
Dokter yang menangani Yeni datang bersama dengan Alfian, Semua orang langsung menyingkir agak menjauh dari ranjang, memberi ruang buat dokter.
Bu Dewi memilih mendekati Zahira, dengan senyum dikulum, Bu Dewi duduk di sampingnya. "Makasih ya Nak, kamu udah membantu Yeni."
Zahira ikut tersenyum mendengar penuturan Bu Dewi. "Sama-sama Bu, lagian Kak Yeni juga temanku, jadi sudah kewajibanku ikut membantu."
Bu Dewi semakin kagum dengan sikap dan kemurahan hati Zahira. Mata Bu Dewi seakan tak mau lepas memandangi Zahira.
"Bu, kok lihatin Zahira sampe segitunya sih?" Tanya Alfian yang datang tiba-tiba. Dia pun duduk di samping Pak Khalid. Dengan senyum bahagia, dia memandangi Zahira dan Ibunya bergantian.
Pak Khalid yang melihat itu, merasa tidak enak, entah kecewa atau kesal yang dia rasakan, yang pasti hatinya sedikit galau. Dengan segera dia menarik napas berat lalu menunduk.
"Zahira, kapan-kapan kamu main ke rumah ya!" Pinta Bu Dewi sambil menggenggam tangan Zahira.
Zahira tersenyum lalu mengangguk pelan.
"InsyaAllah Bu, kalau ada kesempatan ya!"
Alfian tanpak sangat senang mendengar jawaban dari Zahira, sementara Pak Khalid semakin tertunduk.
Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa jam besuk sudah habis, sontak semua tamu di kamar itu langsung mendongak.
Terutama Pak Khalid yang sedari tadi memang sudah galau.
"Zahira, mungkin sebaiknya kita pulang dulu, waktu besuk sudah habis.
Zahira menoleh begitu mendengar ajakan Pak Khalid. "Iya Pak, Bu kami permisi dulu ya!"
Bu Dewi seakan tak ingin melepaskan genggaman tangannya. Namun dengan berat hati dia pun melepasnya. "Beneran ya, lain kali main ke rumah."
Zahira cuma tersenyum, "InsyaAllah Bu."
Zahira pun berdiri dari Sofa, demikin pula dengan Daniah, dan yang lainnya.
"Tante kami permisi dulu, Tante Diana, kami pulang ya!" Daniah mewakili teman-temannya mohon pamit pada keluarga Yeni.
"Ya, terima kasih ya atas bantuannya!" Seru Diana yang sedang berdiri di dekat ranjang Yeni.
"Siapa Ma?"
__ADS_1
"Ooh itu Daniah sama Della yang mengunjungi kamu, sekarang mereka sudah pulang." Diana mencoba berbohong pada Yeni, karena dia tahu kalau Yeni tidak suka sama Zahira.
Alfian ikut mengantar Zahira keluar. Mereka pun berjalan beriringan tanpa memperdulikan Keberadaan Pak Khalid serta Daniah and the gank di belakang.
Alfian sengaja tidak memberi kesempatan untuk Pak Khalid mendekati Zahira.
Sampai di parkiran pun, Alfian sengaja nembukakan pintu mobil buat Zahira di belakang. Zahira cuma tersenyum padanya, "makasih ya Kak, sampai repot-repot bukain pintu." Lalu dia pun masuk ke dalam, disusul oleh Della dan Meta. Alfian hanya tersenyum.
Melihat hal itu, Daniah tersenyum kegirangan. Betapa tidak, sepanjang jalan sejak dari kamar Yeni, dia terus beriringan dengan Pak Khalid. Meskipun tanpa basa-basi, tapi dia sudah sangat bahagia. Dan sekarang, kursi depan sedang kosong, artinya, itu untuknya yang belum masuk mobil.
Pak Khalid masuk ke dalam mobilnya tanpa komentar. Wajah datar terpajang di sana. Daniah pun tanpa aba-aba lagi segera masuk dan duduk manis dikursi depan.
Alfian menatap kepergian mobil Pak Khalid dengan senyum penuh kemenangan. Harapannya untuk membuat Zahira menjauh dari Pak Khalid berhasil. Begitu mobil mereka menghilang, barulah Alfian masuk ke dalam.
Di dalam mobil, Pak Khalid terus saja diam tanpa komentar. Daniah sesekali melirik Pak Khalid, karena merasa ada yang aneh. Wajah Pak Khalid yang selalu teduh dan begitu hangat, kini berubah datar seakan tak punya gairah.
Pikiran Pak Khalid terus berkecamuk mengingat betapa hangatnya perlakuan Ibunya Alfian sama Zahira tadi. "Ya Allah, apa aku salah jika mengharapkan gadis yang sudah punya pacar?" Batinnya. Tanpa sadar Pak Khalid memejamkan mata rapat-rapat.
Daniah menyaksikan itu semua, dengan perasaan sedikit kecewa, dia membuang muka dan memandang keluar jendela.
Karena suasana hening, Zahira dan Della tertidur di belakang. Meta tetap santai menatap sekeliling. Betapa kaget Daniah saat melihat jalur yang mereka lalui melewati jalur ke rumahnya. Dengan cepat dia menoleh. "Eh Pak, kita mau kemana?"
Jawab Pak Khalid tanpa menoleh juga tanpa senyumnya yang hangat.
Daniah cuma bisa mengangguk pelan.
Setelah agak lama berjalan, akhirnya mobil pun berhenti di depan sebuah Restoran mewah. Daniah langsung terpesona. "Waahhh bagusnya!!"
Meta segera membangunkanDella yang tertidur pulas. "He bangun dah sampai!"
Della menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya ke samping, menerpa wajah Meta. Dengan cepat Meta menangkisnya. Tapi tiba-tiba....
"Aaa aduuh astagfirullah...aaahhh!!"
Sontak semua menoleh ke Zahira. Termasuk Pak Khalid yang baru saja mau turun. "Zahira kamu kenapa?"
"Aahh hidungku, aaahhhh," Zahira memgangi hidungnya yang sakit terkena tangan Della yang direntangkan tadi.
Pak Khalid segera keluar dan membuka pintu dekat Zahira. "Ra kamu ga papa kan?" Pak Khalid berjongkok di depan muka Zahira membuat Zahira memundurkan wajahnya ke belakang bersandar di kursi.
__ADS_1
"Aah sakit Pak," sambil mengelus-elus hidungnya yang masih tampak agak kebiruan. "Sini biar kulihat dulu!"
Zahira melepas tangannya dari hidung, dengan seksama Pak Khalid melihat hidung Zahira lebih teliti.
Sementara Della dan Meta segera turun dari mobil, mereka sengaja tidak mau mengganggu. "Kamu sengaja ya Del, biar mereka bisa berduaan lagi." Bisik Meta saat mereka sudah diluar mobil.
Della menatap Meta sejurus sambil mengerut, "ga sengajalah, tapi hmhmhm" Della menahan tawanya.
"Biar sajalah, anggap saja sengaja, biar mereka bisa berduaan, kasihan Pak Khalid kayak cemburu baget tadi kan?" Della juga berbisik.
"Aadduuuh, Daniaah!!" Della meringis sambil mengelus pundaknya yang digampar Daniah tiba-tiba. "Siapa suruh main api, kamu pikir aku tidak dengar, rencana kalian!"
"Sssttt!" Della dan Meta sontak terbelalak dan mengkode Daniah supaya diam.
Di dalam mobil, Zahira menutup matanya karena jantungnya tak karuan saat wajahnya berdekatan dengan wajah Pak Khalid. Dengan lembut Pak Khalid mengusap hidung Zahira, "masih sakit sekali ya?"
Zahira mengeleng pelan, sambil membuka sebelah matanya. "tadi sih udah mendingan tapi barusan kena kibas tangan Della jadi sakit lagi."
Pak Khalid masih mengelus hidung kecil bulat dan mancung di depannya. Betapa inginnya dia menggigit hidung mungil itu, tapi disabarkanya hatinya. "Nanti aku belikan obat pereda nyeri ya!"
Zahira hanya mengangguk pelan. Pak Khalid pun menegakkan tubuhnya. "Kamu masuk dulu di dalam, sambil memesan, tunggu aku ya, aku mau ke apotik dulu."
Zahira mengangguk lagi, lalu turun dari mobil. Dia pun memutar dan menemui temannya yang sudah menunggu sejak tadi. "Ayo masuk dulu!" Ajak Zahira sambil berjalan.
"Terus Pak Khalid?"
"Tenang aja Dan, Pak Khalid ga bakal kabur kok, hahaha."
Selesai berkata demikian, Della langsung berlari ke depan, takut kena gampar lagi. Daniah cuma melotot geram. Mereka pun masuk ke dalam restoran.
.
.
.
Entar Malam disambung lagi yaπππmaaf jika kurang puas dengan ceritaku kali ini, maaf yaππππ.
Like, vote dan komennya sangat aku harapkanππππ.
__ADS_1