
Seketika Zahira terbelalak. "Haaah...!"
"Ga, ga mau Pak, siapa juga yang mau bekerja untuk Jin!" Zahira menolak.
Mendengar penolakan Zahira, Pak Khalid langsung menatap Jinnya. Zahira yang menyadari pandangan mata Pak Khalid segera menegurnya.
"Pak, apakah Jinnya ada di sini?"
Pak Khalid mengangguk pelan, "mereka mengelilingi kita!" Wajah Pak Khalid pias menyaksikan tatapan para Jin itu.
"Haaah Bismillahil ladzi laa ilaha illa hua!" Zahira menutup matanya sambil menarik napas berat. "Pak apa mereka masih disini?" Zahira bertanya ragu-ragu.
Pak Khalid mengangguk, "Iya, percuma saja kamu membaca doa juga, mereka tidak gentar!" Pak Khalid tertunduk pasrah, saat melihat Mahluk itu tertawa. Kini satu-satunya orang yang diandalkannya, justru hanya ditertawai oleh Mahluk itu.
"Bisakan Bapak bilang ke mereka, kalau aku tidak bersedia menjadi sekutu dengan para Jin, dosa Pak, itu sama saja dengan musyrik!"
Pak Khalid terbelalak mendengar penolakan Zahira. Dia benar-benar tidak menyangka jika Zahira akan seberani itu. "Ee...Ra...mereka...me...mendengar kita!"
"Ya baguslah Pak, kalau mereka dengar!" Seketika Zahira mengatupkan tangannya di depan dada.
"Maaf ya Om Jin, jika kalian memang Jin yang baik, mohon jangan ganggu aku, aku tidak mau menyekutukan Allah, jadi pergilah cari orang lain!"
"Zahira, mereka bilang, mereka bukan mau menjadikan kamu sekutu, tapi hanya sebagai tempat berlindung!"
"Kenapa harus aku, sama Allah kalau mau berlindung!" Timpal Zahira.
"Mereka bilang, ada dukun sakti yang sedang berusaha mengikat semua Jin sakti, untuk kepentingan mereka pribadi juga buat kejahatan!"
"Maksudnya?" Zahira mengerutkan keningnya.
"Mereka ingin menjadikan kamu sebagai tameng, agar tidak terikat dengan para dukun jahat, jika kamu bersedia, mereka janji tidak akan mengganggu atau mencampuri urusanmu, kecuali jika kamu meminta bantuannya!"
Zahira mengusap wajahnya, "aduuuh gimana ya Pak, aku cuma tidak mau berdosa aja, dosa kecil aja sudah banyak, kalau bersekutu sama mereka, bakalan bertumpuk dosaku Pak!"
"Ra, cuma berteman, bukan bersekutu, mereka tidak akan mempengaruhi akidahmu, mereka menjanjikan itu, mereka juga tidak akan mengganggumu!"
"Mereka juga tidak akan selalu datang kok, mereka cuma ingin berada di belakangmu jika dukun itu sudah beraksi, ya anggap saja sebagai teman lah, mungkin seperti itu tepatnya!" Lanjut Pak Khalid.
"Haah aku bingung Pak, ya terserah deh, asal ga ganggu aku, dan ga mempengaruhi aku aja!"
Mendengar pengakuan itu, seketika para Jin itu terseyum puas. Mereka mengangguk sebentar lalu menghilang.
Melihat itu, Pak Khalid langsung bernapas lega. "Hhhphaaahh!" Sembari mengelus dada.
Zahira langsung menegurnya. "Pak apa Jinnya sudah pergi?"
Pak Khalid menatapnya lurus. "Iya sudah, kamu...apa kamu tidak takut?"
Zahira menggeleng pelan, "tidak!"
Pak Khalid menatap Zahira tak berkedip. "Zahira, memang benar kamu adalah wanita yang sudah diramalkan untukku oleh Paranormal waktu itu!" Batinnya.
"Pak, Pak Khalid?" Zahira melambaikan tangannya ke wajah Pak Khalid yang bengong.
Pak Khalid kaget "Eh...iya ada apa?"
Zahira tersenyum malu, "tidak apa-apa, cuma tadi Anda bengong gitu, takutnya kesambet Jin, hehe!" Zahira tertunduk.
"Ooh aku...aku cuma emmm itu karena lama tidak ketemu kamu, jadinya bengong sekarang, hmhm!" Pak Khalid mengulum senyumnya.
Zahira semakin tersipu malu, "Iih Bapak apaansih!" Sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar senyum kekinya tidak kelihatan.
"Selama ini aku terus memikirkan kamu!" Mata Pak Khalid seakan tidak mau lepas menatap wajah Zahira.
Kata-kata Pak Khalid membuat Zahira tak mampu berujar lagi. Dia semakin dalam menundukkan wajahnya.
"Ra, apa kamu juga memikirkan aku?"
Seketika Zahira mendongak "Aaa...ee...itu mmm ga kok, biasa aja!" Zahira menggigit bibirnya. Baru kali ini dia berani berbohong. Dengan kuat dia meremas jemarinya sendiri. Rasa takut menyerangnya karena sudah berbohong.
"Benarkah, jadi selama ini, hanya aku yang memikirkan kamu?" Wajah Pak Khalid lesu.
"Ooh bukan begitu, emm maksudku, aku ingat sih, cuma ya...ee ya bagaimana bisa ga keingat kan, kita tinggal di sini, pasti kan selalu ingat, setiap masuk rumah, ya kita pasti bilang 'ini rumah Pak Khalid~~~~"
Pak Khalid terus menatap Zahira yang berbicara terbata-bata panjang lebar sambil tersenyum.
Meskipun Zahira telah menerangkan banyak, tapi tak ada yang masuk diotaknya, yang didengarnya hanyalah suara Zahira yang merdu bagai kicau burung. Dia lebih menikmati menatap wajah imut dan manis di depannya.
Pak Khalid terus tersenyum tak berkedip menatap Zahira. Melihat tingkah Pak Khalid, Zahira menghentikan celotehnya.
Zahira diam dengan wajah kesal. Dia manyun melihat Pak Khalid memandangnya tak berkedip.
Begitu menyadari perubahan Zahira, Pak Khalid langsung mengalihkan perhatian. "Ekheem, oh ya, tadi teman kamu semua keluar, apa kamu juga tidak ingin ikut jalan-jalan?"
Zahira menggeleng, "tidak Pak, aku malas keluar kalau ga ada perlu!"
"Emm, mungkin kamu butuh membeli sesuatu?"
"Tidak kok Pak, Umi sudah membelikan semua keperluan aku dulu!"
Pak Khalid mengusap hidung, lalu menggaruk kening, dia benar-benar keki. Suasana kini terasa semakin canggung. Zahira pun tak tahu harus bilang apa. Tiba-tiba dia teringat akan mobilnya.
__ADS_1
"Ah oh ya Pak, tentang mobil Bapak, emm Umi sudah mengirimkan mobil untukku, jadi aku rasa, aku harus mengembalikan mobil Bapak lagi!"
"Maksud kamu?"
"Tunggu sebentar ya Pak!" Zahira segera bangkit dan naik ke kamarnya.
Tak lama kemudian, dia turun kembali sambil membawa kunci mobil Pak Khalid.
Zahira meletakkan kunci di atas meja. "Ini Pak kuncinya, terima kasih sudah meminjamkan kami mobil selama 2 minggu!"
Pak Khalid meraih kunci mobilnya perlahan. "Seharusnya kamu tidak perlu mengembalikannya segera, aku ada motor yang bisa aku pakai juga!"
"Maaf Pak, aku merasa tidak enak, bagaimana kalau malah hujan, kalau naik motor kan bisa kehujanan Pak!"
Lagi-lagi Pak Khalid tertegun, "apa benar dia khawatir padaku, apa benar selama ini Zahira juga memikirkan aku?" Batinnya. Pak Khalid lalu tersenyum.
"Ya sudahlah, karena kamu sudah punya mobil juga, jadi mobil aku ambil kembali ya!"
Zahira hanya tersenyum sambil mengangguk. "Oh ya Pak, emm aku...aku berniat pindah rumah Pak!"
Bagai mendengar petir, Pak Khalid langsung tersentak, " Apa!"
"Ekhem maksudku, apa maksud kamu? kenapa mau pindah, apa ada yang salah dengan rumahku ini?"
Zahira menggeleng lemah, "ga ada yang salah dengan rumah ini, cuma aku ga enak, Adrian ikut tinggal di sini, aku takut nanti orang salah paham!"
"Adrian tinggal di sini, siapa yang mengizinkan?" Mata Pak Khalid melebar.
"Hhhpphaaah, Daniah yang memintanya, soalnya Adrian lagi ada masalah, dia tidak punya tempat tujuan!"
"Ra, Adrian nanti akan aku ajak tinggal di rumahku, asal kamu tetap tinggal di sini ya, aku tidak bisa menjamin diluar sana akan aman atau tidak!"
"Tapi Pak, aku sudah menawar rumahnya, kami sudah janji besok mau melihat rumah!"
Pak Khalid terdiam sejenak. Ada rasa sedih menyelinap di hatinya. "Zahira, ga papa kan, meski kamu sudah setuju dengan rumah itu, tapi tetap saja disana ga ada peralatan, kamu akan kerepotan, jadi sebaiknya kamu tetap di sini ya!"
"Terus gimana dengan pemiliknya, dia bisa marah!"
"Ga papa, kalau kamu suka beli saja, cuma ga usah ditinggali dulu, nanti aja kalau sudah bisa melengkapi isinya, baru pindah ya!"
Zahira menganguk patuh, "iya deh Pak, asal ga tinggal serumah sama cowok aja!"
"Oke, masalah Adrian, biar aku yang tangani!"
Zahira tersenyum mendengar janji Pak Khalid. Hatinya begitu lega dan bahagia. Entah mengapa dia merasa ingin terus tersenyum dan tertawa saat itu. Demikian juga Pak Khalid yang tak henti-hentinya menatap wajah manis di depannya.
Baru saja Pak Khalid hendak berucap lagi, Ponselnya malah berdering.
*"Ya, assalamu alaikum!"*
"Ra, aku harus ke rumah sakit dulu, jam kerjaku belum habis, masih banyak pasien yang harus aku tangani!" Seraya berdiri.
"Oh iya Pak silahkan, oh ya Pak, apa Bapak sudah berhenti mengajar di kampus, aku tidak pernah melihat Bapak masuk kampus?"
Pak Khalid tertegun lagi, "jadi benar Zahira menungguku selama ini, ah ini semua karena sikap pengecutku, maaf ya Zahira!" Batinnya. "Emm iya, aku eeh aku cuma mengajukan izin saja, soalnya aku sibuk di UGD, tapi nanti akan datang lagi kok!"
"Ooh, ya sudah deh Pak, selamat bertugas!" Seraya melambaikan tangannya. Pak Khalid hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian melangkah keluar.
Begitu sampai di pintu, Pak Khalid menoleh lagi. "Oh iya Ra, sebentar malam, boleh aku makan di sini? Sekalian mengajak Adrian untuk ikut denganku!"
Iya Pak, boleh kok!" Zahira tersenyum demikian juga Pak Khalid, lalu menghilang dibalik pintu.
Kunci mobil yang diberikan Zahira, ditimang-timangnya. Setelah berpikir keras, Pak Khalid pun segera memasukkan motornya ke garasi dan mengendarai mobilnya pergi.
Saat sedang asik memikirkan Zahira, tiba-tiba Pak Jin muncul lagi. "Assalamu alaikum!"
Pak Khalid terlonjak kaget hingga pantatnya terangkat dari kursi. "Aaa alaikum salam, aah Pak Jin bikin kaget aja!"
"Hehe, apa maksud kamu kalau Zahira itu wanita yang diramalkan dukun?"
Pak Khalid menoleh kaget, "eh kamu tahu dari mana?"
"Aku dengar tadi kamu bilang begitu!"
"Ooh itu, waktu kecil, aku diramal, katanya akan ada wanita yang tidak takut sama Hantu, jika menemukan dia maka segera nikahi, karena hanya dia yang bisa menjadi penyembuhku!"
"Dan kamu percaya?"
"Yaa begitulah, dan memang benar kan?"
"Dukun itu asal tebak, jika kebetulan benar itu tidak ada hubungannya dengan ramalannya!"
"Tapi kan benar!"
"Apa dukun itu bilang, namanya Zahira? apa dia juga bilang anaknya siapa? kalau dia bisa meramal, kenapa dia tidak bisa memberi tahu nama dan alamatnya sekalian, jadi kamu tidak harus salah orang lalu dimanfaatkan!"
Pak Khalid terdiam, "tapi semuanya akhirnya benar!"
"Dukunnya bilang begitu, ya karena kamu laki-laki, pasti bakal cari perempuan, terus kamu penakut begitu, kalau bukan mencari wanita pemberani, mau jadi apa rumah tanggamu nanti, apa sekarang kamu mengerti, sebenarnya dukun itu hanya mempermainkan kamu!"
Seketika Pak Khalid menghentikan mobilnya. "Eh iya juga sih, kenapa aku harus bodoh begitu, haaahh itu karena kebohongan yang ditanamkan sejak kecil akan selalu dipercaya bahkan sampai dewasa!"
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu sadar, kalau kamu telah dibohongi?"
"eh hahaha,iya, iya Pak Jin aku tahu sekarang!" Pak Khalid kembali melajukan mobilnya.
*******
Daniah and the gank telah kembali dari jalan-jalannya. Sebenarnya mereka tidak kemana-mana, cuma makan gorengan di warung seberang kompleks. Begitu melihat mobil Pak Khalid berlalu pergi, mereka segera bergegas kembali.
Rasa penasaran menyerang mereka. Betapa tidak, mobil yang dipinjamkan dulu, kini diambil kembali. Mereka saling berdebat tapi tetap saja tidak menemukan alasan yang masuk akal.
Begitu mereka sampai, Meta langsung berlari masuk rumah. "Zahira! apa yang terjadi, kenapa Pak Khalid mengambil mobilnya kembali?"
Zahira yang lagi makan pisang gorang, hampir tersedak karenanya. "Ukhuk, ahh, apasih Meta ngagetin aja!"
"Ra itu mobil Pak Khalid kok diambil?" Meta menguncang-guncang lengan Zahira.
"Iya Ra, kalian ga berantem kan?" Della ikutan bertanya. Daniah dan Adrian cuma menyimak sambil duduk di sofa.
"Ya ga lah, siapa yang berantem, mobilnya aku balikin karena aku kan sudah punya mobil sendiri!"
Meta dan Della langsung lega, "Oooh!"
"Atau kalain mau nyetir sendiri?" Zahira menatap Meta dan Della bergantian.
"Ooh ga kok, mana bisa kami menyetir!"
"Oh ya udah, kenapa harus heboh juga!"
Daniah yang penasaran ikutan bertanya, "Ra gimana sama Pak Khalid, udah kangen-kangenan?"
Semuanya langsung mengulum senyum.
"Kangenan apa? kita cuma ngobrol doang, ga ngapa-ngapain, buat apa kagen-kangenan dia kan bukan suami aku!"
"Hehe iya juga sih, ah apa sih yang kita pikirin tadi, hehe!" Della menggaruk kepalanya.
"Emm teman-teman maaf ya, Pak Khalid tadi bilang mau ikutan makan malam di sini, boleh kan?"
Serentak temannya bersorak, "Cieeeee, hahaha!"
Zahira tersipu sangat malu, dengan segera dia berlari naik ke kamarnya. Dia menutup pintu dengan keras hingga terdengar sampai ke bawah.
Zahira menghempaskan tubuhnya di kasur sambil bergulingan. Senyum bahagia terukir di bibir manisnya. Sesekali dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Seakan menyembunyikan senyumnya di sana.
Malam yang ditunggu kini telah tiba. Ada rasa dag dig dug di dada Zahira. Ditambah candaan kocak temannya, yang tak habis-habis mengoloknya.
Setelah berkutat dengan dapur sejak habis magrib, akhirnya makan malam pun telah siap di atas meja. Kini mereka tengah menunggu tamu spesial yang akan datang.
Tak berapa lama, akhirnya yang ditungu datang juga. Adrian segera membuka pintu untuk Pak Khalid. Beberapa cemilah dan makanan penutup di bawa Pak Khalid sebagai oleh-oleh.
"Waah tamu istimewa kita sudah datang, ekhem ada yang bahagia tuhh!" Seru Meta dengan senyum jahilnya.
"Hahaha, kita yang jomblo menyingkir!" Della tertawa lepas.
Mendengar kata jomblo, Pak Khalid tersenyum, "apa aku harus menyingkir pula?" Seraya menatap Della.
Eh ga kok Pak, ga, kan cuma yang jomblo doang kayak aku sama Meta!"
"Tapi kan aku juga masih jomblo, Zahira juga kan?"
Zahira kaget mendapat pertanyaan tiba-tiba, "Haah i...iya...!"
Meta menyikut Della, "Iih gimana sih, kan mereka belum jadian?"
"Oops maaf Pak, lupa, hehe!"
"Biar ga jomblo lagi, jadian aja Pak sekalian!" Seru Daniah pula. Wajah Zahira sudah memanas karenanya.
Pak Khalid menatap Zahira dengan senyum penuh arti, "aku tidak mau pacaran!"
Sontak semua tercengang, lebih-lebih Zahira. Meski dia tertunduk tapi sangat kentara keterkejutannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Lho, tapi kan...?" Meta tak sanggup melanjutkan.
"Iya, aku tidak mau pacaran, mau langsung nikah aja, kalau orang tua Zahira merestui!" Senyumnya mengembang lebar.
"UUUUUUUUUUHHHH!" Seru mereka serentak.
Zahira pun tak mampu menahan senyumnya, dia semakin tertunduk malu, wajah putihnya kini telah berubah jadi merah jambu. Sekuat tenaga dia menahan tawanya, "makan malamnya sudah siap, entar keburu dingin!" Sambil berlalu masuk ke dalam.
"Ayo deh, yuuk!" Seru Meta.
Della dan Daniah pun mengikuti mereka masuk. Sementara Pak Khalid menahan lengan Adrian yang juga hendak masuk.
"Mulai sekarang, kamu tinggal bersamaku, di sini semua wanita, aku tidak mau mendapat teguran dari Pak RT!"
"Ah iya Pak, aku mengerti!" Adrian tertunduk lemas, sambil mengikuti langkah Pak Khalid.
.
.
__ADS_1
.
Sampai jumpa diepisode selanjutnya.