
Mei tampak menikmati sapaan air hujan yang mengguyur tubuhnya, wajahnya mendongak beberapa kali menatap langit yang menurunkan air hujan yang sangat disukainya itu.
"Kau merasakannya? Rasakan, air hujan yang menapaki diri kita, dia mengalir dari kepala hingga kaki kita. Dia memberikan sensasi yang begitu menenangkan, rasakan Lee." Mei melingkarkan kedua tangan Lee di perutnya dan tangannya juga ikut menempel bersama tangan suaminya.
"Kau menyukainya?" Tanya Lee yang diangguki Mei membuat hembusan nafas Lee yang menyatu dengan dinginnya air membuat Mei begitu menyukai sensasi nya.
"Ya, aku sangat suka. Kau tidak?" Lee menggeleng sambil lebih mengeratkan pelukannya.
"Aku suka, hanya saja aku lebih suka memandanginya dan belum pernah menikmati nya seperti ini. Mungkin saja aku ditakdirkan menikmatinya bersama kepingan hatiku." Mei mendengar penuturan suaminya sambil tersenyum manis dan tidak menggangu aliran air yang menuruni wajahnya.
"Jadi pangeran ini begitu menyukai pemandangan hujan? Sayang sekali." Ejekan Mei membuat gigitan kecil mendarat di lehernya dan seketika Lee berteriak kegelian.
"Lee!" Mei terkekeh geli, karena Lee terus menyerang nya, di luar paviliun itu keduanya menikmati hujan yang turun menimpa mereka.
Sambil bercanda dan menghangatkan satu sama lainnya menghiasi paviliun yang dihiasi oleh bunga dan pepohonan yang indah ditambah dengan kolam ikan yang merupakan peliharaan kesukaan Mei di di istana.
"Aku melalui hal baru bersama mu. Kehidupan ku menjadi lebih sempurna dan bewarna bersama mu."
"Sungguh? Memang kehidupan seperti apa yang suamiku ini lalui?" Mei yang tadinya membelakangi tubuh Lee sekarang bertatapan langsung dengan suaminya.
Lee dengan jelas menatap wajah istrinya yang disapu oleh air hujan yang tidak membuat kejelekan menetap di sana. "Aku menjalani pendidikan hingga dua belas tahun. Setelah itu aku beberapa kali ikut pertempuran, belajar dan bertemu dengan pengkhianat serta guruku. Semuanya biasa saja, dan hitam putih. Tapi ketika aku bertemu denganmu, semuanya menjadi bewarna, seperti ada pelangi yang menerpa diriku. Kau tau apa hal yang pertama kali aku simpan saat melihat mu?"
"Apa?" Tanya Mei yang tidak melepaskan pandangannya, begitu juga dengan Lee.
"Matamu, seperti sihir yang membuat ku tenggelam di sana. Bukan senyuman mu, aku tidak bisa melihatnya. Hanya ada tatapan yang menghujami ku, sihir itu membuat ku tidak tenang, selalu ingin bertemu dengan mu." Mei mendengar sambil menatap Lee yang bercerita.
"Jadi aku seperti penyihir?" Tanya Mei yang Lee tau itu adalah pancingan yang dia balas dengan senyuman.
"Ya, penyihir hatiku." Mei ikut tersenyum, seolah keduanya tidak merasakan kedinginan ditengah hujan yang turun menerpa mereka.
"Bagaimana dengan mu?" Sekarang giliran Lee yang ingin tau sisi pandang istrinya.
Mei tampak berpikir sejenak dan Lee menunggu sambil melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Lee sehingga keduanya tampak menari di tengah hujan.
__ADS_1
"Saat kita bertemu, aku melihat kau seperti batu yang tengah tenggelamnya terbawa arus. Lalu seorang pria yang seperti pengembara di tengah panas nya hari. Lalu seorang nelayan dengan yang mencari ikan di sungai. Dan juga seorang pemain di sebuah arena kupu-kupu malam dan ......"
"Apa?"
"Seorang pria aneh yang merupakan seorang pangeran dan melamar ku di tengah hutan dalam kegelapan." Mei tak lupa tertawa setelah mengatakan pendapat nya.
"Begitu banyak bentuk ku dalam manik mu. Kau suka yang mana?" Jari-jari Mei menelusuri wajah suaminya yang basah seperti dirinya.
"Aku suka...." Mei menjeda ucapannya sejenak, dan tak lama bibirnya ia tempatkan diantara leher dan telinga Lee.
"Aku lebih suka dengan pria bak jenderal di medan perang yang membuat guncangan hebat serta pertempuran hebat yang membuat jejak panas nya melekat dan bersemayam di sini." Mei mengarahkan tangan Lee yang keluar dari zona perutnya.
"Jadi sepertinya aku harus berubah seperti itu?" Lee mengedipkan matanya ditambah dengan senyuman menggoda nya.
"Aku rasa." Setelah menyampaikan rasa satu sama lain, perlahan wajah keduanya mulai mendekat dan bibir keduanya meminta untuk bertemu dan bermain sejenak bahkan dengan durasi lama.
"Pangeran...." Panggilan itu membuat aktivitas keduanya terhenti dan Mei menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Sedangkan Lee yang mengetahui sumber suara itu langsung menatap dengan cepat dan terlihat sang pemilik suara membelakangi mereka.
"Ada apa?" Tanya Lee dengan cepat.
"Ada hal yang penting pangeran." Lee yang tau macam-macam penyampaian Xiong langsung mengerti maksud bawahannya itu.
"Tunggu aku di ruang kerja, aku akan segera kesana!" Xiong yang paham dengan junjungannya langsing mengangguk dan pergi dengan meminta maaf karena tindakannya.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Mei yang menjadi Lee tersenyum lembut.
"Tentu ada, sepertinya bermain hujan kita sampai disini dulu. Ayo, ganti pakaian... Anak kita pasti merasakan dingin juga karena ibunya bermain hujan."
"Kau juga, kita ganti bersama."
"Hanya ganti pakaian, jangan berpikiran lain!" Mei menarik tangan suaminya yang tersenyum karena ucapannya yang mengarahkan Lee pada yang lain.
__ADS_1
"Tentu saja!" Mei berteriak kecil karena tubuhnya terangkat dan Lee membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Xiong yang masih basah dan terlihat mulai mengering langsung bangkit karena melihat junjungannya. "Salam pangeran. Dan maaf..."
"Langsung saja, ada apa? Kau tidak biasa melakukan hal itu. Kau tau benar, jadwal ku bersama istriku." Xiong hanya bisa menunduk karena ia salah. Matanya tidak menduga kalau dia akan melihat adegan yang belum ia rasakan itu.
"Maafkan hamba pangeran. Tapi, ini sangat penting. Raja meminta hamba segera menyampaikan pesan bahwa terjadi pemberontak di salah satu desa dan jika tidak ditangani bisa merambah ke yang lainnya pangeran. Saat ini raja tengah melakukan pertemuan dengan beberapa menteri."
"Jadi karena itu? Ayah menyerahkan tugas lain padaku?" Xiong hanya mengangguk.
"Benar pangeran."
"Apa lagi?"
"Jika pangeran mau, kita bisa berangkat besok. Tapi.... Raja mengatakan kita bisa berangkat lusa, karena ini...." Xiong tidak melanjutkan ucapannya dan Lee sudah tau kelanjutannya.
"Siapkan semuanya, kita akan berangkat!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sedangkan Mei tampak berada di tempat lain dengan raganya yang menetap di kamarnya sambil Siu mengeringkan rambutnya dengan asap wewangian.
"Apa putri butuh yang lain?" Tanya Siu yang membuat Mei tersadar.
"Apa terjadi sesuatu? Xiong meminta bertemu dengan pangeran dan aku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Apa ada kabar Siu?" Siu yang ditanyai seperti itu menggeleng cepat karena ia memang tidak tau atau mendengar apapun.
"Tidak Putri, aku tidak mendengar apapun." Jawaban Siu hanya membuat Mei menduga-duga.
"Putri jangan khawatir, aku yakin semuanya baik. Putri tidak baik berpikiran banyak, ini bisa berpengaruh untuk kehamilan putri. Sebentar lagi pangeran pasti datang." Mei yang mendengar penuturan Siu hanya mengangguk dan berharap begitu.
ntBersambung.......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.