Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 43. Suara tawa Amanda.


__ADS_3

Bu Kos mengantarkan Mbah dukun turun dari lantai 2 melewati tangga di ujung teras.


Sambil melangkah menuruni tangga, Marni terus saja bertanya-tanya dalam hatinya. "Wah gimana ini, jangan-jangan Ma'Nipah ga mampu melawan Amanda? terus bagaimana dengan uangku? apa aku minta aja kembali? tapi bagaimana kalau dia tidak mau?"


Begitu sampai di bawah tiba-tiba tubuh Mbah dukun langsung ambruk ke tanah. Marni sangat kaget langsung memegang bahu Mbah dukun.


"Ma' ada apa?"


Mbah dukun tak mampu berkata-kata. Dia hanya menggeleng sambil memegangi dadanya dan... "Uhhuukk." Darah segar kembali menyembur keluar.


Marni semakin terkejut dan ketakutan. Dengan cepat dia berteriak memanggil sopir Mbah dukun. "Pak! Pak Sopir, cepat tolongin Ma' Nipah cepaat!"


Dengan cepat Sopir Mbah dukun segera keluar dari mobil dan berlari menuju kearahnya. "Apa yang terjadi Bu?" Tanya Sopir itu saat melihat kondisi Ma'Nipah yang sedang lemas.


Bu kos alias Marni menggeleng dengan wajah tegang. "Entahlah aku juga tidak tahu Pak."


Dengan cepat Pak Sopir segera membantu Mbah dukun berdiri dan memapahnya ke mobil. Marni hanya bisa mengekorinya.


Begitu sampai di samping mobil, Marni segera membuka pintu dan Pak Sopir pun memasukkan Mbah dukun. "Maaf Bu kami pergi dulu ya." Pak sopir pun melaju meninggalkan Marni yang hanya bisa melongo. Wajahnya semakin tegang.


Marni segera naik ke rumahnya dengan setengah berlari. Wajahnya yang tegang kini berubah jadi pucat pasi. Sesampai di dalam rumahnya dia langsung menutup pintu rapat-rapat seakan-akan takut kemasukan maling.


Dadanya berdebar-debar.


Marni benar-benar takut, bingung dan bimbang. Rasa kesal juga tak luput dia rasakan. Perasaanya kini benar-benar campur aduk. Hingga tak terasa dia mengobrak-abrik seluruh isi meja di depannya. "Aaaarrgggkkkhhhh, aaaaaaaa!" Cangkir teh bekas minum Mbah dukun pun tak luput dari amukannya sehingga jatuh dan pecah berkeping-keping.


"Tidak bisa, tidak bisaaaa!, tidak mungkin tidaaaaak!" Marni terus berteriak sambil menjambak ambutnya.


"Tidak mungkin hanya seekor hantu bisa mengalahkan Ma'Nipah yang sakti mandraguna itu, tidak mungkiiin!"


Marni terus menggeleng tak karuan.


*Memangnya kucing, seekor hehe*


'Lalu apa yang harus kulakukan, apa!!"


Marni mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Mata Marni tiba-tiba berbinar. "Aah yaa! kenapa tidak kubuang saja tali itu, oh tidak bukan dibuang, sebaiknya kubakar saja tali itu!" Dengan cepat Marni bangkit dan segera keluar hendak turun dan membakar tali gantungan itu.


Begitu Marni sampai di depan tali, Amanda sudah nyengir dengan santainya di sana sambil berayun-ayun dengan leher tergantung. Tak lupa suara hantunya berhasil dia keluarkan.


"haaaahahahahhha haaaaahahahahah Bu Marniiiii, kemarilaaaaah Buuuuu, aku menungguuuuu aaaahhahahhhahhhaaa!"


Marni dengan kagetnya langsung mematung. Begitu melihat Amanda menggapai-gapai kearahnya dia langsung berbalik dan lari tunggang langgang. Tanpa sadar terpeleset di tangga sehingga jatuh lagi ke bawah.


untungnya baru menaiki 2 anak tangga.


Dengan napas ngos-ngosan dia bangkit kembali dan bergegas naik tanpa menghiraukan rasa sakit di kakinya. Begitu masuk, dia langsung menutup pintu dengan keras. Tubuhnya langsung lemas tak berdaya di balik pintu tanpa sempat mencapai sofa.


Amanda memandang Bu Marni dengan perasaan senang dan puas ya puuas sekali. "Rasakan itu Bu Marni, kamu harus merasakan sakit dan derita yang aku alami, kamu harus bertanggung jawab, menghilangkan nyawa dua orang sekaligus itu adalah dosa besar yang harus kamu bayar!" Teriakan Amanda membahana di telinganya tapi tidak bagi manusia, tak satupun yang mendengarnya. Air matanya kembali menetes.


Malam terus merambat menyelimuti kota yang tak pernah mau sepi dari kendaraan yang lalu lalang. Seperti malam yang sudah-sudah, Amanda selalu mendatangi Zahira dalam mimpinya. Kali ini Amanda ingin berterima kasih sama Zahira atas bantuannya tadi.


Amanda menatap Zahira sambil tersenyum bahagia. Tangannya mencoba memegang tangan Zahira dan...


"Ah aku bisa menyentuhnya?" Pekik Amanda sangat senang sambil menarik tangannya dengan cepat. Karena tangannya tidak lagi menembus seperti bayangan tapi ini tersangkut. Ya benar-benar tersangkut dan Amanda bisa merasakan tangan Zahira.


Amanda berbinar, kembali dia mencoba memegang tangan Zahira. "Ah ya aku memegangnya ah hahahha Zahira hai Zahira kau merasakan tanganku?" Amanda menarik-narik tangan Zahira sambil memanggilnya.


Zahira memukul tangannya yang ditarik-tarik. "apaan sih ini?" Lalu merubah posisi tubuhnya membelakangi Amanda.


Amanda cemberut dipukul oleh Zahira. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk saja dalam mimpi Zahira. "Zahira bangun dong Zahira!" Suara Amanda begitu halus bisa bikin merinding orang yang mendengarnya.


Perlahan Zahira membuka mata, dia mengerjap mencoba mencermati suara yang samar-samar memanggilnya. Saat matanya sudah melihat jelas, dia langsung bagun begitu melihat di depannya Amanda sedang tersenyum manis menatapnya.


"Hai Amanda kamu datang?" Zahira langsung menoleh ke pintu. "Eh kamu lewat mana? pintuku masih tertutup kok." Amanda tetap tersenyum.


Perlahan Amanda duduk di samping Zahira. Mata Zahira terus menatap Amanda yang kini bersimpuh di sampingnya. "Maaf Manda aku mau tanya boleh ga?" Amanda mengangguk.


"Emmm kata temanku kamu itu hantu benar ga?" Amanda tetap tersenyum. Zahira jadi bingung. "Ah maaf kalau kamu tersinggung Manda."


Amanda meraih tangan Zahira lalu menggenggamnya. "Apa yang kamu rasa Zahira?" Zahira terkejut heran. "Dingin tangan kamu dingin banget." Zahira menarik tangannya.


"Zahira apa kamu takut hantu?" Zahira menggeleng menanggapi pertanyaan Amada. "Tidak, aku hanya takut sama Allah." Amanda mengangguk tersenyum.

__ADS_1


"Ra benar aku hantu." Zahira terbelalak.


Perlahan Zahira mencoba menyentuh wajah Amanda perlahan dan sangat perlahan. Amanda hanya tersenyum menahan geli melihat tingkahnya. Akhirnya tangan Zahira sampai juga di pipi Amanda. Dengan jari telunjuknya Zahira menyentuh pipinya. Menekan-nekan pipinya yang pucat. "Kalau hantu kenapa bisa disentuh ya?"


Amanda tak tahan lagi rasa gelinya dan langsung tertawa. "Haaaahahahaa haaahahaaha." Suara tawa Amanda terdengar membahana sampai di kamar sebelah dimana ada Daniah dan temannya berada. Sontak saja mereka terbangun dan langsung berpelukan erat. Dengan cepat mereka menarik selimut dan bersembunyi di sana.


Akan tetapi Zahira yang tertidur pulas dan hanya berbicara dalam mimpinya tak merasakan keanehan dalam tawa Amanda. "Kok kamu ketawa sih? apa yang lucu?" Amanda berhenti ketawa lalu menggeleng.


"Zahira aku memang hantu, tapi karena ini mimpi kamu, jadi kamu bisa menyentuhku." Zahira mengangguk tapi melongo. "Ooo gitu ya." Zahira menggaruk keningnya. "Kalau ini mimpi kenapa kok aku bisa bangun dan duduk?"


Amanda kembali memegang tangan Zahira. "Ra aku tidak punya banyak waktu untuk bicara, aku cuma mau berterima kasih kamu sudah bantuin aku tadi." Zahira mau menyela tapi Amanda menahan bibirnya. "Ra kamu ga usah bertanya, aku juga mau minta izin sama kamu agar aku bisa mengikuti kamu ya, aku janji tidak akan mengganggu, aku hanya cari perlindungan ya, karena kalau tidak dukun tadi pasti akan menghajar aku lagi!"


Zahira semakin tidak paham dengan apa yang dikatakan Amanda. Baru saja dia ingin berucap, lagi-lagi Amanda menutup mulutnya. "Zahira mulai besok aku akan mengikuti kamu ya, kalau misalnya ada hal aneh yang terjadi, kamu jangan panik ya mungkin itu aku yang tak sengaja membuat ulah ya!" Amanda menatap Zahira penuh harap.


Zahira hanya bisa mengangguk mengiyakan tanpa basa-basi lagi. Melihat itu, Amanda sangat senang melihatnya. "Makasih ya Ra kamu memang gadis yang baik." Amanda lalu menghilang tak berbekas.


Zahira menggeliat pelan lalu mengubah posisi tidurnya. Perlahan membuka mata tak sadar memanggil Amanda dengan lirih. "Amanda kamu...,eeh apa aku mimpi lagi?" Amanda mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia pun berbalik lagi mengubah posisi tidur kemudian kembali terlelap.


Amanda hanya tersenyum bahagia menatapnya lalu kembali ke atas dimana tali tempatnya bersemayam berada. Sesampai di sana, matanya langsung menatap ke atas di mana tempat musuh bebuyutannya berada.


Amanda ingin mencoba peruntungan. Dengan perlahan Amanda mendekati tangga yang kemari-kemarin tak mampu ditembusnya. Begitu dia mendekat, tangannya diarahkan ke tangga. Akan tetapi sama seperti dulu tangannya juga terbentur sebuah dinding yang tak nampak.


Amanda pun pasrah dan kembali ke tali gantungannya dan bergelantungan dengan santai di sana. Hingga pagi menjelang barulah Amanda kembali turun dan bersembunyi di bawah tangga seakan akan dia takut kelihatan sama orang.


Belum berapa lama dia di sana, Zahira sudah datang hendak membuat sarapan. Senyum Amanda kembali mengembang. Perlahan dia mendekati Zahira. Dia berniat mengingatkan Zahira akan mimpinya semalam. Dengan pelan Amanda mencoba menyentuh bahu Zahira dan...." Daniah jangan iseng deh ah!" Zahira kesal sambil menepuk bahunya.


Amanda tersenyum senang karena akhirnya dia bisa menyentuh Zahira. Sekali lagi Amada memegang bahunya. Zahira langsung menoleh tapi alangkah kagetnya dia saat melihat tak seorang pun di belakangnya. "Eh kok ga ada orang sih terus siapa yang pegang-pegang?" Zahira mengernyit.


Amanda pun menyentuh bak sampah dan menggesernya. Zahira kaget dan langsung menoleh. Dengan heran dia mengernyit memandangi bak sampah di sampingnya. Zahira tertegun tampak berpikir. "Eh jangan-jangan benar Amanda di sini dan dia hantu?" Zahira lalu memandang sekitarnya.


Zahira mencoba bersuara "Manda kamu benar hantu ya? kalau kamu yang bikin ini sentuh tangan saya!" Zahira mengulurkan tangannya kedepan.


Amanda yang mendengar perintah Zahira langsung menyentuh tangannya. Zahira tersentak merasakan ada benda dingin yang menyentuh tangannya. "Aaahhh!" Dengan cepat dia menarik tangannya. "Oh jadi kamu memang hantu ya, boleh ga aku minta kamu jangan ganggu temanku ya mereka bisa pingsan kalau mereka tahu di sini ada hantu, kamu dengar kan?"


"Apa ada hantuuu!"


Zahira kaget langsung menoleh mendengar teriakan Meta. "Eeh ga ada kok, kalau pun ada, aku sudah minta dia supaya tidak mengganggu kita jadi tenang aja deh ya!"

__ADS_1


Meta bernapas lega. "Tapi Ra kamu tau ga semalam itu kita dengar suara hantu ketawa iih mengerikan banget deh suaranya Raa!" Meta bergidik mengingat hal semalam.


Amanda langsung melotot mendengar penuturan Meta. Perlahan dia mundur dan melesat masuk ke bawah tangga. Dia tidak mau lagi mengganggu teman Zahira sebagai ungkapan terima kasihnya. Dia sudah merasa sangat bersalah telah membuat temannya ketakutan semalam.


__ADS_2