
Tampak pria paruh baya itu sejajar dengan posisi Tania yang ia datangi. "Ada apa?" Tanya Tania yang karena kedatangan pria ini membuat rahasia yang akan ia dapatkan terhalang.
"Makanan sudah siap ratu, dan apa ratu mencari seseorang?" Sepertinya kepala desa itu cukup jeli hingga dapat menangkap apa yang Tania lakukan.
"Iya, aku menunggu raja, kenapa?" Tanya Tania balik membuat pria itu hanya menundukkan kepalanya.
"Tidak ratu, hamba bisa mencari raja."
"Tidak perlu, aku akan menyusul nya. Kau boleh pergi." Setuju, kepala desa itu segera pergi meninggalkan Tania.
"Sepertinya desa ini begitu banyak dihinggapi masalah. Dan lalat itu benar ahli dalam menerbangkan kotoran nya." Tania bergegas mencari Vanriel yang kemungkinan sudah selesai mandi.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pintu yang tadinya tidak terkunci itu segera ditutup rapat oleh tangan mungil itu, pergerakan itu tentu saja membuat penghuni didalamnya menjadi bingung. "Ada apa nak? Kau terlihat begitu terburu-buru? Apa ada masalah?" Sentuhan lembut seorang ibu tentu saja membuat hati dan masalah yang dihinggapi sang anak hilang semuanya.
"Ibu, aku baru saja menemui ratu. Aku mengatakan nya, tapi saat itu tuan tamak sudah datang, aku segera pergi." Selepas cerita itu mengalir, sang Ibu langsung memeluk erat putranya dengan penuh rasa takut.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau ketahuan? Ibu tidak ingin kehilangan mu seperti kakak mu..." Perlahan air mata itu dicegat oleh tangan mungil di wajah yang basah itu.
"Kenapa ibu menangis? Ibu bilang kan... Kita tidak boleh tunduk oleh kejahatan dan harus berani, aku melihat itu dimata kakak, lagipula aku sangat yakin ratu bisa membasmi mereka semua dan menemukan kakak. Apa Ibu tidak ingin itu? Kita sekarang tidak sendirian lagi dan lemah bersama yang lain, ratu sangat hebat dan raja juga ada bersamanya, bukankah kita harus tetap yakin? Ibu bilang itu kan?" Panjang lebar An bicara mengingatkan ajaran Ibu serta kakaknya yang membela kebenaran sehingga tubuh kecil itu dihinggapi pemikiran hebat.
"Iya, tapi ibu sangat takut.... Mereka itu iblis nak, mereka berwujud manusia yang menipu raja."
"Tapi keyakinan ibu tidak hilang kan?" Satu pertanyaan membuat wanita itu terdiam sejenak sambung menatap mata putranya yang memancarkan keyakinan penuh.
"Tidak..." Kata itu membuat An merasa senang.
__ADS_1
"Ibu juga akan berjuang kan?" Tanya An lagi sambil menggenggam tangan yang tidak bisa ia tenggelamkan sepenuhnya.
"Iya, kita akan berjuang... Ibu bersamamu."
An langsung berhamburan ke pelukan ibunya dan dibalas lebih erat oleh wanita yang melahirkan nya itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Kesegaran sudah bersemayam di tubuh Vanriel, sambil tersenyum karena melihat istrinya yang sudah duduk menunggu kedatangan nya, adalah hal yang menjadi kesukaan nya. "Kita tidak punya waktu! Mereka sudah dimana?" Baru saja Vanriel merasakan angin segar sekarang tersendat lagi dengan pertanyaan istrinya.
"Ada apa? Kau melihat sesuatu lagi?"
"Apa yang sebenarnya Raja lakukan setiap tahun disini?" Ok, sepertinya istrinya kini terlihat lebih sungguh-sungguh dibanding sebelumnya.
"Aku memberi bantuan kepada mereka, dan setelah itu pergi." Tania sungguh ingin memaki dan memukul kepala raja itu agar normal.
"Iya, aku menyerahkan semuanya pada kepala desa. "
"Astaga!" Tania memijat keningnya yang terasa panas mendengar jawaban anak SD ini.
"Kau sakit ratu?" Vanriel berniat bangkit tapi ditahan dengan lima jari oleh Tania.
"Berhenti disana! Aku baik-baik saja. Dan dengarkan aku! Dengan baik!" Tania mencap dua kata terakhir membuat Vanriel bak dijajah guru killer.
"Aku baru sadar desa ini hanya dihuni anak-anak kisaran umur kurang dari sepuluh tahun dan orang dewasa serta berumur. Tidak ada warga diusia produktif, apa memang begitu?" Vanriel tidak sanggup bicara dan digantikan dengan kepalanya.
"Iya?" Tanya Tania memastikan. Merasa istrinya kurang puas membuat Vanriel menjelaskan.
__ADS_1
"Mereka semua pergi ke kota mencari pekerjaan atau berdagang."
"Raja mendengar dari mereka?"
"Tidak, dari kepala desa."
"Mereka menipu! Para remaja itu dibawa paksa, aku yakin ada kaitannya dengan goa yang kita temukan."
"Seperti budak?" Kata itu langsung terlontar dari bibir Vanriel.
"Ya, warga tutup mulut karena itu. Kedatangan Dion serta rumah kepala desa menjadi tujuan pertama kita. Kirimkan surat atau utus seseorang untuk ke istana, kita tidak bisa menunggu lagi. Aku takut mereka bergerak lebih dulu, bukan tepatnya mereka sudah bergerak!"
"Apa maksudnya?"
"Aku berbohong mengenai membersihkan air. Sebenarnya ada sesuatu disana, pria bernama Dion itu bukan sembarangan, ingat serangannya? Dia seperti membunuh bukan latihan."
"Kita bisa menyelamatkan warga terlebih dahulu atau menghabisi ketiganya langsung?" Tania menolak solusi Vanriel.
"Tidak bisa, mungkin mereka tiada tapi keberadaan tahanan mungkin mereka yang tahu, kalau kita ke gua kita bisa kalah jumlah mungkin memakan banyak korban."
"Lalu bagaimana?" Vanriel sungguh merasa dibod0hi dan jiwa menyelamatkan rakyatnya tentu keluar.
"Kita bermain dengan mereka menggunakan warga desa."
"Bermain?"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.