
Tidak banyak kegiatan di rumah Zahira, soalnya lontong yang dikirimkan uminya cukup banyak untuk mereka makan berempat.
Zahira yang tak suka berbasa-basi segera masuk kamar setelah selesai dengan kegiatan beres-beres didapur, sholat isya lanjut mengaji.
Sementara yang lainnya berkumpul di kamar Daniah, bergosip tentunya.
“Eh kalau setiap bulan Zahira selalu dapat kiriman segitu banyak, berarti kita bisa lebih hemat dong, ya kan?” celoteh Della sambil menyuap nastar kemulutnya.
“Yaaaahh, kalau dipikir-pikir, ada untungnya aku ajak dia kemari,” ujar Daniah manggut-manggut.
“Ah tapi aku masih kepikiran dengan kata-kata ka Yeni tadi siang, apa maksudnya ya, jangan-jangan….” Meta bergidik sambil memandangi temannya bergantian.
“Iyya, secara, rencana ngerjain Zahira di kamar kosong kan idenya dia juga, kali ini idenya apalagi?” ujar Della.
Daniah diam memandangi temannya lekat seakan ada sesuatu dipikirannya “Kenapa muka kamu gitu?” Tanya Della ke Daniah,
“Mm itu tentang kecelakaan tadi siang yang menimpa Zahira, apa cuma aku yang curiga?” Tanya Daniah membuat kedua temannya saling pandang.
“Tapi kan ga ada bukti, jangan sampai kita menfitnah, ingat fitnah itu lebih kejam dari pembulyian” tukas Meta polos,
“Weii yang ada pembunuhan!” teriak Della dan Daniah hampir bersamaan
“Hahahaha, sengaja!” balas Meta, tak ayal bantal guling pun melayang kewajahnya, mereka tertawa bersama.
Suara tawa dan cekikikan mereka terdengar jelas di kamar Zahira, namun Zahira tak memperdulikan suara mereka. Dia tetap asyik melantun syahdu, membuat hantu bergantung di atasnya harus menghilang entah kemana.
Kamar Meta yang bersebelahan dengan kamar Zahira, di sanalah tujuannya. pasalnya kamar itu sedang tak berpenghuni. Dia sudah tidak mau lagi mengganggu teman Zahira sejak Zahira mendoakannya.
Semenjak mereka dihantui oleh wanita tergantung, Meta dan Della tak berani lagi tidur sendirian, mereka selalu tidur bersama di kamar Daniah, setelah keesokan paginya barulah mereka berpencar mencari kandang masing-masing maksudnya kamar mereka.
Waktu terus berjalan, malampun berlalu hingga menghampiri tengah malam, Zahira sudah terlelap dalam tidurnya, hantu bergantung yang mengungsi di kamar Meta, kini telah kembali sejak tadi sejak Zahira sudah berhenti bersenandung.
Seperti pada malam-malam sebelumnya apabila malam telah beranjak mendekati tengah malam, maka kisah tragis yang menimpa sang hantu harus terulang.
Kejadian dimana wajahnya dibekap seseorang dengan bantal membuatnya kehabisan nafas, lalu pingsan. Tak lama lehernya diikat dengan seutas tali besar, kemudian diseret, membuat dia tersadar dari pingsannya, diapun berteriak minta tolong, memohon agar jangan disakiti namun orang itu tak memperdulikan suaranya yang menghiba kesakitan.
Tubuhnya lalu digantung menggunakan tali yang diikatkan dilehernya yang dikaitkan pada kipas angin besar yang terdapat di atas ujung ranjang yang kini ditiduri Zahira.
Dia terus berteriak, menghiba dengan suara menyayat hati.
“Toloooong aku mohon lepaskan aku, jangan sakiti aku, toloooong, siapapun tolooong akuuuuu, hhiiik hiikk hiiik aku mohoooon!"
Samar-samar Zahira mendengar suara itu, lalu membuka mata,
“Ah suara itu lagi” lalu bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kemudian melongok keluar.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, dari kamar Daniah keluar teman-temannya yang mengendap-endap hendak ke kamar mandi.
Zahira segera menegur mereka. “Kalian kenapa kok jalannya begitu, kayak maling lagi beraksi?” tanyanya membuat temannya segera menegakkan punggungnya.
“Ah Zahira kamu ngagetin aja, Della mau buang air, tapi takut sendirian karena ada suara aneh” jawab Meta.
“Kalian juga dengar?” tanya Zahira lagi.
“Kamu juga?” tukas Daniah penasaran “Iyya, makanya saya keluar, soalnya aku dengar suaranya dari luar,” tukas Zahira
“Iiih yang benar aja, justru yang kami dengar malah dari kamar kamu!” balas Meta.
“Udah dong berhenti ngebahas hantu, aduuuuh udah kebelet niiiiih” ujar Della meringis menahan rasa ingin buang air.
“Ya udah masuk sana!” perintah Daniah. Mereka terus berdiri di depan kamar mandi menunggu sampai Della selesai di kamar mandi.
Semua orang kembali ke kamar termasuk Zahira, dia duduk di pinggir ranjang, mengingat kata-kata temannya,
“Ah kalau memang ada hantu di kamar ini, berarti aku harus mendoakan dia biar dikasih ketenangan dan tempat yang layak disisi Allah. Baiklah sholat tahajjud dululah baru bacain yasiin buat si Hantu?” gumamnya lalu beranjak keluar hendak berwudhu lalu sholat.
Setelah sholatnya selesai, diapun mulai membaca surah yasiin dilanjutkan dengan surah al-iklash lalu ditutup dengan Al-Fatiah kemudian mendoakan si Hantu agar diberi ketenangan, tenpat yang damai dan mendapat pengampunan atas semua dosa-dosanya selama hidupnya. Setelah itu Zahira mengusap wajahnya. Lalu kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Zahira menggeliat, samar-samar telinganya menangkap suara aneh, “akhhh, akhhh, khhaaa, akhhk huuk khuuk.”
Zahira makin menajamkan telinganya, suara itu seperti orang yang sedang tercekik.
Zahira segera bangun lalu menoleh ke sumber suara. Tapi ternyata kosong.
Diapun mencoba untuk mencari-cari dalam remangnya cahaya. Dan betapa kagetnya, saat di depannya kini tergantung seorang perempuan yang sedang meronta-ronta hendak melepaskan diri dari jeratan tali gantungan.
Suaranya tercekat-cekat karena lehernya terjerat tali. Dengan spontan Zahira melompat mendekati wanita itu lalu mendekap kedua pahanya dan mengangkatnya agar tali yang menjeratnya tidak mencekiknya. “Aduh mbaa, apa yang Emba lakukan, ayo mba cepat buka talinya!” pinta Zahira pada perempuan itu.
Dengan lemah perempuan itu mencoba membuka ikatan tali di lehernya.
Setelah tali itu terlepas, Zahira melonggarkan dekapannya membuat wanita itu melorot ke bawah dan kini wajah mereka beradu, terdengar suara nafas wanita itu tersengal-sengal. Zahira mencoba menyibak rambut yang menutupi wajah wanita itu. Alangkah kagetnya Zahira saat mendapati kedua tangannya menggapai-gapai ke udara, lalu segera menariknya ke bawah.
“Ahh apa yang aku lakukan, apa aku mimpi?” bertanya pada diri sendiri lalu meraih guling disampingnya kemudian memeluknya dan melanjutkan tidurnya.
Belum sempat tidurnya terlelap, suara mengaji dari mesjid sudah mulai terdengar, antara sadar dan tidak Zahira ingin membuka mata, saat itulah seorang gadis dengan wajah pucat memandangnya sambil tersenyum. “Makasih ya Zahira, kamu sudah menolongku, kamu sudah membantu melepaskan tali gantungan yang menyiksaku” kata hantu pucat itu lalu menghilang.
Zahira terbangun lalu mencari-cari seseorang,
“Aah apa aku mimpi lagi, perasaan tadi aku benar-benar lihat orang di sin?" lalu menghembuskan nafas dan segera menuju kamar mandi.
Aktifitas pagi Zahira dimulai. Dari Sholat lalu mandi kemudian kedapur membuat sarapan.
__ADS_1
“Aahh ummi, ngasih pisang masak tapi ga ada terigunya, sama aja keluar beli, tarus mau bikin apa yaa? Bikin teh aja deh sarapan pake nastar juga boleh".
Sambil mengaduk tehnya, Meta datang menghampiri, disusul oleh Della terakhir Daniah.
“Maaf ga ada terigu jadi sarapan pake teh sama nastar aja ya?” ucap Zahira sembari meletakkan teh di atas meja makan.
“Aku mau lontong ma telur asin aja, masih adakan sisa semalam?” tanya Meta,
“Aku juga!” pinta della
“Tapi telor asinnya belum aku masak,” tukas Zahira,
“Ga papa biar aku yang masak” ujar Meta lalu segera berlalu menuju dapur.
Sambil menunggu Meta, Della meraih tehnya lalu menyeruputnya pelan, demikian juga Daniah dan Zahira.
“Eh semalam aku mimpi aneh banget,” kata Zahira meletakkan gelasnya, yang lain memandanginya lekat.
“Di kamarku ada perempuan yang lagi gantung diri,” lanjutnya.
Meta yang ada di dapur langsung menghambur mendekati mereka membuat semua terkejut.
“Aaaa aku takuuut!” lalu menarik kursi dan duduk memeluk lutut.
“Metaaaaa!” teriak Della terlonjak kaget karena serius menunggu cerita Zahira.
“Apaan sih bikin kaget aja!” Daniah kesal.
“Meta, ini kan Cuma mimpi aku,” ujar Zahira .
“Iyya menurut kamu mimpi, tapi kami lihat langsung pake mata kepala sendiri lagi sadar!” tukas Meta.
“Terus – teruus,” Della penasaran demikian juga Daniah hanya saja daniah memilih menyimak.
“Apa kamu dicekik, atau kamu dikejar?” tambah Meta antusias,
“Ga tuh, malah aku bantuin dia melepaskan tali gantungan dari lehernya.” Ucap Zahira.
“ZAHIRAAAA!!!!” teriak temannya bersamaan dengan wajah ketakutan
~BERSAMBUNG~
__ADS_1
hai ketemu lagi niih...jangan lupa tinggalkan like vote komen dan ratingnya yaaaa😘