Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 29.


__ADS_3

Ibu kost menoleh karena merasa hawa dingin menyapu tengkuknya. Dan tiba-tiba saja bayangan hitam menyapu pandangannya. Dengan cepat Bu kost ambil langkah seribu.


Bayangan hitam terus mengikutinya di belakang. Saat sampai di tangga, bayangan itu terpental kebelakang. Ibu kost melihatnya sambil tersenyum sombong diujung atas tangga.


"Hah mantra Mbah dukun emang sakti." Gumamnya sambil berlalu masuk rumahnya.


Sementara di bawah tangga, bayangan hitam yang tak lain adalah hantu pucat sekamar Zahira itu, memandang geram ke arah Bu kost. Air matanya tampak meleleh menahan sakit hatinya.


Dengan perasaan sedih gadis pucat itu segera menghilang dari sana. Kembali masuk ke dalam rumah. Demi dilihatnya Zahira dan teman-temannya tengah asyik mengerjakan tugas, dia memilih untuk menghindar. Diapun masuk ke kamar Zahira dan menghilang.


****


Matahari sudah condong ke barat. Warna cahaya yang perlahan mulai kelam. Papa Yeni keluar masuk rumah dengan cemas. Pasalnya, sampai sekarang Yeni belum pulang juga, padahal tadi Yeni tidak bilang ada tugas tambahan.


"Bu Tuti, apa Nova sudah menelpon?" tanya Pak Junaedi pada pembatunya, yang juga Ibunya Nova.


"Tidak ada Pak!" Ucapnya.


"Hah kemana mereka?" Gerutu Pak Junaedi.


"Biasanya emang kadang mereka pulangnya malam Pak, sebaiknya Bapak tenang aja, kalau ada apa-apa pasti mereka sudah menelpon." Timpal Bu Tuti.


"Pa, sudahlah jangan cemas, nanti tensinya naik." ucap Diana mencoba menenangkan suaminya.


"Haaahhh sebenarnya kemana mereka, sampai matikan ponsel segala!" gerutu Pak Junaedi lagi.


"Sudah Pa, ayo istirahat yuk," ajak Diana.


Mereka pun masuk kamar. Putra berlari mendekat, ikut masuk kamar.


"Ma kenapa Kakak belum pulang juga ya?" Tanya Putra sambil memandang Mamanya.


"Kakak lagi ada urusan di luar." Terang Diana sambil membungkuk di samping anaknya.


"Ma kapan kita bisa main sama Kak Yeni?" Tanya Putra lagi.


"Nanti kalau Kak Yeni udah ga sibuk lagi ya sayang," ucap Diana mencubit pipi Putranya sambil tersenyum. Diana pun mengangkat tubuh anaknya ketempat tidur. Lalu duduk di samping suaminya.


"Sepertinya Putra sayang sama Kak Yeni ya," ujar Pak Junaedi memandangi Putra.


"Iya Pa, kan Kakakku." Putra polos. mereka tertawa. Meskipun rasa cemas dihati Pak Junaedi belum juga hilang.


Pukul Tujuh setengah saat Yeni sampai di rumah. Pak Junaedi tengah menikmati makan malam bersama Putra dan Diana.


"Pak, Yeni sudah datang," lapor Anti salah seorang pembatu Pak Junaedi.


"Suruh dia kemari!" Perintah Pak Junaedi.


"Baik Pak." Ucap Anti lalu keluar.


Yeni sudah ada di kamar saat Anti mencarinya.


"Nova jangan sampai kamu bilang kita kemana hari ini!" Yeni memperingatkan.


"Yaaa," jawab Nova asal-asalan.


"Nova!!!" panggil Yeni dengan membelalak karena kesal melihat Nova Acuh.


"Ya, okey, okey!" Nova ketus

__ADS_1


"Awas ya." Ancam Yeni sambil mengacungkan kepalan tangan ke depan Nova.


"Hemm," Nova mendelik. Kemudian bergulingan di kasur.


Pintu diketuk seseorang dari luar.


"Ya masuuk!!" Teriak Yeni.


Pintu terbuka, Yeni mendongak menanti orang yang akan masuk.


Anti masuk ke dalam.


"Maaf Yeni, Bapak menunggu kamu di ruang makan." Ujar Anti memberi tahu.


"Bilangin aku mau mandi dulu, capek. Nanti aja aku makan sama Nova!" Terang Yeni menolak.


"Baik." Anti pun berpaling lalu keluar.


"Kamu bohong kan, cuma ga mau diintrogasi kan?" Nova mencibir.


"Diam aja mendingan !" Sambil menimpuk Nova dengan bantal. Yeni segera masuk kamar mandi.


Sementara Nova tidur telentang melepaskan penat disekujur tubuhnya, gara-gara hampir seharian dia menemani Yeni mengelilingi kota mencari dukun sakti untuk menghajar Zahira.


Kekesalan Yeni terhadap Zahira sampai sekarang belum reda. Dan kini Yeni semakin gila sampai mencari dukun sakti. Nova menggosok mukanya dengan kasar mengingat kegilaan temannya itu.


Karena kelehan, Nova sudah terlelap dalam tidurnya tanpa mandi dulu. Yeni yang sudah selesai mandi tersenyum melihat Nova sudah terlelap. Ada rasa kasihan di mata Yeni, melihat temannya yang begitu setia mendampinginya. Perlahan diraihnya selimut lalu menutupi tubuh Nova yang telentang.


Setelah berganti baju, Yeni turun menemui Papanya yang kini sudah duduk di ruang keluarga.


"Yeni kamu kemana saja, sampai malam baru pulang!" Bentak Papanya begitu Ia mendekat.


"Kalau lagi nyari buku kenapa harus matikan ponsel, lagi pula kenapa tidak bilang!" Papanya masih marah.


"Oo tadi waktu di kelas, semua Mahasiswa diminta matiin ponsel biar ga ganggu saat belajar. Jadi ya udah lupa akitfkan sampai sekarang." Jawab Yeni bohong.


"Apa kamu tahu betapa cemas Papa menunggu kamu?" Papanya tetap kesal.


"Aku minta maaf Pa," ujar Yeni merasa bersalah.


"Yeni, lain kali jangan seperti itu lagi, mengerti!" tegas Pak Junaedi.


"Iya Pa." Janji Yeni.


"Kamu sudah makan?" Tanya Diana yang diam sejak tadi.


"Sudah tadi di warung, Pa aku duluan capek, aku mau istirahat." Seraya bangkit dan berlalu menuju kamarnya.


*****


Malam semakin larut, hampir seluruh penghuni kota sudah terlelap, meski sebagian masih terjaga dan lalu lalang. Yah yang namanya kota.


Di kediaman Zahira, seluruh penghuninya telah terlelap. Tak terkecuali Bu kost. Dan seperti biasanya, hantu pucat pasti bebas bergentayangan.


Malam ini, dendam kesumat dalam diri gadis pucat gentayangan itu, kembali bergolak. Dengan mata merah menyala dia melesat ke lantai atas.


Akan tetapi, saat hendak masuk di lantai tiga, tiba-tiba tubuhnya terpental sama seperti sore tadi. Dia mencoba bangkit. Kemudian maju lagi mencoba peruntungan. Lagi-lagi gagal. Tubuhnya tetap terlempar. Seakan ada dinding tipis yang menghadangnya.


Gadis pucat tak habis akal, dia melesat ke samping rumah. Mencoba peruntungan di sana. Tapi untung tak dapat diraih, nasib tak dapat ditolak. Saat Dia mencoba menerobos jendela rumah Bu kost tiba-tiba saja tubuhnya seakan terbakar sesuatu.

__ADS_1


"Aaaahhhhkkkkkk."Pekiknya lalu menghilang.


Zahira terbangun mendengar sauara tangisan menghiba minta tolong.


"Ah suara itu lagi, kenapa setiap tengah malam aku mendengar suara itu sih?" Tanya Zahira pada diri sendiri.


"Zahiraaaa!" Teriak Hantu itu melihat Zahira terbangun. Tubuhnya terbakar. Dia bergulingan menahan panas ditubuhnya.


"Ya, siapa yang manggil?" Teriak Zahira mendengar namanya dipanggil seseorang di luar.


Dengan langkah gontai Zahira beranjak membuka pintu lalu melongok ke luar.


"Aahhh siapa sih, iseng banget," gerutu Zahira saat melihat tidak ada seorang pun di sana. Dengan gontai dia kembali melangkah masuk. Lalu tidur kembali.


Belum lagi tidurnya lelap, suara itu terdengar lagi.


"Zahira!!!Tolong aku, Zahiraaaaa!" Hantu itu benar-benar menderita kepanasan.


Mata Zahira terbelalak. Langsung berdiri.


"Daniah!" Ucap Zahira mengira temannya dalam masalah.


Dengan cepat dia berlari keluar kamar menuju kamar Daniah. Digedor-gedornya pintu kamar Daniah.


"Daniah, Daniaaah!!!" Panggil Zahira dengan cemas.


Daniah dan Della terbangun mendengar suara memanggil-manggil dan menggedor pintunya.


"Siapa sih tengah malam gini ah," gerutu Daniah. Della cuma diam memandang pintu.


Daniaaahh!!" Zahira kembali memanggil.


"Itu Zahira Dan!" Seru Della.


"Hah ngapain juga sih tuh anak," gerutu Daniah.


"Daniah!!" Zahira masih memanggil.


"Yaaa sebentar!!" Daniah ikut teriak. Lalu beringsut membuka pintu.


"Uwaaaah," Daniah menguap, "ngapain sih tengah malam bangunin orang," tanya Daniah.


"Haahh bukannya kamu yang teriak manggil aku tadi?" Tanya Zahira sambil terbelalak.


"aaahhkkk," Dania menguap lagi, "mana ada, orang lagi tidur juga." Sambungnya.


"Terus siapa dong yang panggil aku?" Tanya Zahira heran.


"Auu ah ngantuk." Sambil menutup pintu.


Zahira kembali ke kamarnya dengan seribu tanda tanya.


"Hahh sholat dululah." Gumamnya lalu berwudhu kemudian sholat.


Seperti sebelumnya Zahira berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan dirinya dan kedua orang tuanya. Tak lupa Ia doakan pula hantu gentayangan di kamarnya. Agar diberi ketenangan di alam sana.


Dan benar saja, hantu pucat itu tiba-tiba berhenti guling-guling menahan panas. Tubuhnya kembali normal. Api menyala yang membakarnya langsung padam bak disiram air setandom.


Zahira menyudahi doanya. Hantu itu hanya menatap Zahira di sudut kamar. tak berani mendekat. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang pucat.

__ADS_1


__ADS_2