
Entah mengapa ditengah nyenyak nya tidur, mata itu terbuka perlahan, ia berpikir mungkin matahari akan segera terbit, tapi nyatanya sang rembulan masih bertahta disana ditambah dengan keadaan yang terlihat bernuansa malam.
Dipastikan dirinya tidur beberapa jam saja, ketika ia melihat ke bawah, Siu masih terlelap dalam tidurnya. Matanya jelas kembali bertatap dengan langit yang terbuka tanpa dibatasi apapun. "Aku akan tidur lagi..." Ketika Tania memicu memejamkan matanya lagi, ia justru mendengar ada suara dentingan pedang yang saling beradu tak jauh dari tempatnya.
Dengan pandangan yang terbatasi oleh gelapnya malam ditambah pepohonan yang tidak berjarak karena virus yang pernah menjadi trending di dunia modern nya, Tania perlahan turun meninggalkan kenyamanan tempat tidur darurat nya.
Langkah kaki ia sedikit percepat dengan mengikuti suara arah dentingan pedang yang beradu semakin dekat. Tania dilindungi oleh batang pepohonan yang besar menutupi tubuh rampingnya dari aksi duel bukan lebih tepatnya keroyokan.
"Penyamun, tapi....."
Di mata Tania, ia dapat melihat seorang pria yang berpakaian setengah bahunya tidak tertutupi dengan kain dan beberapa kalung yang terkena cahaya bulan terlihat di matanya, tangannya tengah menahan dan melakukan serangan balik menggunakan pedang miliknya. Cukup baik, tapi tentu saja kalah jumlah.
Awalnya Tania berpikir para penyamun itu berniat mengambil sebuah kantong yang dibawa sang korban, tapi ternyata dari berlawanan arah Tania mendengarkan suara seorang wanita yang berteriak meminta pertolongan.
"Ayah!" Suara itu terdengar jelas meskipun dengan isak tangis yang menghiasinya.
"Mengalah saja dengan begitu aku berikan kematian yang indah untuk putrimu."
"Lalat!" Pria itu kembali melakukan serangan, Tania memilih menuju teriakkan tadi tapi ia didahului oleh komplotan itu.
"Putriku!" Pria yang terkepung dengan pedang yang masih berada ditangannya melihat jelas putrinya yang berada dalam cengkraman komplotan itu.
"Ayah.... Tolong aku..."
"Apa yang kalian inginkan? Uang? Aku berikan! Lepaskan putriku!"
"Berapa uang yang kau punya hah? Kami lebih tertarik dengan uang yang ditawarkan untuk melenyapkan nyawa putri mu ini." Ujar seorang diantara mereka.
__ADS_1
"Jangan mencoba melawan! Kau sudah kalah jumlah dari kami, saksikan saja detik-detik terakhir putrimu kau akan kami bebaskan." Ayah mana yang menerima hal itu, apalagi wajah putrinya yang ketakutan dan menangis meminta pertolongan.
"Berikan sayat kecil untuk nya." Ketika pedang itu bersiap menebus leher mulus itu, serangan panah meluncur dan membuat kekacauan.
"Siapa yang menganggu kita! Cari dia!!"
"Aku disini." Dengan busur panah ditangannya dan senjata lain di punggungnya wanita cantik itu memberikan senyuman manisnya.
"Nona cantik, kau tidak baik ikut campur. Bagaimana kalau ikut kami setelah ini?"
"Aku tidak suka dengan ular kecil seperti kalian!" Tania memulai serangan panah nya secepat kilat sambil melangkah dan membuat pertempuran kembali terjadi, melihat ada bantuan pria itu ikut menyerang dengan putrinya yang berada dibelakang punggung nya.
Setelah panah nya meluncur habis, Tania mulai memainkan pedang nya dan membuat penyamun yang mendekati nya tewas dengan berbagai gaya. "Sekarang tiga lawan satu!" Tania mengacungkan pedangnya ke arah ketua komplotan.
Begitu juga dengan pria itu yang kesal bukan main. "Katakan siapa yang menyuruh mu?" Bukannya menjawab dia malah tertawa.
"Dia mengakhiri hidupnya sendiri."
"Terimakasih." Tania berniat pergi setelah merasa semuanya aman.
"Itu kewajiban sesama. Aku hanya sekedar lewat, putrimu baik-baik saja kan?" Gadis yang tak jauh dari usia Tania mengangguk kecil.
"Aku baik, terimakasih. Kau sangat hebat, aku tidak bisa kagum dengan keahlian dan keberanian mu."
"Kau juga bisa, dan.... Apa kaki mu terkena sesuatu?" Tania melihat ke bawah dimana kaki itu terkena cairan mengkilap.
"Ini hanya madu yang tumpah saat aku lari." Tania mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Tunggu, bagaimana cara membalas kebaikan mu? Kau mau kemana? Sepertinya kau ingin menuju sesuatu. Mungkin kami bisa membantu."
"Jika kita bertemu lagi, sampai jumpa!" Tania menghilang bak angin meninggalkan kedua orang itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sentuhan terakhir di rambutnya membuat penampilannya sempurna. "Pangeran terlihat sempurna, kita seperti mereka."
"Tentu, kita tidak boleh kekurangan yang akan membuat rencana kita gagal. Para kupu-kupu terbang itu akan ikut mengepakkan sayapnya untuk kita, tapi jangan harap bisa hinggap padaku."
"Tentu pangeran, perjalanan cukup jauh. Kita lebih baik jalan sekarang pangeran. Raja juga sudah menunggu."
"Ya."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tania berhasil memasuki pemukiman warga dan saat mereka tengah menikmati sarapan pagi mereka, telinga keduanya menjadi aktif.
"Kita akan kesulitan masuk, kalau ingin cepat... Lebih baik ke tempat para kupu-kupu berterbangan di sana akan ada para orang kaya yang memiliki token untuk kita masuk tanpa kesusahan. Hanya perlu ikut terbang atau memberikan madu, kita akan mendapatkan token itu."
"Sungguh? Apakah jauh?" Tanya teman satunya.
"Tidak, jalan sedikit ke arah Utara kita akan berada disana dan mulai mengepakkan sayap." Setelah itu mereka pergi dan Siu menatap nona nya yang akan berencana macam-macam.
"Kita juga akan kesana!" Siu tidak bisa menelan makanannya dengan baik setelah mendengar ucapan itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.