.


Daniah yang mendengar ketukan itu, segera keluar dari kamar. Melihat Della dan Meta asik menonton, mode sewotnya langsung on. "Della! Meta! Kalian ga dengar apa ada yang mengetuk pintu?"


Begitu pintu terbuka, Daniah hanya menganga tanpa bisa berkata-kata.


"Yang, aku tadi baca pesanmu, makanya aku kemari, ga papa kan?"


Daniah masih diam dan tak berkedip. Dia begitu kaget bercampur senang ditambah rasa heran. Semua berkumpul jadi satu membuat jantungnya seakan mau keluar dari dalam biliknya.


"Yang!" Panggil Adrian sekali lagi.


"Eh iya, eh...Adrian, kamu?"


"Iya, aku boleh masuk?"


"I...iya boleh...." Daniah masih tak bergerak.


"Ayang Daniah!" Panggil adrian lagi. "Kalau ga boleh, baiklah aku pergi!"


"Oh boleh kok, masuk yuk!" Sambil berbalik badan hendak masuk.


Baru dua langkah Daniah berlalu, Adrian langsung memeluknya dari belakang. Kedua tangannya melingkar erat di perut Daniah. Sementara kepalanya diletakkan di bahu.


Daniah kaget bukan kepalang, "Adrian apaan sih?" Daniah membentak sambil menarik tangan Adrian kuat-kuat. Akan tetapi Adrian malah lebih mengeratkan pelukannya. "Lepas ah!"


Adrian menggeleng, "tolong biarkan aku sebentar seperti ini, aku mohon, hanya sebentar, pliizz!" Adrian menghiba.


Daniah terhenyak mendengar suara memelas Adrian. Dia pun melemah dan membiarkan Adrian memeluknya dengan erat. Entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar di hati Daniah.


Perasaannya yang kemarin sedih, kini malah berbunga-bunga. Hatinya serasa tersiram air dingin yang meredam segala kemarahannya. Senyum bahagia tergores di bibirnya.


"Yang...!" Suara Adrian lirih.


"Hmmm!" Singkat jawaban Daniah.

__ADS_1


"Aku boleh tinggal di sini?"


Seketika mata Daniah melebar. Dengan cepat dia memutar badannya. Adrian pun terpaksa melepas pelukannya dan menatap Daniah lesu.


Melihat pandangan Adrian, Daniah jadi luluh. Amarahnya langsung reda.


"Hhhhaaah, dengar ya, bukannya aku tidak mengizinkan, cuma di sini semua cewek, ga bagus dong kalau ada cowok, lagi pula, Zahira tidak membolehkan ada cowok lihat tubuhnya bahkan sehelai rambutnya pun ga boleh!"


"Yang, aku janji, aku akan jaga sikap, aku tidak akan melirik wanita lain, hanya kamu seorang!"


Daniah langsung meleleh mendengar pengakuan Adrian. Bibirnya bergerak-gerak menahan senyumnya. Pipinya langsung memerah.


"Bagaimana Yang?" Adrian menatapnya lekat penuh iba. "Emm baiklah, biar aku bicarakan dulu sama anak-anak, hasilnya bagaimana, nanti kita lihat aja ya!"


"Makasih ya, Sayang," Cup! Adrian mengecup puncak kepalanya.


Mata Daniah melebar, dan tubuhnya serasa membeku. Hatinya bagai meleleh hingga rasanya lemas seketika. Daniah tertunduk menahan malu dan keki.


"Boleh aku masuk!"


Daniah hanya mengangguk sambil tertuduk. Kemudian melangkah masuk dengan senyum malu-malu yang tak mau menyingkir dari wajahnya.


Begitu sampai di ruang tengah, Della dan Meta yang lagi asik berbaring di karpet depan TV, langsung mendongak menatap tamu yang baru datang.


Begitu tahu siapa yang datang, dengan cepat mereka bangkit dari tidur. "Eh Adrian, kamu di sini?"


"Iya, kenapa, emang ga boleh?" Daniah mode garang. "Duduk yuk!" Seraya mempersihakan adrian.


Saat Adrian duduk, Daniah pun duduk pula agak jauh dari Adrian. Tapi adrian langsung beringsut mendekat. Daniah menatap Adrian risih karena didekati.


Belum lagi Daniah selesai dari rasa risihnya, Adrian langsung merebahkan tubuhnya dan menjadikan pangkuan Daniah sebagai bantalnya. Daniah kaget bukan kepalang, hingga membuatnya menahan napas sesaat. Sedangkan Adrian seakan tidak peduli dan bersikap biasa-biasa saja, seolah Daniah adalah Ibunya.


Della langsung loyo melihatnya dan kembali tengkurap sambil melanjutkan acara nontonnya, Demikian juga Meta.


Meta mendekatkan kepalanya ke kepala Della sambil berbisik. "Dell, kayaknya kita bakalan jadi kacang, ada yang kasmaran deh tuh!"


Della cuma melirik sebentar, lalu kembali menatap TV. "He eh, jangan dilirik, entar ngiler, hihi!" Della membekap mulut menahan tawa. "Kalau mereka galau, kita jomblowati yang menang, tapi kalau lagi kasmaran, kita yang jadi kacang, hihi!"


Melihat Della dan Meta asik berbisik, Daniah langsung tersinggung.


"Kalian ngapain bisik-bisik!"


"Ooh ga papa, sewot amat jadi orang!" Seru Della seraya menggamit Meta dan berlalu masuk ke kamar. Meta cuma menatap mereka bingung lalu ikutan masuk pula ke kamar.


Daniah menatap Adrian yang memejamkan mata. "Hei, kamu ngapain sih, risih tahu, hei!" Daniah menggoyangkan bahu Adrian.


Adrian tak bergeming, matanya tetap tertutup. "Yang izinkan aku tidur di pangkuanmu sebentar aja ya!" Sambil menarik tangan Daniah dan memeluknya erat di dada.


Daniah sungguh tak tega melihatnya. Wajah Adrian yang kuyu dan tampak gundah gulana membuatnya luluh. Daniah merasa sangat prihatin di dalam hatinya.


Daniah terus saja menatap wajah manis di depannya. Tanpa sadar, dia mengelus kepala Adrian dengan tangan yang satunya.


Daniah tersenyum melihat Adrian tampak tenang. Ada rasa dalam hati Daniah yang tak mampu diungkapkan. Persaan bagai mendapat hadiah istimewa dihari yang istimewa pula.


Zahira turun dari kamarnya hendak mengambil minum. Tapi alangkah kagetnya saat melihat Daniah tengah memangku kepala Cowok. Dengan cepat dia mendekati Daniah.


"Dan!" Mata Zahira melebar menatap Daniah sambil menunjuk Adrian.


Seketika Daniah mendongak "Sssttt!"


Hanya itu jawaban Daniah.


Zahira geleng-geleng kepala melihatnya. Daniah mendelik kemudian mengusir Zahira dengan anggukan kepalanya. Zahira pun mencibir lalu masuk ke dapur dengan segera.


.


.


.


Yang jomblo jangan iri ya😅😅😅😅.

__ADS_1


Like dan komen jika suka. Terima kasih sudah bersedia untuk terus bersamaku, merajut cerita ini dengan setia.


Jumpa lagi di episode selanjutnya.


__ADS_2