Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Harus Memanggil Apa?


__ADS_3

Pangeran dan Xiong yang perjalanan dengan jarak dekat ini telah dipenuhi oleh drama yang tidak hilang dari keduanya. "Dimana Ayah?"


"Hei.... Kenapa semuanya menjadi sunyi? Apa festivalnya sudah pindah?" Baik Lee dan Xiong saling mengutarakan pendapat mereka karena menapaki jalan menuju festival yang seharusnya ramai dengan pengunjung serta teriakkan kekaguman atau sekedar wajah malu-malu kucing yang timbul karena kedatangan mereka kini sepi bak kuburan.


"Pangeran, mari ikut saya." Lee yang merasa ada yang aneh langsung bertanya cepat.


"Apa yang terjadi? Katakan saja."


"Raja tengah melakukan lingkaran gerigi." Lee cukup kaget karena hal itu jarang terjadi beberapa tahun ini. Ditambah dengan kepemimpinan ayahnya.


"Siapa?" Tanya Lee dengan penasaran.


"Hamba tidak tau pasti pangeran, tapi dari kabar.... Seorang putri pendeta." Baik, kata putri pendeta sudah menjadi kamus bagi Lee sekarang.


Hati dan pikirannya langsung terbelah ketika mendengar kata-kata itu. "Putri pendeta?"


'Tidak mungkin Tania ku bukan?' Sedangkan Xiong lagi-lagi melihat lamunan pangerannya bak orang stress.


'Apa virusnya aktif lagi?'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jika semuanya berkumpul ke festival, maka sebuah kereta kuda berhenti di depan istana. Tak lama terlihat seorang pria dengan gagahnya meksipun matanya mengalami ukuran yang tidak sama mengedarkan pandangannya.


"Tuan, selamat datang. Kami cukup terkejut dengan kedatangan Tuan." Tampak beberapa pelayan dan prajurit langsung menunduk dihadapan nya.


"Dimana raja? Kenapa istana sangat sepi?"

__ADS_1


"Raja sedang berada di festival tahunan tuan." Mendengar penjelasan itu, dia kembali memasukkan kepalanya ke dalam kereta dimana terlihat seorang wanita di dalam sana.


"Raja sedang keluar, dan tentunya pangeran Lee juga tidak ada. Bagaimana selanjutnya?"


"Letakkan kereta disini, dan siapkan kuda. Aku ingin kesana langsung!"


"Baik."


Ketika pria yang dipanggil tuan itu memerintahkan prajurit untuk mengambil kuda, kereta kuda yang kembali melaju untuk berada di tempat parkiran khususnya membuat sepasang mata menjadi terganggu.


"Apa kita sudah sampai?" Tanyanya sambil melihat ke jendela yang berukuran tidak besar itu.


"Sudah." Jawaban itu membuat dirinya yang tadinya diserang rasa kantuk langsung segar bak mint yang berada di mulut.


"Sungguh?" Tanyanya dengan begitu semangat.


"Cepat hentikan keretanya! Aku ingin turun."


"Sabar sayang, ayahmu sedang mencarikan kuda untuk mu."


"Apa dia sedang diluar?"


"Iya, ada festival hari ini."


"Kalau begitu aku akan berkuda untuk mencarinya. Ia pasti senang dak terkejut bertemu dengan ku bukan ibu?"


"Tentu saja, dia akan terkejut." Dan ketika kereta sudah berhenti langsung saja kaki yang berbalut pakaian sutra itu langsung menapak di tanah dan berlari ke arah kandang kuda tempat ayahnya berada.

__ADS_1


"Ayah!"


"Ini kudanya, kau bisa pergi. Ingat! Jangan..."


"Aku sudah tau ayah! Dan sekarang tidak ada lagi yang akan mengentikan ku disini!" Secepat kilat ia melajukan kuda putihnya itu dan keluar dari istana.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Nona seharusnya bukan beberapa tapi ratusan yang ia dapatkan karena sudah berani..." Siu yang tengah asyik presentasi langsung kaget karena layangan hairpin Nona nya yang sudah tertempel di pohon besar.


"Lemparan yang tepat sasaran. Kau penuh dengan kejutan." Sebuah suara terdengar dan tak lama beriringan dengan hadirnya sosok yang membuat keduanya terdiam.


"Kau?"


"Kau ingat aku? Aku merasa senang sekali. Aku harus panggil mu apa?"


"Apa maksudnya?"


"Nona itu...."


"Apa maksudnya?" Mei tidak mendengarkan Siu yang berkicau.


"Aku harus panggil kau Ratu Tania, Tania, atau kupu-kupu cantik atau.... Putri pendeta Ming?" Mei menyiapkan matanya menelisik penampilan pria dihadapannya.


"Kau ...."


Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2