Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 81. Saudara sesusuan


__ADS_3

Zahira dan Della tengah diperiksa Suster saat orang tuanya datang menjenguknya. "Bagaimana keadaan anakku Sus?" Umi Zahira tampak cemas.


Suster menoleh dan tersenyum "Sudah lebih baik, tinggal menunggu diperiksa Dokter sekali lagi, jika sudah dipastikan oleh Dokter, mungkin hari ini mereka sudah boleh pulang!" Sambil merapikan alat-alatnya. "Mari Bu, kami pergi dulu!"


"Iya Sus, terima kasih ya!" Sambil menoleh ke suaminya yang tengah duduk di sofa. "Biy, jadi Zahira nanti bakal tinggal dimana?"


"Aku masih menunggu informasi dari temanku, apa sudah menemukan perumahan di sekitar kampus Zahira!"


"Oh ya Biy, kenapa kita tidak menghubungi Pak Gunawan aja, bukannya dia juga tinggal di perumahan dekat kampus?"


"Kita lihat saja dulu, jika tidak ada info dari teman Abiy, nanti baru kita minta tolong sama Pak Gunawan!"


"Aku rasa mereka tidak akan segan membantu kita, kan sudah lama banget juga tidak ketemu!"


"Aku hanya tidak mau merepotkan orang lebih banyak Miy!"


Della dan Daniah saling tatap mendengar rencana orang tua Zahira. Mereka sangat cemas dengan nasib mereka sendiri. Sangat tidak mungkin untuk mendapatkan rumah lagi. Uang sewa selama setahun di rumah Bu kos tidak bisa lagi mereka tarik kembali.


Merasa tidak bisa berbincang langsung dengan Daniah, akhirnya Meta memilih untuk berbicara lewat pesan pada Daniah.


*"Dan, nasib kita gimana dong?"*


Begitu pesan Della masuk ke Ponsel Daniah, Sontak ia menatap Della sambil mengangguk memberi kode bertanya.


Della mengacungkan ponselnya. Daniah pun mengangguk paham. Dengan cepat dia membalas pesan Della.


*"Aauu aku juga pusing!"*


*"Kita minta tolong Pak Khalid gimana?"*


*"Entahlah, apa mungkin dia bakal menolong kita jika tidak ada Zahira?"*


*"Semoga aja tidak begitu!"*


*Bagaimana dengan orang tuamu? apa mereka mau datang juga, kemarin bukannya kamu sudah menghubungi mereka?"*


*"Boro-boro, aku cuma pura-pura, ga mungkin aku bilang ke ortu, bisa-bisa Emma'ku langsung isdet!"*


*"Terus gimana dong?"*


Della mendongak sambil menatap temannya itu sambil mengangkat bahu.


Mereka pun menarik napas panjang.


Mereka benar-benar bingung harus berbuat apa. Mereka sadar jika keluarganya bukanlah orang kaya seperti orang tua Zahira. Mereka bisa kuliah saja sudah sangat beruntung. Itu pun orang tuanya harus kocar-kacir mencari duit.


Dalam keadaan yang serba rumit itu, Pak Khalid datang dengan senyum, seakan membawa angin segar bagi Daniah and the gank. Di dalam benak mereka, hanya dialah satu-satunya jalan keluar.


"Assalamu alaikum!"


Zahira dan orang tuanya menoleh.


"Wa alaikum salam!"


"Eh Nak Khalid, pagi-pagi sekali, apa tidak mengganggu pekerjaannya?" Tegur Umi Zahira.


"Iya Nak, kamu tidak perlu repot-repot meninggalkan pekerjaan buat Zahira, ada kami disini, kami tidak enak kalau nanti kamu malah bermasalah karena Zahira!"


Pak Khalid tersenyum, "ga papa kok Om, soalnya jam kerjaku masih ada setengah jam lagi!" Seraya masuk dan menghampiri Della dan Zahira.


Daniah tak mau kehilangan kesempatan. Dia pun mengirim pesan buat Della lagi.


*Del, coba kasih tau Pak Khalid soal rumah!*


Della menatap Daniah, kemudian segera membalas pesannya.


*Tapi gimana memulainya?*


Daniah tidak membalas, melainkan melotot sama Della.


"Apa Suster sudah memeriksa kalian?"


Della gelagapan mendengar pertanyaan Pak Khalid, karena dia tengah fokus bersitegang dengan Daniah dalam diam.


"Aa, eh iya sudah Pak!"


"Terus apa katanya?"


"Tinggal menunggu Dokter, kalau sudah dinyatakan sembuh, kami boleh pulang!"


Della menatap Daniah yang terus memberinya kode supaya memulai aksinya. "Mmmm Pak, emmm...kita...eee kalau keluar nanti...eee..."


Pak Khalid tersenyum, "jangan kawatir, kalian boleh tinggal di rumahku, nanti aku bisa tinggal di rumah yang satunya lagi!"


Della tersenyum senang, demikian juga Daniah. Meta yang sejak tadi cuma mengunyah, langsung kegirangan. "Yeee akhirnya dapat rumah juga!!"


Daniah langsung menoleh menatap Meta yang tidak tahu situasi.

__ADS_1


Pak Rasyad mendongak mendengar pernyataan Pak Khalid. "Ooh jadi kamu punya dua rumah?"


Pak Khalid menoleh, "iya Om, kebetulan aja, dan karena yang satunya tidak berpenghuni, jadi tidak masalah kalau mereka mau tinggal di sana nanti!"


Abiy Zahira menatap Istrinya seakan meminta pendapat. Istrinya cuma angkat alis. "Emm begini Nak, bagaimana kalau rumah kamu itu, sekalian kami sewa buat Zahira, soalnya kebetulan aku juga belum menemukan rumah yang bagus untuknya?"


"Iya, asal Zahira ada temannya, kami juga bisa merasa sedikit lega!" Imbuh Umi Zahira.


"Oh tidak masalah Om, tidak perlu disewa, rumahku juga tidak ada penghuni, jadi kalau mereka tinggal disana, sekalian ada yang merawat!"


"Zahira bagaimana, apa kamu tidak apa-apa tinggal bareng mereka di rumah Nak Khalid?"


Zahira tersenyum malu-malu mendapat pertanyaan dari Uminya. "Aku ga papa kok Miy!"


Daniah and the gank bernapas lega mendengarnya. Kini mereka tidak lagi merasa cemas dengan nasibnya kini. Daniah langsung bersemangat dan napsu makannya pun terbit. Dengan lahap dia ikutan menyantap makanan sisa semalam.


Setelah berbincang-bincang santai dan membahas hal-hal sepele, Pak Khalid pun pamit hendak bekerja. "Om, Tante, aku pamit dulu, soalnya sebentar lagi jam mengajarku tiba!"


Umi Zahira mengernyit, "lho bukannya Dokter?"


"Miy, dia kan juga Dosen!"


Umi Zahira menepuk jidat, "oh iya ya, aku lupa, hehe, baiklah, hati-hati ya di jalan Nak!"


"Baik Tante, Zahira, Della, aku pergi dulu ya!"


"HADIJA Pak!" Jawab Daniah dan Della serempak.


Pak Khalid menoleh, "hadija?"


"Hahaha, hati-hati di jalan Pak, maksudnya!" Seru Meta.


Mereka semua pun tertawa bersama.


Pak Khalid yang sudah sampai di pintu, kembali menoleh. "Oh ya Zahira, kalau nanti kalian sudah boleh pulang, tolong hubungi aku ya!"


"Baik Pak!" Jawab Zahira and the gank serempak.


*******


Waktu berjalan begitu cepat, kini Zahira and the gank telah keluar dari rumah sakit. Sayang sekali, jadwal kepulangan mereka begitu cepat, hingga Pak Khalid yang sedang mengajar tak sempat menemui mereka sebelum pulang.


Mereka hanya berjanji akan bertemu setelah makan siang, karena saat ini, Orang tua Zahira tengah menuju ke rumah Pak Gunawan. Seorang teman lama Pak Rasyad yang telah lama tidak berjumpa.


Pak Gunawan dan keluarganya saat ini telah menanti kedatangan keluarga Pak Rasyad. Karena kebetulan hari ini Alfian sedang tidak ada mata kuliah, jadi dia pun turut menantikan rombongan kelaurga itu.


Setelah agak lama menunggu, akhirnya rombongan itu datang pula. Semula Daniah menolak untuk turun, tapi setelah di desak, Daniah dan genknya pun menurut.


"Wa alaikum salam, waah lama tidak berjumpa ya!" Sambil berpelukan. Demikian juga dengan Bu Dewi dan Umi Zahira.


Alangkah terkejutnya Zahira saat menyadari rumah siapa yang didatanginya. "Eeh ini kan rumah Ka Fian?" Batinnya.


Begitu sampai di pintu, Ibu Dewi tak kalah kagetnya. "Lho Zahira!"


"Tante?"


Mereka berdua melongo.


Pak Rasyad dan istrinya yang telah masuk lebih dulu bersama Pak Gunawan menoleh kembali. "Eeh kalian kenapa?"


Bu Dewi segera menoleh menatap Uminya Zahira "Waah Bu Zainab, apa Zahira ini anakmu?"


Umi Zahira tertawa, "Hahaha lucu sekali pertanyaan kamu Bu, ya iyalah, memang ada yang lain?"


"Hehe iya Tante, dan mereka teman-teman saya, apa mereka juga..."


"Iya dong sayang, ayo Nak, mari silahkan masuk!"


Mereka pun masuk ke dalam dengan ragu-ragu.


"Fiaan!! bawa minumnya ke sini Nak!"


Tak Lama kemudian, Alfian pun datang mengantarkan minuman ke pada tamunya. Tapi saat hendak meletakkan minuman, tak sengaja matanya melihat Zahira. Dia pun tertegun tak percaya hingga lupa meletakkan minuman.


"Fian, kamu ini kenapa sih, ayo taruh minumannya!" Tegur Ibunya.


"Ah iya Bu!" Sembari meletakkan minumnya. Setelah selesai, dia ikutan duduk si samping Ayahnya. "Ah maaf mau tanya, kok Zahira...?"


"Zahira ini anaknya Pak Rasyad, pantas saja dulu waktu pertama ketemu, aku merasa tidak asing, mungkin begitu kali ya, kalau kita ada hubungan batin gitu, hehe!" Imbuh Bu Dewi.


"Iya lah, Zahira kan anak kamu juga Bu!" Umi Zahira menambahkan membuat mata anak muda itu pada terbelalak. "Haaah maksud Umi?" Zahira tak percaya dengan pendengarannya.


Alfian tak kalah terkejutnya. "Iya Bu, apa maksudnya?"


Bu Dewi tersenyum sambil menatap anaknya dan Zahira lalu menatap Bu Zaenab, "Jadi kamu itu dengan Zahira saudara sesusuan!"


"APAA!!" Zahira dan Alfian serta teman-temannya kaget bukan kepalang. "Bu ga mungkin kan, umurku dengan Zahira bedanya 4 tahun!"

__ADS_1


Bu Dewi pun mulai bercerita. "Jadi begini, dulu kamu itu menyusu sampai umur 5 tahun. Waktu Zahira lahir, Uminya sangat lemah, dan Zahira sangat membutuhkan asi."


"Saat itu, Zahira juga dalam kondisi lemah sehingga Dokter tidak memperbolehkannya diberi susu instan. Sehingga saat Ibu menjenguk mereka, Ibu langsung menyusui Zahira tanpa pikir panjang."


"Baru setelah disusui, Ayah menegur, Ibu juga baru sadar kalau anakku laki-laki, bagaimana kalau nanti mereka malah saling suka, tapi syukurlah, kalian tidak jadi pacaran juga kan?"


Abi Zahira langsung kaget mendengarnya. "Maksudnya?"


"Ooh haha, bukan apa-apa Pak, Alfian cuma pernah bilang ke saya, kalau dia menyukai adek kelasnya namanya Zahira, tapi ternyata mereka cuma berteman saja!"


"Jadi kalian satu kampus?"


"Iya Tante, satu jurusan malah, cuma beda tingkatan!"


Mereka tersenyum senang karenanya.


Daniah and the gank merasa gerah karena dicuekin. Dengan Ponselnya mereka menyibukkan diri. Tapi hanya kelihatannya saja mereka sibuk, padahal mereka tengah bergosip dan mengumpat lewat pesan tentang keluarga Zahira yang tidak menganggap kehadiran mereka.


Mereka merasa seakan-akan nyamuk yang tidak dianggap sama sekali.


Sampai acara makan siang selesai, Daniah and the gank tetap saja tak ada yang mengajak bicara, selain hanya ditawarkan makanan atau minuman. Selebihnya mereka kembali jadi nyamuk.


Begitu Zahira mendapat pesan dari Pak Khalid, jika dia tengah menunggu di depan gerbang perumahan elit miliknya, barulah mereka berpamitan.


Meski telah ditawari untuk tinggal bersama di rumah Pak Gunawan, tapi Zahira menolak dengan alasan tidak mau berpisah dengan teman-temannya.


Mobil Pajero milik Pak Rasyad meluncur tersendat ditengah jalanan yang sedang macet. Sementara Pak Khalid tengah menunggu mereka dengan sabar dan semakin disabarkannya hatinya, mengingat Zahira tengah terkendala macet.


Setelah bersabar sekian lama, akhirnya rombongan Zahira sampai juga. Pak Khalid segera melajukan mobilnya menuju rumahnya diikuti oleh rombongan Zahira.


Begitu sampai, Abi dan Umi Zahira segera memeriksa setiap ruangan itu dengan cermat. Setelah puas melihat-lihat, mereka pun setuju Zahira tinggal di rumah itu.


Baik Pak Khalid maupun Zahira and the gank bernapas lega dan sangat bahagia. Setelah puas memeriksa, Umi Zahira segera mengajak Zahira dan temannya untuk keluar dan berbelanja kebutuhan mereka nanti di rumah itu.


**********


Lain Zahira lain pula Amanda yang memiliki kesibukan masing-masing. Kini Amanda telah betah berada di kantor polisi. Dia benar-benar percaya dengan ucapan Pak Khalid jika Abi Zahira akan membuat tubuhnya hangus bila ia mengunjungi Zahira.


Rasa bersalahnya pada Zahira serta dendam kesumat yang memenuhi hatinya, membuat Amanda bertekad untuk membuat Tono menjadi gila, atau setidaknya mau mengakui perbuatannya pada polisi.


Kini Amanda tengah asik menikmati pertunjukan heboh di depan matanya.


'Pak Polisi, keluarkan saya Pak, ada Hantu disini Pak!" Teriak Tono keras.


Pria satu selnya jadi geram setengah mati hingga ia mengepal kuat menatapnya. Pria itu tak mau gegabah karena saat ini, petugas Polisi tengah berseliweran di lorong-lorong sel.


"Pak...tolong keluarkan aku dari sini Paaaak!!"


"He bisa diam gak, di sini tidak ada Hantu, kami bukan Hantu! sekali lagi teriak Hantu, aku akan menghajar kamu!"


Seorang petugas yang datang mendengar umpatan pria itu. "Apa kamu yakin mau menghajarnya jika dia teriak?"


Pria itu mendongak, "anu Pak, dia ribut banget Pak, benar-benar menganganggu!"


Poliso itu mengangkat alis sambil menyeringai. 'Kalau kalian merasa terganggu, jangan sungkan-sungkan, kalian hajar saja dia, cukup sisakan nyawanya saja. Heeh pura-pura ada hantu, supaya dibebaskan? apa kamu pikir ini hotel, bisa seenaknya minta keluar?"


Setelah berkata demikian, Petugas itu berlalu pergi.


Tono semakin ketakutan, kini seluruh tubuhnya telah banyak lebam-lebam, tapi bukannya dikasihani, malah diserahkan pada mereka yang beringas. Tanpa sadar Tono menangis terisak-isak.


Dalam tangis penyesalannya, terbayang keadaan Ibunya yang tengah terbaring lemas di kamarnya. Ditambah dengan Istrinya yang sampai saat ini belum menjenguknya. Tono semakin terisak dalam tangisnya yang pilu.


Mendengar Tono terisak-isak, Pria teman se-selnya kembali menegurnya. 'Wooii apa kamu anak kecil, sampai harus menangis?"


Sebisa mungkin Tono menahan suaranya agar tidak terdengar. Dia sudah jera dihajar habis-habisan oleh mereka.


Karena kelelahan, dia pun terlelap tidur.


Amanda kembali beraksi. Dengan memasuki mimpi Tono, dengan penuh keberingasan, dia menghajar Tono dalam mimpinya.


********


Daniah, Meta dan Della berteriak kegirangan seakan terlepas dari beban di dadanya. "HAAAAAAAAAÀHHH!" Sambil menghempaskan tubuh mereka di kasur empuk di salah satu kamar di rumah Pak Khalid. Zahira cuma tersenyum-senyum melihatnya.


"Aakhh akhirnha bisa benapas lega!" Teriak Meta sambil telentang.


"Iya, ditambah dapat kasur empak lagi, aaakh asiknya!!"


Daniah melompat naik diatas punggung Della yang lagi tengkurap. "Aaaaa, Daniah kamu berat akhh, turun!"


Zahira benar-benar geli melihat tingkah temannya. Dia pun tertawa terbahak-bahak.


Tiba-tiba suara pintu terbuka. "Kalian ngapain?"


.


.

__ADS_1


.


Sampai ketemu lagi😘😘😘😘😘.


__ADS_2