
Yeni tengah berdandan saat Diana memasuki kamarnya. Sementara Nova telah siap sejak tadi dan bersantai di kasur sambil main ponsel. Melihat dandanan Yeni yang seksi, Diana langsung mengernyit.
"Ga ada baju yang lebih sopan kah dari itu?" Diana memang bergaya glamour tapi tetap dengan hijab yang senada dan tampak begitu cantik nan elegant.
Mendengar teguran dari Mama tirinya, Yeni langsung melotot dan menoleh.
"Kalau aku bilang ga ada terus kamu mau apa?"
Diana tersenyum mendengar bentakan anak tirinya. "Katanya mau berdamai?" Sambil duduk di pinggiran ranjang.
Nova cuma senyum-senyum ditahan.
Yeni cuma bisa menghela napas berat menahan amarahnya. "Semua bajuku model begini."
Diana tersenyum lalu mengangguk pelan. "Keluarga Alfian tidak suka melihat cewek seksi lho."
Yeni langsung menoleh. Matanya membulat lebar. Tapi kemudian berusaha menguasai dirinya. "Aku tahu mereka orang alim." Lalu kembali menatap cermin lagi. "Tapi kan kita bukan mau kerumah Alfian."
Diana lagi-lagi tersenyum. "Iya tapi kalau kamu mau diterima di sana kamu juga harus bisa merubah penampilan."
Diana pun segera berdiri dari duduknya saat melihat Yeni sudah selesai dengan dandanannya. "Ayo cepat ya, aku tunggu di bawah!"
Yeni cuma mencibir memandangi pungung Mama tirinya lalu menoleh ke Nova yang sudah bersantai sejak tadi sambil rebahan di kasur main HP.
Dengan gemas Yeni melemparkan bantal ke tubuh Nova. "Adauuhh!" Nova kaget bukan kepalang. Yeni hanya terkekeh dibuatnya. "Haha suruh siapa game melulu, Ayo ah buruan!" Seraya berlalu tanpa menunggu jawaban dari Nova.
Sesampai di bawah, Yeni tidak nenemukan siapa-siapa. Nova yang mengikutinya pun menjadi heran. "Nyonya dimana?"
Yeni nenoleh, "entahlah, mungkin udah di luar, yuk!"
Nova melangkah mengikuti Yeni di belakang. Benar saja, Diana sudah menunggunya di samping mobil.
"Temanku belum datang, tunggu bentar lagi," ujar Yeni sambil berjalan mendekati mobil Diana. Tak lama kemudian, sebuah taksi online berhenti di depan. Dengan cepat Yeni keluar menyambut temannya. Di sana sudah tampak Daniah, Della dan Meta turun dari mobil.
Yeni langsung mendekatinya."Kalian sudah bayar?"
Daniah sempat menganga dibuatnya. "Aa eh bukannya Kak Yeni bilang mau bayarin kita?"
__ADS_1
Yeni cuma mendelik lalu mendekati pintu mobil sopir. Dengan cepat Yeni membayar sewa mobil mereka. "Ayo masuk, Mamaku sudah nunggu lama." Daniah and the gank hanya bisa mengangguk lalu mengikuti langkah Yeni.
Begitu melihat Yeni dan temannya mendekat, Diana langsung masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Nova. Daniah yang sampai duluan ikutan masuk. Menyusul yang lainnya. Saat Yeni hendak masuk pula, Diana memanggilnya.
"Yen kamu depan aja!"
Yeni awalnya agak ragu, tampak berpikir sebentar, lalu dengan pelan dia membuka pintu mobil dan duduk di samping Diana. Perlahan Diana pun melajukan mobilnya keluar dari pekarangan.
Mobilnya meluncur membelah tengah kota, arah yang dituju adalah MARI salah satu Mall besar di kota Makassar.
Daniah and the gank yang semuanya orang kampung, menjadi terkagum-kagum dibuatnya. Mereka sama sekali belum pernah pergi ke Mall.
"Uuuwaaauuu besarnya, beginikah yang namanya Mall." Sambil celingak-celinguk sibuk melihat semua yang dilaluinya hingga masuk ke tempat parkir.
Diana hanya tersenyum melihat mereka.
"Kalian tinggal dimana?" Sambil melirik mereka di kaca spion di atasnya.
"Perintis tante." Daniah menjawab mewakili temannya.
"Lho kan ada juga tuh, Mall di sana, yang Transmart Daya itu?"
Diana diam dan hanya fokus memarkirkan mobilnya. Setelah selesai diparkir dia mematikan mesinnya. Barulah dia merespon pernyataan Della tadi. "Panggil Kak Diana aja deh, jangan panggil tante, kayaknya umur kita ga beda jauh, ya!"
"Ya Tan, eh Kak, hahahah." Serempak mereka tertawa mendengarnya.
Mereka pun turun dari mobil. kemudian menuju pintu masuk ke dalam Mall. Sepenjang jalan itu, hati Daniah dipenuhi tanda tanya besar tentang bagaimana bisa wanita yang masih hampir seumuran dengannya bisa menjadi Mama tiri Yeni. Namun pertanyaan itu dipendamnya dalam-dalam. Takut kalau sampai Diana menjadi tersinggung.
Senja berganti gelap tanpa mereka sadari. Acara jalan-jalan pun selesai demikian juga belanja-belanjanya. Kini mereka memasuki sebuah restoran untuk melepaskan haus dan lapar yang kini menyerang setelah lama berkeliling naik turun lantai Mall.
******
Zahira yang menangis ketakutan karena dibentak dengan keras oleh Bu kos kini tengah tertidur dengan lelap tak sadar jika hari sudah gelap. Bahkan suara adzan magrib tidak didenganya sama sekali.
Barulah setelah mendengar sesuatu yang jatuh berantakan di luar kamarnya, dia kaget dan langsung terbangun. Betapa kagetnya saat melihat suasana telah begitu gelap.
"Astagfirullah, aku ketiduran." Dengan cepat dia menyambar ponselnya dan segera memeriksa jam. "Ah hampir Isya."
__ADS_1
Dengan cepat, dia keluar kamar dan berwudhu. Tidak peduli dengan suara bergedubrak tadi, Ia langsung sholat magrib yang sudah hampir berganti isya.
Suara yang bergedubrak tadi tidak lain adalah Hantu Amanda yang dilempar dan dibanting oleh sosok buruk rupa yang selalu mengikuti Zahira. Amanda yang melihat kedatangan Mahluk itu segera mencegatnya agar tidak mengganggu Zahira. Tapi apalah dayanya, kekuatan mahluk itu 100 kali lebih kuat dari dirinya.
Tidak peduli dirinya dibanting dan dilempar, toh itu tidak akan membuatnya mati lagi karena memang sudah mati. Akan tetapi rasa sakit tetap saja bisa dirasakan. Terlebih lagi kekuatan mahluk itu adalah kekuatan supra natural.
Karena sudah berkali-kali dilempar, tubuh Amanda tak berkutik lagi. Tubuhnya lemas tak berdaya. Melihat hal itu, Mahluk itupun langsung menuju ke Zahira dengan senjata tajam hendak disarungkan ke dada Zahira.
Akan tetapi Zahira yang tengah sholat tak mampu ia dekati. Lagi-lagi cahaya kuning keemasan menyilaukan matanya yang merah menyala itu membuatnya sangat kesakitan. Dengan cepat dia berlari dan menghilang begitu saja.
Setelah selesai sholat, barulah Zahira keluar memeriksa benda apakah gerangan yang telah jatuh hingga bunyinnya bergedubrak. Alangkah herannya Zahira saat melihat kondisi dapur yang berantakan.
Dengan cepat Zahira membereskan kekacauan di dapurnya. Zahira hanya berpikir kalau itu semua pasti perbuatan kucing yang lagi berkelahi.
Begitu selesai beres-beres, Zahira kembali masuk ke kamarnya. Tapi rasa lapar menyerangnya juga. Mau tak mau Zahira pun keluar lagi bermaksud makan malam.
Sehabis makan, Zahira kembali ke kamarnya kemudian melanjutkan sholat isya yang baru saja adzannya dikumandangkan. Seperti biasa Zahira selalu bersenandungkan bacaan Alquran di setiap selesai sholat.
Entah berapa lama Zahira membaca Alqurannya, ahirnya dia selesai juga. Amanda yang sudah lemas tambah lemas mendengar senandungan ayat demi ayat yang dibaca Zahira. Dia hanya bisa meringkuk di bawah tangga dengan pasrah karena tubuhnya begitu lemas.
Hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam, Daniah and the gank pun pulang juga. Zahira yang baru saja selesai bersenadung langsung mendongak begitu mendengar pintu rumah dibuka.
Dengan cepat Zahira keluar kamar, begitu melihat temannya, Zahira tersenyum lega. "Kalian sudah pulang?"
Meta langsung tersenyum melihat Zahira. "Udah kangen ya?"
Della dan Daniah saling pandang lalu bersamaan angkat bahu dengan bibir mencibir.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
tambahkan like, vote dan komen jika kalian menyukai ceritaku....