
Mobil Pak Khalid memasuki pekarangan rumahnya. Dengan cepat Zahira turun tanpa ada basa-basi. Pasalnya, waktu ashar hampir berlalu ditambah waktu dzuhur telah lewat. Terpaksa harus menjamak sholatnya kali ini.
Meta dan Pak Khalid pun turun dari mobil serta ikut masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, mobil Adrian pun telah sampai pula.
Daniah yang tengah tertidur pulas, tidak sadar jika mobil sudah berhenti. Saat Della hendak membangunkan dia, Adrian mencegahnya. "Ssssttt!"
Della cuma angkat bahu lalu turun dari mobil.
Suara dentuman pintu yang ditutup Della membangunkan Daniah. "Eeeemmm," Daniah memicingkan mata sambil meregangkan kedua tangannya ke depan. "Sudah sampai ya?" Seraya menoleh mentap Adrian.
Adrian tersenyum sambil mengangguk.
Begitu menyadari bahwa mereka telah sampai, Daniah pun berniat membuka pintu, tapi Adrian buru-buru mencegahnya. "Yang, bentar dulu dong!"
Daniah menoleh dengan wajah garangnya. "Mau ngapain sih?"
"Emm aku boleh istirahat sebentar ga di rumah kamu, pegel nih seharian menyetir?" Sambil menaikkan alisnya disertai senyum dibuat-buat.
"Ga, ga boleh, ga boleh ada cowo yang istirahat di dalam!" Daniah ketus.
"Trus Pak Khalid bukan cowo gitu?"
"Ooh!" Daniah melongo. "Ya...ya...udah deh, asal jangan nginap!" Daniah menekankan.
"Oke, aku janji!"
Daniah mengangguk lalu kembali meraih gagang pintu hendak turun. Lagi-lagi Adrian mencegahnya. "Apalagi sih!" Daniah membentaknya.
"Yang kita resmi jadian kan?"
Daniah terdiam, dia tidak tahu harus bilang apa. Mau bilang iya, malu. Tapi mau bilang tidak juga tak mau. 'Eee...!"
Cup
"Eeew!" Daniah kaget mendapatkan kecupan di keningnya tiba-tiba. Sambil Meraba keningnya, wajahnya merah padam. "Kamu! Beraninya cium aku!" Bentak Daniah kasar.
"Maaf yang, aku cuma mau membuat stempel pengesahan hubungan kita!"
"Heeeeeh...!" Suara Daniah serak mendengus. Giginya gemeretak sedang matanya melotot. Kedua tangannya terkepal kuat menahan marah.
"Dengar ya, lain kali jangan pernah berani menciumku, karena kamu bukan muhrimku, tahu!" Bentaknya lagi.
"Oke sayang, cuma kali ini saja, aku janji, cuma sebatas peresmian aja kok!" Sambil mengacungkan dua jarinya.
Daniah tak bersuara. Dengan cepat dia membuka mobil lalu turun dan segera masuk ke dalam.
Adrian menghela napas, "Haaah, aku kira cuma Zahira yang ga mau disentuh, ternyata ayang Daniah juga begitu, apa dia sudah ketularan Zahira ya? Haah tapi baguslah, setidaknya, dia hanya akan menjadi milikku seorang!"
Perlahan turun pula, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Sesampai di dalam, Adrian segera menghempaskan tubuhnya yang keletihan di sofa. Pak Khalid hanya menatapnya iba sambil tersenyum. Dia pun geleng-geleng kepala melihat gaya tidur Adrian.
Perasaan capek dan letih, juga menyerang Pak Khalid. Seketika dia merasa sangat mengantuk. Perlahan dia mengubah posisi duduknya menjadi setengah telentang. Kepalanya disandarkan pada pembatas sofa.
Sambil bersandar setengah baring, dia tetap memeriksa akun media sosialnya. Tiba-tiba saja aura aneh terasa menyeruak di sekitar tubuhnya.
Perlahan dia mengangkat pandangannya yang semula menatap layar ponsel. Betapa terkejutnya, saat di atas kepalanya, kini telah berdiri sesosok Mahluk mengerikan, yang dia lihat pagi tadi di kawasan wisata.
Pak Khalid langsung menganga. Ponselnya langsung terjatuh dari genggaman tangannya. Seluruh persendiannya seakan mati rasa.
"Ka...Ap...ka...mu mau apa?"
"Jangan takut, aku tidak akan mengganggumu!"
Pak Khalid langsung teringat dengan doa yang dibacanya pagi tadi. "Bis...mil...la..hi...lla...!" Pak Khalid terbata-bata. Lidahnya terasa kaku dan tulang rahangnya seakan tak mampu tertutup sama sekali.
"Hahaha, kamu mau mengusirku ya? Percuma, doamu tidak akan mempan untukku, justru kamu masih perlu aku ajari, hahaha, kamu bahkan tak punya kelebihan apa-apa selain melihatku!"
Suara serak nan besarnya membuat Pak Khalid menciut.
Pak Khalid terus ternganga. Tulang rahangnya benar-benar terkunci.
"Masih mau berdoa, dan mengusirku?"
Pak Khalid menggeleng pelan.
"Ah sialan, bahkan leherku juga kaku!" Batinnya.
"Aduuh benar-benar sial aku, Hantu Amanda sudah hilang, tapi kenapa malah Jin yang datang sih?" Rutuk Pak Khalid dalam hatinya.
"Baiklah!" Ujar Jin itu kemudian.
Pak Khalid seketika merasa tubuhnya begitu ringan dan bisa bergerak kembali.
"Aaah apa maumu?" Pak Khalid mengubah posisinya menjadi duduk bersila di sofa.
Mahluk itu membungkuk sambil menatap wajah Pak Khalid.
"Izinkan aku menjadi pengikut perempuan itu!"
"Maksudmu Zahira!"
Mahluk itu mengangguk. "Iya!"
"Tapi untuk apa? Kamu tidak takut padanya, dia sakti lho!" Pak Khalid menakut-nakutinya.
"Justru karena dia sakti, kami ingin menjadi pengikutnya!"
__ADS_1
"Dengar, Zahira itu orang alim, kalian akan kena murkanya Allah jika kalian berani mengganggunya!"
"Hahhaha haaahhahaha! Kami juga taat seperti dia, jadi percuma kamu menakuti aku, kami bukan dari golongan Jin kafir!"
Pak Khalid heran mendengar pengakuannya. "Maksudnya, Jin juga ada kafir dan ada yang taat?"
"Iya, kalau kamu tidak percaya, pergi dan tanyai Zahira!"
Secepat kilat, Pak Khalid berdiri hendak mencari Zahira, tapi aneh, Zahira malah langsung muncul di depannya. "Cari saya Pak?"
"E eh, iya, mau tanya ten..."
"Tentang Jin ya?"
Pak Khalid makin heran dengan apa yang dialaminya. Zahira bukan cuma muncul tiba-tiba, tapi malah tahu isi hatinya. "I iya...!"
"Dalam Al-Qur'an surah Al-Jin memang dijelaskan begitu!" Jelas Zahira sambil tersenyum dan berlalu pergi.
"Ooh benarkah?"
"Pak...Pak! Pak Khalid, ada apa?"
Mendengar suara orang memanggilnya, Pak Khalid membuka mata. "Eeh Zahira!"
Pak Khalid pun memperhatikan keadaanya. "Ah apa aku bermimpi?"
Zahira tersenyum, "mungkin Pak, soalnya tadi Bapak bergumam terus tidak jelas!"
"Ah..tadi itu aku mimpi tentang...eee Jin! Apa kamu percaya ada Jin yang kafir dan eee..."
"Taat ya?" Zahira menyambung ucapan Pak Khalid yang menggantung.
"Eh iya, kok?" Pak Khalid makin bingung, karena Zahira bisa tahu kelanjutan ucapannya. Keningnya berkerut.
"Iya Pak, ada kok dijelaskan dalam surah Al-Jin tentang adanya Jin yang taat dan tunduk pada perintah Allah dan ada pula yang ingkar!"
"Kau...!" Pak Khalid tak mampu meneruskan kata-katanya karena teringat mimpinya tadi. Kata-kata Zahira sama persis dengan yang ada dalam mimpinya.
Saat Pak Khalid tengah bingung dengan dirinya, Daniah dan Della juga Meta datang membawa cemilan dan minuman hangat.
"Sebaiknya makan dan minum dulu Pak, biar kagetnya hilang!" Seru Daniah,
Sambil mendekati Adrian yang tampak pulas di sofa.
"Weei bangun!" Teriak Daniah di dekat telinga Adrian. "Heeem!" Sambil menggeliat Adrian membuka mata. "Bangun, minuman hangat sudah jadi, ayo minum dulu!" Perintah Daniah terdengar seperti Ibu-ibu.
Adrian tidak bersuara melainkan terus menatap Daniah tak berkedip. "Duuh perempuan ini, rasanya aku tak mau pulang, aku mau di dekatnya terus!"
Dipandangi tak berkedip, Daniah langsung emosi, "Wwoii!"
Adrian kaget bukan kepalang, "Ya! aku sayang kamu!" Spontan Adrian berteriak, membuat seluruh penghuni rumah langsung tertawa, "Hahahaha!"
Mulai sekarang, kita manggil kalian Tom and Jerry yah, hahahaha!" Ledek Meta.
"Yaa terserah, setidaknya kalian bisa jadi Spike!" Daniah tak mau kalah.
******
Malam datang dengan cepat, dengan terpaksa, Pak Khalid dan Adrian meninggalkan Daniah and the ganknya.
Pak Khalid begitu kaget saat melihat orang-orang berkerumun di depan rumah Bu kos. Cepat-cepat dia memarkirkan mobilnya dan menghampiri salah seorang warga.
"Ada apa ya Pak?"
"Oh itu, Ibu Marni, dari sejak tadi siang, berteriak-teriak kayak orang gila!"
"Kenapa tidak dibawa ke Rumah sakit?"
"Masalahnya, dia tidak punya keluarga lagi, ini kita lagi menunggu adiknya dari luar kota!"
"Aaakkkkhhh, lepaskan aku, aku tidak gilaaa! Aku yang membunuh Amanda, bukan Tono!! Heeeiii tangkap aku juga!!" Teriakan Bu kos terdengar sampai di jalan raya.
Pak Khalid tak mau ambil pusing, dia segera berbalik dan masuk ke rumahnya.
Merasa gerah, Pak Khalid pun segera mandi. Bahkan di dalam kamar mandi, suara teriakan Bu kos masih terdengar jelas. "Haah andai Amanda melihatnya, dia pasti senang sekali, setidaknya, Bu kos benar-benar mengakui perbuatannya."
Pak Khalid terus bergumam sambil mengguyur tubuhnya.
Selesai Mandi, Pak Khalid merebahkan tubuhnya di kasur. Sambil menatap langit-langit kamar, dia merenungi arti dari mimpinya yang dia alami tadi.
Saat sedang melamun, tiba-tiba yang dipikirkan muncul di depan mata. "Huaaa!" Pak Khalid terlonjak kaget karenanya, dan langsung berdiri. "Waah gila, Hantu pergi, malah Jin yang datang, kamu mau apa?"
Suara Pak Khalid gemetar ketakutan.
Hehhehhe, aku tidak mau apa-apa, aku cuma mau bekerja sama denganmu, tenanglah!"
"Haah maaf aku...mana bisa tenang kalau melihat muka kamu yang seram begitu!" Lututnya sudah tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dia pun tersungkur berlutut di kasur.
"Ooh wajahku seram ya, baiklah!"
Seketika wajahnya berubah, kini tidak lagi seram. "Bagaimana, masih takut?"
"Ooh, i...iya...hhh!" Pak Khalid memperbaiki duduknya.
"Bagaimana, mau bekerja sama denganku?"
"Untuk apa? bukannya kamu mau jadi pengikutnya Zahira, kenapa malah minta kerjasama dengan ku?"
__ADS_1
"Hehehe, aku tahu kamu itu tidak punya kemampuan apa-apa, tapi dengan mengandalkan aku, kamu bisa memiliki kemapuan yang luar biasa, kamu bahkan bisa mengobati orang yang sakit!"
"Ahh maaf saya ini dokter, tanpa bantuan kamu, aku bisa mengobati pasien!"
"Hahhahhahha, kamu sombong juga, padahal kamu mendekati Zahira karena mau menjadikan dia tameng atas kelemahan kamu, ya kan?"
"A...apa mak...sud kamu, aku tidak begitu, aku tulus sama Zahira!"
"Aku bisa tahu apa yang ada dipikiran manusia!"
Pak Khalid terdiam. Tidak bisa dia pungkiri, bahwa dari awal dia memang mendekati Zahira sebagai tempat berlindung juga sebagai jimat penyembuh bagi pobianya. Akan tetapi rasa sayang dan cintanya malah ikut tumbuh bersamaan.
"Dengar, jika kamu menerima kerjasama kita, aku akan membuatmu sakti, dan tak ada sesosok Mahluk pun yang berani menganggumu, bagaimana?"
"Terus apa yang kamu harapkan sebagai imbalan!"
"Kamu cukup dekat dan terus berlindung pada Zahira, agar kami juga bisa terlindungi pula!"
"Heem!" Pak Khalid mengerutkan kening. "Bukannya kamu sakti, katanya tak ada yang berani mengganggu, kenapa harus berlindung sama Zahira?"
"Kami membutuhkam tuan yang taat, agar kami juga tetap taat, jika kami belum memiliki tuan, maka, para dukun sakti akan menemukan kami dengan mudah dan mengikat kami dengan tali perjanjian yang tak mampu kami hindari, dan itu akan menjerumuskan kami!"
"Bagaimana kalau malah kamu yang balik menjerumuskan kami?"
"Kami tidak akan menganggu apapun urusan kalian, dan juga kalian tidak akan mengganggu urusan kami, sebaliknya kami akan datang membantu dengan ikhlas jika kalian butuh bantuan!"
"Haah terserah deh, ditolak juga kamu tetap maksa, tapi ingat ya, jangan sampai mengganggu apalagi menjerumuskan kami!"
"Baiklah, kami terima!"
Selesai berikrar, Jin itu pun menghilang. Pal Khalid pun berusaha bangkit dari duduknya mencoba berdiri. Tapi tiba-tiba....
"Aadduuuhh!" Pak Khalid meringis memegangi pantatnya yang terasa ngilu. "Aah, apa aku jatuh?" Pak Khalid kaget dan langsung melompat berdiri.
Begitu menyadari keadaanya, dia pun menutup mulutnya. "Astagfirullah, aku mimpi lagi!"
Suara teriakan Bu kos terdengar lagi. Dengan segera Pak Khalid menuju teras depan kamarnya. Sambil berpegangan pada pagar pembatas, dia menatap nanar ke rumah Bu kos.
"Haah kasihan juga Bu kos, andai Zahira ada di sini, dia pasti akan membantunya.
"Jangan bilang kamu mau menolongnya?"
Pak khalid langsung menoleh saat mendengar suara orang menegurnya. "Huaaa Astagfirullah!" Teriak Pak Khalid begitu sadar siapa yang menegurnya.
"Kamu! ahh apa aku mimpi?" Pak Khalid menepuk pipinya.
"Tidak kamu tidak bermimpi!"
"Apa aku bisa melihatmu tanpa bermimpi?" Pak Khalid makin heran.
"Haaaahahaha hahaha, bukannya kamu memang bisa melihat kami?"
"Eeh iya ya, tapi tadi itu, kenapa lewat mimpi?"
"Karena aku tahu kamu akan menolak, dan akan sangat tidak bagus jika kamu berbicara sendiri, benarkan?"
"Ooh begitu ya?"
"Jadi apa kamu akan menolong Ibu itu?"
"Apa kamu bisa membantu?" Balas Pak Khalid
Mahluk itu menatap Pak Khalid lurus. "Kalau aku sarankan, sebaiknya tidak perlu, itu adalah hasil dari apa yang telah dilakukannya, Allah memiliki cara tersendiri untuk menghukum hambanya yang berbuat dosa!"
"Haah katanya mau membantu menyembuhkan orang?"
"Iya, tapi orang yang didzolimi dan yang tak bersalah, kami tidak berani menentang apa yang telah digariskan takdir Allah!"
"Jadi maksud kamu, itu adalah takdir Bu kos?"
Lagi-lagi Jin itu terdiam. "Maaf, aku tidak mau dan tidak boleh menebak apalagi meramal dan memastikan sesuatu, itu menyesatkan dan kami takut menanggung dosa, tapi satu hal yang pasti, orang itu menuai hasil tanamannya!"
"Ooh, tapi bukannya Jin bisa melihat masa depan? begitu kata orang, bahkan kata dukun!"
"Oh itu cuma dukunnya asal tebak dan kebetulan benar, karena tidak satupun mahluk ciptaan Allah yang mampu mengetahui rahasia takdir yang telah digariskan Allah!"
"Hehhe, kedengarannya kamu memang Jin islam ya?"
"Apa kamu percaya sekarang?"
Pak Khalid tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah aku mengerti sekarang, sebaiknya aku masuk dan istirahat dulu, selamat malam, Pak Jin!"
"Assalamu alakkum!"
Pak Khalid tertegun sejenak, "O..h, wa alaikum salam!"
"Hehe aku lupa kalau dia islam juga!" Batin Pak Khalid.
"Aku dengar suara hatimu, ingat itu, jadi kalau mau bicara denganku, tidak perlu diucapkan, cukup dalam hati saja paham!"
"Aah heheh iya, aku mengerti!"
Mahluk itupun menghilang tanpa jejak. Pak Khalid sendiri masuk ke dalam kamarnya.
.
__ADS_1
Jumpa lagi di lain kesempatan ya😘😘😘😘.