
Orang-orang segera berkerumun. Banyak yang menuding dan memaki-maki Pak Khalid. Tapi ada juga yang menengahi, mengingat bocah itu tidak apa-apa.
Pak Khalid segera memeriksa keadaan bocah yang ditabraknya. Setelah tahu tidak terjadi apa-apa, dia memberikan kartu namanya. Jika kemungkinan anak itu ada masalah, mereka bisa meminta pertanggung jawaban. Kemudian meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, Pak Khalid terus menyesali kelakuannya. Dia merasa seperti anak ABG yang labil. Dengan segera dia menepikan motornya. 'Haah astagfirullah, apa yang aku lakukan!" Sembari mengusap wajahnya.
Seketika, Pak Jin langsung muncul.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Iya aku ga papa, makasih ya Pak Jin sudah menolong kami, terutama anak kecil itu!"
"Kalau berterima kasih, sebaiknya bawa kami kembali!"
Pak Khalid mendelik kesal. "Haah, apa kamu tidak lihat, apa yang baru saja aku alami? apa kamu benar-benar tidak perduli dengan diriku?"
"Kamu yang picik, tidak bisa berani sedikit, apa susahnya bertanya langsung, mengira-ngira sesuatu, jika salah, kamu akan berdosa!"
"Haah aku...ah baiklah ayo kita kembali, tapi..." Tiba-tiba ponselnya berdering.
*"Ya Assalamu alikum!"*
*"Oh baik, aku akan segera ke sana!"*
Pak Khalid pun memutuskan panggilannya.
"Maaf Pak Jin, ada pasien yang menungguku, aku harus pergi, setelah selesai aku janji akan membawamu ke sana!"
Pak Khalid pun kembali mengendarai motornya. Namun kali ini dia berjalan agak santai. Dia takut kejadian tadi terulang kembali.
******
Zahira kini telah kembali setelah mengantar Alfian pulang. Akan tetapi sepanjang perjalanan, perasaannya sungguh tidak enak. Tangan kirinya tiba-tiba terasa keram. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
"Ya Allah, ada apa dengan perasaanku, hhhhp haaah!" Zahira menarik napas berat. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdebar-debar. "Astagfirullahal adzim!" Zahira terus menghela napas agar dadanya bisa netral kembali.
Bukannya netral, perasaannya malah kian tidak enak. Hawa dingin dan panas seakan menghembus punggungnya silih berganti. "Aah ada apa ini?" Zahira pun memutuskan untuk membaca dzikir.
Seketika saja, diantara bacaan dzikirnya dalam hati, Zahira mendengar hatinya bertanya sendiri "apa hubungan kamu sama Alfian?"
Zahira mengerutkan kening, belum sempat menyadari apa yang terjadi, dengan sendirinya, hatinya pula yang menjawab "kami saudara sesusuan!"
"Ada apa dengan hatiku, kenapa bicara sendiri?" Zahira makin penasaran.
Setelah tanya jawab singkat dalam hatinya terjadi, perasaan aneh yang menyelimutinya perlahan mulai berkurang dan lama-kelamaan menghilang. Zahira hanya bisa menarik napas lega.
Begitu perasaannya lega, Zahira pun mengedar pandangnya ke kiri-kanan jalan. Dia berharap bisa menemukan iklan rumah dijual.
Mobil Zahira sengaja dilajukan perlahan sekali. Dia berputar-putar di area kompleks itu. Masuk dan keluar gang, kalau-kalau ada rumah yang mau di jual atau di sewakan.
Pucuk dicinta ulam tiba, Zahira melihat sebuah rumah dengan tipe sederhana, sedang tertulis kata "Rumah ini di jual". Dengan cepat dia mencatat nomor HP yang tertera di bawahnya.
Setelah cukup puas melihat rumah itu dari dalam mobilnya, dia pun meninggalkan tempat itu, menuju ke rumahnya.
******
Di rumah sakit, pasien yang ditangani Pak Khalid ternyata keluarga Gina. Hingga secara tak sengaja, mereka pun bertemu lagi. Pak Khalid semula kaget, namun segera menetralkan perasaannya. Dia pun berlalu dan tidak menyapa Gina sama sekali.
Gina yang merasa diacuhkan, segera berlari nenyusulnya. "Yang! Sayang!"
Pak Khalid tetap tidak peduli dan terus saja berlalu. Dengan keras Gina mengejarnya dan langsung memeluknya dari belakang. Pak Khalid terpaksa berhenti.
Pak Khalid melepas pelukan Gina dengan kasar. "Lepaskan aku, kita tidak ada hubungan lagi!" Kemudian berbalik mengahadap Gina. Tatapan matanya dingin dengan wajah datar.
Gina memasang wajah memelas, "Sayang, aku minta maaf, aku sudah salah menilai kamu, sekarang kamu kembali menjadi dokter, aku sunguh senang Sayang, aku mau kok kita mulai lagi dari awal!"
"Lupakan saja aku, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun sama kamu!"
Seraya berbalik menuju ke ruangannya.
Gina tidak perduli, dia tetap saja mengikuti Pak Khalid meskipun ada tatapan kesal dari seorang perawat, yang selalu mendampingi Pak Khalid bekerja.
Saat memasuki ruangannya, Gina tidak lagi bisa menahan dirinya. Dia tidak ingin melepaskan kesempatan emas untuk berbaikan dengan mantan pacarnya. Dengan cepat, dia memeluk dan mencium pipi Pak Khalid.
Sekuat tenaga Pak Khalid mencoba menghindar. Tapi pelukan Gina semakin erat dan semakin sengaja menempelkan dada montoknya ke punggung Pak Khalid. Dengan genit dia menggesek-gesekkannya.
Akan tetapi, bukannya teransang, Pak Khalid malah menjadi kesal. Entah mengapa, hatinya menjadi jijik diperlakukan demikian. "Gina hentikan, atau aku akan berbuat kasar sama kamu!" Suaranya datar namun cukup mengintimidasi.
Gina tidak menggubris ucapan Pak Khalid. Dia tetap bergelayut di leher Pak Khalid dengan dada tetap menempel di sana. "Sayang maafkan aku, aku merindukan kamu!"
"Gina cukup, lepaskan aku!" Pak Khalid menarik paksa pelukan Gina di lehernya. "Gina, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan? kamu tidak ubahnya seperti wanita murahan yang merayu lelaki!"
Perkataan kasar Pak khalid bukannya membuat Gina tersingung, malahan makin menjadi. Sayang, aku rela seperti apapun, asal kamu mau balikan sama aku, ya!" Gina memelas sambil mendekat dan berniat memeluknya lagi.
__ADS_1
"Gina, disini ada Hantu!"
Sontak Gina terkejut dan sempat mematung. Kemudian dia berusaha tersenyum untuk menutupi rasa takutnya. "Sayang, apa kamu mau menakutiku? kamu kan tahu sayang, kalau aku tidak takut Hantu!"
"Benarkah?" Pak Khalid senyum miring.
"Pak Jin, cewek ini katanya tidak takut sama kamu, coba perlihatkan sama dia, seperti apa Hantu itu?"
Gina langsung gelisah, namun sekuat mungkin dia menahannya. "Sayang, kamu bi...bicara sama siapa, hehe kamu se...sengaja kan, nakut-nakutin aku?"
"Tidak!" Seraya menatap Gina dingin.
"Pak Jin, coba angkat vas bunga di sana!" Seraya menunjuk vas bunga yang terletak di sudut ruangan.
Gina pun menatap ke arah yang ditunjuk Pak Khalid. Alangkah kagetnya dia saat vas itu benar-benar bergerak dan berpindah tempat. Gina langsung gemetar dan melompat memeluk Pak Khalid.
"Haah, jadi ini perempuan yang selama ini mengaku padaku tidak takut apapun?" Pak Khalid kembali melepas pelukan Gina dengan paksa.
"Sa...sayang...a...aku...itu..."
"Sudah cukup! sekarang kamu pergi dari sini, aku tidak mau berdebat, pergilah!" Meski merasa marah dan kesal, tapi tetap saja suara Pak Khalid terdengar datar dan lembut. Hanya tekanan kata-katanya saja yang menunjukkan kekesalannya.
Dengan berat hati, Gina meninggalkan ruangan Pak Khalid. Akan tetapi, dalam hatinya berjanji akan tetap mempertahankan Pak Khalid dan tidak mau lagi melepasnya.
Begitu Gina pergi, Pak Jin segera mendekat, "wanita itu tidak baik untuk kamu, jangan meladeni dia, aku dengar dia punya niat buruk!"
Pak Khalid menatap Pak Jin lekat, lalu mengangguk sedih, "iya aku tahu, dia hanya menginginkan uang dan nama saja!"
"Kalau sudah bekerja, antarkan kami!"
Iya, iya santai aja dikit, tak sabaran banget sih jadi Jin!"
Pak Khalid segera melepas pakaian kebesarannya, lalu bergegas meninggalkan ruangannya. Kali ini dia sudah membulatkan tekad untuk bertanya langsung.
Sesampai di tempat parkir, belum lagi sempat Pak Khalid menyalakan mesin motor, Pak Jin muncul lagi. Namum kali ini, bukan Pak Jin yang tadi, melainkan yang satunya lagi. "Astagfirullah!" Pak Khalid mengelus dada.
"Kamu sudah salah paham sama Zahira!"
"Haah maksud kamu?" Pak Khalid menganga.
"Ternyata mereka saudara!"
Pak Khalid semakin heran, "saudara dari mana, apa tiba-tiba begitu, jelas-jelas Alfian menyukai Zahira!"
Pak Khalid tak sanggup berkata-kata lagi, dia hanya bisa menganga lebar.
"Apa yang sudah aku lakukan, jadi selama ini aku sudah salah menilai mereka, dan aku, aku patah hati pada sesuatu yang tidak terjadi? ooh bodohnya aku!" Rutuk Pak Khalid dalam hatinya.
"Baiklah, ayo kita ke sana!" Seru Pak Khalid sembari menyalakan motornya. Perasaan senang dan bahagia menggebu di dalam dadanya. Senyum dan air mata bergantian menghiasi wajahnya. "Zahira maafkan aku, aku salah, ah apa yang aku lakukan, Zahira kan tidak tahu kalau aku sudah sakit hati padanya!"
******
Zahira kini telah sampai di rumahnya. Begitu ia masuk, tampak semua temannya sedang asik menikmati pisang goreng dengan teh panas di ruang tengah sambil nonton TV.
"Assalamu alaikum!"
Sontak semua temannya menoleh, "alaikum salam!" Seru mereka serempak. "Ra, kita sudah bikin pisang goreng, sini gabung yuk!" Seru Meta.
"Ooh makasih, aku ambil dikit aja, aku mau ke kamar!" Seraya mengambil beberapa lalu naik ke kamarnya.
Sesampai di kamar, dia segera menghubungi pemilik rumah yang tadi. Setelah agak lama negosiasi, mereka pun sepakat, dan berjanji besok akan melakukan pengecekan pada kondisi dalam rumah.
Setelah itu, dengan cepat dia menelpon Uminya. Dia berharap akan mendapatkan izin. *"Ra, apa kamu yakin berani tinggal sendiri?"*
*"Iya Umi, aku yakin, Umi jangan kawatir, aku akan selalu menjaga diri baik-baik, boleh ya Umi?"*
*"Ya sudah kamu periksa dulu rumahnya, nanti video call ya kalau kamu periksa rumahnya!"*
*"Baik miy, besok sih rencananya!"*
*"Emm baiklah, sudah dulu ya, Assalamu alaikum!"*
*"Alaikum salam!"*
Belum lagi Zahira meletakkan ponselnya, Meta masuk dengan wajah cerah secerah mentari di pagi hari.
"Zahira!!" Meta memeluk Zahira kegirangan, membuat Zahira makin heran.
"Iih Meta apaan sih?" Sambil melepas pelukan Meta.
"Ra, coba tebak ada apa?"
Zahira mengerutkan kening, "ada apa ?"
__ADS_1
"Ra, selama ini, kamu rindu sama siapa coba?"
Zahira menggeleng, "ga ada, Meta kamu kenapa sih, aneh banget?" Zahira terus menatap Meta, yang mengembangkan senyumnya selebar sayap elang, dia semakin heran.
Meta semakin antusias, "Raa!! dia sudah datang!" Meta melompat-lompat kecil bagaikan bocah mendapat permen, sambil memegang kedua lengan Zahira.
"Meta, kamu ini bikin orang bingung, emang siapa yang datang, aku ga menunggu seseorang kok!"
"Adduuuh udah deh, ayo cepat turun, ayooo!" Sembari menarik paksa tangan Zahira.
"Meta bentar dong, aku bahkan belum makam pisang aku!" Sambil meraih pisangnya di atas nakas.
"Ga perlu, di bawah masih banyak, ayoo!" Sembari terus menarik Zahira.
Mau tak mau Zahira mengikuti Meta dengan tangan terus tertarik.
Sementara di lantai bawah, Della dan Daniah tengah menyambut Pak Khalid dengan wajah bagagia. Meskipun mereka tidak punya hubungan apa-apa, tapi ternyata setelah bertemu Pak Khalid, ada perasaan senang dan bahagia juga di hati mereka.
Tak henti-hentinya mereka tersenyum. "Pak, Bapak tahu tidak, Zahira sampe galau gara-gara Bapak ga pernah datang!" Della sudah mulai bergibah.
Pak Khalid yang mendengarnya langsung kaget. "Maksud kamu?"
Merasa tidak dipercaya, Daniah ikut meyakinkan, "benarlah Pak, ya kan Drian?" Seraya melirik Adrian.
"Iya Pak, benar, Zahira murung terus tiap hari!"
Pak Khalid langsung tertunduk menyesal. "Aah itu karena aku sangat sibuk, jadi tidak punya kesempatan untuk berkunjung kemari!"
Zahira dan Meta pun telah sampai pula di sana. Sejenak mata Pak Khalid dan Zahira bertemu. Ada perasaan yang tak bisa mereka lukiskan dengan kata-kata, muncul di dalam dadanya. Zahira langsung tertunduk.
Matanya tiba-tiba terasa panas. Air bening seakan mau jatuh di sudut matanya. Dengan cepat dia berlari masuk ke kamar mandi di dekat dapur.
Della tak mau mengganggu acara kangen-kangenan mereka. "Eh Adrian, kamu katanya mau bawa kita jalan-jalan ya kan?"
Adrian tercengang, dia bingung dengan pertanyaan Della. Akan tetali Della segera mengedip-ngedipkan matanya berulang kali. Akhirnya Adrian mengerti maksudnya. "Ooh...ho ho, hii iya...iya..ayo kita berangakat!"
Della segera menarik Meta, sedangkan Daniah hanya mengikuti dengan muka bingung. Sesampai di luar, Della segera bsrbisik, "ayo jalan, kita biarkan mereka melepas rindu, kalau ada kita, mereka pasti tidak bisa bebas berbicara, ayo!"
Mereka semua tersenyum sambil mengangguk setuju. Dengan segera Adrian pun mengeluarkan mobilnya. Tak berapa lama, mereka pun melaju entah kemana.
Kini tinggallah Pak Khalid yang merasa gugup sendirian. Dia segera mengambil pisang di depannya untuk mengurangi rasa gugupnya. Meskipun sebenarnya dia tidak sendiri, tujuh sosok Jin sedang bersamanya saat ini.
"Jangan banyak berpikir, kami tidak mau mendengar basa-basi!"
"Haah iya, iya aku tahu!" Pak Khalid mengigit kasar pisang gorengnya.
Di dalam kamar mandi, Zahira sudah tak mampu membendung perasaannya. Air matanya dibiarkan tumpah membasahi pipinya. "Iih ada apa sih dengan diriku, hiks, hiks!" Meskipun dia tersedu-sedu, tapi bibirnya tersenyum ceria.
"Kenapa harus menangis sih kalau aku sendiri merasa senang, ah aku kenapa sih!" Zahira memukul dadanya gemas.
"Aaahhhaaaaahhh, aku harus bisa menahan senyum, harus!" Kemudian berbalik hendak keluar. Akan tetapi kembali bibirnya tersenyum dan tak bisa ditahannya. Terpaksa dia mundur lagi.
"Aaahhh, bagaimana ini?" Zahira menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Hhaaa...hhhpphaaah, ga boleh senyum, ga boleh!" Zahira mengepalkan tangannya agar perasaannya bisa dikuasai.
Sambil terus menarik napas, Zahira mencoba untuk keluar menemui teman-temannya. Betapa herannya Zahira saat mendapati temannya sudah raib entah kemana.
"Eh Pak, mereka kemana?"
Pak Khalid mendongak, "mereka katanya mau jalan-jalan!" Sambil terus mengunyah. Sebisa mungkin dia mengunyah lama.
"Cepat katakan maksud kedatangan kamu, jangan basa-basi!" Desakan Pak Jin hampir saja membuatnya tersedak.
"Eeh Zahira, aku kesini sebenarnya, ada yang mau aku bicarakan!"
Pak Khalid memasang wajah serius.
"Ooh ada apa Pak?" Zahira ikutan duduk agak jauh dari Pak Khalid.
"Ra, kamu ingat ga, aku pernah bertanya soal Jin sama kamu?"
Zahira mengangguk pelan. Kini Zahira sudah bisa menetralkan perasaannya begitu Pak Khalid mengangkat masalah lain.
"Sekarang Jin-jin itu ada di sini, dan dia minta tolong sama aku, supaya aku ngasih tau kamu kalau mereka mau menjadikan kamu sebagai tuan mereka!"
Seketika Zahira terbelalak, "Haaahhh!"
.
.
.
__ADS_1
Lain kali disambung ya.