Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 60. Mengintip


__ADS_3

Amanda segera memburu Tono yang sudah kabur ke atas. Dengan cepat Amanda menghadang Tono yang hendak naik ke tangga lantai 3. Dia pun memunculkan wajah menyeramkannya tanpa badan.


"Dasar perempuan si*l, mau apa lagi kamuuu!!" Dengan keras Tono melayangkan tinju ke wajah Amanda. Tapi sayang Amanda langsung raib, sehingga pukulannya mengenai angin, membuat tubuhnya terhuyung ke depan.


Amanda kembali muncul di belakang Tono. Dengan keras, Amanda menghantam punggung Tono hingga dia mengerang kesakitan "aakkhhhh!"


Tono menoleh, betapa terkejutnya dia saat melihat Amanda muncul lagi. Kini dengan muka lebih menyeramkan. Bola mata Amanda melotot hampir keluar, darah mengalir di sudutnya. Kepalanya terus berputar seperti gasing.


Melihat hal itu, nyali Tono langsung ciut. "WAAAAA!" Dengan cepat dia bangkit dan mencoba berlari. Akan tetapi kakinya saling mengait membuat tubuhnya oleng hingga terjatuh lagi. "AAAAAA!!" Dengan merangkak, dia berlari menuju tangga lantai bawah.


Lagi-lagi Amanda menghadangnya. "AAAAA!!" Tono pun memutar arah, dengan cepat dia berdiri dan lari menuju ujung teras dan turun ke bawah. Tanpa menoleh lagi, dia segera kabur meninggalkan rumahnya.


Melihat Tono kabur, Amanda tak mau lagi melepasnya. Dia pun melesat mengikuti kemana perginya kali ini.


Sementara itu, di dalam kamar Zahira, semua orang nampak panik. Zahira masih lemas tak sadarkan diri. Meta sangat cemas. "Pak Zahira gimana Pak?"


"Zahira pasti sangat shok, apa kalian punya minyak kayu putih?"


Semua menggeleng menjawab pertanyaan Pak Khalid. "Hahh kita tunggu sampai 10 menit, jika Zahira tidak sadar, kita bawa ke rumah sakit."


Tiba-tiba Meta mengendus sesuatu yang aneh. "Heemmp hemp hemp, eh Della kamu mencium sesuatu ga?"


Della mengerutkan dahi, "nyium apaan?"


"Seperti bau hangus deh, hemp hemp!" Hidung Meta kembang kempis mengendus bau.


Pak Khalid langsung terbelalak. "Jangan-jangan tadi Zahira lagi memasak sesuatu?"


"DAAAPUUURR!" Dengan cepat mereka berlarian masuk ke dapur.


Benar saja, di dapur, panci yang dipakai Zahira menjerang air, tampak memerah dibagian bawahnya. Dengan cepat Daniah menjulurkan tangannya hendak mematikan kompor. Tapi tiba-tiba panci itu malah terbang melayang dan jatuh terpelanting di lantai. "Aaakkkhhhh!!"


Suara benda meledak dan jatuh serta suara teriakan para gadis, membuat Pak Khalid pun segera berlari masuk dapur.


Begitu sampai di dapur, Pak Khalid segera mematikan kompor yang ternyata masih menyala.


Daniah lupa mematikan kompor saking terkejutnya melihat panci itu melayang di depan wajahnya. Kini wajahnya masih nampak tegang. ketiga gadis itu tengah berdiri mematung dengan mulut menganga.


"Apa ada yang terluka?"


Mendengar teguran dari Pak Khalid, mereka baru tersadar dari kagetnya.


"Aah iya Pak kami tidak apa-apa!"


Lain halnya di dalam kamar, Zahira sudah sadar dan mendengar suara ribut-ribut. Perlahan dia membuka matanya. Tapi apa yang terbayang, justru pelukan dan kecupan Pak Khalid yang terlintas di depan matanya.


Dengan cepat Zahira menutup mata rapat-rapat. "Duuuh Umi...aku dicium cowok, hiks...hiks...gimana ini?" Zahira menangis dalam hatinya.

__ADS_1


Dia tidak mengerti dengan jantungnya yang tidak mau berhenti berdetak kencang. Ada rasa malu juga takut, tapi entah mengapa, Zahira juga merasa sangat senang. Dia segera menggeleng-geleng agar bayangan kecupan itu hilang.


Pak Khalid yang sudah kembali ke kamarnya, jadi heran juga cemas melihat Zahira memejamkan mata sambil menggeleng. Dia pikir Zahira kesakitan. "Zahira, kamu kenapa Ra!!"


Pak Khalid segera memegang kedua pipi Zahira.


Zahira terkejut bukan main, saat pipinya dipegang oleh Pak Khalid. Matanya terbuka, "Aa Pp...Pak...aku..emm ga papa kok, hhhaaahh!" Zahira bernapas berat.


Rasa malu menyeruak naik di wajahnya. Tanpa bisa di sembunyikan lagi, wajahnya bersemu merah. Pipinya langsung berubah merah muda.


Melihat perubahan air muka Zahira, Pak Khalid tersenyum. Dengan cepat dia melepaskan tangannya. "Kamu udah baikan kan?"


Zahira hanya mengangguk pelan sambil menoleh ke arah lain.


"Baiklah aku keluar dulu ya, aku tunggu di sofa, kalau kamu sudah baikan, nanti kita bicara lagi."


"Pak,"


Pak Khalid menoleh lagi "Yaa ada apa?"


"Emm aku ga papa kok Pak, Anda boleh pulang, Anda pasti capek, lagian Anda habis berkelahi tadi, Bapak pasti sakit juga kan?"


Pak Khalid tersenyum, perlahan dia meraba pipinya yang memang sakit terkena bogeman Tono. "Aku juga tidak apa-apa, kamu tenang aja, aku tunggu di luar aja ya!"


Daniah and the gank yang cuma menguping didekat pintu, segera kabur saat mendengar Pak Khalid mau keluar. Tapi sayang, Della bertabrakan dengan Daniah. "AAAAAKKHH!!" Meta malah tertawa cekikikan.


"Kalian kenapa?"


"Ehh hehe, ga papa Pak!" Della tersenyum keki. Daniah pun ikutan tersenyum kecut. Meta segera melongok keluar kamar, "mereka habis nguping Pak, hahaha!!"


Daniah melotot sambil menggigit bibir bawahnya sebagai kode ancaman buat Meta. Dengan cepat Meta menutup pintu kamarnya. Dia tertawa puas di dalam sana.


Tanpa memperdulikan omongan Meta, Pak Khalid menuju sofa. Dia duduk bersandar sambil mengelus pipinya yang sakit dan lebam. Daniah menjadi sangat cemas melihatnya.


Daniah mencoba menawarkan bantuan.


"Pak, apa aku harus belikan es batu?"


Pak Khalid mendongak, "Oh kalau tidak merepotkan sih, terima kasih, kalau mau membantuku!"


"Ooh ga kok Pak, aku ga repot kok, Dell, temani aku yuuk!"


Tanpa menunggu persetujuan Della, Daniah segera menarik lengan Della keluar menuju warung.


Sepeninggal Daniah, Pak Khalid bersandar di sofa sambil memejamkan matanya. Perkelahian barusan sangat menguras tenaganya. Tanpa terasa, dia pun terlelap dalam tidurnya.


Setelah merasa pulih, Zahira mencoba menemui Pak Khalid di ruang tengah. Tapi alangkah kagetnya Zahira saat melihat kepala Pak Khalid tengah terkulai lemas ke samping.

__ADS_1


"Haahh, astagfirullah apa yang terjadi dengan Pak Khalid." Perlahan tapi pasti, Zahira mendekatinya. Tapi saat Zahira sudah dekat, Zahira mendengar Pak Khalid bernapas secara teratur, menandakan dia lagi tidur pulas.


Zahira tersenyum lega melihatnya. Tanpa disadarinya, dia terus menatap Pak Khalid tak berkedip. Senyumnya terus mengembang di bibirnya. Rasa bahagia, malu dan grogi menjalar menjadi satu di hatinya.


Saat kepala Pak Khalid makin lemas dan hampir saja terjatuh, dengan cepat Zahira menopang pipinya dengan tangan agar tidak terjatuh.


Samar-samar Pak Khalid merasakan ada sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh pipinya, dia mencoba untuk membuka mata.


Tapi saat mengetahui jika sesuatu yang lembut dan hangat itu, adalah tangan Zahira, dia pun membatalkannya. Dia pun pura-pura melanjutkan tidurnya dengan wajah ditopang oleh telapak tangan Zahira.


Zahira terus saja menatap Pak Khalid lekat. Saat melihat biji mata Pak Khalid bergerak, Zahira mencoba menegurnya.


"Pak...Pak Khalid..." suara lembut Zahira membuat Pak Khalid makin meleleh.


Pak Khalid segera membuka mata karena tidak tega melihat Zahira kepayahan menahan pipinya. "Ehh Zahira, kamu sudah baikan?"


Zahira jadi gelagapan karena ketahuan memandangi wajah di depannya. "Aahh... ee... mmm... maaf Pak, aku..."


Zahira merasakan wajahnya memanas. Dia pun memegangi pipinya. Kemudian segera berdiri dan memilih duduk agak jauh dari Pak Khalid di seberang meja.


Pak Khalid tersenyum, "kamu ga salah kok kenapa harus minta maaf, justru aku yang harus terima kasih, kamu sudah membantuku agar aku tidak jatuh, makasih ya Ra!"


Zahira langsung tertunduk malu, jantungnya berdegup kencang. Dia tidak bisa menahan rasa kekinya. Wajah putihnya makin memerah. Dia tidak sanggup lagi berkata-kata.


Setelah lama terdiam dengan pikiran masing-masing, Zahira akhirnya teringat kalau dia belum sholat ashar. Dengan cepat dia mendongak "Pak aku permisi dulu, aku mau sholat."


Dengan cepat dia bangkit dan berlari masuk kamar mandi hendak berwudhu.


Tapi Pak Khalid memanggilnya. "Zahira!!"


Zahira menghentikan langkahnya di depan kamar mandi. Tapi dia tetap saja diam. Pak Khalid segera menghampirinya. Zahira merasakan tubuhnya seakan tak menjejak lantai saat Pak Khalid makin dekat. Zahira menggigit bibir bawahnya.


"Zahira ijinkan aku menjadi imammu!"


Seketika Zahira merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.


.


.


.


.


Besok jumpa lagi ya....πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Semoga episode ini bisa membuat kalian makin penasaranπŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya😘😘😘😘😘😘.


__ADS_2