
Zahira berjalan pelan mengikuti langkah Daniah, sembari menunggu Della dan Meta keluar kelas. Dari jauh nampak Alfian tengah berdiri menunggunya di bawah pohon.
Melihat Alfian yang berdiri di bawah pohon sambil tersenyum, Daniah melirik Zahira. "Zahira, Kak Alfian kayaknya tergila-gila berat sama kamu deh."
Zahira menoleh, "Dan, jangan bilang begitu, aku tidak enak hati, aku sama Kak Fian ga ada perasaan apa-apa."
"Tapi tuh kelihatan banget kan?"
Zahira cuma menarik napas.
"Assalamu alaikum Ra!" Alfian tak sabar menyapa Zahira.
Zahira tersenyum " wa alaikum salam Kak."
"Gimana, jadi kita ketemu Ibu?"
Daniah langsung menoleh ke Zahira dengan tatapan mata penuh tanya.
"Emm tadi Kak Fian ngajakin aku bertemu Ibunya." Jawab Zahira seakan mengerti tatapan matanya.
"Jadi ga Ra, soalnya, aku mau ngasih tahu Ibu."
Daniah dan Zahira saling tatap. "Kamu pergi deh Ra, kasihan Kak Fian udah nunggu lama lagi."
Alfian tersenyum mendengar saran Daniah.
"Emm iya baiklah kalau begitu, lagian kan rencana kita juga batal."
Alfian bernapas lega, "Baiklah aku telpon Ibu dulu ya." Baru saja dia ingin menelpon, tiba-tiba ponselnya berdering duluan.
*"Halo Assalamu alaikum Bu, baru saja aku mau menelpon."
*"Alaikum salam, Fian Ibu tidak bisa ketemu Zahira deh, soalnya Yeni makin parah, Ibu mau kesana jengukin dulu."*
*"Apa Bu, Yeni parah?"*
Fian nampak cemas.
*"Iya Fian, udah dulu ya, Ayah udah nunggu di depan, assalamu alaikum."*
*"Alaikum salam."*
Alfian tertunduk lemah, kecewa dan cemas bercampur aduk di hatinya sehingga tergambar di wajahnya.
Mendengar kabar Yeni, Zahira dan Daniah saling pandang, wajah mereka juga tak kalah kagetnya.
Della dan Meta yang baru datang, jadi heran melihat tingkah orang di depannya. Della memyenggol Daniah. "He ada apa sih, kayak tegang gitu?"
Dania menoleh begitu pula Zahira. "Eh Della, anu itu, Kak Yeni makin parah Dell."
Meta dan Della kaget. "Whaaaat!" mata mereka terbelalak. "Terus?"
Mereka angkat bahu.
"Zahira aku duluan yah!" Alfian beranjak dari tempatnya, tapi buru-buru dicegah oleh Zahira. "Kak tunggu, kita boleh ga ikutan jengukin Kak Yeni?"
Alfian berhenti dan menoleh, "Boleh kok, Yeni di kamar VVIP, nomor 09." Jawab Fian sambil berlalu pergi.
Sepeninggal Alfian, Daniah memandangi Zahira. "Serius lo mau jengukin Kak Yeni?"
"Iya Ra, sumpah Kak Yeni benci banget sama kamu." Della nampak cemas.
Zahira tersenyum, "Kak Yeni kan lagi parah, ya mana sempat dia marah, kalau Kak Yeni masih bisa marah sama aku sukur dong, artinya Kak Yeni sehat, ya kan?"
Meta menganga." Lo sehat kan Ra, ga lagi kesambet kan?" "Aadduuuhhhh!" Meta langsung mengaduh sambil mengelus lengannya yang ditampar keras oleh Daniah tiba-tiba.
"Sudah kubilang jangan bicara soal kesambet!" Daniah melotot tajam padanya. Meta cemberut tak bicara lagi.
"Tapi Zahira kamu serius ga papa?"
"Iya ga papa, aku serius, eh bukan serius, tapi dua rius." Zahira tersenyum.
"Ya terserah deh, ayo!" Daniah melangkah pergi diikuti oleh ganknya.
tiba-tiba Meta punya usul. "Eh Ra, gimana kalau kita minta Pak Khalid antarin kita, kan lumayan ga keluar ongkos, hehe."
Daniah langsung menoleh melotot pada Meta, tapi Meta langsung kabur bersembunyi di punggumg Zahira. "Eh Meta, kamu pikir aku hantu, takut sama Zahira haa! Sini lo cepetan!"
"Ga deh, aku tahu bakal kena gampar lagi." Zahira dan Della tertawa menyaksikan aksi mereka kayak Tom and Jerry.
"Lagian jadi cewek murahan banget sih, masih banyak angkot noh!" Lanjut Daniah.
"Iya, iya..." Meta bersungut kesal.
Zahira angkat bicara untuk melerainya.
"Udah dong Meta, biar aku yang bayar ongkosnya nanti, aku juga tidak enak minta tolong mulu sama orang, apalagi cowok, entar dikira mau morotin."
Meta menurut saja dan kembali mengikuti Daniah yang sudah berjalan lebih dulu bersama Della. Meta menggandeng lengan Zahira bagai sejoli yang lagi kasmaran. Zahira hanya menoleh dan tersenyum.
Begitu sampai di jalan raya, mereka segera menyetop angkot jurusan rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit, mereka segera ke ruang informasi menanyakan letak gedung perawatan PPIV. Baru saja mereka hendak menuju ke sana, ponsel Zahira berdering. Nama Pak Khalid terpampang di sana.
"Siapa Ra?" tanya Meta.
"Kepo aja urusan orang!" Della menarik Meta pergi.
*"Halo Assalamu alaikum Pak."*
*"Alaikum salam, Zahira, bagaimana kalau siang ini kita makan bareng, sekalian bicarakan soal rencana kita?" *
*"Tapi Pak, sekarang kita lagi di rumah sakit, Kak Yeni makin parah sakitnya, kita mau jengukin dia Pak."*
*"Yeni? siapa lagi ya? perasaan aku pernah dengar nama itu?"*
*"Oh dia seniorku di kampus Pak."
*"Oh iya aku ingat sekarang, dia dulu yang pernak aku tabrak."*
Tiba-tiba Tono yang baru datang langsung menabrak Zahira.
*"Aadduuuhh astagfirullah, akkhhh!"*
*"Zahira kamu kenapa?"*
__ADS_1
"He bisa lihat ga sih!" Bentak Tono tanpa menoleh.
Daniah and the gank yang berjalan lebih dulu segera menoleh begitu mendengar Zahira mengaduh.
Saat Tono berjalan di dekatnya, mulut mereka seakan terkunci. Hanya bola mata mereka yang bergerak mengikuti langkah Tono yang makin menjauh.
"Eh kenapa tuh orang ada di sini?" Bisik Meta. "Iya ngapain Ya?" Della ikutan. "Ya iyalah dia kan anaknya Bu Kos." Daniah menjawab.
Zahira mencoba berdiri, *"Ahhh, aku ga papa Pak, cuma ditabrak orang besar tadi jadi terlempar deh, hehe."*
"ZAHIRAAA! Kamu ga papa?" Teman-temannya memeriksa keadaannya.
"Iya aku ga papa kok," Zahira tersenyum lembut. "Eh Ra kamu tahu ga, tuh orang siapa?" Zahira menggeleng.
"Dia cowok semalam, anaknya Bu Kos!" ucap Meta setengah berteriak.
Suara Meta terdengar jelas di telinga Pak Khalid di seberang, dia menjadi cemas. *"Zahira kamu tunggu aku ya, nanti kita masuknua bersama aja ya!"*
*"Tapi Pak, bukannya lagi jam kerja Bapak?"*
*"Ga kok urusan Bapak sudah selesai, tunggu ya, aku kesan sekarang!"*
*"Iya Pak, Assalamu alaikum!"*
"Zahira, apa kata Pak Khalid?" Daniah penasaran.
"Katanya mau kemari, kita disuruh menunggu."
"Nah kan, aku bilang juga apa, coba dari tadi ditelepon, pasti dengan senang hati Pak Khalid akan datang." Meta senyum penuh kemenangan.
Tak ada yang meladeni Meta, mereka hanya menyingkir dan duduk di kursi tunggu yang berjejer di koridor itu.
Tak berapa lama mereka duduk, Alfian datang membawa kantong berisi makanan. "Hai kalian sudah datang?"
Mereka hanya tersenyum.
"Ayo masuk!"
"Ah maaf Kak, kita lagi nunggu teman dulu, bentar kita masuk deh!" ujar Della. Zahira cuma mengangguk.
"Ya sudah, aku masuk dulu yah!"
"Iya Kak!" Jawab mereka serempak.
Alfian berlalu dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Eh bentar deh, kita jengukin orang tapi ga bawa apa-apa gitu?" Meta melirik temannya minta dukungan.
"Eh iya, terus gimana dong?" Timpal Della.
"Nanti aku kasih amplop aja!"
"Zahira, Kak Yeni itu anak konglomerat, banyak duit!"
"Terus gimana?"
"Ehem, aku ada usul, tapi bakal kena gampar lagi sih pasti!"
"Hahhahahaha!" Mereka tertawa mendengar celoteh Meta.
"Emm ya deh, mengalah ga papa, biar aku chat Pak Khalid ya buat minta tolong." Zahira lalu mengirim chat ke Pak Khalid agar dibelikan sesuatu buat oleh-oleh.
Hampir saja mereka mati kebosanan karena lama menunggu. Daniah dan Della sudah terkantuk-kantuk sedari tadi. Sementara Meta tengah asik bermain dengan ponselnya.
"Asslamu alaikum, lama ya menunggu?"
Sontak mereka berdiri. "Eh Bapak, sudah datang ya?" Della berusaha menyembunyikan kantuknya. "Hoaaam."
Tapi ketahuan juga.
Pak Khalid tersenyum, "maaf ya lama."
Sambil menyerahkan keranjang buah yang dibelinya. "Yang beginikan?"
"Makasih ya Pak, emm berapa Pak?" Zahira mengambil dompetnya. "Ga perlu Zahira, itu tak seberapa kok!"
"Tapi Pak..."
"Sudah hayo cepetan, waktu jenguk hampir habis!"
Tanpa basa-basi lagi, mereka melangkah menyusuri lorong di Rumah sakit itu. Tak berapa lama, mereka pun sampai.
"Eh ini deh kayaknya, kamar 09 kan?"
Belum lagi sempat menjawab pertanyaan Daniah, Alfian keluar dari kamar.
"Hai kalian datang, ayo masuk!"
Di dalam sana, Yeni nampak pucat pasi, Papanya terduduk lesu di sisi pembaringan. Sementara Nova tengah duduk di sebelah Yeni sambil terus mengelus-elus kepala Yeni. Air matanya terus menetes memandangi teman sekaligus saudaranya itu.
Diana, Bu Dewi dan Pak Gunawan, duduk diam membisu di sofa. "Assalamu alaikum, Yah, Bu, Tante, ini ada teman-temanku, mereka ingin menjenguk Yeni."
Serentak mereka mendongak ke asal suara. "Assalamu alaikum!" Zahira mencoba menyapa. "Alaikum salam."
Jawab Papa Yeni sembari beringsut agak menjauh agar teman Yeni bisa mendekat.
"Kak Yeni, ya ampun, kok bisa begini? sakit apa ya Om?" Tanya Daniah tak sabaran. Pak Junaedi hanya menggeleng pelan.
Pak Khalid mendekati Zahira sambil menggamit lengannya, wajahnya ditekuk ke bawah. Zahira menoleh dan kaget saat melihat wajah Pak Khalid tertekuk. "Pak!" Panggil Zahira lirih.
Pak Khalid menatap Zahira, lirikan mata Zahira mencoba bertanya apa yang terjadi, Pak Khalid membalas lirikan itu dengan alis terangkat. Dia pun berlalu keluar. "Daniah, Kak Fian aku keluar sebentar ya!"
Zahira segera keluar menyusul Pak Khalid. Tanpa sepengetahuan Zahira, Alfian mengikutinya. Semua mata memandang kepergian mereka. Aura tak senang jelas nampak di wajah Diana juga Pak Gunawan.
Sesampai di luar, Pak Khalid telah nampak tegang. Alfian berdiri mematung melihat Zahira mendekati dan memegang lengan Pak Khalid. Karena baru kali ini, Zahira memyentuh yang bukan muhrimnya.
"Pak, ada apa, ada yang aneh lagi?"
"Haahh Ra, ada yang aneh benar-benar aneh!"
"Maksudnya?"
"Ra, kamu ingat tentang mahluk jelek yang pernah ngikutin kamu tempo hari kan?"
"Iya aku ingat!"
__ADS_1
"Haah emmm Ra," Pak Khalid mengelus wajahnya kasar, wajahnya makin tegang.
Alfian yang mendengar pembicaraan itu dan menyaksikan ketegangan di wajah Pak Khalid jadi tertarik.
"Ada apa ini?"
"Pak ada apa, apa yang terjadi dengan Kak Yeni?"
"Zahira ada apa?"
Alfian kembali bertanya karena merasa tak digubris.
"Kak Fian, Pak Khalid bisa lihat mahluk halus, dan sekarang Kak Yeni..."
"Ada apa dengannya Pak?"
"Apa kamu akan percaya?"
Alfian mengangguk pasti menjawab pertanyaan Pak Khalid.
"Baiklah, Zahira, Mahluk yang dulu mengikuti dan mau menyerangmu sekarang tengah menyiksa Yeni."
"Aaaahh!" Alfian teriak tanpa sadar.
"Zahira aku yakin kamu bisa bantu!"
Pak Khalid memandangi Zahira.
"Aku juga ikut membantu, dulu aku juga pernah menangani orang kesurupan," Alfian menatap pasti.
"Ayo Kak!"
Mereka pun masuk kembali ke kamar. Sesampai disana, Alfia membisikkan sesuatu ke Pak Junaedi. Dia pun mengangguk pelan, lalu segera mengajak Nova menyingkir.
"Nova, ayo nak, kita ke sofa!"
Nova menurut dan turun dari pembaringan menuju sofa. Sesampai di sofa, Pak Junaedi berbisik pada mereka yang duduk di sana. Mereka pun mengangguk setuju.
Zahira memandangi temannya, "Daniah, kalau kamu takut, pindah ya!"
Serempak Daniah and the gank sudah paham maksudnya, mereka langsung pindah dan ikutan duduk di sofa. Semua terdiam menyaksikan ketiga orang itu beraksi.
Zahira memandangi Pak Khalid, diapun mengangguk, "Dimana Pak?"
"Di atas tubuh Yeni!"
"Kak Fian, ayo mulai!"
Alfian mengangguk pasti.
Baik Zahira maupun Alfian mereka sama-sama bersiap. Mulut mereka mulai komat kamit membaca doa dan ayat-ayat Al-quran pengusir mahluk jahat. Hanya saja, Zahira memejamkan matanya.
Pak Khalid yang tak punya ilmu apa-apa, hanya menjadi mata bagi mereka. Saat Mereka tengah berkomat-kamit, Mahluk itu meronta dengan ganas. Tubuh Yeni seakan menjadi pelampiasannya.
Karena semakin terdesak, mahluk itu langsung masuk dan bersembunyi ditubuh Yeni. Perlahan tubuh Yeni menggeliat.
Pak Gunawan dan Pak Junaedi langsung berlompatan mendekati Yeni. "Yeni sayang, kamu sadar nak?"
Tiba-tiba Yeni mengerang keras, matanya terbuka dan langsung melotot tajam. Matanya memandangi Zahira dan Alfian penuh dendam. "HAAIII KALIAN SIAPA? JANGAN GANGGU AKUUUU!, AAAAKKKKKHHHH, BIARKAN AKU MENGAMBIL NYAWA ANAK INI!!!"
Pak Junaedi semakin cemas mendengar kata-kata Yeni. " Ayah pegang Yeni Yah!" Teriak Bu Dewi saat melihat Pak Junaedi kewalahan memegangi Yeni. Pak Gunawan mengangguk dan ikuta memegangnya.
Diana hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
Daniah dan Della mencoba menenangkan Diana, "Tante, tenang ya, temanku itu kuat kok tante, aku yakin mereka bisa menang."
Diana hanya mengangguk pasrah.
Yeni semakin kuat meronta-ronta, Zahira dan Alfian semakin gencar pula membaca doanya. Pak Khalid yang bisa melihat tempat Mahluk itu, segera memberi tahukan pada Zahira letaknya.
Alhasil, Mahluk itu semakin mengerang dan lama-kelamaan, suaranya melemah dan semakin lemah. Akhirnya dia lenyap tak berbekas.
"Zahira, sudah cukup, mahluknya sudah hilang!"
Zahira membuka matanya, sementara Alfian menghela napas lega.
Perlahan Yeni menggeliat, matanya terbuka. "Papa!" Suara lirih Yeni membuat Pak Gunawan tak mampu menahan harunya. Dia pun memeluk putrinya sambil menangis haru.
"Pa, apa yang terjadi?"
"Sayang, tidak ada apa-apa, semua sudah berlalu, kamu jangan bicara dulu ya!"
Bu Dewi segera mendekat, Zahira menyingkir karena semua keluarga Yeni mendekat. Zahira dan Pak Khalid memilih duduk di sofa.
"Alfian, segera panggil dokter sana!" Perintah Bu Dewi.
"Eh Tante, ini ada dokter!" Seru Nova sambil melirik Pak Khalid.
"Eh tidak boleh begitu, aku bukan dokter di sini, jadi tidak boleh ambil tindakan sembarangan Dek!"
Mendengar itu, Alfian segera berlari keluar hendak memanggil dokter.
"Lho kok Dek, dokter lupa namaku?"
Nova sedikit heran.
"Ah maaf, hanya sekali bertemu, jadi aku lupa."
Nova segera menggosok-gosokkan tangannya kemudian mengulurkannya. "Nova." Sambil tersenyum memperlihatkan gigi depannya yang agak miring ke dalam.
Pak Khalid menyambutnya, juga sambil tersenyum. Tapi dengan cepat dia menoleh memandangi Zahira, seakan takut Zahira marah padanya.
Akan tetapi yang ditatap ternyata tidak memperhatikannya. Melainkan tengah memandangi keluarga Yeni yang lagi terharu, karena Yeni telah sadar dari pingsannya.
.
.
.
Jumpa lagi besok yaπππ
Mulai sekarang, MISTERI DIBALIK TALI GANTUNGAN akan up dengan durasi yang agak panjang ya, semoga bisa memuaskan hati pembaca. Selamat membacaπππππ
Jangan lupa tekan like, kasih vote dan titipkan komen agar author bisa mengenal para pembaca. Makasih semuaπππππ
__ADS_1